
"Benar, kami orang dari dunia bawah bergabung atau mendirikan suatu organisasi dan juga bisnis untuk mendapatkan uang itu juga ada yang legal dan ada yang tidak tergantung bisnis yang kami ambil"
"Memangnya Leon dari organisasi mana?" Javier baru tau kalau dunia bawah itu juga memiliki pekerjaan yang legal dan juga tidak bahkan kalau Javier pikir-pikir dunia bawah dan dunia luar itu hampir sama hanya saja mungkin peraturan dunia bawah berbeda dengan dunia luar.
"Leon tidak bergabung dengan organisasi lain, Leon mendirikan organisasinya sendiri dan nama organisasinya adalah Red Blood"
"Red Blood, lalu bisnis dalam bidang apa yang di ambil oleh organisasi itu?"
"Ini... Organisasi Red Blood memperjualbelikan tubuh manusia, organisasi itu adalah organisasi yang mendukung perbudakan"
"Apa? Perbudakan dan juga memperjualbelikan tubuh manusia bukannya itu sangat keterlaluan" Javier begitu terkejut dengan pekerjaan yang di ambil Leon di dunia bawah.
"Benar dan juga Leon tidak hanya menjalankan bisnisnya itu di dunia bawah namun juga di dunia luar, perusahaan teknologinya yang ada di dunia luar itu hanya sebuah topeng dan aslinya Leon melakukan penjualan budak pada pria kaya hidung belang yang ada di dunia luar, aku dengar dari Aria untungnya kamu sudah keluar dari perusahaan itu"
"Benar, aku sudah keluar dari perusahaan itu, aku tidak tau perusahaan tempat dimana selama ini aku bekerja ternyata adalah perusahaan yang seperti itu, sangat busuk" Javier teramat terkejut karena selama ini dia bekerja di perusahaan seperti itu.
Javier menghela nafas pelan "Lalu dari organisasi mana kamu berasal?"
"Aku.." belum sempat Herald menjawab pertanyaan Javier pintu ruangan itu terbuka dan ternyata itu adalah Aria yang sudah datang dan juga tangannya kini dipenuhi dengan belanjaan.
Herald lalu bangun dan menghampiri Aria "Sini aku bantu" Herald lalu mengambil dua kantong belanjaan Aria.
"Taruh dimana ini Aria?"
"Di atas meja saja"
Herald kemudian menaruh belanjaan itu di atas meja. Aria menyusul Herald dan menaruh satu kantong belanjaan yang tersisa ke atas meja.
"Aria kamu membeli apa saja sampai kamu membawa tiga kantong plastik?" Javier melihat Aria dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Aku membelikan makanan untuk kita dan juga buah-buahan aku juga membeli beberapa camilan" Aria menjawab sambil memeriksa makanan yang dia beli.
"Oh iya, apa yang sedang kalian bicarakan tadi kenapa suasananya sangat serius" Aria menatap Javier dan juga Herald secara bergantian.
"Tidak ada ko, kami hanya meluruskan kesalahpahaman kami dulu" ucap Javier sambil tersenyum pada Aria.
"Benarkah, kakak sudah tidak marah lagi pada Herald?"
"Dulu kakak tidak suka dan marah pada Herald karena salah paham tapi sekarang sudah tidak lagi, kami sudah meluruskan kesalahpahaman kami"
Mendengar itu Aria lalu menatap Herald meminta kepastian akan perkataan Javier. Herald yang menyadari tatapan Aria langsung menganggukkan kepalanya "Itu benar, kami sudah meluruskan kesalahpahaman kami" ucap Herald sambil tersenyum.
"Baguslah kalau kalian sudah baikan" Aria merasa lega karena Javier sudah tidak marah lagi pada Herald.
"Aku sudah membeli makan siang untuk kita bertiga jadi kamu bisa makan siang disini tidak usah keluar" Aria bicara pada Herald yang ada di sampingnya.
"Baiklah, makasih Aria aku akan memakannya nanti" Herald lalu mengambil satu bungkus camilan dan duduk di atas sofa sambil bersantai dan memakan camilan tersebut.
"Aku sudah membelikan bubur untuk kakak, sekarang kakak makan dulu biar aku suapi"
Aria membantu Javier untuk duduk, di belakang Javier Aria menaruh bantal untuk menjaga agar tubuh Javier tetap bisa duduk. Setelah selesai membantu Javier untuk duduk Aria lalu membuka makanan tersebut dan menyuapi Javier.
"Bagaimana kak, apa ini enak?"
"Aku masih tidak bisa merasakan rasa apapun, rasa bubur ini pun tidak ada" Javier menggeleng pelan.
"Tidak apa kak, lambat laun nanti pasti indera perasa kakak akan pulih lagi kakak makan saja yang banyak untuk memulihkan kondisi kakak walaupun makanan ini tidak enak di lidah kakak"
"Baiklah kakak akan memakannya karena kamu sudah membelinya kita kan tidak boleh membuang-buang makanan" Aria mengangguk lalu menyuapi Javier lagi sampai bubur itu habis.
__ADS_1
Aria memberikan satu gelas air putih pada Javier setelah bubur itu habis "Nah kak, minum juga obat ini, tadi dokter memberikan ini katanya suruh di minum setelah kakak makan" Aria memberikan satu obat jenis pil pada Javier.
Javier menerima obat itu lalu meminumnya "Sekarang kakak lebih baik istirahat dulu pulihkan tubuh kakak" Javier hanya menganggukkan kepalanya.
Aria kemudian kembali membantu Javier untuk berbaring di atas kasur "Kakak sedikit ngantuk Aria mungkin itu efek samping obat tadi"
"Ya sudah kakak tidur dulu aku dan Herald akan menunggu kakak di sini" Javier menganggukkan kepalanya kemudian memejamkan matanya dan tidak lama kemudian Javier sudah tertidur.
"Apa kakakmu sudah tidur?" Herald bertanya pada Aria saat sudah tidak terdengar suara Javier lagi.
"Kakak sudah tidur"
"Ya sudah ayo makan ini juga sudah masuk waktu makan siang" Herald melihat jam yang ada di tangannya
Aria menghampiri Herald lalu duduk di sampingnya "Berhentilah makan camilan itu, kita makan siang dulu" Aria melirik Herald yang masih asik dengan camilan di tangannya.
"Baiklah" Herald menaruh camilan itu di atas meja.
Aria lalu mengeluarkan makanan yang tadi dia beli dari kantong plastik tersebut. Mereka berdua lalu makan siang di dalam ruangan itu sambil menunggu Javier, sesekali Herald mengajak Aria bercanda namun Aria tidak menanggapi itu dan hanya fokus ke makanannya.
_____
Leon kini berada di rumah sakit dan dia sedang duduk di samping adiknya Marliana yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Aku sudah gegabah, aku menuduh Aria tanpa bukti dan juga kata-kata Aria benar, dia tidak tau tentang keluargaku dan dengan cerobohnya aku menanyakan hal itu pada Aria" Leon meremas rambutnya sendiri.
"Aria pasti sangat marah padaku sekarang, aku tidak mau Aria menjauh dariku karena hal ini, aku harus segera meluruskan kesalahpahaman tadi"
"Bos apa anda tidak mencurigai orang lain selain nona Aria?" Ferio yang sekarang berada di samping Leon akhirnya buka suara saat melihat Leon seperti orang bodoh yang sedang putus asa.
__ADS_1
"Aku masih belum mencurigai siapapun, aku memiliki terlalu banyak musuh di luar sana jadi aku tidak bisa memastikan siapa pelaku yang menyakiti Ana" Leon bingung siapa orang yang mencelakai Marliana karena dia mempunyai banyak musuh di dunia bawah maupun dunia luar.
"Apa benar-benar tidak ada bos?" Ferio memastikan sekali lagi pada Leon.