Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Marliana Ditemukan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi namun Leon masih belum menemukan Marliana adiknya, itu membuat Leon frustasi dan tidak bisa tidur.


"Marliana kamu dimana" tiba-tiba ponsel Leon berbunyi dan Leon langsung mengangkatnya.


"Bagaimana apa kalian menemukan Marliana?" Ternyata yang menelepon tersebut adalah anak buahnya yang sedang mencari Marliana.


"Kami sedang mencarinya di berbagai gedung kosong lalu kami menemukan seorang wanita tapi kami ragu wanita itu adalah nona Marliana karena kami tidak bisa mengenali wajahnya yang tertutup banyak darah"


"Apa!! Darah... Sekarang kalian ada dimana?"


"Kami ada di gedung kosong di daerah A"


"Baiklah aku akan segera kesana dan jangan sentuh wanita itu sebelum aku datang"


"Baik tuan"


Setelah itu Leon mengakhiri panggilan tersebut "Wanita dengan banyak darah, aku harus melihatnya sendiri semoga saja itu bukan Marliana"


Leon lalu bergegas keluar dari rumahnya menuju mobil yang terparkir di halamannya setelah itu Leon segera melajukan mobil tersebut menuju daerah A.


Sesampainya di depan gedung kosong tersebut Leon sudah disambut dengan anak buahnya yang dia suruh untuk mencari Marliana.


"Dimana wanita itu?" Leon langsung bertanya pada anak buahnya.


"Dia ada di dalam tuan kami akan menuntun anda" tiga orang anak buah Leon menuntunya ke dalam gedung kosong tersebut.


Saat sudah ada memasuki gedung Leon melihat darah di sepanjang jalan tersebut dan perasaan Leon semakin tidak enak saat anak buahnya menuntunnya ke sebuah ruangan yang minim pencahayaan karena itu juga masih pagi dan matahari belum naik jadi Leon tidak bisa melihat jelas.


"Hey kalian bertiga nyalakan senter yang ada di ponsel kalian" Leon memerintahkan kepada ketiga anak buahnya untuk menyalakan senter yang ada di ponsel mereka untuk menerangi gedung tersebut.


"Baik tuan" mereka bertiga pun menyalakan senter dari ponsel mereka lalu Leon segera melihat seorang wanita dalam kondisi yang sangat mengenaskan terikat di dua buah tiang dan juga yang membuat Leon mengernyitkan dahi adalah wanita tersebut sudah tidak memiliki kaki.


Leon tidak mengenali wanita itu karena wajahnya tertutup rambutnya yang panjang dan juga darah tapi begitu Leon membaca tulisan di tangan dan perut wanita tersebut tubuh Leon bergetar hebat dia lalu menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah wanita itu dan juga Leon membersihkan darah yang ada di wajah wanita itu dengan tangannya lalu saat Leon sudah berhasil menyingkirkan darah tersebut Leon segera mengenali wanita mengenaskan yang ada di hadapannya.


"Tidak mungkin.. ini tidak mungkin.. Ana apa kamu mendengar kakak" tubuh Leon bergetar sangat hebat bahkan tangan yang menyentuh wajah Marliana juga gemetaran


Leon lalu melepaskan tali yang mengikat tangan Marliana. Leon langsung menahan tubuh Marliana agar tidak jatuh setelah Leon melepas ikatan di tangan Marliana.


"Ana..apa kamu mendengar kakak?" Leon mencoba untuk membangunkan Marliana bahkan sekarang dari mata Leon keluar air mata dan tidak ada lagi wajah dingin Leon yang sering anak buahnya lihat.


"Ana buka matamu kakak mohon jangan tinggalkan kakak, kakak janji akan membalas orang yang membuatmu seperti ini tapi buka matamu Ana" Leon terus menepuk pelan wajah Marliana namun Marliana masih tidak sadarkan diri.


Leon lalu menggendong Marliana dan berniat membawanya ke rumah sakit miliknya. "Kalian bertiga kubur kedua kaki Marliana lalu setelah itu panggil semua anggota yang lain dan pulanglah ke dunia bawah setelah aku mengurus Marliana aku akan menemui kalian"


"Baik tuan"

__ADS_1


Leon segera membawa Marliana ke rumah sakit miliknya. Empat puluh menit kemudian saat matahari mulai kelihatan Leon sampai di rumah sakit miliknya dan segera membawa Marliana ke ruang UGD.


Tiga jam Leon menunggu di depan ruang UGD tersebut lalu tidak lama kemudian dokter yang menangani Marliana sudah keluar dari ruang UGD tersebut.


"Bagaimana keadaan Ana Erik?" Erik adalah nama dokter yang bekerja di rumah sakit milik Leon.


"Maaf tuan nona Marliana sekarang sedang kritis anda sedikit telat membawanya ke sini, meskipun luka potong yang ada di kaki nona Marliana sudah di berhentikan pendarahannya sebelum di bawa kesini nona Marliana tetap kehabisan banyak darah dan juga mengalami luka yang sangat serius di sekujur tubuhnya"


"Luka bekas potongan di kakinya sudah di berhentikan?" Leon memastikan ucapan dokter Erik.


"Benar tuan, sepertinya orang yang memotong kaki nona Marliana yang memberhentikannya dia melakukan itu agar nona Marliana merasa kesakitan dan tidak meninggal akibat kehabisan darah"


"Sialan .. dia melakukan hal sekejam itu pada Ana yang tidak tau apa-apa" Leon mengepalkan tangannya dengan sangat keras.


"Tuan sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?"


"Aku sudah mencurigai seseorang tapi aku masih belum terlalu yakin" Leon lalu menghela nafas pelan "Apa aku boleh menemui Ana?"


"Tentu saja boleh silahkan tuan, tapi maaf saya tidak bisa menemani anda karena saya masih harus menyiapkan obat untuk nona Marliana"


"Aku akan menemuinya sendirian kamu bisa menyiapkan obat untuknya" setelah itu Leon memasuki UGD untuk melihat adiknya Marliana.


Leon melihat Marilana terbaring dengan berbagai macam alat bantu di tubuhnya. Leon mengingat kembali tulisan yang ada di tubuh Marliana.


"Siapa sebenarnya orang yang melakukan ini padamu Ana, cepatlah sadar kakak akan menemukan orang itu" Leon menggenggam tangan Marliana dan menatap wajah Marliana dengan perasaan sakit dan juga sedih.


"Aku mencurigai Aria tapi mana mungkin Aria yang melakukannya tapi aku akan menemuinya dan bertanya padanya" batin Leon sambil menatap Marliana.


_____


Aria bangun dari tidurnya karena sinar matahari yang masuk kedalam kamarnya dan mengenai wajah cantik Aria.


"Jam berapa sekarang" Aria lalu meraih ponsel yang semalam Aria taruh di atas meja kecil dekat tempat tidurnya.


"Jam sembilan lebih" gumam Aria.


Aria turun dari tempat tidurnya lalu meregangkan tubuhnya dan melakukan sedikit olahraga pagi biar ototnya tidak kaku setelah itu Aria pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit kemudian Aria keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaiannya.


"Cuaca semakin dingin aku mau pakaian yang hangat" Aria lalu mengambil atasan rajut yang tebal dan celana jeans panjang tidak lupa Aria mengambil jaket tebalnya.


Setelah selesai berpakaian Aria lalu keluar dari dalam kamar sambil memegang jaketnya. Aria melihat Herald sedang berkutat di dapur.


"Sedang apa kamu?" Aria menghampiri Herald dan bertanya apa yang sedang Herald lakukan.

__ADS_1


"Oh Aria kamu sudah bangun, aku lagi membuat dua cangkir kopi, nah ini untukmu satu" Herald memberikan satu cangkir kopi pada Aria.


Aria menerima kopi itu lalu meminumnya "Ini enak, terimakasih"


"Baguslah kalau kamu suka" Herald tersenyum pada Aria.


"Apa kamu sudah sarapan?" Aria bertanya pada Herald yang baru saja duduk di atas sofa.


"Belum, aku juga baru bangun tadi"


"Kita sarapan di luar saja sekalian kamu beli baju baru"


"Kedengarannya bagus baiklah kita akan sarapan di luar dan membeli beberapa baju lalu setelah itu kita kerumah sakit untuk melihat kakakmu"


Aria menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Herald. Herald menghabiskan kopinya lalu berjalan ke kamar Javier untuk mengambil ponsel dan jaketnya.


Setelah itu mereka berdua keluar dari apartemen tersebut dan menuju toserba untuk membeli sarapan.


Mereka berdua tiba di toserba dan segera turun dari mobil. "Kamu tunggu disini biar aku yang masuk dan mengambilkannya untukmu, kamu mau sarapan apa?" Herald menyuruh Aria untuk menunggu di luar toserba tersebut.


"Aku mau roti dengan selai kacang juga satu kotak susu coklat"


"Baiklah kamu tunggu disini biar aku bawakan" Herald kemudian berjalan masuk kedalam toserba sementara Aria di duduk di kursi depan toserba tersebut.


Tidak lama kemudian Herald sudah kembali sambil membawa pesanan Aria tadi. "Nah pesananmu" Herald memberikan roti dan juga susu kotak pada Aria.


Aria menerima itu kemudian langsung memakannya. Mereka berdua sarapan di depan toserba tersebut sambil melihat sungai besar yang ada di seberang jalan.


Lima belas menit kemudian mereka berdua selesai sarapan dan berniat untuk melanjutkan perjalanan namun saat Aria akan memasuki mobilnya ada suara yang memanggil namanya.


"Aria.."


Aria melihat ke arah sumber suara sementara Herald dia sudah berada di dalam mobil. Aria melihat orang yang memanggilnya dan wajah Aria langsung kembali datar karena orang yang memanggil namanya adalah orang yang paling Aria benci.


"Ada apa kamu memanggilku?"


Leon kemudian menghampiri Aria dan sekarang dia sudah ada di hadapan Aria. "Aku mau ke toserba untuk membeli sesuatu kemudian aku melihatmu jadi aku memanggilmu"


"Oh kalau gitu kamu bisa pergi ke toserba karena sekarang aku sibuk permisi"


"Tunggu Aria!! Aku mau bertanya sesuatu" Leon menghentikan Aria yang ingin memasuki mobilnya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan" Aria menanggapi Leon dengan acuh tak acuh.


"Apa kamu yang mencelakai adikku?"

__ADS_1


__ADS_2