Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Berita Kematian Marliana Dan Amarah Leon


__ADS_3

Saat sudah sampai di depan pintu ruangan tempat Marliana dirawat Leon langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam.


"Ferio apa yang kamu katakan di telepon itu benar?" begitu sampai di dalam ruangan Leon langsung bertanya pada Ferio yang sudah menyambutnya di dalam ruangan itu.


"Bos, lebih baik anda lihat sendiri kondisi nona Marliana" ucap Ferio sambil menundukkan pandangannya.


Leon lalu bergegas menghampiri Marliana yang sedang terbaring di tempat tidur, namun yang membuat Leon terkejut adalah tubuh Marliana kini dipenuhi dengan darah.


"Darah!!.."


Leon lalu memeriksa denyut nadi Marliana tapi nihil, Leon tidak mendapati detak jantung Marliana. Tubuh Marliana juga sudah dingin dan kaku, Leon lalu berteriak kencang.


"TIDAAAAKKKKK!!!! TIDAK BOLEH, INI TIDAK BOLEH TERJADI!!!"


Leon lalu memeluk tubuh kaku Marliana yang bersimbah darah "Tidak.. kamu tidak boleh meninggalkan kakak Anna" dari mata Leon kini keluar butiran air yang mengalir di wajah tampannya.


"Anna, bangunlah... Kakak ada di sini kamu harus bangun, kamu tidak boleh meninggalkan kakak sendirian" Leon terus berbicara pada Marliana berharap adiknya itu dapat mendengar suaranya lalu bangun kembali tapi, itu adalah harapan yang sia-sia, Marliana tidak akan pernah bisa kembali lagi dia sudah pergi meninggalkan Leon untuk selama-lamanya.


"Anna maafkan kakak, kakak tidak ada saat kamu membutuhkan kakak, kakak janji kakak akan menemukan orang yang mencelakaimu kakak juga akan membalasnya dengan berkali kali lipat" Leon lalu melepaskan pelukannya dari Marliana.


Leon menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya kemudian Leon menghapus darah yang ada di wajah Marliana.


"Anna kamu yang tenang disana, kamu juga sudah tidak merasakan sakit lagi, kamu lihat dan bantu kakak dari atas sana untuk menemukan orang yang tega mencelakaimu" Leon mengusap pelan wajah adik dan keluarga satu-satunya itu untuk terakhir kalinya lalu Leon mencium dahi Marliana setelah itu Leon berdiri tegak dan menatap Ferio yang daritadi memperhatikan Leon yang sedang menangisi Marliana.


Saat Leon melihat ke arah Ferio, Ferio langsung gemetar ketakutan. kini wajah Leon sangat menakutkan karena amarahnya ditambah darah Marliana yang masih menempel di wajahnya membuat kesan menyeramkan.


Ferio tidak berani menatap wajah Leon lama-lama dan kembali menundukkan pandangannya.


"Ferio sebenarnya apa yang terjadi pada Anna saat aku tidak ada, kenapa juga tubuhnya berlumuran darah?" Leon bertanya pada Ferio dengan nada yang sangat dingin juga tatapan yang sangat tajam.


"Lima hari yang lalu saat anda pergi dari sini nona Marliana masih berbaring dan tidak ada perubahan sedikitpun tapi tadi pagi sekitar pukul sepuluh nona Marliana tiba-tiba kejang-kejang dan terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah yang sangat banyak dari mulutnya" Ferio bercerita sambil gemetaran karena merasa Leon kini terlihat semakin marah dan Ferio takut Leon akan melampiaskan amarah itu pada dirinya.


Leon menghela nafas kasar "Teruskan.." Leon berkata masih dengan nada dinginnya.


"Saat itu saya sudah memanggil dokter untuk mengecek kondisi tubuh nona Marliana dan apa yang terjadi dengan nona sehingga nona bisa seperti itu namun dokter bilang ada kemungkinan organ dalam nona Marliana hancur dan rusak mungkin itu sebabnya nona Marliana muntah darah dengan sangat banyak"


"Lalu apa lagi, apa mereka sudah mencoba untuk mengobati Anna" Leon mengepalkan tangannya dengan sangat keras.


"Dokter sudah memeriksanya namun mereka hanya menggelengkan kepala mereka dan mengatakan kalau mereka tidak bisa lagi mengobati nona Marliana karena organ dalam nona sudah hancur meskipun melakukan operasi namun mereka tidak yakin bahwa nona Marliana akan kembali sembuh"

__ADS_1


"Sialan!!!" Leon menendang kursi yang ada di sampingnya dengan sangat keras sampai kursi itu terbang dan menabrak dinding dengan suara yang sangat kencang.


Brakkk!!! Pranggg!!!


Leon terus menendang dan melemparkan apapun yang ada di sana ke dinding hingga membuat suasana di rumah sakit yang harusnya tenang menjadi sangat berisik akibat ulah Leon yang sedang melampiaskan amarahnya.


Ferio hanya bisa menundukkan kepalanya dan menjadi waspada kalau-kalau ada barang yang terlempar ke arah dirinya sementara orang-orang yang ada di rumah sakit hanya bisa melihat dari luar pintu kaca ruangan itu dan tidak berani masuk.


"SIALAN!! BAJINGAN MANA YANG MELAKUKAN INI PADA ADIKKU YANG TIDAK TAU APA-APA!!!, AKU AKAN MENEMUKANMU!!! AKU AKAN MEMBALAS PERBUATANMU!!!"


Leon berteriak kesetanan dan terus menghancurkan barang yang dia lihat. Leon baru berhenti setelah semua barang yang ada di dalam ruangan itu hancur berkeping-keping hanya menyisakan ranjang rumah sakit yang Marliana tempati.


Tangan Leon bahkan terluka dan berlumuran darah akibat terkena pecahan kaca juga benda tajam lainnya. Ferio menghela nafas lega karena Leon sudah berhenti mengamuk dan dirinya juga tidak terkena serangan apapun.


Leon kemudian berjalan menuju jasad Marliana yang masih ada di atas tempat tidur "Anna semoga kamu bahagia disana dan jangan menghawatirkan kakak" lirih Leon pada telinga adiknya itu.


"Ferio, siapkan segera upacara pemakaman untuk Anna saya mau Anna segera di makamkan"


"Baik bos" Ferio lalu bergegas ke luar dan saat sudah ada di luar Ferio melihat beberapa orang dan puluhan perawat sedang berada di luar ruangan itu.


"Tuan Ferio bagaimana keadaan Tuan Leon?" Tanya salah seorang dokter yang ada di sana.


"Bos sangat terpukul dan sedih akibat kehilangan nona Marliana lebih baik kalian semua pergi bekerja lagi dan jangan ada yang masuk kedalam karena bos Leon masih marah, kalian boleh masuk setelah bos memanggil kalian, mengerti!!?" Ucap Ferio pada dokter dan perawat yang ada di sana.


Ferio lalu berjalan keluar rumah sakit untuk meminta bantuan pada anggota Red Blood yang lain untuk menyiapkan pemakaman Marliana.


"Kakak berjanji Anna, kakak akan menemukan orang itu" ucap Leon sambil memegang lembut tangan Marliana yang sudah dingin dan kaku.


_____


Aria masih di dunia bawah dan sekarang hendak pulang kembali ke rumahnya yang ada di dunia luar tapi sebelum Aria masuk kedalam mobil Louis mendapat sebuah panggilan dari anggota Black Rose.


Aria tidak langsung masuk kedalam mobil dan dia ikut mendengarkan Louis berbicara dengan bawahannya sementara Herald dia senantiasa ada disamping Aria.


Louis lalu mengangkat panggilan itu "Ya ada laporan apa?"


"Tuan Louis saya mau melapor sepertinya adik dari ketua Red Blood meninggal pagi tadi"


"Meninggal??"

__ADS_1


Saat mendengar kata itu semua orang yang ada di sana termasuk Aria penasaran siapa yang meninggal. Ternyata Aria juga sudah menempatkan mata-mata di dekat rumah sakit perusahaan Leon untuk jaga-jaga dan memata-matai Leon.


"Benar tuan, saya mendengar itu dari pegawai rumah sakit dan juga dari beberapa anggota Red Blood yang sedang menyiapkan keperluan untuk upacara pemakan adik ketua Red Blood"


"Baik, lalu kapan upacara pemakaman itu akan di langsungkan?"


"Mungkin sore ini karena ketua Red Blood sudah menyuruh anggotanya untuk menyiapkan beberapa barang yang di perlukan untuk upacara pemakamannya sekarang"


"Apa dia sudah membawa adiknya pergi dari rumah sakit itu?"


"Sudah tuan, saya juga sekarang sedang mengikuti mereka dari belakang"


"Baiklah kerjakan kembali tugasmu dan Ingat jangan sampai ketahuan oleh mereka" Louis mengingatkan pada bawahannya itu untuk selalu berhati-hati.


"Baik tuan"


Setelah itu Louis mematikan panggilan dan melihat kearah Aria.


"Ada apa? Siapa yang meninggal?" Tanya Aria pada Louis begitu Louis selesai menerima telepon.


"Adik dari ketua Red Blood"


"Cihhh cepat sekali matinya, padahal aku ingin Leon dan adiknya menderita untuk waktu yang lama" Aria tidak ada rasa bersalah bahkan kasihan sedikitpun pada Marliana juga Leon. Menurut Aria itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan dia yang kehilangan kedua orang tuanya bahkan Aria juga hampir kehilangan kakaknya.


"Itu balasan dariku karena kamu sudah menghancurkan keluargaku Leon" batin Aria dengan ekspresi wajah menyeramkan.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya saat Aria menyeringai bahkan Louis pun tidak mau melihat ekspresi Aria yang seperti itu.


"Itu berita bagus" Herald memecahkan keheningan itu.


"Tentu saja itu berita yang sangat bagus tapi aku masih belum tenang sebelum Leon mati di tanganku"


"Pelan-pelan saja tidak perlu terburu-buru" Herald mengelus pelan punggung Aria. Aria menoleh ke arah Herald lalu menganggukkan kepalanya, melihat itu Herald tersenyum lembut pada Aria.


"Sudah, lebih baik kita pulang takut kakakmu pulang duluan nanti" Herald mengalihkan pembicaraan karena melihat semua orang yang ada di sana terlihat ketakutan melihat ekspresi menyeramkan Aria.


Aria menghela nafas pelan dan wajahnya kembali datar seperti biasanya. "Louis, aku titip mansion padamu" Aria menatap Louis yang berdiri di depannya.


"Baik nona, anda tidak perlu khawatir"

__ADS_1


Aria mengangguk kemudian masuk kedalam mobil diikuti oleh Herald. Setelah itu mereka berdua pergi dari mansion itu menuju rumah Aria yang ada di dunia luar.


Louis masih menatap mobil yang ditumpangi Aria dalam diam sambil larut dalam pikirannya "Aria, aku tau aku tidak bisa bersama denganmu tapi aku pastikan aku akan selalu ada untukmu dan membantumu walaupun kamu hanya menganggap ku temanmu"


__ADS_2