
"benar, aku dan kakak membeli rumah baru karena aku khawatir Leon dan Giovanni mencari aku atau kakak ke apartemen jadi aku mengusulkan untuk membeli rumah baru pada kakak"
"Begitu ya, itu lebih baik.." Louis menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Aria.
"Oh iya, aku hampir lupa, aku juga membawa tanaman kesini" Aria hampir lupa dengan tanaman bunga mawar ungu pemberian dari Herald tadi.
Waktu Aria ingin pergi ke dunia bawah Aria tidak lupa membawa tanaman itu juga "Tanaman apa?" Tanya Louis pada Aria.
"Bunga mawar ungu"
"Bunga mawar ungu, bukannya kamu tidak menyukai bunga lain selain mawar hitam?" Louis bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Aria menyukai bunga lain selain mawar hitam, biasanya Aria tidak menyukai bunga lain.
"Herald memberikannya padaku jadi aku terima saja lagipula mawar ungu tidak terlalu buruk"
"Herald?"
Aria menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Louis.
"Apa mereka berdua sudah memiliki hubungan khusus ya, kenapa aku seolah tidak bisa menerimanya dan lagi hatiku sakit" batin Louis.
"Aku mau mengambilnya" Aria bangun dan berjalan keluar dari ruangan itu disusul oleh Louis.
"Oh kamu daritadi disini?" Begitu keluar dari ruang utama itu, Aria langsung melihat Herald yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding.
Herald tersenyum lembut saat melihat Aria "Aku baru saja kesini dan ingin menemuimu tapi aku lihat kamu Sepertinya sedang bicara serius dengan asistenmu jadi aku menunggu di luar"
"Ah..begitu ya" Aria mengangguk pelan sementara Louis dia membungkuk untuk memberikan hormat pada Herald.
"Kamu mau kemana Aria?" Tanya Herald
"Aku mau mengambil tanaman mawar ungu yang ada di dalam mobil dan mau meletakkannya di tamanku"
"Biar aku temani"
Aria hanya mengangguk menjawab pertanyaan Herald. Kemudian mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir mobil yang ada di halaman depan mansion.
Aria mengambil tanaman yang ada di dalam mobil "Aku mau menaruh ini di tamanku kalian bisa menungguku di ruang makan, ini sudah waktunya makan siang pasti Hans sudah menyiapkan makanan disana" ucap Aria sambil menatap Herald dan Louis bergantian.
"Aku akan menemanimu"
"Saya juga" sahut Louis tidak mau kalah dari Herald.
__ADS_1
Herald melirik Louis sekilas "Dugaanku benar, Louis pasti menaruh hati pada Aria" batin Herald.
Aria menggeleng pelan "Tidak, aku akan pergi sendiri kalian pergi saja ke ruang makan aku akan menyusul" setelah mengucapkan itu Aria lalu berjalan menuju tamannya yang terletak di samping mansion.
Herald juga Louis hanya bisa menatap punggung Aria dan baru berhenti saat Aria sudah tidak terlihat lagi. Mereka berdua lalu saling melirik dan terlihat canggung.
"Ehem.. mari tuan Herald saya antar Anda ke ruang makan" Louis mencoba mencairkan suasana.
"Baiklah, tolong tunjukkan jalannya aku masih belum familiar dengan mansion ini"
"Baik tuan, mari ikuti saya"
Mereka berdua lalu kembali masuk kedalam mansion dan berjalan menuju ruang makan untuk menunggu Aria.
_____
Aria sudah berada di tamannya dia lalu berjalan menuju sebuah kolam kecil yang di hiasi oleh beberapa tanaman bunga mawar hitam kesukaannya. Aria lalu meletakkan tanaman bunga mawar ungu itu di samping kolam dan berjejer dengan tanaman bunga mawar hitam miliknya.
"Karena masalah Giovanni sudah selesai sekarang aku harus fokus pada balas dendamku" ucap Aria sambil memetik satu mawar hitam yang ada di depannya.
"Tunggu saja Leon, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang" setelah itu Aria memetik satu tangkai lagi mawar hitam lalu segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari taman itu dan menyusul Herald serta Louis yang sudah berada di ruang makan.
"Kalian belum makan?" Begitu tiba di ruang makan Aria melihat Herald dan Louis belum makan dan malah asik dengan kegiatan masing-masing.
"Oh Aria.." ucap Herald saat melihat Aria masuk, sontak Louis juga Hans yang sedang mengobrol langsung menghentikan obrolannya dan melihat Aria lalu membungkukkan badannya.
"Aku tanya kenapa kalian belum makan?" Kini Aria berjalan dan duduk di kursinya.
"Kami sedang menunggumu, kami tidak mau makan tanpamu" jawab Herald sambil menaruh ponselnya diatas meja makan.
"Kalian kan bisa makan duluan"
"Aria, mereka berdua tidak akan pernah bisa makan duluan kalau ada kamu disini mereka pasti akan menunggumu" Herald tertawa pelan sambil lalu menatap Louis juga Hans secara bergantian.
"Baiklah, kalian berdua duduklah dan makan bersamaku disini" ucap Aria pada Louis dan Hans.
Louis juga Hans tidak bisa menolak perintah Aria jadi mereka berdua duduk di kursi yang ada di samping kiri Aria sementara Herald dia duduk di kursi sebelah kanan Aria.
Mereka berempat lalu mulai memakan makan yang ada di atas meja dengan diam dan tidak ada seorangpun yang berbicara hanya terdengar dentingan dari alat makan mereka di ruang makan itu.
_____
__ADS_1
Leon kini berada di dunia bawah dan dia sedang membaca beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Kenapa banyak sekali kerugian yang aku tanggung" ucap Leon sambil memijat pelipisnya
"Ini gara-gara penyusup itu, aku mengalami kerugian yang sangat besar juga usahaku kini tidak lagi berkembang karena semua klien ku mati" Leon meremas berkas yang ada di tangannya kemudian melemparkannya sembarangan.
"Aaaarrggghhhh...kenapa ini terjadi padaku, bisnis yang sudah lama aku jalani kini hancur berantakan siapa sebenarnya orang yang sudah mengusikku" Leon terlihat sangat marah bahkan wajahnyapun memerah dan urat-urat di wajahnya bermunculan.
Seorang pria pemberi laporan yang kini ada di ruang kerja Leon hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa mengatakan apapun karena takut akan membuat Leon lebih marah dan dia akan menjadi sasaran kemarahan Leon.
Tiba-tiba ponsel Leon berbunyi dan itu adalah panggilan dari Ferio yang kini sedang menjaga Marliana.
"Ya Ferio ada apa?" Leon mulai mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya.
"Bos gawatt!! Nona Marliana.." suara Ferio terdengar sangat panik.
"Ada apa dengan adikku?" Leon juga kini ikut panik.
"Nona..nona Marliana dia..."
"Anna kenapa Ferio!! Bicaralah yang jelas!!"
"Nona Marliana dia sudah tidak bernafas"
"APA?!!! APA MAKSUDMU FERIO.."
"Nona Marliana dia, meninggal"
"TIDAK!! ITU TIDAK MUNGKIN, ANNA TIDAK MUNGKIN MENINGGAL!!" Leon sangat terkejut dengan informasi yang baru saja Ferio katakan padanya.
"Bos, lebih baik anda cepat kesini dan lihat kondisi nona Marliana dengan mata kepala anda sendiri"
"Baik aku akan segera kesana" setelah itu Leon langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Aku mau pergi dulu, bereskan ruangan ini" perintah Leon pada pria yang ada di hadapannya.
"Baik ketua" ucap pria itu sambil memberikan hormatnya.
Leon bergegas keluar dari mansionnya yang ada di dunia bawah lalu menaiki mobilnya dan segera melajukan mobil itu keluar dari dunia bawah menuju rumah sakit di dunia luar tempat adiknya dirawat.
Kurang lebih dua jam Leon dalam perjalanan dan kini akhirnya dia tiba di rumah sakit perusahaannya lalu Leon segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Leon berlari untuk segera mencapai ruangan tempat adiknya dirawat yang berada di ruangan nomor 20 ruangan yang cukup jauh dari pintu masuk rumah sakit.