Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Sebuah Foto


__ADS_3

"Nona Aria.." panggil Giovanni saat melihat Aria.


Herald juga Javier langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggil Aria, lalu mereka berdua menemukan seorang pria tampan sedang berjalan menghampiri mereka bertiga.


Herald langsung mengenali pria itu karena sudah pernah bertemu dengannya lain halnya dengan Javier, dia tidak mengenali siapa pria yang memanggil Aria itu.


"Aria siapa pria itu?" Tanya Javier pada Aria yang kini memasang wajah datarnya.


"Dia adalah polisi yang aku ceritakan pada kakak"


Giovanni kini telah berada di depan Aria. Giovanni lalu melirik Herald kemudian Javier, saat melihat Javier Giovanni langsung menanyakan keadaannya.


"Anda tuan Javier bukan, bagaimana kondisi anda? Saya tadi sore ke rumah sakit untuk menjenguk anda tapi anda sudah tidak ada di sana lalu kata dokter anda sudah pulang serta sembuh tiga hari yang lalu"


"Kondisi saya sudah membaik makannya saya meminta pulang pada dokter karena tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Oh iya ada keperluan apa anda ke sini?"


"Saya hanya mau menanyakan kondisi anda dan juga beberapa pertanyaan tentang kronologi yang menimpa anda waktu itu"


"Sudah aku bilang kan jangan ikut campur lagi urusanku kenapa kamu masih keras kepala, bukannya kamu juga sudah cukup mengetahui bagaimana kejadian waktu itu dari aku dan juga pria paruh baya waktu itu lagipula kepolisian sudah menutup kasus kakakku jadi lebih baik kamu mengurus kasus yang lain saja sana aku dan kakakku sibuk" Aria tidak suka dengan kedatangan Giovanni lalu menarik tangan Javier untuk segera memasuki apartemen.


"Nona Aria Tuan Javier tolong tunggu sebentar saya masih belum selesai bicara" Giovanni ingin menyusul langkah Aria namun segera di hadang oleh Herald.


"Bukankah Aria sudah mengatakan bahwa tidak ada lagi yang perlu di katakan kenapa anda bersikeras ingin ikut campur urusannya" Herald berkata pada Giovanni dengan ekspresi datarnya.


"Saya hanya ingin membantu nona Aria dan juga tuan Javier untuk menangkap pelaku yang mencelakai tuan Javier" ucap Giovanni dengan ekspresi sama.


"Anda tidak membantu sama sekali justru anda membuat masalah baru untuk Aria"


"Masalah baru?.." Giovanni mengernyitkan dahinya.


"Benar, Aria merasa bersalah karena anda ikut campur dalam masalahnya anda malah jadi dalam bahaya seharusnya anda sudah paham itu dan lagi ini urusannya dengan dunia bawah anda tau kan orang dunia luar tidak mau berurusan dengan orang dari dunia bawah lagipula kasusnya sudah di hentikan lebih baik anda menangani kasus lain" Herald juga sebenarnya kesal pada Giovanni yang sangat keras kepala.


"Tapi..."


"Tapi apa, anda tidak mau melepaskan kasus ini atau anda punya maksud lain pada Aria dan memanfaatkan kasus kakaknya untuk mendekati Aria?" Herald menatap tajam Giovanni.


"Memangnya kenapa kalau saya punya maksud lain pada nona Aria? Anda juga bukan siapa-siapanya nona Aria jadi anda tidak berhak ikut campur urusan saya dengan nona Aria" Giovanni juga menatap tajam ke arah Herald.


Herald kemudian tertawa "Lihatlah sekarang anda baru menunjukkan niat anda yang sebenarnya dan lagi anda juga bukan siapa-siapa Aria jadi anda tidak berhak ikut campur dalam urusan atau masalah Aria dan satu lagi saya sudah mengenal Aria dari dulu"


"Saya akan tetap mencari tahu tentang kejadian waktu itu dan membantu nona Aria menangkap pelaku"

__ADS_1


"Lalu setelah anda berhasil menangkap pelaku tersebut apa yang akan anda lakukan?, Apa anda akan memenjarakannya? tentu saja itu tidak mungkin karena anda akan langsung di pecat dari kepolisian karena berurusan dengan orang dari dunia bawah. atau anda akan membunuhnya?"


"Itu bukan urusan anda mau saya apakan pelaku itu kalau sudah tertangkap" Giovanni mengepalkan tangannya dengan sangat keras untuk menahan amarahnya pada Herald.


"Kalau anda membunuhnya bukankah Anda akan menjadi musuh organisasi pelaku dari dunia bawah dan lagi walaupun anda mencarinya ke seluruh dunia pun anda tidak akan pernah menemukan orang-orang tersebut" Herald tersenyum tipis.


"Maksud anda apa?"


"Pelaku tersebut sudah tidak ada lagi di dunia ini mereka sekarang sudah berada di neraka" ucap Herald sambil menyeringai dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Melihat Herald yang seperti itu sontak Giovanni langsung mundur dua langkah dari hadapan Herald.


"Kenapa anda menjauh" Tanya Herald masih dengan ekspresi wajah yang menyeramkan itu.


"Maksudmu mereka sudah mati?" Giovanni menjadi sangat waspada terhadap Herald.


"Benar, mereka semua sudah mati di tanganku" Herald menyeringai kearah Giovanni dan itu langsung membuat Giovanni bergidik ngeri.


"Pria ini sangat berbahaya, kenapa Aria dekat dengan orang yang sangat berbahaya seperti dia" batin Giovanni


"Jadi anda tidak perlu lagi mencari siapa pelaku tersebut kecuali anda mau menyusul mereka ke neraka apa anda mau, kalau anda mau saya akan membuat anda bertemu dengan mereka"


"Tergantung sikap anda, kalau anda tidak lagi mencampuri urusan Aria saya akan mempertimbangkan untuk tidak membunuh Anda tapi kalau anda masih keras kepala anda boleh mencobanya saya jamin anda akan langsung bertemu dengan pelaku yang mencelakai kakak Aria"


"Sebaiknya sekarang aku pulang saja, aku tidak mau membuat keributan di depan gedung apartemen ini" batin Giovanni


Giovanni lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju mobilnya Giovanni bahkan tidak berbicara apapun pada Herald dan meninggalkan Herald yang masih berdiri di tempatnya.


"Cihh dia kabur begitu saja" gumam Herald sambil melihat mobil Giovanni yang melaju semakin menjauh dari gedung apartemen tersebut.


Herald lalu menghela nafas pelan kemudian berbalik dan ingin melangkah memasuki gedung apartemen itu namun saat Herald berbalik Herald melihat Aria yang sedang menatapnya.


"Kapan kamu ada di situ Aria?" Herald sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Aria sudah ada di belakangnya.


"Baru saja, aku sudah masuk ke dalam tapi aku tidak melihatmu jadi aku mencarimu ke sini setelah mengantar kakak terlebih dulu lagian ngapain kamu disini?" Aria menatap Herald yang terlihat sedikit gugup.


"Aku habis berbicara dengan Giovanni sebentar setelah itu aku mau masuk ke dalam dan menyusulmu"


"Bicara dengan Giovanni? Aku kira pria itu akan langsung pergi setelah aku menolak untuk berbicara dengannya"


"Dia tidak langsung pergi karena aku menahannya dan berbicara sebentar dengannya setelah itu dia langsung pergi"

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?" Aria penasaran apa yang mereka berdua bicarakan karena begitu Aria sampai di bawah Aria hanya melihat Herald dan tidak melihat Giovanni.


"Bukan apa-apa itu tidak penting lebih baik kita masuk ke dalam udara di luar sangat dingin" Herald lalu menarik tangan Aria untuk masuk kedalam gedung apartemen tersebut.


_____


"Aria bereskan barang-barang mu biar besok kita bisa langsung pindah dan tidak repot mengurus barang-barang lagi" Javier berkata pada Aria yang baru saja selesai membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya.


"Baik kak, aku akan membereskan pakaianku dulu"


"Biar aku bantu Aria" Herald menghampiri Aria yang akan berjalan menuju kamarnya. Aria tidak keberatan di bantu Herald lalu mereka berdua memasuki kamar Aria untuk mengemas pakaian dan beberapa barang milik Aria.


"Bantu aku memasukkan pakaian ini ke dalam koper" Aria mengeluarkan pakaian dari lemari dan menaruhnya di atas tempat tidur.


Herald mengambil koper yang ada di atas lemari dan menaruhnya di atas tempat tidur Aria. Herald memasukan pakaian yang Aria keluarkan dari dalam lemari ke dalam koper.


"Oh iya tolong masukkan buku-buku itu ke dalam kotak kardus ini, aku mau membereskan kamar mandi" Aria memberikan kotak kardus yang ada di tangannya pada Herald yang baru saja selesai memasukan pakaian Aria ke dalam koper.


"Baiklah serahkan padaku" Herald menerima kotak kardus tersebut lalu berjalan ke arah lemari yang terdapat berbagai macam buku. Sementara Aria, dia berjalan ke kamar mandi untuk membereskan kamar mandi tersebut sebelum besok mereka pindah dari apartemen.


Herald mengambil beberapa buku dan memasukannya ke dalam kotak kardus yang dia letakkan di lantai namun saat Herald mengambil satu buku yang terlihat sedikit berdebu dari dalam buku tersebut sesuatu terjatuh.


"Apa ini?" Herald mengambil kertas putih yang terjatuh dari dalam buku tersebut. Herald lalu membalikkan kertas putih tersebut yang ternyata adalah sebuah foto.


"Aria dan Louis? Sepertinya foto ini di ambil di Paris tapi kenapa dalam foto ini mereka berdua kelihatan dekat sekali bahkan Aria terlihat sangat bahagia" Herald memperhatikan foto tersebut.


Herald juga melihat di dalam foto tersebut Aria dan Louis saling berpelukkan dan Aria terlihat sangat nyaman dan juga bahagia di dalam pelukan Louis.


"Apa ada sesuatu di antara mereka berdua yang tidak aku ketahui, aku tau mereka berdua sudah saling mengenal dan menjadi rekan dalam waktu lama tapi aku tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua" Herald lalu memegang dadanya "Kenapa dadaku sesak ya melihat foto mereka berdua yang terlihat sangat bahagia" Herald menatap sayu foto Aria dan juga Louis.


Aria keluar dari kamar mandi karena sudah selesai membereskan kamar mandi tersebut Herald yang melihat Aria keluar dari dalam kamar mandi langsung memasukkan foto tersebut ke dalam saku celananya dan kembali mengambil buku-buku yang ada di rak lalu memasukannya ke dalam kotak kardus.


Aria yang melihat Herald masih membereskan buku-bukunya lalu bergegas menghampirinya. "Karena aku tidak punya banyak barang setelah membereskan buku-buku ini kita sudah selesai" Herald menjawab Aria hanya dengan menganggukkan kepalanya.


Herald selesai memasukan buku-buku itu ke dalam kotak kardus tersebut dan segera mengangkat kotak itu lalu memindahkannya ke ruang tv begitu juga dengan koper dan kotak kardus lainnya.


Selesai memindahkan barang-barang tersebut Aria lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Aku mau keluar untuk membantu kakakmu siapa tau dia butuh bantuan" Herald lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Aria.


"Kapan kamu akan pulang?"


Baru saja Herald ingin membuka pintu kamar Aria Herald mendengar Aria berbicara padanya "Mungkin nanti saat kamu sudah pindah ke rumah barumu" jawab Herald sambil membalikkan badannya dan menatap Aria yang masih tiduran di atas kasur.

__ADS_1


__ADS_2