Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Pembalasan V


__ADS_3

Satu persatu anggota Red Blood terbunuh di tangan Louis barulah setelah tinggal dua belas orang para anggota Red Blood sadar bukan tandingan Louis dan mereka telah melakukan kesalahan besar.


Seharusnya mereka mengepung Louis dari berbagai sisi tapi karena mereka terlalu percaya diri kini mereka hanya bisa menyesali cara bertarung mereka yang salah.


Saat mendengar teriakan bawahannya Isak segera menghampirinya namun baru beberapa langkah Isak dihadang seorang wanita berpakaian serba merah dan memakai topeng merah darah senada dengan pakaiannya.


"Siapa kamu?" Isak menjadi waspada karena tidak merasakan kehadiran wanita tersebut.


"Aku mau bertanya apa ketuamu yang menyuruh anggotanya untuk menyerang seorang pria biasa di dunia luar" Aria bertanya dengan tatapan tajamnya ke arah Isak.


"Aku tidak tau dan juga aku tidak ingat siapa pria yang kamu sebut karena kami sudah terlalu banyak membunuh jadi kami mungkin tidak akan mengingat pria yang kamu maksud" Isak menjawab Aria dengan nada sombong


"Kalau begitu pria yang aku maksud adalah karyawan yang baru saja mengundurkan diri dari perusahaan teknologi milik ketuamu"


"Ah..kalau itu aku ingat karena dia adalah satu-satunya pria yang menolak tawaran ketua dan juga satu-satunya pria yang berani melawan ketua aku diperintahkan untuk menyiksa lalu membunuh pria itu tapi aku masih kesal karena pria itu tidak pernah berteriak padahal saat menyiksa seseorang suara teriakannya itu adalah yang paling menyenangkan" Isak berkata sambil tertawa seolah itu adalah hal yang sangat menyenangkan.


Aria kini menatap tajam kearah Isak Aria juga mengepalkan tangannya dengan sangat keras wajah Aria yang ada di balik topeng kini sangat menyeramkan Aria terlihat sangat marah bahkan Isak yang sedang tertawa terbatuk-batuk karena mendadak oksigen yang ada di ruangan tersebut menipis.


"Ada apa ini kenapa udara disini tiba-tiba terasa menipis dan sesak?" Isak berkata sambil terbatuk-batuk.


"Kalau begitu aku akan membuat nafasmu tidak sesak lagi" Aria lalu menendang tubuh Isak dengan sekuat tenaga hingga tubuhnya terbang ke arah pintu keluar tempat lelang tersebut lalu tubuh Isak menghantam pintu itu dengan sangat keras hingga membuat pintu tersebut rusak.


"Uhuk.." Isak mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.


Aria langsung menghampiri Isak yang sedang terduduk di dekat pintu yang sudah rusak. Isak masih berdiam diri disana karena terlalu terkejut dan shock dengan apa yang menimpa dirinya.

__ADS_1


Aria kini berada di depan Isak yang masih terduduk dan terbatuk-batuk "Kamu benar menyiksa seseorang adalah hal yang paling menyenangkan apalagi saat orang itu berteriak memohon ampun" Aria lalu menyeringai dan menendang Isak sekali lagi dengan sekuat tenaga hingga terlempar jauh keluar ruangan lelang tersebut dan mendarat setelah menabrak beberapa mobil yang terparkir disana.


Isak masih terbatuk-batuk lalu mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya, Isak lalu menatap Aria yang sedang berjalan kearahnya sambil membawa sebuah pedang di tangan kanannya.


"Tu - uhuk ..." Isak masih kesulitan berbicara dan bernafas karena masih terbatuk-batuk.


Aria kini sudah berada di depan Isak "Hey kau tau aku akan menghancurkan organisasi Red Blood secara perlahan-lahan, aku ingin tau reaksi ketuamu bagaimana saat dia tau bisnisnya hancur aku juga ingin tau reaksi ketuamu saat dia mengetahui kabar kematianmu" Aria berkata dengan nada yang sangat dingin.


Setelah menyesuaikan diri dan tidak terbatuk-batuk lagi Isak kemudian bangun dan meraih pistol yang ada di balik jasnya lalu dengan cepat mengarahkan pistol tersebut pada Aria.


"Kamu tidak akan bisa membunuhku karena kamu yang akan mati disini dan aku juga akan bilang pada ketua kalau kamu yang sudah mengganggu bisnisnya" ucap Isak sambil mengarahkan pistolnya pada Aria yang masih terlihat tidak peduli dengan pistol yang kini ada di depannya dan kapanpun bisa mengeluarkan timah panas dan menembus kulitnya.


"Baiklah kita lihat siapa yang akan mati terlebih dahulu di antara kita berdua"


"Kamu terlalu sombong tentu saja kamu yang akan mati duluan pedang melawan pistol tentu saja pistol yang akan menang. Mungkin akan sedikit berbeda bila aku ada di dalam jangkauan pedangmu tapi kamu juga menyadari aku tidak ada di dalam jangkauan pedangmu jadi selamat tinggal.." Isak ingin menarik pelatuk pistolnya namun tiba-tiba sebuah belati kecil melesat dengan kecepatan tinggi mengenai bahu pria tersebut seketika itu juga Isak berteriak dan menjatuhkan pistol yang ada di tangannya.


Isak terus berteriak sambil memegangi bahunya yang tertancap belati kecil "Kau.. siapa kau sebenarnya" Isak kini menatap Aria dengan penuh amarah di wajahnya.


"Kamu tidak perlu tahu, yang perlu kamu tau sekarang adalah aku akan membalas kamu ketuamu dan anggota Red Blood yang lain karena sudah menyakiti orangku"


Aria lalu melemparkan lagi dua belati kecil kearah kedua kaki Isak.


Brukk


Isak terjatuh dan berteriak kencang karena merasakan sakit di kedua kakinya juga sekarang Isak tidak bisa bangun lagi.

__ADS_1


Aria lalu berjalan menghampiri Isak yang sedang berteriak "Hey kamu bisa diam tidak kamu sangat berisik" Aria memotong tangan Isak yang sedang memegang bahunya yang terluka.


"Aarrgghh.."


Aria lalu berlutut di depan Isak dan mengeluarkan satu buah belati kecil dari balik jaketnya "Apa kamu tidak akan memohon ampun padaku?" Aria bertanya pada Isak sambil menyeringai andai Aria tidak memakai topeng di wajahnya mungkin sekarang Isak akan mengompol karena ketakutan melihat wajah Aria.


"Sampai matipun aku tidak akan pernah memohon ampun padamu" Isak menjawab dengan nada dinginnya.


"Ah begitu ya ternyata kamu sangat kuat dengan pendirianmu baiklah kalau gitu kita akan mulai"


"Mulai..mulai apa maksudmu" kini perasaan Isak tidak enak dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.


"Membuatmu tidak bisa berteriak ataupun berbicara lagi" Aria berkata dengan nada yang tidak kalah dingin dari Isak.


Aria kemudian memukul kepala Isak menggunakan gagang pedangnya lalu saat Isak sudah terbaring lemas Aria merobek mulut Isak menggunakan belati kecil yang tadi Aria pegang.


Aria merobek mulut Isak sampai telinganya setelah itu Aria menyayat tubuh Isak mulai dari tangan perut dada juga kakinya lalu setelah itu Aria mengeluarkan sesuatu dari dari tas yang ada di pinggangnya.


Aria mengeluarkan dua buah botol berukuran sedang dari dalam tas tersebut "Kau tau ini apa?" Aria bertanya pada Isak seolah-olah Isak bisa menjawab pertanyaannya.


Isak hanya menatap tajam Aria karena sekarang dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa bahkan Isak ingin mengakhiri hidupnya sendiri karena merasakan sakit yang teramat sangat di seluruh tubuhnya.


Aria kemudian tersenyum "Ini adalah air lemon, apa kau tau kalau aku menyiramkan air lemon ini ke luka yang ada di tubuhmu bagaimana rasanya?" Aria kemudian tertawa dengan sangat menakutkan "Kamu akan merasa sangat kesakitan, apa kamu tau ini adalah hal yang paling menyenangkan saat menyiksa seseorang"


Aria menyiramkan air lemon yang ada di dalam botol tersebut kepada seluruh tubuh Isak. Begitu air lemon itu mengenai tubuh Isak, mata Isak segera melotot dan tubuhnya gemetaran bahkan Isak seperti sedang di ambang kematian yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Isak tidak bisa berteriak ataupun mengeluarkan suara dari mulutnya yang robek. Aria yang melihat Isak seperti itu kemudian tertawa, suara tertawa Aria  sangat menakutkan bahkan Aria kini terlihat seperti orang yang tidak waras


__ADS_2