Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Pasangan Tidak Waras


__ADS_3

Herald sebenarnya tidak terlalu suka melihat Aria yang seperti orang tidak waras sekarang namun Herald lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa karena kalau Herald melarang Aria, Aria pasti akan langsung marah padanya.


Herald akui dia juga sama seperti Aria tapi kalau Herald melihat Aria rasanya Herald tidak tahan dan ingin menghentikan Aria.


"Aku juga seperti itu saat menyiksa musuhku tapi entah kenapa melihat Aria yang melakukannya hatiku terasa sakit, aku tidak mau Aria seperti itu aku mau melihat Aria tersenyum bahagia bukan tersenyum seperti orang yang tidak waras" Herald memegang dadanya yang sesak dan terasa sakit.


"Selesai.. Leon pasti akan menyukainya saat nanti dia melihatnya" Aria tersenyum bangga seolah-olah itu adalah sesuatu yang patut di banggakan.


Aria menyayat lengan kanan dan kiri Marliana dan sekarang di tubuh wanita itu terdapat sayatan yang berupa tulisan.


"Ampuni aku, tolong lepaskan aku.." Marliana hanya bisa terus mengulang kata itu.


"Tidak mau, sudah aku bilang kan aku tidak mau melepaskanmu. Nah karena ini baru di mulai sekarang aku akan ke tahap selanjutnya" ucap Aria bersemangat, sekarang Aria benar-benar terlihat seperti orang yang tidak waras.


Aria lalu kembali mengambil tiga botol air lemon dan menyiramkan air lemon itu ke seluruh tubuh Marliana sontak Marliana langsung berteriak histeris.


"Arrghhh sakit tolong hentikan itu, itu sangat perih dan menyakitkan" Marliana terus berteriak histeris karena rasa sakit yang dia rasakan dan juga Marliana tidak bisa kehilangan kesadaran disaat seperti ini Marliana bahkan memohon agar cepat pingsan karena rasa sakit yang dia rasakan sangat luar biasa.


"Ah satu lagi..aku perlu menulis satu kata lagi untuk kakakmu"


Aria lalu kembali menyayat Marliana tapi kali ini Aria menulis kata itu di perut Marliana.


Pertama-tama Aria merobek dress yang menutupi perut Marliana setelah itu baru Aria menulis di kulit perut tersebut menggunakan belatinya.


"Aarrghh .. itu menyakitkan tolong hentikan, aku mohon hentikan sekarang" Marliana terus berteriak histeris namun Aria tidak menggubris itu dan Aria terus menggores kulit tersebut.


"Selesai ini baru mahakarya yang bagus" ucap Aria sambil tersenyum melihat tubuh Marliana dipenuhi oleh luka sayatan dan goresan.


"Bagaimana Herald apa ini terlihat bagus?" Aria menatap Herald untuk mendengarkan pendapatnya.


Herald menganggukkan kepalanya "Itu terlihat bagus, kamu sangat pandai Aria" Herald tersenyum pada Aria.


"Tentu saja kan aku yang membuatnya" Aria tersenyum bangga melihat hasil karyanya.


"Kalian gila.." mendengar perkataan Aria dan juga Herald Marliana tidak habis pikir ada orang waras seperti itu jadi Marliana berasumsi bahwa Aria dan juga Herald sudah kehilangan akal sehatnya.


"Kalian pasangan gila!!" Marliana berteriak pada Aria dan juga Herald.


"Gila ya, aku tidak keberatan asalkan aku bisa membalaskan dendam dan rasa sakitku pada kakakmu, aku tidak keberatan dianggap gila sekalipun" Aria menatap datar ke arah Marliana.


_____


Leon kini sudah berada di rumahnya namun sampai saat ini dia masih belum mendapatkan kabar dari anak buahnya yang dia sebar untuk mencari Marliana.


"Sudah sepuluh jam lamanya tapi mereka belum juga menemukan Marliana" Leon yang berada di ruang utama rumahnya kini terlihat tidak tenang dan cemas. Leon lalu melirik jam dan sudah menunjukan pukul sebelas malam.


"Tuan apa tidak sebaiknya kita mengecek cctv" Ferio yang daritadi berada di sana memberikan pendapatnya.


"Aku sudah mengeceknya tapi tidak menemukan apapun dan hanya melihat mobil yang dikendarai adikku melaju menuju rumah ini lalu saat di jalan tempat adikku hilang disana tidak terdapat cctv karena hanya terdapat tanah luas dan gersang di samping jalan tersebut"


Leon sudah mengerahkan kemampuannya untuk meretas cctv yang ada di dekat perusahaannya juga jalan menuju rumahnya tapi hasilnya nihil Leon hanya bisa melihat mobil yang di tumpangi adiknya saja dan dia tidak menemukan kejanggalan karena di dalam cctv tersebut terdapat beberapa mobil yang lalu lalang jadi Leon tidak berpikir bahwa penculik itu salah satu dari mobil yang lalu lalang tersebut.

__ADS_1


"Tuan bagaimana kalau anda memperluas pencarian dan juga menambahkan beberapa anggota?"


"Tidak bisa, sekarang anggotaku sedikit karena insiden di gedung lelang itu, aku kehilangan delapan puluh persen anggotaku dan juga aku mengalami kerugian yang tidak sedikit. Kenapa masalah selalu datang padaku belakangan ini" Leon menjambak rambutnya sendiri karena merasa sedikit frustasi.


"Tuan anda tenangkan diri anda dulu pasti adik anda akan segera ditemukan"


"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang meculik adikku"


_____


"Hey sekarang sudah jam tiga pagi sebaiknya kamu istirahat" Herald menatap Aria yang kini masih sibuk menyiksa Marliana.


Beberapa kali Marliana pingsan namun saat kembali sadar Aria langsung menyiksa Marliana lagi begitupun seterusnya.


"Aku pikir ini sudah cukup untuk membuat Leon marah dan juga frustasi" Aria menganggukkan kepalanya saat melihat Marliana yang sekarang tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang sangat memperihatinkan.


"Bukannya itu akan membuat Leon sangat marah padamu kamu juga meninggalkan jejak di tubuh wanita itu" Herald khawatir Leon akan membalas dendam pada Aria.


"Aku tau, tapi aku tidak peduli aku akan menghadapinya kalau dia menyerangku duluan" Aria tidak takut sedikitpun pada Leon yang ada sekarang kalau Aria mementingkan egonya dia akan langsung mencari Leon lalu membunuhnya tapi Aria tidak mau seperti itu Aria mau Leon merasakan dulu sakit yang Aria rasakan lalu setelah itu baru Aria akan membunuhnya secara perlahan.


Herald hanya bisa menghela nafas pelan dan dalam hatinya Herald berjanji akan selalu melindungi Aria mulai sekarang dan tidak akan meninggalkan Aria lagi seperti sebelumnya.


"Baiklah kalau gitu ayo kita pulang" ajak Herald pada Aria.


"Sebentar aku akan memberikan sebuah kejutan lain pada Leon"


Aria mengeluarkan pedangnya lalu memotong kedua kaki Marliana setelah itu Aria menghentikan pendarahan yang keluar dari kaki yang terpotong itu agar Marliana tidak kehilangan nyawanya.


Herald yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan "Apa sudah selesai, ayo pulang dan bersihkan tubuhmu, lihatlah tubuhmu terkena cipratan darah"


"Baiklah ayo pergi aku sudah selesai"


Mereka berdua lalu meninggalkan Marliana di gedung kosong itu sendirian. Herald mengemudikan mobilnya menuju apartemen Aria karena mereka harus membersihkan pakaian dan tubuh mereka.


Sampai di dalam apartemen Aria langsung masuk ke kamarnya diikuti oleh Herald "Aku mau membersihkan tubuhku kalau kamu tidak mau menunggu kamu bisa memakai kamar mandi yang ada di dalam kamar kakak, kuncinya ada di atas meja dekat lampu tidur" Aria menunjuk kunci kamar Javier pada Herald.


"Baiklah aku akan menggunakan kamar mandi kakakmu" Herald lalu mengambil kunci tersebut dan segera keluar dari kamar Aria menuju kamar Javier untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan juga debu.


Setelah melihat Herald keluar Aria segera masuk kedalam kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya dari cipratan darah yang menempel di tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan diri Aria lalu membuka pintu kamar mandi untuk keluar namun saat Aria membuka pintu itu Aria dikejutkan oleh Herald yang sudah berdiri di depan pintu dengan hanya memakai handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya.


"Arghh.." Aria terkejut dan hampir jatuh karena mundur dan kakinya terpeleset disebabkan lantai kamar mandi yang licin.


Herald yang melihat Aria hampir terjatuh langsung menangkap Aria dengan kedua tangannya supaya Aria tidak jatuh.


Aria kira dia akan jatuh tapi Aria merasakan tangan hangat dan besar menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Aria lalu melihat Herald yang menangkap tubuhnya, kini wajah mereka sangat berdekatan Aria bahkan bisa merasakan hembusan nafas Herald.


Mereka berdua saling bertatapan Herald lalu melihat bibir Aria yang merah seperti buah ceri walaupun tidak memakai lipstik. Herald lalu semakin mendekatkan wajahnya pada Aria bahkan bibir mereka berdua hampir bersentuhan namun detik berikutnya ada sebuah tangan yang menghalangi agar bibir mereka berdua tidak bersentuhan.


"Apa yang kamu lakukan" ternyata tangan tersebut adalah milik Aria. Aria menghalangi bibirnya dengan tangannya supaya tidak bersentuhan dengan Herald.

__ADS_1


Herald langsung tersadar begitu mendengar suara Aria, Herald lalu membantu Aria berdiri dan segera meminta maaf "Ah..maafkan aku Aria aku tidak bermaksud.."


"Sudahlah lupakan itu lagian kenapa kamu berdiri di depan pintu kamar mandiku kamu mengejutkanku" Aria menatap kesal pada Herald.


"Aku mau menanyakan padamu apa aku bisa meminjam pakaian kakakmu lagi, aku belum sempat membeli pakaian baru" Herald terlihat canggung dan tidak berani menatap Aria karena Aria sekarang hanya memakai handuk di badannya.


"Kamu boleh meminjamnya lagi kamu bisa memilihnya di lemari kakak"


"Baiklah kalau gitu aku akan segera ke kamar kakakmu" Herald lalu buru-buru pergi dari kamar Aria dan kembali ke kamar Javier.


"Kenapa dia.." Aria sedikit heran dengan tingkah Herald tadi, lalu Aria menyentuh bibirnya "Hampir saja.."


Aria lalu berjalan ke arah lemarinya dan mengambil baju tidur dari dalam lemari tersebut. Aria lalu memakainya dan setelah itu Aria keluar dari kamarnya.


Aria menuju dapur dan membuka kulkas "Aku lapar, apa aku buat omelet saja ya" Aria melihat deretan telur yang tersimpan rapih di kulkasnya.


"Hey apa kamu sudah tidur?" Aria berteriak memanggil Herald karena mau menawarkan omelet siapa tau Herald juga lapar.


Herald lalu keluar dari dalam kamar Javier dan telah berganti pakaian dengan pakaian tidur milik Javier. "Aku belum tidur, ada apa?" Herald menghampiri Aria.


"Aku mau membuat omelet apa kamu mau?"


"Tentu saja, apa kamu butuh bantuan?"


"Tidak, aku bisa sendiri lebih baik kamu tunggu sambil menonton tv nanti kalau omelet nya sudah jadi akan aku beri tau"


"Baiklah.." Herald berjalan menuju ruang tv dan duduk di atas sofa depan tv lalu mulai menyalakan tv tersebut dan menontonnya.


Sedangkan Aria dia mulai membuat omelet. Tidak lama kemudian omelet yang Aria buat sudah siap, Aria lalu menaruh dua piring omelet itu di atas meja makan. Aria memanggil Herald dan mereka mulai memakan omelet buatan Aria itu.


Selesai mengisi perut, Aria lalu membawa piring kosong tersebut dan mencucinya "Kamu bisa tidur di kamar kakak tidak mungkin kan kamu tidur di kamarku"


"Apa boleh aku tidur di kamar kakakmu?" Herald menatap Aria yang kini sudah selesai mencuci piring dan duduk di hadapannya.


"Mau bagaimana lagi, apa kamu mau tidur di luar?"


"Apa aku tidak bisa tidur di kamarmu saja" Herald tersenyum pada Aria sambil menampilkan deretan giginya yang rapih itu.


"Hey apa kamu mau merasakan pukulanku" Aria mengepalkan tangannya di hadapan Herald.


"Aku kan hanya bercanda Aria"


"Bercandamu tidak lucu bagaimana jika nanti terjadi kecelakaan seperti tadi hah apa kamu mau tanggung jawab" kecelakaan yang Aria maksud adalah kecelakaan yang tadi hampir terjadi di kamar mandi.


"Aku akan bertanggung jawab penuh" ucap Herald bersemangat.


"Ternyata kamu mau merasakan pukulanku ya" Aria menatap tajam Herald


"Kalau misalkan itu terjadi aku siap bertanggung jawab" Herald menatap lembut Aria.


"Itu tidak akan terjadi, sebaiknya kamu istirahat di kamar kakak, aku juga sudah mengantuk dan perlu istirahat"

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu selamat malam Aria"


Aria menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju kamarnya sementara Herald dia menuju kamar Javier lalu mereka berduapun tertidur pulas.


__ADS_2