Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Pergi Bersama


__ADS_3

"Nona jangan salahkan kami kalau hari ini adalah hari kematianmu". Ucap salah satu dari mereka.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu".


"Kau..kalian semua serang dia". Mereka berempat lalu menyerang Aria tapi saat sedang maju untuk menyerang Aria dua orang dari mereka dihadang oleh satu orang pria.


"Kalian ingin mengeroyok seorang wanita apa kalian tidak malu". Giovanni menghadang dua orang dari mereka.


"Kamu.. benar juga aku akan memberi pelajaran untukmu karena sudah berani mencari masalah dengan kami"


"Bukannya kalian sendiri yang dari awal mau mencari masalah dan berniat untuk memalakku?"


"Kau!!.." mereka berdua lalu maju menyerang Giovanni secara bersamaan.


Giovanni menyambut serangan mereka menggunakan pedang yang tadi dia beli saat sedang berkeliling untuk melihat-lihat.


Sisa anggota Black Shadow itu menyerang dengan sama-sama menggunakan golok. Pedang dan golok bertemu mengeluarkan bunyi yang lumayan keras.


Giovanni tidak mau bertele-tele melawan dua pria tersebut jadi dia langsung mengincar titik vital lawannya yaitu jantung mereka.


Saat sudah beberapa kali bertukar serangan mereka berdua menyadari bukan tandingan Giovanni namun mereka juga tidak bisa mundur saat Giovanni terus menyerang mereka dan tidak membiarkan mereka mengambil jarak terlebih lagi Giovanni terus menyerang titik vital mereka.


Tidak lama kemudian pedang Giovanni menusuk jantung salah satu dari dua pria itu dan langsung membuatnya tergeletak tidak bernyawa lagi lalu dengan cepat Giovanni menarik kembali pedangnya dan menusukkan lagi pedang itu kepada jantung pria yang tersisa dan tidak lama kemudian sudah tergeletak dua tubuh tidak bernafas lagi di sana.


Giovanni lalu melirik Aria yang sedang bertarung melawan dua orang yang tersisa. Berbeda dengan Giovanni yang langsung membunuh mereka Aria terlihat mempermainkan mereka berdua.


Aria tidak menyerang dan hanya bertahan itu yang membuat kedua pria itu tertawa keras karena berhasil memojokkan Aria. Namun tiba-tiba Aria memberikan tebasan pada kaki mereka berdua seketika itu juga kaki mereka terpotong dan mereka tidak bisa lagi berdiri.


Aaaarrgggggghh...


Mereka berdua berteriak kesakitan karena kaki mereka terpotong. Lalu Aria berjalan kearah mereka dengan wajah datarnya namun mereka berdua tidak bisa melihat wajah Aria karena tertutup topeng dan hanya menampakkan sebagian dahi dan mulutnya.


"Kalian ingin bangkit kembali dan membalas dendam, seharusnya kalian bersembunyi saja". Aria memotong tangan kanan mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian terlalu besar kepala seperti ketua kalian" Aria lalu memotong tangan kiri mereka.


"Aarrgghhhh.. tolong cepat bunuh saja kami". Ucap salah satu dari mereka berdua


"Membunuh kalian?..aku akan membuat kalian menderita dan kalian tidak akan bisa untuk membunuh diri kalian sendiri". Aria lalu menusuk perut mereka sebanyak tiga kali lalu pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.


Giovanni yang melihat cara Aria menghadapi lawannya bergidik ngeri karena dia melihat dua pria itu terlihat sangat kesakitan dan juga dalam kondisi yang sangat mengenaskan tidak ada orang yang berani menolong mereka, mereka juga tidak bisa mengakhiri penderitaan mereka karena tangan dan kaki mereka sudah tidak lagi menyatu dengan badan mereka dan mereka hanya bisa menunggu kematian datang pada mereka dengan sangat menyakitkan seperti itu.


Aria tidak berjalan kearah Giovanni dia berjalan menuju toko senjata yang tadi dia datangi. Giovanni yang melihat Aria berjalan menuju toko senjata tersebut lalu memutuskan untuk menghampiri Aria.


"Nona apa anda tidak apa-apa?" Saat sudah berada di samping Aria Giovanni bertanya keadaan Aria.


"Aku baik-baik saja" jawab Aria sambil masih melihat-lihat senjata yang ada di sana.


"Pak aku mau beberapa belati kecil ini" Aria menunjuk kotak kayu yang berisi beberapa belati kecil


"Baik nona tolong tunggu sebentar". Pria paruh baya yang menjaga toko tersebut kemudian mengambil kotak kayu itu dan membawanya ketempat dia biasanya menghitung barang yang akan dibeli.


Aria menunggu pesanannya sambil sesekali melirik senjata yang terpampang rapih di toko tersebut.


"Tentu saja membeli senjata, apa kamu tidak melihatnya". Aria tidak lagi berbicara formal pada Giovanni karena saat ini dia sedang menyamar dan juga kebanyakan orang yang ada di dunia bawah tidak berbicara formal.


Giovanni tidak mempermasalahkan cara bicara Aria, dia hanya tidak terbiasa melihat seorang wanita yang notabe-nya lemah sedang memilih-milih senjata namun segera Giovanni tepis pemikiran itu karena dia kembali teringat cara bertarung Aria. "Aku dengar orang-orang dunia bawah sangat kejam ternyata itu benar" batin Giovanni.


Aria lalu melihat pemilik toko berjalan kearahnya sambil membawa kotak berisi senjata yang tadi Aria pesan.


"Nona ini barang anda harganya dua ratus dolar nona bisa membayarnya ke nomor yang sudah ada di kotak tersebut.


Aria mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya dan mentransfer uang ke nomor yang tercetak di kotak tersebut.


Mendengar nominal angka yang harus di bayar Giovanni sedikit terkejut karena hanya beberapa belati kecil saja harganya sangat mahal.


Aria melihat keterkejutan di wajah Giovanni lalu dia menjelaskan kualitas senjata tersebut.

__ADS_1


"Belati ini dibuat dengan bahan yang sangat bagus kualitasnya jadi wajar saja harganya sedikit mahal". Mendengar itu Giovanni menganggukkan kepalanya.


Aria lalu membuka kotak tersebut dan mengambil isinya. Aria kemudian menyembunyikan belati tersebut di balik jaket kulit yang dia pakai lalu membuang kotak tempat belati tersebut.


Aria meninggalkan kedai dan berjalan kearah gedung besar di dekat pasar tersebut yang bertuliskan Tempat Lelang.


Giovanni sudah berkeliling pasar dan tidak tau mau kemana jadi dia mengikuti Aria. "Kenapa kamu mengikutiku?" Aria bertanya pada Giovanni yang dari tadi mengikutinya


Sebenarnya Aria cukup penasaran seorang detektif seperti Giovanni kenapa berada di dunia bawah. Aria cukup yakin Giovanni diam-diam pergi kesini lagipula para polisi tidak akan mau menginjakkan kaki mereka di dunia bawah.


"Saya tidak tau harus kemana jadi saya hanya mengikuti anda karena saya pikir anda sudah sangat hafal berbagai tempat di sini".


"Aku akan pergi ke acara lelang apa kamu masih mau mengikutiku" Aria masih terus berjalan menuju gedung besar tersebut.


"Tempat lelang ya, baiklah saya ikut" Giovanni cukup penasaran dengan tempat lelang yang ada di dunia bawah.


"Itu terserah kamu"


Mereka lalu tiba di depan sebuah gedung mewah "Ayo masuk". Aria mengajak Giovanni memasuki gedung tersebut.


Aria membeli dua kartu VIP dan bukan VVIP karena dia sedang menyamar dan tidak mau penyamarannya ketahuan karena kartu VVIP hanya untuk orang-orang berpengaruh saja contohnya para ketua dari masing-masing organisasi itupun organisasi besar.


Saat sudah mendapatkan kartu mereka berdua lalu masuk ke sebuah ruangan dimana ruangan tersebut adalah ruangan lelang milik organisasi Red Blood.


Tamu VIP juga mendapatkan ruangan pribadi namun tidak sebesar ruangan untuk VVIP Aria memutuskan untuk satu ruangan dengan Giovanni.


Saat Aria tiba di tempat lelang tersebut tamu yang sudah datang baru sedikit karena Aria datang lebih awal.


"Kamu jangan terkejut dengan acara lelang di sini". Aria bicara pada Giovanni saat sudah duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut.


"Memangnya barang apa yang akan mereka lelang?" Giovanni cukup penasaran karena biasanya tempat lelang yang ada di dunia luar adalah tempat lelang barang-barang mewah atau antik Giovanni pikir tempat lelang dunia bawah juga sama hanya saja mereka menambahkan senjata di pelelangannya.


"Di tempat lelang ini mereka khusus akan melelang Tubuh Manusia.." suara Aria terdengar dingin saat mengucapkan kata tersebut.

__ADS_1


"Apa?!!.."


__ADS_2