
"Berapa rumah lagi yang harus kita datangi?" Aria melirik Louis yang sekarang ada di sampingnya sambil terus berkutat dengan tab di tangannya.
"Sekitar sebelas rumah lagi, bagaimana apa kamu akan mendatangi semua rumah itu malam ini?" Louis bertanya pada Aria sambil melihat jasad pria gendut yang sangat mengenaskan di hadapannya Louis bahkan mengambil gambar jasad pria gendut itu dengan tab nya.
"Ini menyenangkan" Louis tersenyum bahagia setelah mengambil gambar jasad pria gendut itu.
"Dia mulai lagi" Aria menggeleng pelan melihat tingkah dan hobi aneh Louis.
"Ayo pergi, juga hapus semua rekaman cctv yang merekam kita dan juga pastikan kamu untuk mengacaukan cctv tersebut"
"Tentu saja aku sudah melakukannya" Louis menatap Aria sambil memberikan satu jempolnya.
"Baiklah kita ke rumah selanjutnya" Aria kemudian keluar dari rumah tersebut dan Louis mengikuti di belakang sambil masih melihat-lihat gambar yang tadi dia foto.
Mereka berdua lalu tiba di luar dan berjalan menuju mobil yang tadi mereka bawa.
"Hey ngapain kamu cepat masuk" Aria menegur Louis yang masih asik dengan tab nya.
"Aku sedang meretas cctv rumah selanjutnya yang akan kita datangi"
Aria kemudian menarik tangan Louis untuk segera masuk kedalam mobil "Aku akan menyetir kamu urus dulu cctv itu". Ucap Aria begitu sampai di dalam mobil Louis hanya mengangguk mendengar perkataan Aria karena masih sibuk dengan tab nya.
Malam itu Aria ditemani oleh Louis mereka berdua membantai seluruh klien penting perusahaan Leon yang ada di dunia luar bahkan saat Aria meminta mereka memilih antara bisnis atau nyawa mereka semua memilih bisnis mereka karena berpikir Aria tidak akan membunuh mereka tapi mereka salah Aria tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Mereka yang lebih memilih bisnis dan harga diri mati dengan sangat mengenaskan ada yang tubuhnya terbelah dua, terpotong beberapa bagian bahkan Aria tidak segan-segan menyiramkan cairan yang membuat kulit dan daging mereka meleleh.
Aria menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah "Apa ini rumah yang terakhir?" Aria bertanya pada Louis yang ada di sampingnya.
"Benar ini rumah terakhir klien Red Blood di dunia luar" jawab Louis sambil menatap rumah mewah tersebut dari dalam mobil.
"Ya sudah ayo masuk" Aria baru saja mau keluar dari mobil tapi Louis menahan tangannya.
"Ada apa ?" Aria melihat tangannya yang di tahan oleh Louis lalu menatap Louis.
"Apa kamu baik-baik saja lihat wajahmu sangat pucat kamu pasti kelelahan apa tidak sebaiknya kita istirahat sebentar" Louis menatap wajah Aria yang sangat pucat.
"Aku baik-baik saja hanya sedikit lelah tapi aku masih bisa bergerak jadi ayo masuk" Aria lalu keluar dari mobil setelah Louis melepaskan tangannya.
Louis hanya bisa menghela nafas pelan "Dia tidak akan berhenti sebelum amarahnya sedikit mereda" Louis lalu keluar dari mobil menyusul Aria yang sudah ada di depan gerbang rumah mewah tersebut.
"Louis jam berapa sekarang?"
Louis lalu melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya "jam setengah empat sepertinya sebentar lagi pagi"
"Ya sudah ayo kita lakukan dengan cepat" Aria lalu melompati gerbang tersebut diikuti oleh Louis begitu mereka sampai di dalam para penjaga yang ada di sana langsung berkerumun menghampiri Aria serta Louis.
"Siapa kalian"
Melihat pedang yang ada di tangan Aria dan pistol yang ada di kedua tangan Louis membuat setiap penjaga yang ada di sana mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkannya pada Aria serta Louis.
"Aku sekarang sedikit lelah jadi aku tidak akan basa basi" Aria memberi tanda pada Louis dan mereka berdua langsung menyerang penjaga yang ada di sana.
Aria menebas setiap penjaga yang akan menembaknya, karena posisi Aria dan para penjaga tersebut dekat jadi Aria tidak kesulitan untuk menghadapi lawannya tapi sebaliknya para penjaga tersebut kesulitan melawan Aria karena mereka menggunakan pistol belum lagi posisi mereka berdekatan jadi mereka tidak bisa sembarangan menembak karena takut mengenai rekan mereka sendiri.
__ADS_1
Aria tidak menyia-nyiakan kesempatan itu Aria lalu bergerak cepat dan sangat lincah membunuh para penjaga tersebut.
Disisi lain Louis mengalihkan perhatian penjaga yang lain dengan terus menembak mereka tanpa jeda dan menjauhkan mereka dari Aria yang sedang sibuk dengan sepuluh orang penjaga.
Dengan dua pistol yang ada di tangannya Louis tidak kesulitan menghadapi lima belas orang penjaga yang ada di hadapannya karena Louis bergerak cepat dan lincah juga berpindah pindah tempat sembunyi jadi para penjaga tersebut kesulitan untuk menembak Louis.
Louis menembak semua penjaga tersebut tepat di kepala mereka dan seketika itu juga satu persatu dari penjaga tersebut tumbang dan tidak bernafas lagi.
Louis menembak penjaga terakhir kemudian melirik Aria dan Louis menemukan Aria juga sudah selesai dengan para penjaga tersebut. Louis melihat penjaga yang menjadi lawan Aria semuanya tumbang dengan kepala terpisah dari tubuh mereka Aria memenggal semua kepala para penjaga tersebut.
Dengan pedang yang masih bersimbah darah Aria lalu memasuki rumah mewah tersebut Louis yang melihat Aria masuk duluan segera menyusul Aria.
Berbeda dengan rumah-rumah sebelumnya rumah kali ini agak berbeda begitu Aria dan Louis masuk mereka disambut dengan pemandangan yang mengejutkan.
Mereka berdua disambut dengan patung dan beberapa lukisan wanita cantik kuno abad pertengahan sekali lihat lukisan dan patung tersebut harganya lumayan mahal.
Rumah ini lebih mirip galeri seni daripada rumah seorang pria paruh baya yang kaya raya.
Lalu Aria melihat Louis "Hey apa yang kamu lihat alihkan pandanganmu atau ku congkel matamu" Aria menatap Louis yang masih memperhatikan beberapa lukisan wanita tersebut.
Louis lalu mengalihkan pandangannya pada Aria "Aku hanya melihatnya sebentar"
"Cihh benarkah bukan karena kamu terpesona oleh kecantikan wanita dalam lukisan itu"
"Aria kamu tau kan aku tidak begitu aku hanya melihatnya sebentar karena refleks" Louis berusaha untuk membela dirinya namun Aria lebih memilih untuk fokus dan menaiki tangga untuk menuju lantai dua.
"Aria kamu mendengarku kan aku bukan pria seperti itu lagipula kenapa kamu marah aku kan hanya melihat lukisan kuno bukanya wanita asli, hey Aria apa kamu cemburu" Louis terus berbicara sambil mengikuti Aria dari belakang.
"Aku tidak cemburu pada lukisan lagian untuk apa aku cemburu, itu terserahmu jadi kamu mau melihat lukisan itu sepuasmu juga tidak apa sana pergi lihat lagi lukisan itu biar aku sendiri yang urus para klien itu" Aria mengusir Louis yang ada di belakangnya.
"iya iya aku tau, aku hanya mengerjaimu" Aria lalu tertawa kecil karena berhasil mengerjai Louis.
"Aria tidak lucu tau bercanda disaat seperti ini" Louis terlihat tidak senang dengan candaan Aria.
"Aku hanya bosan karena daritadi terus membunuh" Aria juga sadar bukan waktunya untuk bercanda tapi Aria merasa bosan dan ingin mengerjai Louis.
Louis hanya tertawa canggung mendengar perkataan Aria.
Mereka berdua sudah sampai di lantai dua dan di lantai dua tersebut mereka juga menemukan banyak lukisan seperti di lantai satu tadi.
"Klien satu ini ternyata pria yang memiliki jiwa seni". Aria lalu melirik Louis dan Aria melihat Louis menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak melihatnya aku tidak melihat lukisan apapun" Louis menggelengkan kepalanya dengan cepat
Aria yang melihat tingkah Louis seperti itu menaikan alisnya "Kau kenapa?"
"Kamu kan menyuruhku untuk tidak melihat lagi lukisan seperti itu jadi aku tidak akan melihatnya" Louis menjawab Aria masih sambil menundukkan kepalanya
Aria kemudian menjitak kepala Louis "Aku kan hanya menyuruhmu untuk tidak melihatnya bukan menyuruhmu untuk menunduk seperti itu, kalau nanti ada serangan mendadak kamu akan mati tau lagian kan tadi aku hanya bercanda"
Louis mengusap kepalanya yang kena jitakkan Aria "jadi apa aku salah lagi aku kan hanya menuruti perkataanmu"
__ADS_1
"Lalu kau mau menyalahkanku?" Aria menatap tajam Louis.
"Iya iya kamu benar aku yang salah" Louis langsung mengalah begitu melihat tatapan mata Aria.
Aria lalu mengalihkan perhatiannya pada pintu tinggi besar yang ada di hadapannya "Tunggu dulu kenapa di lantai dua ini tidak ada yang menjaganya " Aria melihat sekelilingnya dan tidak menemukan satupun penjaga.
"Penjaga di rumah ini paling sedikit mungkin mereka semua tadi pergi ke bawah karena mendengar keributan" Louis memberikan pendapatnya.
Aria menganggukkan kepalanya "Hey Louis buka pintu ini aku tidak bisa terlalu banyak menggunakan kakiku karena baru sembuh" Aria beralasan saja karena sebenarnya Aria sangat kelelahan Aria juga tau Louis pasti lelah juga tapi Louis punya stamina lebih tinggi dan bersemangat karena sudah lama tidak melakukan pembunuhan seperti ini.
"Baiklah serahkan saja padaku" Louis lalu menendang pintu tersebut menggunakan kakinya dengan sekuat tenaga dan pintu tersebutpun rusak.
Begitu pintu berhasil di buka mereka berdua langsung memasuki ruangan yang ternyata kamar tidur itu lalu mereka berdua tidak henti-hentinya di kejutkan dengan ruangan yang ada di rumah itu.
Di dalam kamar tidur tersebut banyak barang-barang antik yang harganya bukan main.
Aria lalu melihat sekelilingnya tapi tidak menemukan satu orang pun Louis juga sama herannya dengan Aria namun kemudian mereka berdua mendengar suara dengkuran dari atas tempat tidur dan mereka berdua refleks melihat keatas tempat tidur.
Aria dan Louis saling berpandangan kemudian menggeleng pelan lalu berjalan kesamping tempat tidur tersebut.
"Lihatlah kebo ini tidak juga bangun walaupun ada keributan di rumahnya" sebelumnya Aria dan Louis tidak melihat pria paruh baya itu karena pria itu menyelimuti dirinya sampai atas kepalanya dan saat Aria menyingkirkan selimut yang menutupinya Aria melihat pria paruh baya itu sedang tertidur pulas.
"Dia pasti mabuk berat jadi tidak sadar ada keributan di rumahnya" Louis menunjuk botol-botol minuman serta wine yang ada di atas meja.
"Lalu apa yang akan kita lakukan pada orang mabuk?" Louis melirik Aria.
"Aku tidak menyukai pria seperti dia, bunuh saja" Aria masih enggan melihat kearah pria paruh baya tersebut dan lebih memilih melihat ke luar jendela kamar yang tadi gordennya Aria buka.
Louis kemudian menembak kepala pria paruh baya yang sedang tertidur pulas tersebut sebanyak dua kali lalu setelah memastikan pria paruh baya tersebut sudah tidak bernafas lagi Louis menghampiri Aria yang sedang melihat ke luar jendela.
Pria paruh baya tersebut bahkan tidak tau kalau dirinya sudah mati dan juga tidak tau siapa yang membunuhnya.
"Sudah selesai?" Aria menatap Louis yang menghampirinya
"Sudah sekarang kita akan kemana?"
"Ke apartemenku kamu tau jalannya kan, aku lelah jadi kamu saja yang menyetir"
Aria kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah mewah tersebut yang kini di penuhi dengan darah dan juga jasad yang tidak utuh lagi.
Begitu sampai di depan mobil Aria langsung menaikinya Louis juga melakukan hal yang sama, Louis duduk di kursi pengemudi lalu mengemudikan mobil tersebut menuju apartemen tempat Aria tinggal.
Karena rumah terakhir cukup jauh dari apartemen mereka berdua sampai di apartemen sekitar satu jam lebih bahkan Aria sampai ketiduran saat itu jam menunjukan pukul lima pagi.
Louis memarkirkan mobil tersebut lalu turun dari mobil dan berjalan ke sisi kiri mobil lalu membuka pintunya dan menggendong Aria yang masih tertidur pulas karena kelelahan.
Louis membawa masuk Aria ke dalam gedung apartemen dan segera menuju unit dimana Aria tinggal. Setelah sampai di depan pintu unit 197 Louis kemudian menekan sandi yang ada di pintu tersebut, sebelumnya Louis sudah tau sandi pintu apartemen tempat Aria tinggal karena diberitahu oleh Aria lalu setelah pintu itu terbuka Louis membawa Aria masuk dan menuju kamarnya.
Louis membaringkan Aria di atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air hangat dan juga handuk lalu Louis kembali ke tempat tidur dimana Aria sekarang sedang tertidur.
Louis lalu membersihkan darah yang menempel pada tubuh Aria dengan handuk dan air hangat yang tadi dia bawa.
Setelah selesai membersihkan tubuh Aria dari darah Louis kemudian berjalan kembali ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya sendiri setelah itu Louis berganti pakaian dengan pakaiannya sendiri yang dia bawa dari dunia bawah.
__ADS_1
Louis lalu berjalan kearah Aria dan menaiki tempat tidur tersebut lalu berbaring disamping Aria untuk beristirahat.