Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Pergi Kencan?


__ADS_3

"Kamu tidak apa Aria?"


Setelah Giovanni pergi Herald langsung menatap Aria karena hawa tidak enak itu masih ada, Herald takut Aria akan kehilangan kendali lagi.


"Giovanni pria itu mengatakan omong kosong, menyerahkan kasus ini pada polisi itu bahkan tidak ada sedikitpun dalam pikiranku aku akan membalas Leon dengan caraku sendiri" Aria terlihat masih kesal dengan Giovanni.


"Mungkin dia berkata seperti itu karena tidak mengalaminya sendiri wajar saja dia akan berkata seperti itu, lagipula dia itu kan seorang polisi dia menganggap masalahmu sebagai kasusnya" Herald memberikan pendapatnya pada Aria karena menurutnya perkataan Giovanni tidak ada salahnya hanya saja Giovanni tidak mengalami apa yang Aria sudah alami selama ini jadi pikirannya masih skeptis.


"Aku pikir saat dia mengatakan akan membantu dia memang benar-benar akan membantuku dan tidak akan pernah menolak keputusanku tapi aku salah" Aria kemudian mengambil nafas dalam lalu membuangnya.


"Tenangkan dirimu Aria" Herald menepuk pelan pundak Aria.


"Aku sedang menenangkannya" Aria mengangguk pelan.


"Ah iya aku sudah menemukan informasi jadwal marliana adiknya Leon"


"Ternyata si gila kerja ini cukup bagus juga dalam mencari informasi"


"Tentu saja aku kan hacker terbaik kedua di dunia bawah" Herald membanggakan dirinya sambil tersenyum ceria pada Aria.


"Tapi kamu masih kalah oleh ku"


"Ayolah Aria jangan langsung mengatakan fakta seperti itu aku kan jadi kelihatan tidak keren lagi" Herald langsung cemberut saat Aria mengatakan fakta padanya.


Melihat wajah Herald yang langsung berubah dari ceria menjadi murung membuat Aria tertawa kecil "Aku hanya menggoda mu tapi ekspresi mu sangat menggemaskan"


"Benarkah apa aku menggemaskan?" Herald berhenti murung dan langsung tersenyum saat mendengar Aria mengatakan kalau dirinya menggemaskan.


"Tentu saja melihat ekspresi mu tadi itu membuatku sedikit terhibur"


"Aku senang kalau kamu terhibur oleh ku" Herald tersenyum lembut pada Aria.


"Ehem.. Jadi bagaimana, apa informasi yang kamu dapat? " Aria langsung mengalihkan pembicaraan karena mulai tidak nyaman dengan senyuman dan juga tatapan Herald yng begitu lembut padanya.

__ADS_1


"Dia selalu menghindar seperti itu" batin Herald saat Aria segera mengubah arah pembicaraannya.


"Hari ini sekitar jam sembilan nanti Marliana akan keluar bersama teman-temannya untuk berbelanja ke Mall terus nanti mereka akan makan siang di Cafe dekat perusahaan kakaknya Marliana yaitu Leon" Herald mengatakan informasi yang tadi di carinya.


"Begitu ya, karena sekarang sudah mau jam sembilan bagaimana kalau kita ikuti dia sekalian jalan - jalan bagaimana? " Aria menatap Herald yang ada di depannya.


"Tentu saja aku tidak akan menolaknya kapan lagi coba aku bisa pergi jalan-jalan berdua denganmu" Herald tentu saja tidak akan menolak ajakan Aria dia bahkan sekarang merasa sangat bahagia "Bukankah ini sama seperti kencan ya" batin Herald sambil senyum-senyum sendiri.


"Baiklah kalau gitu kita ke apartemenku dulu untuk bersiap - siap"


"Baiklah, tapi bagaimana dengan kakakmu? "


"Aku sudah menyuruh anggotaku untuk diam-diam mengawasi dan menjaga kakak" Aria sudah menyebar anggotanya di dalam rumah sakit tersebut jadi Aria tidak terlalu khawatir.


"Baiklah kalo gitu ayo"


Aria menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut sementara Herald dia berjalan di samping Aria. Mereka lalu keluar dari rumah sakit itu dan memasuki mobil yang ada di parkiran setelah itu mereka berdua melakukan mobilnya menuju apartemen Aria.


____


Setelah sampai di apartemen Aria langsung membersihkan dirinya sedangkan Herald dia menunggu di ruang TV.


"Aku sudah lama tidak ke sini tapi disini tidak ada yang berubah sedikitpun hanya saja mungkin sekarang lebih sepi karena apartemen ini jarang di tinggali"


Herald sedang larut dalam kenangannya saat berkunjung ke apartemen Aria.


Dua puluh menit kemudian Aria sudah keluar dari kamarnya sambil berpakaian rapih. Aria memakai rok pendek diatas lutut dan juga kaos rajut pendek ditutupi dengan jaket jeans sepinggang, Aria membiarkan rambutnya terurai dan tidak mengikatnya.


"Aku sudah selesai sebaiknya kamu juga mandi dulu gih aku akan meminjankan baju kakak lagian bentuk tubuh kalian hampir sama"


"Baiklah aku pergi mandi kamu nanti taruh saja baju kakakmu di atas tempat tidur mu nanti aku pakai" Herald lalu bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur Aria.


Aria lalu berjalan menuju kamar kakaknya dan mengambil satu setel pakaian hangat dari lemari kakaknya "Ini pasti akan cocok di badannya" Aria mengambil kemeja putih dan juga jaket panjang tebal serta celana panjang untuk Herald dari lemari kakaknya.

__ADS_1


Setelah selesai mengambil pakaian Aria lalu menuju kamarnya, Aria melihat pintu kamar mandi masih tertutup dan terdengar suara air dari dalam kamar mandi tersebut.


"Dia masih mandi ya"


Aria lalu menaruh pakaian itu di atas tempat tidurnya dan berjalan kembali ke ruang TV.


Herald keluar dari kamar mandi dan dia melihat sudah ada pakaian yang ditaruh di atas tempat tidur "Selera yang bagus" Herald memuji pakaian pilihan Aria lalu segera memakainya. Setelah selesai bersiap-siap Herald lalu keluar untuk menemui Aria.


"Bagaimana penampilanku apa terlihat bagus?" Herald sekarang sedang berada di samping Aria yang sedang duduk menonton TV


"Bagus, pakaian itu sangat cocok untuk mu" Aria menganggukkan kepalanya


"Tentu saja kan kamu yang memilihnya untukku" Herald tersenyum pada Aria.


"Ya sudah ayo berangkat ini sudah jam sembilan" Aria lalu menarik tangan Herald dan mengajak Herald keluar dari apartemen tersebut.


"Kita akan pergi ke Mall mana? " saat sudah berada di dalam mobil Aria bertanya pada Herald ke Mall mana mereka harus pergi.


"Tentu saja ke Mall paling besar di kota L tidak mungkin kan seorang adik ketua organisasi pergi ke Mall kecil apalagi Marliana terkenal dengan ke glamourannya"


Aria hanya menganggukkan kepalanya menjawab perkataan Herald. Herald segera mengemudikan mobilnya menuju Mall terbesar di kota L.


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di Mall tersebut. Aria lalu turun dari dalam mobil diikuti oleh Herald mereka berdua lalu melangkahkan kakinya memasuki Mall tersebut.


"Hey kita akan mencarinya dimana?"


"Di toko perhiasan" Herald menjawab sambil melihat ponselnya. Herald sudah meretas semua CCTV yang ada di dalam Mall tersebut jadi Herald bisa tau kemana Marliana pergi apalagi Herald sudah tau wajah Marliana dari profil data keluarga Leon.


"Baiklah tapi aku belum tau wajahnya apa kamu mempunyai fotonya? "


"Tentu.. " Herald lalu memperlihatkan foto Marliana pada Aria. "Ah ternyata wanita yang terlihat manja ini adalah adiknya" Aria menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah mengingatnya? "

__ADS_1


"Aku sudah mengingatnya kalau gitu ayo ke toko perhiasan"


Mereka berdua lalu pergi ke toko perhiasan terbesar dan termewah di dalam Mall tersebut.


__ADS_2