
"Nona, saya sudah menyiapkan makan siang untuk nona". Hans sekarang ada di ruangan Aria untuk menyampaikan bahwa makan siang sudah siap.
Aria melirik jam dan sudah menunjukan pukul satu siang "Baiklah..". Aria berdiri dari meja kerjanya dan berjalan keluar ruangan tersebut diikuti oleh Louis juga Hans.
Tidak lama kemudian mereka bertiga sampai di ruang makan. Aria melihat berbagai macam masakan di meja makan tersebut tidak lupa juga dengan dessert yang juga ada di atas meja.
Aria lalu duduk di kursi paling ujung sedangkan Louis duduk di sebelah kanan dan Hans duduk di sebelah kiri Aria. Mereka bertiga sudah beberapa kali makan satu meja jadi sudah terbiasa.
Aria lalu mengambil makanan di atas meja disusul oleh Louis dan Hans lalu mereka bertiga makan dengan damai dan tidak ada yang berbicara, mereka hanya fokus pada makanan karena Aria tidak suka kalau makan sambil berbicara atau berisik.
Selesai makan siang Aria lalu berniat untuk jalan-jalan santai di taman. "Hans makasih untuk makanannya, kamu sudah bekerja keras untuk membuat semua ini". Aria berterimakasih pada Hans karena dia sudah memasak makanan sebanyak itu untuk Aria, Aria tau pasti itu tidak mudah dan Hans pasti sangat bekerja keras untuk memasaknya.
"Terimakasih nona". Hans membungkukkan badannya dan tersenyum bahagia karena Aria menikmati masakannya.
"Aku mau jalan-jalan sebentar di taman, kalau ada yang mencariku langsung saja kesana". Aria bangun dari tempat duduknya lalu berjalan keluar menuju taman mansionnya itu.
Aria sudah sampai di tamannya dan dia hanya melihat bunga mawar hitam disana. Aria memang tidak menanam tanaman yang lain dan hanya menanam bunga kesukaannya yaitu bunga mawar hitam itu juga yang menjadikan Aria menamai organisasinya Black Rose.
Aria memetik beberapa tangkai bunga untuk ditaruh nanti di ruang kerjanya.
"Aria apa kamu sangat menyukai bunga itu?"
Aria melihat Louis sudah ada di sampingnya. Aria terlalu fokus pada bunganya dan tidak menyadari kehadiran Louis.
"Aku sangat menyukainya". Jawab Aria sambil masih memetik beberapa bunga lagi.
"Begitu ya, biar aku bantu memetiknya" Louis lalu bergabung dengan Aria untuk memetik Mawar Hitam tersebut.
Setelah merasa cukup Aria lalu meminta Louis untuk berhenti memetik bunga "Ini sudah cukup"
Louis lalu memberikan lima tangkai bunga yang tadi dia petik pada Aria. Aria menerima bunga itu "Louis bukannya aku menyuruhmu untuk mencari informasi tentang Red Blood? Kenapa kamu malah kesini"
"Aku cuma mau memberikan ini untukmu" Louis mengeluarkan sebuah kalung dari dalam jasnya dan memberikannya pada Aria.
"Kenapa kamu memberiku ini?" Aria melihat kalung yang ada di tangannya. Kalung itu tentu saja sangat cantik Liontinnya berbentuk daun Maple kering dan di kelilingi dengan lingkaran permata.
"Waktu aku pergi ke acara lelang aku melihat kalung ini dan aku rasa ini cocok untukmu"
"Baiklah aku terima hadiah mu"
Louis sangat bahagia hadiah yang dia beli diterima oleh Aria. "Biar aku bantu pakaikan" Aria mengangguk dan Louis segera membantu Aria untuk memakaikan kalung itu tidak lupa Louis melepaskan kalung Mawar Hitam Aria terlebih dahulu.
__ADS_1
Selesai memakaikan kalung tersebut Louis lalu memberikan pada Aria kalung Mawar Hitam yang tadi dia lepaskan dari leher Aria.
"Aku sudah menduganya kalung ini akan sangat cocok denganmu terutama liontinnya" Louis melihat Aria yang sudah memakai hadiah pemberiannya.
"Tentu saja, perhiasan apapun akan cocok denganku" Aria tersenyum bangga dengan dirinya sendiri.
Louis hanya menggeleng pelan sambil tersenyum menanggapi ucapan Aria. Dia juga setuju dengan apa yang baru saja Aria katakan karena perhiasan apapun pasti akan sangat cocok kalau di pakaikan pada Aria.
"Kalau begitu aku akan pergi untuk menjalankan tugasku". Louis pamit pada Aria karena dia juga harus bekerja apalagi Aria yang memerintahkannya.
"Baiklah semoga berhasil dan selalu berhati-hati". Louis mengangguk menanggapi ucapan Aria lalu pergi dari taman tersebut dan berniat melakukan pekerjaannya.
Aria juga melangkah keluar dari taman tersebut dan berjalan menuju ruang kerjanya. Sesampainya Aria di ruangannya Aria lalu mengambil sebuah Vas bunga antik dari lemari kacanya lalu meletakan bunga Mawar Hitam yang tadi Aria petik kedalam Vas tersebut.
Tidak terasa hari sudah semakin sore dan jam menunjukan pukul setengah enam. Aria lalu bersiap-siap untuk pergi ke pasar gelap tidak lupa Aria juga memakai topeng tapi kali ini Aria memakai topeng berwarna putih dan juga berpakaian seperti anak muda pada umumnya di kota bawah tersebut.
Aria kemudian keluar dengan menggunakan mobil hitamnya dan membawanya menuju pasar gelap.
Tidak sampai dua puluh menit Aria sudah tiba di pasar tersebut. Aria memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju pasar gelap tersebut.
Aria lalu berjalan menuju toko yang menjual berbagai senjata Aria melihat-lihat senjata yang ada di sana. Saat sedang menimbang-nimbang untuk membeli senjata apa yang akan dia gunakan Aria melihat orang-orang berkerumun di sebelah kirinya.
Aria penasaran dan diapun berjalan kearah kerumunan tersebut. Saat sudah sampai di bagian depan kerumunan itu Aria melihat orang yang dia kenal sedang berhadapan dengan empat orang pria yang membawa senjata tajam berupa pisau dan golok.
Giovanni berada di depan kota X. Sebelumnya Giovanni sudah bertekad ingin pergi ke dunia bawah dan sekarang Giovanni sudah berada di depan kota X penghubung dunia bawah.
Giovanni lalu masuk dengan berjalan kaki dan setelah melihat-lihat kota tersebut Giovanni lalu menyewa mobil dari kota X dan membawa mobilnya untuk masuk lebih dalam ke kota tersebut. Tidak lama kemudian Giovanni melihat jalan yang menuju dunia bawah, Giovanni lalu langsung melajukan mobilnya ke jalan tersebut dan sekitar satu jam dia sudah sampai di sebuah pasar di dunia bawah.
Memang tujuan utama Giovanni adalah pasar gelap dunia bawah. Giovanni ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri apa saja yang dijual di pasar itu.
Giovanni juga tidak memakai seragam polisinya dan hanya memakai pakaian biasa dan sebuah jas hitam.
Saat sedang melihat-lihat Giovanni di tabrak oleh satu pria dan pria tersebut meminta ganti rugi karena Giovanni menabraknya duluan dan memanggil teman-temannya untuk memberikan pelajaran pada Giovanni yang telah menabrak teman mereka dengan sengaja padahal yang menabrak duluan adalah teman yang memanggil mereka.
"Hey kalau kamu tidak mau mengganti rugi kami akan membuatmu menggantinya dengan satu tanganmu" ucap salah satu dari mereka pada Giovanni.
"Kenapa aku harus bayar ganti rugi sedangkan teman kalian sendiri yang menabrakku, bukannya seharusnya aku yang minta ganti rugi karena teman kalian menabrakku dengan sangat keras". Giovanni tidak merasa bersalah jadi dia tidak takut dan tidak mau bayar uang ganti rugi.
"Kamu cari mati hah.."
"Aku disini sedang melihat-lihat barang bukannya mencari kematian". Giovanni menanggapi keempat pria itu dengan santai dan tidak terprovokasi oleh mereka.
__ADS_1
Giovanni melihat orang-orang langsung berkerumun saat mendengar ada perdebatan dan dia juga mendengar bisik-bisik orang-orang yang berkerumun itu.
"Lihatlah sisa anggota Black Shadow berulah lagi.."
"Iya, mereka selalu mencari masalah kepada setiap orang..."
"Mereka juga mengatakan organisasi Black Shadow mereka akan bangkit kembali dan membalaskan dendam mereka.."
Orang-orang saling berbisik membicarakan keempat pria yang sedang mencari masalah dengan Giovanni.
Giovanni mendengar pembicaraan itu lalu sekarang dia mengerti situasinya. "Ternyata mereka berempat ini adalah sisa anggota dari organisasi yang sudah hancur" Giovanni menggeleng pelan.
"Kalian lebih baik pergi dari hadapanku dan tidak perlu muncul lagi di hadapanku lalu kalian seharusnya tidak membangun kembali organisasi kalian". Giovanni tidak ingin mencari masalah di pasar gelap tersebut.
"Diam kalian semua!! Sebaiknya kalian pergi sana urus urusan kalian masing-masing jangan ikut campur urusan kami!!!". Salah satu dari empat pria tersebut berteriak kepada kerumunan orang-orang yang sedang melihat dan berbicara tentang mereka.
Karena orang-orang tersebut juga punya urusan masing-masing dan tidak terlalu peduli juga pada pria yang dipalak oleh keempat pria itu mereka lalu bubar dan pergi menuju urusan masing-masing kecuali satu orang wanita yang masih berdiri di sana.
Aria mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di dalam kerumunan. "Sisa dari anggota Black Shadow ternyata masih ada empat orang dan mereka berniat untuk membangun kembali organisasi mereka lalu membalaskan dendam, tidak akan aku biarkan itu seharusnya mereka bersembunyi saja tapi malah mencari masalah diluar". Aria menatap sisa anggota Black Shadow dengan tatapan meremehkan.
Giovanni menggeleng pelan dia lalu bersiap-siap untuk melawan keempat pria itu karena sepertinya mereka sudah sangat kesal dan tidak akan bisa diajak bicara baik-baik.
Saat Giovanni pikir keempat pria itu akan berbalik dan menyerangnya Giovanni sedikit heran karena keempat pria tersebut tidak juga berbalik lalu Giovanni melihat kedepan dan dia melihat masih ada satu orang wanita berdiri disana.
"Nona, kenapa kamu tidak pergi juga kami kan sudah menyuruh kalian untuk pergi karena ini urusan kami". Ucap salah satu dari keempat pria tersebut.
"Terus kalau kalian menyuruhku untuk pergi aku harus pergi?". Aria masih berdiri anteng disana dan menatap keempat pria tersebut.
"Tentu saja"
"Memangnya siapa kalian berani menyuruh aku untuk pergi dari sini"
"Kami adalah anggota Black Shadow.."
"Pfttt... Anggota Black Shadow". Aria tertawa mendengar ucapan salah satu dari mereka.
Melihat Aria tertawa saat mendengar Black Shadow membuat mereka berempat sangat marah "hey nona, meskipun organisasi kami sudah hancur tapi kami akan membangunnya kembali dan membalaskan dendam rekan-rekan kami"
Mendengar hal itu Aria berhenti tertawa lalu memandang empat pria yang ada di depannya dengan tatapan tajam "Balas dendam ya, seharusnya kalian tidak berusaha bangkit kembali dan bersembunyi saja"
"Apa maksudmu, kami tetap akan bangkit kembali"
__ADS_1
"Aku akan menghentikan kalian disini". Aria lalu menekan gelang yang ada di tangannya dan gelang tersebut lalu berubah menjadi pedang.
Melihat itu mereka berempat langsung siaga dan mengeluarkan senjata masing-masing.