
"Untunglah kakak belum pulang"
Aria kini sudah sampai di halaman rumahnya dan melihat belum ada tanda-tanda kakaknya pulang jadi Aria bernafas lega.
"Ayo masuk, atau kamu mau pulang?" Tanya Aria pada Herald saat sudah keluar dari dalam mobil.
"Aku senggang hari ini jadi aku memutuskan untuk menghabiskan waktu denganmu" Herald tersenyum pada Aria.
"Ya sudah ayo masuk" Aria lalu berjalan menuju rumahnya sementara Herald menggeleng pelan "Perjalananmu masih panjang Herald berjuanglah" batin Herald
Herald kemudian menyusul Aria masuk kedalam rumah dan tidak lama setelah mereka berdua masuk kedalam rumah, Javier pulang.
"Kakak pulang Aria, ehh...ada tamu ternyata" Javier melihat Herald yang sedang duduk tenang sambil menonton tv sementara Aria, Javier tidak melihatnya.
"Oh..kamu sudah pulang, aku mampir kesini karena sedang tidak ada kerjaan"
Javier kemudian duduk di sofa yang ada di sebelah kanan Herald. Javier menghembuskan nafas kasar dan terlihat kelelahan.
"Kenapa, apa ada masalah? Atau kamu tidak mendapatkan pekerjaan?" Tanya Herald saat melihat Javier yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Aku sudah mendapatkan pekerjaan dan aku hanya kelelahan saja karena diluar sangat panas"
"Aku kira kamu ada masalah" Herald mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya dimana Aria?" Javier melihat sekelilingnya dan dia tidak melihat Aria.
"Aria tadi naik ke lantai atas, mungkin mau ke kamarnya" jawab Herald sambil meneruskan menonton acara tv yang tadi sempat teralihkan karena kedatangan Javier.
"Aku mau ke atas untuk bersih-bersih juga sekalian melihat Aria, kalau kamu mau makan kamu tinggal ambil aja atau kamu mau cemilan kamu bisa mengambilnya di rak tempat camilan, anggap saja rumah sendiri"
"Tentu saja, aku tidak akan sungkan"
Javier lalu bangun dan berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Begitu Javier tiba di lantai dua Javier melihat pintu kamar Aria tertutup jadi Javier mengurungkan niatnya untuk melihat Aria
"Lebih baik aku mandi dulu setelah itu baru bicara dengan Aria" Javier masuk ke kamarnya yang terletak di samping kamar Aria setelah itu Javier membersihkan dirinya.
_____
"Anna kamu yang tenang ya di sana, kakak akan selalu merindukanmu"
Leon kini berada di sebuah lahan yang cukup luas yang terletak di belakang rumahnya. Di lahan luas itu kini terdapat beberapa orang dengan setelan jas hitam sedang mengelilingi sebuah makam yang masih baru.
Leon memakamkan adiknya di lahan luas itu yang ternyata adalah tempat pemakaman keluarga Leon. Disana terdapat dua makam yang terlihat sudah lama.
__ADS_1
"Sekarang Anna pasti sudah bertemu ayah dan ibu, Anna pasti senang karena bisa bertemu mereka kan" Leon berlutut di samping makam adiknya itu sambil terus berbicara dan mengelus nisan Marliana.
"Anna selalu mengatakan pada kakak kalau Anna merindukan ayah dan ibu, sekarang Anna sudah bertemu mereka jadi Anna tidak akan merindukan ayah ibu lagi"
Leon lalu melirik dua makam yang ada di sebelah kanan makam Marliana. "Ayah, ibu, aku titip Anna pada kalian di sana"
Ternyata dua makam yang sudah lama itu adalah makam ayah dan ibu Leon yang sudah meninggal beberapa tahun lalu dan kini makam itu mendapat teman baru yaitu makam Marliana.
"Selamat tinggal Anna, lihat dan bantu kakak dari atas sana untuk menemukan siapa orang yang sudah menyakitimu"
Leon kemudian bangun dan menghapus air mata yang keluar dari mata kirinya. Leon menatap makam Marliana sekali lagi kemudian membalikkan badannya dan pergi dari sana diikuti oleh beberapa orang berpakaian serba hitam yang ternyata itu adalah anak buahnya.
"Siapkan mobil aku mau menemui seseorang" ucap Leon pada Ferio yang berada di sampingnya.
"Baik bos"
Ferio lalu masuk kedalam rumah Leon untuk mengambil kunci mobil. Setelah mendapatkan kunci mobil itu Ferio lalu kembali dan masuk kedalam sebuah mobil mewah berwarna hitam.
Leon menunggu Ferio di depan gerbang rumahnya sambil tenggelam dalam pikirannya dan tidak lama kemudian Ferio memberhentikan mobilnya di samping Leon.
Leon memasuki mobil itu, lalu setelah Leon masuk kedalam mobil Ferio langsung melajukan mobil itu kejalan besar dan tidak tau akan kemana karena Leon belum memberitahunya.
"Bos, kita akan pergi kemana?" Tanya Ferio sambil melihat Leon dari kaca spion.
"Baik bos" Ferio kemudian mengemudikan mobilnya ke alamat yang Leon sebutkan tadi.
"Aku harus bertemu dengan Aria" batin Herald sambil menatap barisan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Satu setengah jam kemudian mobil Leon kini memasuki sebuah gedung apartemen elit, Ferio memarkirkan mobilnya lalu keluar dan membukakan pintu mobil belakang untuk Leon.
Leon keluar lalu menatap sekeliling kawasan apartemen itu "Ternyata Aria tinggal di tempat seperti ini, lumayan bagus dan layak huni untuk Aria" Leon mendapati apartemen itu cukup luas juga bersih tapi tetap saja masih lebih luas rumahnya.
Leon berjalan kearah pintu masuk di lantai satu untuk menanyakan unit tempat Aria tinggal. Setelah masuk kedalam apartemen itu Leon menyuruh Ferio untuk bertanya pada pemilik atau pengurus apartemen itu.
Tidak lama kemudian Ferio kembali menghampiri Leon yang sedang melihat-lihat seberapa bagus apartemen itu hingga Aria mau tinggal disana.
"Bos.."
"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan nomor unitnya?"
"Sudah bos, tapi kata pengurus apartemen itu orang yang anda cari sudah tidak berada di sini lagi, dia sudah pindah beberapa hari yang lalu"
"Apa?!! Apa itu benar?" Leon menatap tajam wajah Ferio yang kini terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
"Benar bos, saya tidak mungkin berbohong kalau bos tidak percaya bos bisa cek sendiri ke unitnya"
"Kenapa Aria pindah? Atau dia pindah ke dunia bawah dan akan menetap disana" batin Leon.
"Tidak perlu, itu akan membuang-buang waktu ayo kembali" Leon tidak ingin membuang waktu mengecek unit yang sudah kosong jadi dia mengajak Ferio untuk kembali ke rumah.
_____
"Aria apa kamu ada di dalam?" Javier mengetuk pelan pintu kamar Aria.
"Masuk saja kak" teriak Aria dari dalam kamarnya.
"Baiklah kakak masuk ya" Javier membuka pintu kamar Aria dan dia segera melihat Aria sedang sibuk merapihkan buku-bukunya yang ada di dalam kotak kardus.
Aria belum sempat menata buku-buku itu di rak buku yang ada di kamarnya jadi karena sekarang Aria senggang Aria memutuskan untuk menata buku-bukunya itu.
"Mau kakak bantu?" Tawar Javier sambil berjalan menghampiri Aria.
"Tidak perlu kak, tinggal sedikit lagi"
"Baiklah.." Javier kemudian duduk di atas tempat tidur Aria.
"Oh iya ada apa kakak mencariku?" Tanya Aria sambil masih menata bukunya.
"Tidak ada apa-apa, kakak hanya mau menyampaikan bahwa kakak sudah di terima kerja"
"Benarkah, itu berita yang sangat bagus" Aria meletakan buku terakhir kemudian menghampiri Javier dan duduk di samping kakaknya itu.
"Kakak melamar di perusahaan mana?"
"Masih perusahaan teknologi tapi tidak sebesar punya Leon namun, gajinya cukup untuk kebutuhan kita berdua"
"Tidak apa, aku juga kan bekerja yang penting perusahaan tempat kakak bekerja sekarang adalah perusahaan baik-baik" ucap Aria sambil tersenyum pada kakaknya.
"Kakak yakin perusahaan itu adalah perusahaan baik-baik tidak seperti perusahaan milik Leon" Javier menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat pesta barbeque kecil untuk merayakan kakak mendapatkan pekerjaan baru" usul Aria dengan semangat.
"Boleh, kalau gitu kakak akan membeli bahan-bahannya dulu"
"Tidak, biar aku yang membelinya, kakak siapkan saja peralatan yang dibutuhkan untuk barbeque"
"Baiklah, ajak Herald bersamamu dia bisa membantumu membawakan belanjaan"
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu ayo turun" Aria mengambil tas kecilnya yang berada di atas meja dan segera keluar dari kamarnya menyusul Javier yang sudah keluar terlebih dulu.