
Aria kini sudah sampai di kota X, Aria lalu memberi uang pada supir taksi itu dan langsung keluar dari taksi, Aria lalu berjalan memasuki kota X.
Aria berjalan menuju sebuah tempat parkir dan menaiki salah satu mobil yang terparkir disana, setelah itu, Aria segera melajukan mobilnya menuju Mansion miliknya, saat Aria sudah sampai di dekat Mansion, Aria mendengar suara berisik dari dalam Mansionnya, Aria kemudian menoleh ke atas pohon besar yang ada di sekitar Mansionnya, Aria menghentikan mobilnya lalu keluar dari mobil dan berjalan kearah pohon itu, Aria naik keatas dahan pohon itu lalu segera mengeluarkan senjata atau benda tajam yang dibawanya.
Di atas dahan pohon, Aria bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi, Aria sangat terkejut saat melihat sebuah pemandangan yang membuat emosinya naik, Saat ini, Aria melihat Louis sedang tertusuk oleh sebuah pedang di perutnya, dan tentu saja Aria mengenal orang yang menusuk Louis karena sudah beberapa kali bertemu dengannya.
"Marcell.. pria sialan itu!!.. kamu menyerang Louis dari belakan, awas saja kamu, aku akan membalasmu berkali kali lipat" Aria menatap Marcell dengan tatapan yang sangat tajam dan terlihat menakutkan.
Melihat Marcell mencabut pedangnya kembali dan akan membunuh Louis, Aria segera memegang dua buah belati tajam, Aria lalu melemparkan belati itu dengan kecepatan tinggi ke arah Marcell, sasaran Aria adalah tangan Marcell, dan belati yang dilemparkan oleh Aria telak mengenai tangan Marcell dan menancap disana.
SYUUUNG
JLEB!!
"Uukhh..."
Tidak puas hanya dengan melukai tangannya saja, Aria kemudian melemparkan satu lagi belati dengan kecepatan yang sama kearah Marcell, belati itu mengenai kaki Marcell dan membuat Marcell marah karena dirinya diserang dengan tiba-tiba dan secara diam-diam, melihat hal itu, Aria memutuskan untuk turun dan menghampiri Marcell yang sedang berteriak kesakitan sambil marah-marah.
_____
Aria kini melihat Marcell yang ada di hadapannya dan terlihat sangat ketakutan, "Kamu... ketua Black Rose?, wanita gila itu?" Ucap Marcell sambil menahan sakit di tangan dan kakinya.
Aria tidak menjawab ucapan Marcell, Aria lalu melihat kearah Louis, saat Aria melihat Louis, ternyata Louis juga sedang melihat kearahnya, Louis lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Louis memberi tanda kalau dia baik-baik saja pada Aria, setelah itu, Louis duduk dengan nafas yang terputus-putus karena kehilangan cukup banyak darah dari luka tusuknya, untungnya pedang itu tidak menusuk jantungnya.
Melihat tanda dari Louis, Aria lalu kembali menatap Marcell, Marcell sadar Aria menghawatirkan keadaan Louis karena Marcell melihat Aria melirik kearah Louis, Marcell lalu tersenyum dan tertawa.
"Sebentar lagi, Sekretarismu itu akan mati!!, aku ingin lihat, apa yang akan terjadi denganmu saat melihat orangmu itu mati di depan matamu sendiri, dan lagi, dia mati ditanganku!!" ucap Marcell seperti orang gila, meskipun sedang menahan rasa sakit, Marcell merasa puas karena bisa melukai Louis dengan cukup parah, meskipun Marcell sangat menyayangkan karena serangannya tidak langsung membunuh Louis.
"Kamu tidak akan pernah lagi bisa melihatku, karena kamu yang akan mati disini, tapi tenang saja, aku tidak akan memberikan kematian yang cepat untukmu" Ucap Aria lalu menyeringai, seringaian Aria itu membuat semua orang yang melihatnya bergidik ngeri termasuk Marcell.
"Kau... Jangan pikir kamu bisa mengalahanku dengan mudah" Marcell lalu maju menyerang Aria dengan menggunakan pedangnya.
Pedang Marcell mengarah ke semua bagian vital di tubuh Ari, tetapi Aria dengan mudahnya bisa menghindari dan menangis semua serangan dari Marcell.
Marcell sedikit putus asa melihat semua serangannya berhasil di tangkis dan dihindari oleh Aria, Marcell juga melihat Aria hanya menangkis dan bertahan saja, Itu yang menjadikan Marcell menjadi sedikit curiga, "apa yang sedang wanita ini rencanakan" batin Marcell.
__ADS_1
"Hey, apa yang sedang kamu lakukan?, kenapa kamu hanya menahan menghindar dan bertahan saja?, apa kamu meremehkanku?" Akhirnya Marcell tidak tahan lagi dan menanyakan apa yang ada di pikirannya.
"Aku sedang memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk membunuhmu, Apa di potong-potong saja atau di kuliti?, atau mungkin membelahmu menjadi beberapa bagian seperti saat sedang memotong tomat ah... aku bingung mau memilih yang mana, oh iya, apa kamu mau memilih salah satu dari ketiga cara tadi?, atau kamu mau merekomendasikan bagaimana caramu ingin mati padaku?" Ucap Aria lalu tersenyum seolah-olah hal yang tadi dikatakannya adalah hal yang biasa saja.
Mendengar hal yang Aria ucapkan, Marcell kemudian mengumpat "Dasar wanita gila.. apa di dunia ini ada orang yang memilih bagaimana mereka mati?"
"Tentu saja ada, misalnya orang yang bunuh diri?, bukankah mereka memilih cara kematian mereka sendiri?" Aria menimpali ucapan Marcell sambil mengangkat kedua bahunya, Lalu dengan gerakan cepat, Aria tiba-tiba memotong tangan Marcell yang sedang memegang pedang.
CRASHH
"Aaarrgghhh!!.. dasat wanita gila!!"
Aria lalu memotong lagi satu tangan Marcell yang tersisa dengan ekspresi datarnya, "Aarrgghhhh...Wanita sialan!!, tidak, kamu adalah iblis, kamu adalah wanita iblis!!.. tidak mungkin wanita bisa sangat kuat sepertimu!!, dasar iblis, tidak, jiwamu...iya, pasti jiwamu juga jiwa iblis!!" Marcell terus mengoceh sambil berteriak kesakitan.
"Terserah apa yang mau kamu ucapkan, aku tidak peduli" Aria kemudian memotong kedua kaki Marcel sekaligus.
CRAAASH
"Aaaarrggghhhh!!" Marcell lalu berteriak histeris dan itu membuat pertarungan seketika berhenti, semua orang yang sedang bertarung di sana terkejut dan gemetar ketakutan saat melihat kondisi Marcell, terutama anggota Black Shadow.
Melihat semua anggota Black Shadow yang tersisa melarikan diri membuat anggota Black Rose yang tersisa ingin menyusulnya, tetapi karena mereka sudah terlalu lelah dan melihat Louis juga terluka parah, mereka tidak mengejarnya dan memilih untuk menolong Louis terlebih dulu karena jelas-jelas Louis membutuhkan bantuan mereka, Mereka juga yakin anggota Black Shadow yang tersisa tidak akan berani menyerang lagi karena melihat kekejaman Aria.
"Tuan Louis, anda baik-baik saja?, anda harus segera diobati" Ucap salah seorang anggota Black Rose yang ada di sana.
"Saya tidak apa-apa, tolong panggilkan saja Dokter Victor di dalam, saya akan menunggu disini, saya tidak bisa membiarkan nona sendirian" timpal Louis, Louis tidak mau meninggalkan Aria sendirian dalam kondisi yang tidak stabil.
"Baiklah, saya akan segera memanggil Dokyer Victor" pria itu lalu berlari menuju Mansion untuk memanggil Dokter yang Louis maksud.
Louis kemudiam menatap Aria, dia sendiripun merasa tidak nyaman melihat ekspresi wajah Aria yang seperti itu, namun Aria terlihat masih menatap Marcell dengan ekspresi yang mengerikan.
"Tolong cepat bunuh saja aku, aku sudah tidak tahan lagi, ini sangat menyakitkan" Marcell terus memohon kepada Aria untuk segera membunuhnya karena sakit yang dirasakannya itu sangat luar biasa.
Aria lalu mengangkat pedangnya kemudian menusukan pedangnya kearah perut Marcell sebanyak sepuluh kali, Marcell hanya bisa berteriak dan memohon, namun sepertinya Aria tidak menggubris teriakan Marcell, tidak lama kemudian, Marcell tidak lagi bisa berteriak karena kehabisan suara dan tenaganya, nafasnya pun sudah mulai berat.
Melihat Marcell yang sudah di ambang kematian, Aria lalu memenggal kepala Marcell, mengakhiri penderitaan pria itu.
__ADS_1
"Sudah cukup nona, dia sudah tidak bernafas lagi" Louis segera menghentikan Aria, alasan Louis menghentikan Aria adalah, karena Louis tidak sanggup melihat Aria yang seperti itu, Louis tidak mau Aria menjadi wanita kejam yang tidak memiliki perasaan lagi.
Aria melirik kearah Louis, Aria bahkan sampai lupa kalau Louis sedang terluka karena terlalu gelap mata melihat rekan yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya itu tertusuk pedang dan hampir mati.
"Baiklah" Aria lalu menurunkan pedangnya dan mengubah kembali pedangnya itu menjadi sebuah gelang, Aria kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Louis yang sedang terduduk lemas ditemani beberapa anggota Black Rose.
Melihat ketua mereka berjalan kearah mereka, Serempak semua anggota Black Rose yang ada disana membungkuk kearah Aria lalu memberikan salam pada Aria, Aria hanya menganggukkan kepalanya menanggapi anggotanya itu, Aria kemudian duduk di depan Louis.
"Apa kamu tidak apa-apa Louis?" Kini Aria tidak lagi terlihat menyeramkan, Aria hanya memasang wajah datarnya.
"Saya tidak apa-apa nona" Louis menjawab sambil menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa bagaimana, lihat perutmu yang masih terus mengeluarkan darah?, apa menurutmu itu tidak apa-apa?" Louis hanya bisa tersenyum menjawab perkataan Aria karena dirinya semakin lemas.
Tidak lama kemudian, dari dalam Mansion, keluar seorang pria paruh baya yang memakai pakaian Dokter, melihat ada Aria disana, pria itu langsung membungkukkan badannya untuk menyapa Aria.
"Salam ketua" ucap pria paruh baya itu.
"Victot, cepat kamu obati Louis, dan untuk kalian, buat lubang yang cukup besar di dalam hutan dan kubur semua mayat anggota Black Shadow dalam lubang itu" Aria memerintahkan anggotanya yang ada disana untuk segera membereskan mayat anggota Black Shadow.
"Baik ketua!!" serempak para anggota Black Rose menanggapi perkataan Aria.
"Dan untuk anggota kita yang gugur, makamkan mereka di tempat pemakaman khusus untuk anggota Black Rose" ucap Aria kembali.
"Baika ketua"
Setelah itu, mereka semua langsung bergerak dan melaksanakan apa yang tadi Aria katakan, Aria lalu kembali fokus pada Louis, "Bagaimana luka Louis?, apa lukanya parah?" Tanya Aria pada Victor, dokter yang sedang menangani Louis.
"Lukanya cukup parah nona, kita harus segera membawanya kedalam dan menjahit lukanya" timpal Dokter Victor.
Aria lalu mengangguk setuju, Dokter Victor segera membantu Louis berjalan dan membawa Louis masuk kedalam Mansion mewah itu.
Di dalam Mansion, terdapat sebuah ruangan khusus untuk anggota Black Rose yang terluka, Ruangan itu mirip sebuah rumah sakit, tetapi bedanya, ruangan ini ada di dalam Mansion dan alat-alatnya juga tidak kalah lengkap dengan yang ada di rumah sakit.
Dokter Victor lalu membaringkan Louis diatas tempat tidur pasien, "Nona, saya akan mulai mengobati Tuan Louis, sebaiknya anda menunggu di luar" ucap Dokter Victor pada Aria.
__ADS_1
"Baik, aku mengandalkanmu Victor" Aria lalu membalikan badannya dan berjalan keluar ruangan, Aria menunggu Dokter Victor selesai mengobati Louis di luar ruangan karena Aria ingin mendengar keadaan Louis setelah diobati.