
Aria melihat seorang pria tinggi dengan tubuh atletis serta, wajahnya tidak kalah tampan dari Louis maupun Giovanni. Pria tersebut sedang berdiri di depan pintu masuk mansion sambil tersenyum sementara Hans, dia ada sedang berdiri di tengah-tengah pintu tersebut.
"Kamu.."
Saat melihat Aria sudah ada di belakang Hans pria tersebut langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Herald.." gumam Aria.
"Hey Aria lama tidak bertemu" pria yang datang tiba-tiba ke mansion Aria adalah Herald atau lebih dikenal dengan Ketua Organisasi Blood Moon.
"Hans kamu bisa membiarkan dia masuk, aku mengenalnya walaupun aku tidak berharap bertemu dengannya" Aria berkata dengan ekspresi datarnya.
"Aria kenapa kamu tidak mau bertemu denganku kita kan sudah tidak bertemu untuk waktu yang lama" Herland berkata dengan ekspresi wajah sedih.
"Tuan silahkan masuk maaf tadi saya tidak langsung memperbolehkan anda masuk" Hans yang ada di tengah-tengah Aria dan Herald segera meminta maaf dan mempersilahkan Herald untuk memasuki mansion tersebut.
"Tidak apa lagipula anda tidak mengenal saya dan saya juga datang kesini dengan tiba-tiba jadi anda tidak perlu minta maaf" Herald menjawab Hans masih sambil tersenyum lalu tanpa ragu-ragu segera memasuki mansion Aria.
Hans membawa Aria dan juga Herald ke ruang tamu setelah itu Hans permisi untuk menyiapkan teh dan juga beberapa camilan.
"Ngapain kamu kesini.." saat Hans sudah pergi dan tinggal mereka berdua di ruangan itu Aria langsung bertanya pada Herald
"Tentu saja karena aku merindukanmu apa kamu tidak merindukanku?" Herald menatap mata Aria dengan sangat lembut.
"Aku sedikitpun tidak merindukanmu" Aria menjawab dengan wajah datarnya
"Ayolah Aria jangan bohongi dirimu sendiri aku tau kamu juga merindukanku karena kita sudah sangat lama tidak bertemu, hmm.. kira-kira berapa lama ya, apa sekitar satu tahun lebih" Herald mencoba untuk mengingat-ingat kapan terakhir kali dia bertemu Aria.
"Sudahlah itu tidak penting, kamu belum menjawab pertanyaanku kamu kesini bukan karena hanya merindukanku kan?"
Herald tersenyum canggung kemudian menarik nafas pelan dan membuangnya "Sebelum itu, Aria bagaimana kabarmu apa kamu baik-baik saja?" Herald mulai bertanya dengan serius pada Aria namun tatapan matanya begitu lembut saat menatap Aria.
"Aku baik-baik saja" Aria menggenggam ujung pakaiannya dan tidak menatap Herald, Aria mengalihkan tatapannya pada Vas yang berisi bunga Mawar Hitam di atas meja.
"Aria lihat aku, apa kamu baik-baik saja" Herald bertanya sekali lagi pada Aria dan memastikan bahwa Aria baik-baik saja
Aria tidak menjawab Herald dan masih menatap Mawar Hitam yang ada di atas meja. Herald yang melihat Aria diam saja seperti itu langsung bangun dari tempat duduknya dan berjalan kesamping Aria.
__ADS_1
Herald lalu membalikan tubuh Aria agar menghadapnya kemudian Herald berlutut di depan Aria. "Aria lihat aku sekarang dan jawab pertanyaanku" Herald menatap Aria dengan sangat lembut tapi Herald tidak bisa melihat mata Aria karena Aria terus menatap ke bawah dan tidak menatap Herald.
"Aria aku mohon.." Herald menggenggam lembut tangan Aria.
Aria kemudian menatap Herald dan saat itu juga Herald melihat Aria sedang menahan tangisannya agar air matanya tidak keluar. Herald lalu langsung bangun dan memeluk Aria "Aria maafkan aku.. maaf karena aku tidak ada di sisimu saat kamu menghadapi banyak masalah, aku sangat menyesal sekali lagi tolong maafkan aku kamu bisa melampiaskan amarahmu padaku" Herald mengusap lembut kepala Aria, terlihat jelas penyesalan di wajah Herald.
Aria membalas pelukan Herald dan membenamkan wajahnya pada perut Herald karena Aria sekarang masih duduk di kursinya. Aria menahan tangisan dan air matanya agar tidak keluar lalu mencoba mengatur emosi yang ada di dalam dirinya untungnya usapan di kepala Aria membuat Aria sedikit tenang dan bisa mengontrol emosinya.
"Aria, katakan padaku apa terjadi sesuatu denganmu?"
"Aku.. aku hampir kehilangan kakak" Aria menjawab Herald dengan nada suara pelan
"Kakak?.. apa terjadi sesuatu dengan kak Javier?"
"Ada sekelompok orang yang menyerang kakak dengan tiba-tiba lalu setelah itu mereka menyiksa kakak sampai akhirnya kakak sekarang koma" Aria mencengkram erat pinggang Herald
Herald merasakan pinggangnya yang di cengkram erat oleh Aria lalu Herald segera menenangkan Aria "Aria tenanglah atur emosimu pelan-pelan" Herald tau sekarang Aria sedang marah tapi Herald juga tau Aria tidak boleh mengeluarkan emosinya dan kehilangan kendali atas dirinya.
Aria lalu mulai mengatur kembali emosinya sementara Herald dia tidak menanyakan masalah yang sedang Aria hadapi lebih lanjut karena takut Aria tidak bisa menahan emosinya.
"Aku sudah lebih tenang" Aria lalu melepaskan pelukannya.
"Permisi.."
Saat itu Hans sudah berada di pintu masuk ruang tamu sambil membawa troli yang berisi teh dan juga beberapa camilan.
Aria melihat Hans lalu mempersilahkan Hans untuk masuk "Masuklah Hans kamu bisa menaruh camilan itu di atas meja"
"Baik nona, maaf saya mengganggu waktu anda"
Hans lalu masuk dan mulai menata camilan tersebut di atas meja juga dua cangkir teh panas.
"Nona, tuan silahkan di nikmati camilannya" Hans memberikan hormatnya lalu berjalan keluar dari ruang tamu tersebut.
Herald lalu bangun dan meraih secangkir teh hangat di atas meja dan memberikannya pada Aria "Nah minumlah dulu.."
Aria menerima teh itu lalu meminumnya, melihat Aria sudah meminum teh tersebut Herald kembali ke tempat duduknya lalu meraih cangkir tehnya dan meminumnya.
__ADS_1
"Aria apa kamu sudah menemukan orang yang menyerang kakakmu?" Herald bertanya dengan sangat hati-hati
"Aku sudah menemukannya"
"Sungguh, siapa orang-orang itu?" Herald terlihat sangat penasaran dengan orang-orang yang berani menyerang Javier, kakak satu-satunya yang Aria sayangi dan juga Herald tau akhir dari orang-orang tersebut bila ditemukan oleh Aria.
"Mereka orang dari organisasi Red Blood"
"Red Blood.. bukannya itu adalah organisasi yang dipimpin oleh Leon"
"Kamu benar itu adalah organisasi yang di pimpin oleh pria bajingan itu" Aria berkata seperti itu dengan nada yang sangat dingin
"Organisasi Red Blood adalah organisasi yang menjalankan bisnis perbudakan aku belum sempat mengurus organisasi itu karena sangat sibuk dengan pekerjaanku belakangan ini, karena pekerjaan itu aku juga jadi meninggalkanmu maafkan aku Aria" Herald menatap Aria dengan tatapan bersalahnya.
"Sudahlah itu sudah berlalu lagian kamu kan memang sangat sibuk"
"Aku berjanji akan mengurus organisasi tersebut secepatnya"
"Tidak perlu, biar aku yang akan mengurusnya aku akan sedikit tenang karena bisa melampiaskan amarahku pada organisasi itu"
"Baiklah tapi kamu jangan gegabah dan kontrol emosimu pelan-pelan"
Aria menganggukkan kepalanya "Kapan kamu pulang dari luar negeri? Aria mengalihkan pembicaraan.
"Aku baru pulang sekitar jam tujuh dan aku langsung memutuskan untuk mampir ke sini" ucap Herald sambil tersenyum lembut pada Aria.
"Apa kamu tidak lelah, seharusnya kamu pulang dulu ke rumahmu dan istirahat kenapa kamu malah kesini" Aria cukup terkejut mendengar Herald langsung ke sini dari bandara.
"Itu karena aku sangat merindukanmu makannya aku langsung ke sini" Herald berkata sambil cengengesan.
"Lain kali jangan lakukan hal seperti itu lagi dan kamu harus pulang ke rumahmu terlebih dulu setelah itu istirahat yang cukup, kamu kan pasti sangat lelah" Aria menatap Herald yang masih menampilkan deretan gigi putihnya itu.
"Aku memang lelah tapi sekarang sudah tidak lagi karena sudah bertemu denganmu"
"Berhentilah berkata seperti itu yang namanya lelah tidak akan menghilang hanya dengan melihat wajah seseorang"
"Aria apa kamu mengusirku" Herald bertanya dengan ekspresi wajah sedih.
__ADS_1
"Iya aku mengusirmu, sekarang kamu cepat pulang dan istirahat" Aria sebenarnya khawatir pada Herald karena langsung ke sini dari bandara dan tidak sempat beristirahat, Aria tau Herald banyak sekali pekerjaannya jadi pasti dia sangat lelah sekarang.