
Javier sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja, namun tiba-tiba Aria nyelonong masuk ke kamar kakaknya itu tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, tentu saja Javier cukup terkejut.
"Aria, sudah kakak bilang kan, kalau mau masuk kamar kakak itu ketuk dulu pintunya, jangan main masuk saja meskipun yang kamu meski itu kamar kakakmu sendiri" Javier langsung menegur Aria karena tidak sopan masuk kedalam kamar seorang pria sembarangan, meskipun itu adalah kamar kakaknya sendiri.
"Aku malas mengetuk pintu" Aria menimpali ucapan Javier lalu duduk di pinggir tempat tidur.
Javier lalu melirik ke arah Aria, "Loh.. kamu belum bersiap-siap, ini kan sudah hampir jam tujuh?" tanya Javier saat melihat Aria yang masih memakai piama.
"Aku hari ini libur kak, Bosku kemarin bilang kalau hari ini dia ada acara di luar kota seminggu penuh, jadi toko diliburkan dulu sampai dia selesai dengan acaranya itu, tentu saja itu artinya aku juga libur kerja karena tokonya tutup" Tentu saja Aria berbohong, Aria hanya mengarang cerita supaya Javier percaya bahwa Toko Barang Antik itu sedang libur, padahal tidak ada Bos sama sekali karena Toko Barang Antik itu milik Aria, Aria sebenarnya hanya ingin beristirahat dirumah sambil sesekali menghabiskan waktu bersama kakaknya.
"Begitu ya, terus kamu mau ngapain masuk ke kamar kakak tiba-tiba?" Javier bertanya sambil membenarkan dasi yang sudah terpasang di leher atau kemeja miliknya.
"Berhubung aku lagi libur kerja, aku mau tanya, nanti siang kakak mau makan apa, biar aku yang buatkan karena aku menganggur di rumah dan nanti juga aku akan mengantarkannya ke kantor kakak" ucap Aria.
"Wahhh.. tumben kamu mau masakin kakak, yah.. kalau itu, kakak ngga bisa nolak masakan dari kamu, terserah kamu mau masakin kakak apapun, kakak pasti akan memakannya karena itu masakan buatan adik kakak yang berharga ini"
Mendengar pujian dari kakaknya, tentu saja Aria merasa bangga, "Kakak tidak akan pernah bisa menolak makanan buatanku" Aria menimpali ucapan Javier dengan sangat percaya diri.
"Iya iya, kakak tau itu" Javier mengelus pelan kepala Aria, "Kamu tau kan kakak bekerja dimana?" tanya Javier.
"Iya aku tau, kakak bekerja di perusahaan Teknologi paling terkenal di kota L"
"Kalau begitu, kakak akan menunggumu siang nanti, kakak pergi kerja dulu, kamu yang anteng ya disini dan jangan keluyuran lagi" ucap Javier.
"Tentu saja, kakak tidak perlu khawatir, aku hanya mau tiduran saja sambil memakan cemilan dan menonton tv" timpal Aria lalu tersenyum.
Javier menanggapi ucapan adiknya itu hanya dengan tersenyum, Javier lalu menggeleng pelan dan keluar dari kamarnya untuk segera peri bekerja.
Aria juga ikut keluar kamar untuk mengantar Javier sampai pintu, setelah itu, Aria lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang ada di atas tempat tidur, Aria kemudian menekan poselnya dan memanggil seseorang.
"Luis, bagaimana keadaan Organisasi disana?" Tanya Aria pada seseorang diseberang telepon.
"Nona, jangan khawatir, kami disini baik-baik saja" Terdengar suara seorang pria di seberang telepon yang menjawab pertanyaan Aria.
"Baguslah, apa ada hal yang terjadi akhir-akhir ini?" tanya Aria kembali.
"Tidak banyak nona, seperti biasa, para Organisasi di sini masih saja memperebutkan posisi peringkat Organisasi masing-masing"
Organisasi disana yang Aria maksud adalah Organisasi yang berada di dunia bawah, "Apa ada yang menantang Organisasi Black Rose kita?"
"Ada beberapa, tapi kami bisa menanganinya, namun akhir-akhir ini, tiga organisasi terkuat di dunia bawah sedang memanas karena posisi organisasi yang berada di urutan ketiga ingin naik menjadi urutan ke dua, kami bahkan bentrok beberapa kali saat ada rapat penguasa dunia bawah, untungnya organisasi yang berada di posisi pertama tidak mau ikut campur dan hanya bersikap netral"
Sambil menelepon, Aria berjalan kearah jendela kamarnya dan memandang keluar kearah berdirinya gedung-gedung tinggi yang berbaris rapih, "Organisasi ketiga ya, itu berarti Organisasi Black Shadow" ucap Aria.
"Benar nona, bahkan saat rapat ketua, mereka terus menanyakan keberadaan anda karena anda jarang sekali datang dan hanya diwakilkan oleh saya saja setiap ada pertemuan Ketua dari masing-masing Organisasi"
"Baik, aku mengerti, Louis, aku akan segera mengurusnya, terimakasih karena kamu sudah membantuku selama ini, pasti itu tidak mudah untukmu"
"Nona, jangan berbicara seperti itu, saya melakukan ini karena ini kewajiban saya sebagai bawahan Anda"
"Louis, jangan menganggap dirimu sendiri bawahanku, aku selalu mengatakan ini padamu, kita adalah rekan, dan aku tidak mau kamu menjadi bawahanku" Aria berkata dengan nada suara yang tegas.
__ADS_1
"Baiklah nona, saya akan menjadi rekan yang berguna dan selalu mendukung apapun keputusan anda"
"Terimakasih Louis , secepatnya saya akan mampir kesana"
"Baik nona, kami akan selalu menunggu anda"
Aria lalu mengakhiri panggilan telepon itu, "Black Shadow ya, aku sudah merasa mereka akan berulah di kemudian hari karena mereka terlalu haus akan kekuasaan, aku harus memikirkan cara yang tepat untuk membereskan Organisasi itu" batin Aria sambil masih menatap keluar jendela.
-----------
"Tuan, kata dokter anda sudah bisa pulang asalkan anda jangan terlalu banyak bergerak berlebihan, contohnya seperti olahraga" Isak berdiri disamping Leon sambil memberikan jas yang akan dipakai oleh pria itu.
Setelah pindah dari rumah sakit pertama ke rumah sakit perusahaannya, Leon sudah bisa keluar dari sana karena kondisinya sudah jauh lebih baik setelah menghabiskan beberapa infus kantong darah.
Sambil memakai jasanya, Leon lalu menjawab ucapan pria yang ada di sampingnya itu, "Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku Isak, masih ada banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan"
Isak adalah asisten Leon yang kemarin datang ke rumah sakit pertama saat Leon dirawat, Isak sudah bekerja dengan Leon cukup lama, "Baiklah, tapi seminggu ini anda dilarang berolahraga"
"Mau aku Olahraga atau tidak, itu aku yang akan menentukannya dan bukan kamu" Leon menatap Isak dengan tatapan dinginnya, Leon terlihat sangat berbeda dan sekarang ini, itu adalah sikap Leon yang sebenarnya, Leon adalah pria yang dingin dan angkuh, tetapi entah kenapa saat bersama dengan Aria, sikap Leon berubah drastis.
Isak yang ditatap seperti itu oleh Leon segera tertunduk dan tidak berani menatap Leon lagi, "Baik Tuan, saya mengerti" Ucap Isak sambil tangannya gemetar karena ketakutan.
"Sekarang mari kita pergi dan langsung ke kantor, aku belum menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk" Tidak menunggu jawaban dari Isak, Leon lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dimana dirinya dirawat, Isak mengikuti Leon dari belakang, mereka berdua lalu segera keluar dari rumah sakit itu dan pergi menuju Kantor atau perusahaan milik Leon.
---------
Tidak terasa waktu menunjukan sudah hampir tengah hari, Aria terlihat masih berkutat dengan alat-alat masak di dapur.
"Selesai, sekarang aku tinggal mengganti pakaianku lalu pergi ke kantor kakak" ucap Aria sambil menatap kotak makanan yang ada di atas meja.
Aria kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, Selesai berganti pakaian, Aria lalu meraih kotak makan yang ditaruh diatas meja kemudian pergi keluar dari apartemennya, Aria memanggil taxi lalu segera menuju ke Perusahaan dimana kakaknya bekerja.
Tiga puluh menit perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai di Perusahaan tempat Javier bekerja dari Apartemen dengan menggunakan taxi, Aria lalu turun dari taxi itu kemudian membayar ongkos taxi, setelah membayar taxi itu, Aria segera melangkahkan kakinya menuju Kantor atau gedung Perusahaan tempat Javier bekerja.
Aria melihat gedung kantor tempat kakaknya bekerja itu sangat besar, Aria memaklumi itu karena gedung itu adalah Perusahaan Teknologi terbesar dan terbaik di Kota L.
Aria lalu segera menelpon Javier, "Halo kak, aku sudah sampai kantor tempat kakak bekerja nih, aku sudah ada di dalam, apa pekerjaan kakak sudah selesai?" tanya Aria.
"Kamu sudah sampai, kamu duduk saja dulu dan tunggu kakak sebentar, kakak masih ada kerjaan sedikit lagi, selesai ini kakak akan langsung ke sana" terdengar suara Javier dari seberang telepon.
"Baiklah" Aria mengakhiri panggilan itu lalu berjalan menuju kursi tunggu yang memang ada di dalam kantor itu, Aria duduk anteng di salah satu kursi yabg ada di sana sambil memainkan ponselnya dan sesekali melihat-lihat orang yang berlalu lalang di dalam gedung itu.
Tidak lama kemudian Javier sudah menyelesaikan pekerjaannya dan langsung pergi menghampiri Aria, "Apa kamu menunggu lama?" tanya Javier sambil menghampiri Aria.
Aria lalu melihat kearah Javier dan segera menggelengkan kepalanya, "tidak, aku belum menunggu lama karena kakak langsung datang" Aria menjawab pertanyaan Javier.
"Maafkan kakak karena tidak langsung turun untuk menemuimu, kakak tadi sedang tanggung mengerjakan pekerjaan"
"Tidak apa kak, nih makan siang untuk kakak" Aria memberikan kotak makan siang yang dibawanya pada Javier.
Javier menerima kotak makan itu, "Terimakasih ka-" saat Javier mau melanjutkan ucapannya, tiba-tiba dari belakang Javier terdengar suara seseorang yang memanggilnya.
__ADS_1
"Javier"
Javier lalu menoleh ke arah sumber suara, seketika wajah Javier berubah menjadi pucat, Aria tidak melihat wajah orang yang memanggil kakaknya dengan suara yang begitu dingin itu karena terhalang oleh tubuh kakaknya yang tinggi, maklum, tinggi Aria hanya sampai pundak kakaknya saja.
"Apa anda memanggil saya?" Ucap Javier sedikit gugup.
"Apa berkas yang saya minta minta sudah selesai?" Tanya seorang Pria yang memanggil Javier tadi.
"Sudah, saya sudah menyelesaikannya, saya tinggal menyerahkannya saja ke ruangan anda" timpal Javier.
"Bagus" pria itu terlihat menganggukkan kepalanya.
Aria yang sedari tadi memperhatikan menjadi tidak tahan karena melihat kakaknya sedikit ketakutan saat berhadapan dengan pria itu.
"Kak, apa kakak baik-baik saja?" akhirnya Aria buka suara di suasana yang menurutnya canggung itu.
"Siapa yang ada di belakangmu Javier?" Ucap pria itu saat mendengar suara seorang perempuan di belakang Javier.
"Ah.. itu adik saya, Aria... kamu harus menyapa Tuan Leon, beliau ini adalah bos kakak" Javier lalu sedikit menggeserkan tubuhnya dan menarik tangan Aria untuk bisa sejajar dengannya.
Seketika Aria sangat terkejut saat melihat orang yang ada di depannya, ternyata pria yang sedang berbicara dengan Javier, sekaligus Bos Javier adalah Leon, pria yang Aria temui di Casino waktu itu, tidak hanya Aria yang terkejut, Leon pun sama seperti Aria, Leon terkejut saat melihat wanita yang sejak semalam selalu ada dalam pikirannya, dan lagi, wanita itu ternyata adalah adik dari karyawannya.
Aria lalu memutuskan untuk pura-pura tidak mengenali Leon, Aria kemudian menyapa Leon agar kakaknya tidak curiga, "Halo Tuan, saya Aria, adik dari Javier, karyawan anda" ucap Aria.
Melihat Aria yang pura-pura tidak mengenalinya, Leon pun melakukan hal yang sama, Leon hanya mengangguk menanggapi sapaan dari Aria.
"Kalau begitu, kami permisi, kami akan makan siang" Javier langsung menarik tangan Aria setelah melihat tatapan Leon kepada Aria.
"Silahkan nikmati makan siang kalian" Ucap Leon lalu pergi dari sana menuju dan berjalan menuju lift.
Saat berada di dalam lift, Leon berpikir kenapa Aria bersikap seolah tidak mengenalinya, apa itu ada kaitannya dengan Javier.
Leon lalu menggeleng pelan, "Nanti akan aku tanyakan sendiri pada Aria kenapa dia berpura-pura tidak mengenaliku" ucap Leon lalu keluar dari lift saat Lift sudah berhenti dan pergi ke ruangannya.
Melihat Leon sudah memasuki lift, Javier kemudian menarik tangan Aria untuk duduk di kursi ruang tunggu yang ada di dalam kantor itu.
"Aria, kalau kamu bertemu lagi dengan pria tadi dan kakak tidak ada di sampingmu, segeralah lari atau berpura-pura tidak kenal saja" Ucap Javier dengan nada suara yang serius.
"Memangnya kenapa kak?, apa pria tadi berbahaya?" Tanya Aria murni penasaran karena melihat kakaknya begitu tidak menyukai Leon dan sedikit ketakutan saat berhadapan dengan pria itu.
"Bos orangnya sangat dingin, angkuh, dan tidak berperasaan, ini sudah menjadi rahasia umum di kantor, katanya dia adalah seorang ketua Mafia, kamu tau sendiri kan Mafia itu orang seperti apa, pasti dia bukan orang baik, Mafia itu kan terkenal dengan kekejamannya"
"Mafia?, apa itu benar kak?, Bos kakak itu seorang Mafia?" tanya Aria, Aria sedikit terkejut karena ternyata Leon adalah seseorang dari dunia bawah juga, ini juga menjadi alasan kenapa saat di acara lelang Leon tidak terkejut dengan kemunculan penyusup dan sudah mahir menggunakan senjata api.
"Benar, itu sebabnya kamu jangan dekat-dekat dengannya, kamu tau kan Aria, kakak paling tidak suka dengan Mafia, para Mafia itu yang sudah membakar rumah kita dan membuat ayah ibu kita meninggal.." Ucap Javier, terlihat dari wajahnya yang menahan amarah, Javier pasti sangat tidak menyukai seseorang seperti Leon.
"Baik kak, aku mengerti" Aria sedikit menunduk dan menahan emosinya karena teringat kembali akan kejadian dimana ayah dan ibunya terbakar hidup-hidup dirumahnya sendiri, Itu juga yang menjadikan Aria seperti sekarang, mengambil jalan yang sangat dibenci oleh kakaknya demi bisa membalas dendam kepada Organisasi yang membunuh kedua orang tuanya, tetapi sayangnya, sampai sekarang Aria masih belum menemukan siapa pelaku dibalik kebakaran dan pembunuhan keluarganya itu.
"Sudahlah Aria, maafkan kakak karena membuatmu mengingat kembali kejadian yang menyakitkan itu" Terlihat dari raut wajahnya, Javier sedikit menyesal karena membuat Aria teringat kembali akan masa lalu yang sudah mereka kubur dalam-dalam di ingatan mereka.
"Tidak apa kak, lebih baik sekarang kakak makan, takutnya nanti makanannya keburu dingin" ucap Aria sambil tersenyum yang menandakan Aria sudah baik-baik saja.
__ADS_1
Javier mengangguk pelan lalu segera membuka kotak makan yang di bawa Aria, "Waahh... Ini terlihat sangat enak, baiklah, mari kita makan"