
"Apa benar ini rumahnya?" Aria bertanya pada Louis yang baru saja turun dari mobil.
"Aku yakin ini rumahnya" Louis memandang bangunan mewah bertingkat tiga yang ada di depannya.
"Apa kamu sudah meretas semua cctv yang ada di rumah ini dan sekitarnya?" Aria melirik Louis yang kini sibuk dengan tab yang ada di tangannya.
"Aku sudah meretasnya dan nanti akan memalsukannya aku yakin mereka tidak akan tau"
"Baiklah...ada berapa orang di rumah ini?"
"Kira-kira tujuh puluh termasuk asisten rumah tangga mereka"
Aria mengangguk kemudian berjalan memasuki rumah mewah tersebut dengan membawa sebuah pedang di tangannya sedangkan Louis dia membawa satu pistol di tangannya karena satu tangannya yang lain memegang tab.
Aria tidak mau masuk diam-diam Aria lebih suka masuk melalui pintu depan musuhnya.
Begitu Aria dan Louis masuk sekitar lima belas orang yang sedang berpatroli malam langsung menghadang Aria dan Louis.
"Siapa kalian?"
"Pencabut nyawa kalian" ucap Aria dengan tatapan dinginnya.
Aria langsung menyerang pria yang dekat dengannya melihat Aria sudah mulai Louis juga langsung mengikuti Aria dan menembak para penjaga yang membawa pistol di tangannya karena takut penjaga tersebut akan mengarahkan pistolnya pada Aria.
Benar saja salah satu dari penjaga tersebut mengarahkan pistolnya pada Aria namun kalah cepat dengan Louis. Louis menembak lengan penjaga tersebut yang sedang memegang pistol lalu Louis beralih menembak kepala penjaga tersebut.
Aria sekarang sedang berhadapan dengan enam orang penjaga salah satu dari mereka lalu meminta bantuan.
"Begitu rekan kami datang kalian tidak akan bisa berkutik lagi" ucap salah satu penjaga pada Aria.
"Sebelum rekanmu datang kamu sudah lebih dulu mati di tanganku" Aria lalu maju menyerang penjaga tersebut
Aria memainkan pedangnya dengan lincah lalu dengan cepat memotong kepala atau menusuk jantung para penjaga tersebut dan tidak lama kemudian sudah tergeletak enam orang yang sudah tidak bernyawa ada yang kepala terpisah dan adapula yang jantungnya tertusuk pedang.
Aria lalu melihat Louis yang masih dengan tenang menembaki penjaga yang berniat menyerangnya dan tidak lama kemudian Louis berhasil membunuh sisa penjaga yang tidak menyerang Aria.
"Ayo masuk" Aria mengajak Louis masuk ke dalam rumah tersebut namun saat baru sampai depan pintu mereka sudah disambut puluhan penjaga dan tembakan dari para penjaga tersebut.
Aria menahan sebagian peluru menggunakan pedangnya kemudian bersembunyi di balik tiang-tiang yang ada disana sedangkan Louis dia sudah bersembunyi di balik mobil-mobil yang terparkir disana dan sesekali menembak kearah penjaga tersebut dan hasilnya tembakan Louis tidak pernah meleset.
Aria cukup kesulitan karena lawannya menggunakan pistol sementara Aria menggunakan pedang jadi tidak bisa menyerang jarak jauh.
"Aria apa kamu baik-baik saja" Louis bertanya pada Aria yang ada di seberangnya karena mereka berpencar tadi.
"Aku baik-baik saja" Aria masih bersembunyi di balik tiang sementara para penjaga mulai mendekatinya dan terus menembaki Aria
Para penjaga itu membagi dua kelompok untuk menyerang Aria dan Louis secara terpisah.
"Apa kamu butuh pistol aku bisa memberikannya" Louis sedikit khawatir karena tadi Aria hanya membawa pedang di tangannya juga para penjaga tersebut sudah semakin dekat.
"Tidak perlu aku bisa mengatasinya" Aria kemudian mengeluarkan beberapa belati kecil dari balik jaketnya dan menyimpan pedangnya kembali.
__ADS_1
Aria melemparkan belati - belati kecil tersebut ke arah kepala para penjaga dengan kecepatan tinggi dan hasilnya penjaga yang terkena belati kecil tersebut langsung tumbang tidak bernafas lagi.
Aria lalu mundur sambil terus bersembunyi dan melemparkan belati-belati kecil tersebut kearah kepala para penjaga tersebut.
Hasilnya dari dua puluh penjaga yang menyerangnya kini tinggal empat penjaga yang tersisa dan sepertinya keempat penjaga tersebut kehabisan peluru.
Mereka membuang pistol yang mereka pegang lalu mengambil pisau dari balik baju mereka.
Aria yang melihat mereka sudah tidak menggunakan pistol tersenyum tipis lalu menyimpan belati kecil tersebut dan mengeluarkan pedangnya.
Aria berlari kearah keempat penjaga tersebut tanpa kenal takut dan langsung menebas kepala mereka. Aria sangat ahli menggunakan pedang jadi tidak usah diragukan lagi, kemampuan berpedang Aria sangat tinggi dibandingkan para penjaga tersebut.
Disisi lain Louis masih terus saling menembak dengan para penjaga tersebut tapi tidak lama kemudian satu persatu penjaga tumbang karena Louis sangat ahli dalam menggunakan pistol dan tembakannya juga sangat akurat bahkan Louis bisa menembak dengan mata tertutup dan mengenai targetnya hanya dengan insting saja.
Satu persatu penjaga tumbang dan kini tinggal tiga orang penjaga yang masih tersisa.
"Ah aku mulai bosan jadi aku akan cepat" Louis lalu menembak ketiga penjaga itu sekaligus dari sudut yang pas yaitu dari samping karena para penjaga tersebut sedang berdiri berjejer jadi Louis berlari ke samping ketiga penjaga dan menembak telinga penjaga tersebut sampai tembus ke penjaga yang ada di sampingnya begitu seterusnya dan ketiga penjaga itupun tumbang tidak lagi bernafas.
Louis lalu melirik Aria yang sudah selesai dan sedang berjalan kearahnya karena tadi Aria mundur cukup jauh.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi mungkin mereka berjaga di depan ruangan tuannya, ayo masuk jangan biarkan siapapun melarikan diri dari sini" ucap Aria dengan nada yang sangat dingin.
Aria memasuki rumah mewah tersebut diikuti oleh Louis dari belakang.
--------
"Bos ada penyusup" ucap seorang penjaga kepada pria gendut yang ada di hadapannya
"Saya tidak tau bos tapi menurut informasi hanya ada dua orang satu pria dan satu wanita"
"Bukankah lima orang dari kita bisa menghadapi dua orang itu mereka kan hanya dua orang kenapa kamu terlihat pucat dan takut begitu" ucap pria gendut yang disebut bos tersebut.
"Masalahnya mereka berdua sudah mengalahkan lebih dari lima puluh bawahan Anda yang sedang berjaga di bawah"
"Apa?!!!!"
"Dan lagi cara membunuh mereka sangat sadis dan kejam bos"
"Apa maksudmu"
"Anda bisa melihatnya sendiri ke bawah lewat jendela"
Pria gendut tersebut kemudian berjalan kearah jendela kamarnya dan dia melihat puluhan bawahannya yang sudah tergeletak tidak bernyawa dengan sangat mengenaskan dan melihat Aria serta Louis sedang berjalan untuk memasuki rumah mewahnya.
"Ini.. dua orang itu pasti dari dunia bawah, kamu panggil semua orang yang tersisa dan suruh mereka berjaga di depan pintu kamarku"
Pria gendut tersebut menunjuk bawahan yang tadi melapor padanya.
"Baik bos"
"Bagaimana ini kenapa ada orang dari dunia bawah kesini aku tidak pernah bermusuhan ataupun menyinggung orang dari dunia bawah"
__ADS_1
-------
Begitu Aria dan Louis masuk mereka berdua tidak menemukan satu orangpun lalu Aria dan Louis melirik keatas dan tersenyum.
"Mereka semua ada di atas" Louis melihat tab nya lalu tertawa.
"Lihatlah Aria mereka semua benar-benar berkumpul diatas" Louis menyerahkan tab tersebut pada Aria.
Louis sudah meretas semua cctv yang ada di rumah tersebut jadi dia bisa melihat itu dari cctv yang terhubung dengan tab nya.
Aria lalu melihat apa yang ada di tab milik Louis. "Kalau begitu tunggu apa lagi kita keatas"
"Tunggu dulu Aria" Louis memegang tangan Aria yang akan berjalan ke arah tangga
"Apa?"
"Aku punya sesuatu yang bagus" Louis lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya.
"Gas air mata?"
Louis mengangguk penuh semangat "Karena mereka berkumpul seperti itu dan juga kita tidak bisa muncul begitu saja di hadapan mereka karena pasti mereka sudah melakukan persiapan jadi kita akan membuat penglihatan mereka sedikit perih dengan gas air mata ini bagaimana?" Louis menatap Aria dengan penuh semangat.
"Baiklah ayo kita pakai ide mu" Aria lalu menaiki tangga tersebut diikuti oleh Louis.
Sebelum mereka berdua sampai di depan pintu kamar tersebut Louis lalu melemparkan bom air mata yang ada di tangannya dan seketika itu juga terjadi ledakan kecil yang mengeluarkan gas.
Aria dan Louis sudah terbiasa dengan gas tersebut jadi tidak akan terpengaruh oleh gas air mata itu.
Setelah menunggu sekitar satu menit dan seluruh penjaga yang ada di sana sudah mulai panik karena mata mereka perih barulah Aria dan Louis masuk kedalam kabut gas tersebut dan membantai semua penjaga yang ada disana.
Aria masih menggunakan pedangnya bahkan kali ini Aria tidak segan-segan membelah tubuh para penjaga itu.
"Sepertinya tidak ada lagi" Louis menembak penjaga yang terakhir kemudian berjalan menghampiri Aria.
Aria lalu menendang pintu kayu mahal yang ada di hadapannya dengan sekuat tenaga. Saat Aria masuk Aria melihat seorang pria gendut sedang berusaha kabur melalu jendela Louis yang melihat itu langsung menembak kaki pria itu.
"Aarrghh.." pria tersebut jatuh terduduk sambil memegangi kakinya.
Aria lalu melangkah menghampiri pria gendut tersebut "Hey pilihlah salah satu kau tarik kembali kerjasamamu dengan Leon bos dari perusahaan teknologi dan berhenti membeli budak dari sana atau mati". Aria menatap pria tersebut dengan tatapan tajam dan dingin.
"Aku tidak bisa membatalkan bisnisku karena sudah mengeluarkan banyak uang tapi aku berjanji akan berhenti membeli budak dari sana" pria gendut tersebut berbicar sambil gemetar karena melihat tatapan Aria.
"Berarti kamu lebih memilih uang dan harga dirimu daripada nyawamu sendiri"
"Nona saya kan sudah berjanji tidak akan membeli budak dari perusahaan itu lagi kenapa saya harus mati" pria gendut tersebut sangat ketakutan bahkan dia tidak memikirkan lagi rasa sakit yang ada di kakinya karena terlalu takut akan kematian.
"Aku kan menyuruhmu untuk membatalkan kerjasamamu bukan cuma perbudakan dan juga salahkan saja dirimu atau bos dari perusahaan yang berkerja sama denganmu atas kematianmu malam ini"
Aria kemudian mengangkat pedangnya pria gendut yang melihat Aria mengangkat pedangnya berniat untuk berlari namun baru saja pria itu berdiri Aria sudah memotong kedua kaki pria tersebut.
"Arrghhh.." pria gendut tersebut berteriak dan meminta maaf pada Aria namun Aria tidak menggubris perkataan pria tersebut lalu Aria menusuk jantung pria itu dan memenggal kepalanya tidak sampai disitu Aria lalu membelah kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya itu menjadi dua.
__ADS_1
Louis yang melihat cara Aria membunuh hanya menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya "dia melampiaskan amarahnya pada pria itu"