
Taksi yang Aria tumpangi akhirnya sampai di depan sebuah apartemen mewah, Aria kemudian turun dari taksi tersebut dan berjalan menuju apartemennya.
Aria berjalan dengan tatapan matanya yang kosong, Aria tidak menyadari kakaknya Javier sedang ada di depan apartemen untuk menunggunya, saat Aria sampai di apartemen, hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul sembilan, sedangkan Javier pulang dari kantor itu jam tujuh.
Javier khawatir karena saat dia pulang Aria tidak ada di dalam apartemen, lalu Javier menghubungi ponsel Aria, siapa tau Aria sedang keluar sebentar, tapi nomor yang Javier tuju tidak aktif dan sepertinya ponsel Aria mati.
Javier lalu memutuskan untuk menunggu Aria, tapi setelah hampir satu jam menunggu, adiknya itu tidak juga pulang, ditambah ponselnya juga mati, Javier terakhir kali melihat Aria saat mengantarkan makan siang padanya dan setelah itu Javier tidak lagi melihat Aria.
Javier juga sudah keliling apartemen dan bertanya kepada orang-orang yang sedang berlalu-lalang disana, siapa tau mereka melihat Aria, tapi hasilnya nihil, Karena kelelahan, Javier memutuskan untuk duduk di depan pintu masuk gedung apartemennya, Javier hampir putus asa karena tidak kunjung menemukan Aria.
"Aria.. dimana kamu" Javier menjambak rambutnya sendiri karena frustasi tidak kunjung menemukan Aria, "Aku harus lapor polisi, aku tidak mau kehilangan keluargaku lagi" ucap Javier lalu berdiri dan berencana untuk melaporkan Aria sebagai orang hilang pada polisi, Namun saat Javier berdiri, dia melihat Aria sedang berjalan di depan apartemen dengan tatapan kosong, Javier lalu segera berlari menuju Aria dan langsung memeluk erat tubuh adiknya itu.
Aria yang tidak menyadari kehadiran kakaknya terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya, Hampir saja Aria membanting tubuh Javier karena Aria kira Javier adalah orang asing yang sedang mabuk lalu memeluknya.
Javier memeluk Aria sambil meneteskan air matanya karena Javier sangat takut Aria hilang dan terluka, "Aria, kamu kemana saja, kakak sudah mencarimu kemana-mana, kakak takut kamu meninggalkan kakak" Ucap Javier sambil masih memeluk adiknya itu.
Melihat Javier begitu menghawatirkannya dan menangis membuat Aria merasa bersalah, "Kak, aku tidak apa-apa, lihatlah... aku baik-baik saja bukan?" Javier lalu melepaskan pelukannya dan melihat Aria dalam kondisi sehat dan tidak terluka sedikitpun, barulah setelah melihat kondisi Aria baik-baik saja dan melihat jelas Aria ada di depannya membuat Javier sedikit tenang.
"Aria, jawab kakak, sebenarnya kamu pergi kemana?, dan juga kenapa ponselmu mati?" tanya Javier.
"Aku dari Cafe di depan sana karena bosan berada di apartemen, Ponselku mati karena kehabisan baterai dan aku tidak membawa charger milikku" Aria kembali berbohong lagi pada Javier.
"Benarkah?, kamu tidak sedang membohongi kakak bukan?" Aria terdiam sebentar kemudian menganggukan kepalanya.
Javier lalu menghela nafas pelan, Javier tentunya sedikit curiga pada Aria karena Javier sendiri melihat Aria berjalan dalam kondisi matanya yang kosong, Javier merasa Aria menyembunyikan sesuatu darinya, tapi meskipun Javier penasaran dan mencurigai adiknya itu, Javier tidak akan menanyakannya pada Aria, Javier ingin Aria sendiri yang mengatakannya tanpa disuruh.
"Yasudah, ayo masuk, udara malam semakin dingin" Javier menarik tangan Aria untuk memasuki apartemen, Aria mengangguk pelan lalu mengikuti Javier masuk kedalam gedung Apartemen Mewah itu.
Sampai di dalam apartemen miliknya, Javier kemudian menyuruh Aria untuk langsung istirahat di kamarnya karena melihat wajah Aria yang sepertinya sangat kelelahan, Aria menurut lalu masuk kedalam kamarnya, melihat Aria sudah masuk ke kamarnya, Javier juga pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena dia juga merasa kelelahan setelah lari-lari mengelilingi apartemen untuk mencari Aria.
Di dalam kamar, Aria duduk di tepi tempat tidurnya dan menatap foto yang ada di atas meja dekat lampu tidur, di dalam foto tersebut terlihat empat orang yang sedang tertawa bahagia.
Aria lalu mengambil foto itu dan mengelus kacanya dengan lembut, "Ayah, ibu aku merindukan kalian" Foto yang sedang dipegang Aria adalah foto keluarganya, di dalam foto itu ada kedua orang tua Aria, Javier dan juga Aria sendiri.
"Ayah, ibu, maafkan aku karena terus berbohong pada kakak, Aku tidak mau kakak kecewa padaku karena sudah mengambil jalan yang sangat dibencinya" Aria terus mengeluarkan kata-kata yang selama ini dia pendam sendiri pada foto yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Apa kalian juga kecewa padaku?, aku juga sebenarnya tidak ingin hidup seperti ini, Aku sudah lelah dan muak karena terus membunuh dan membunuh, tapi aku tidak bisa berhenti sebelum pelaku yang membunuh kalian itu berhasil aku temukan, dan aku akan membalas apa yang dia lakukan pada keluarga kita, meskipun aku harus menjadi gila dan terus membunuh, itu tidak masalah asalkan aku bisa membalaskan dendamku dan kakak juga tidak akan merasa bersalah lagi atas kematian kalian" ucap Aria lalu membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sambil memeluk foto keluarganya itu
_____
TOK TOK TOK
"Aria, apa kamu sudah bangun?" Javier mengetuk pintu kamar Aria karena sudah hampir jam tujuh dan Aria masih belum keluar dari kamarnya.
Mendengar ketukan pintu dan suara kakaknya, Aria lalu bangun dan membuka matanya, Aria kemudian menatap foto yang masih ada di tangannya kemudian meletakan kembali foto itu ke atas meja.
"Iya kak, aku sudah bangun" timpal Aria lalu berjalan kearah kamar mandi dan mencuci wajahnya, Aria kemudian segera menuju pintu dan membukanya.
Begitu membuka pintu, Aria melihat Javier masih berdiri di depan kamarnya "Maaf kak, aku telat bangun" ucap Aria.
"Tidak apa, sekarang kamu sarapan dulu sana, kakak sudah membuatkan susu dan juga roti panggang untukmu" timpal Javier.
"Makasih kak" Aria berjalan kearah meja makan lalu duduk disana dan segera memakan makanan yang sudah dibuat oleh Javier.
"Aria, kamu kalau masih cape tidak perlu membuatkan makan siang untuk kakak, kakak bisa makan di Cafe yang ada di dekat kantor" ucap Javier yang melihat sepertinya Aria masih kelelahan.
"Baiklah itu terserah kamu, kalau begitu kakak berangkat, kamu baik-baik dirumah dan jangan terus menonton televisi" Javier berjalan kearah pintu lalu keluar.
Aria segera menghabiskan sarapannya kemudian mencuci piring dan gelas yang tadi dia pakai, setelah itu, Aria lalu berjalan memasuki kamarnya, "Aku bosan, lebih baik aku berjalan-jalan ke taman dan menunggu sampai siang hari disana" Aria kemudian berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan badannya.
______
Javier kini sudah sampai di kantor, Javier juga sudah sibuk dengan pekerjaannya, Namun tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu di luar ruangannya.
"Permisi pak, boleh saya masuk?" Terdengar suara seorang wanita di balik pintu ruangan milik Javier.
"Silahkan masuk" Javier menjawab sambil masih fokus pada berkas yang ada di depannya.
Kemudian terlihat seorang wanita yang seumuran dengan Javier masuk kedalam ruangan, "Pak Manajer Umum, anda dipanggil oleh pak CEO" ucap wanita itu.
Javier yang sedang fokus dengan berkasnya lalu mengangkat kepalanya untuk melihat wanita yang ada di depannya, "Baik, saya akan segera kesana" timpal Javier.
__ADS_1
"Baik pak, kalau begitu saya permisi" wanita itu membungkuk pada Javier lalu segera keluar dari ruangan itu.
Setelah wanita itu keluar, Javier lalu menutup berkas yang sedang dia baca dan berdiri dari kursinya, Javier kemudian berjalan keluar ruangan dan segera menuju ruangan CEO perusahaannya.
Sesampainya Javier di depan Ruangan milik CEO perusahaan itu, Javier lalu mengetuk pintu, "Permisi Pak, apa anda memanggil saya?" Ucap Javier masih di depan ruangan itu, Javier tidak terlalu biasa memanggil atasannya dengan panggilan Tuan CEO, Javier lebih nyaman memanggipnya dengan sebutan Pak dan sepertinya atasannya itupun tidak keberatan.
"Masuklah" Terdengar suara seorang pria dari dalam.
Javier lalu membuka pintu itu dan masuk kedalam ruangan tersebut, Javier lalu melihat Leon sedang berdiri membelakanginya, "Ada apa Pak CEO memanggil saya?" ucap Javier yang sudah berdiri di belakang Leon, Leon segera berbalik dan menatap Javier, "Duduklah saya ingin bicara serius dengan Anda Pak Javier" Leon mempersilahkan Javier untuk duduk.
Javier lalu menuruti perintah Leon dan segera duduk, Leon yang melihat Javier sudah duduk diatas kursi kemudian menyusul Javier dan duduk di hadapannya.
"Pak CEO, ingin membicarakan hal serius apa dengan saya?" tanya Javier.
"Saya akan langsung ke intinya saja karena saya tidak suka basa basi, Javier, apa anda mau naik jabatan menjadi Direktur di perusahaan ini?" Leon menatap Javier dan menunggu jawaban darinya.
"Itu... Ini pertanyaan yang sangat tiba-tiba" Javier terkejut dengan perkataan Leon, tentu saja Javier mau menaikkan jabatannya, tapi dari pengalamannya bekerja di kantor selama beberapa tahun, kalau tiba-tiba mendapatkan tawaran bagus seperti ini pasti tidak akan gratis dan ada harga yang harus dibayar.
"Bagaimana Javier, apa anda mau?" tanya Leon kembali.
"Tentu saja saya mau, tapi kenapa anda tiba-tiba ingin menaikkan posisi saya?" kali ini Javier yang bertanya.
"Tentu saja karena kinerja anda bagus, tapi saya ingin anda memberikan adik anda Aria pada saya sebagai gantinya, bagaimana?" ucap Leon yang membuat Javier benar-benar terkejut.
"Apa?!!, apa yang anda katakan barusana?" Javier langsung berdiri dari tempat duduknya, sedangkan Leon, dia masih terlihat duduk santai dengan wajah datarnya.
"Pak Leon, apa maksud anda?" Kini tangan Javier mengepal keras karena perkataan Leon tadi.
"Javier, kamu jangan munafik, sekarang segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis, Aku memberikan penawaran yang bagus untukmu"
"Bagus darimananya, apa menurut anda saat seorang kakak menukarkan adiknya sendiri dengan jabatan itu adalah hal bagus?" Kini terlihat urat-urat di tangan Javier yang mengepal keras, jelas sekali Javier sedang menahan amarahnya.
"Tentu saja itu bagus, aku menyukai adikmu dan akan menikahinya, lalu kamu akan menjadi kakak iparku sekaligus menjadi Direktur di perusahaan Teknologi terbesar di kota L ini, bukankah ini penawaran yang sangat bagus?" Leon masih terlihat tidak terganggu dengan tatapan Javier yang menatapnya dengan tajam.
Perkataan Leon tentu saja tidak salah, kalau Leon menikahi Aria dan memberikan posisi bagus untuk Javier, itu memang penawaran yang bagus dan Aria juga akan menikahi seorang Tuan Muda yang kaya raya dan kehidupan Aria sepertinya akan bahagia, Tapi apa benar Leon sungguh mencintai Aria?, apa dia juga berjanji akan membahagiakan Aria?, itu yang ada di pikiran Javier sekarang.
__ADS_1
Akhirnya Javier hanya bisa meredam emosinya dan kembali duduk, Melihat itu, Leon tersenyum sinis, "Lihatlah, siapapun pasti akan tunduk di bawah kekuasaan, tidak terkecuali kamu Javier, orang yang sangat keras kepala dan memegang tinggi keadilan" batin Leon.