
"Kak apa Kakak sudah tidur"
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam dan Aria kini sedang berada di depan pintu kamar Javier.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat Javier yang sudah memakai piyamanya membukakan pintu untuk Aria.
"Ada apa kamu memanggil kakak?"
"Apa aku mengganggu tidur kakak?" Tanya Aria yang melihat Javier sudah memakai piyamanya.
"Tidak, kakak juga belum tidur dan masih mengerjakan sesuatu" Javier menggeleng pelan.
"Begitu ya" Aria lalu terdiam dan sedikit gugup serta ragu-ragu.
Javier yang melihat Aria seperti itu lalu segera menangkap ada yang mau adiknya itu katakan tapi masih sedikit ragu.
"Apa kamu mau mengatakan sesuatu karena tidak biasanya tengah malam gini kamu menemui kakak"
"Benar, ada yang mau aku bicarakan pada kakak" Aria mengangguk pelan
"Ya sudah masuklah, kita bicara di dalam" ajak Javier pada Aria yang di jawab Aria dengan hanya menganggukkan kepalanya.
Aria lalu duduk di tepi kasur, Javier juga mengikuti Aria duduk di tepi kasur tepat di samping kiri Aria.
"Kamu mau bicara apa sama kakak sampai-sampai kamu menemui kakak selarut ini?"
"Aku..aku..." Aria sangat gugup karena takut kakaknya itu nanti akan sangat marah padanya.
"Aria lihat kakak?, Kamu mau bicara apa sama kakak, tidak biasanya kamu gugup begini?" Javier memegang pundak Aria dan membalikkan tubuh Aria agar menghadapnya.
"Aku takut kakak akan marah padaku"
"Marah? Kenapa kakak marah padamu, memangnya kamu berbuat salah apa sama kakak?" Javier menaikkan satu alisnya.
"Kak, aku mau bicara jujur sama kakak, aku tidak mau berbohong lagi pada kakak, aku.. hatiku merasa sakit kalau aku berbohong pada kakak" Aria memegang dadanya yang mulai sesak.
"Kamu berbohong pada kakak?"
Aria hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Javier "Kamu berbohong dalam hal apa pada kakak, coba kamu katakan Aria kakak akan mendengarkannya" ucap Javier seraya menggenggam lembut tangan Aria.
Aria mengambil nafas dalam-dalam kemudian membuangnya. Aria lalu menatap Javier dengan tatapan serius dan sudah siap dengan apa yang ingin Aria katakan.
"Kak, sebenarnya aku sudah menjadi bagian dari dunia dalam"
"Apa?!!! Apa maksudmu Aria?" Javier masih terlihat bingung dengan apa yang Aria katakan.
__ADS_1
"Aku mengambil jalan yang sangat kakak benci demi bisa mencari orang yang membunuh Ibu dan Ayah"
Javier bergeming kemudian melepaskan genggamannya pada tangan Aria.
"ARIA APA YANG KAMU LAKUKAN?!! BUKANNYA KAKAK SUDAH BILANG JANGAN PERNAH MENGAMBIL JALAN YANG SALAH!!" Javier terlihat sangat terkejut juga marah karena Aria masuk ke dunia bawah yang sangat Javier benci.
"Kak, aku melakukan ini karena mau mencari pembunuh itu" Aria menatap Javier yang kini sudah berdiri dan menatapnya dengan wajah yang merah.
"TETAP SAJA KAKAK TIDAK SUKA KAMU MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI DENGAN MASUK KE DUNIA BAWAH!!"
"Maafkan aku.." Aria menundukkan kepalanya.
"Aria apa Herald yang mengajakmu untuk masuk ke dunia bawah?" Javier mengira Herald yang mengajak Aria untuk masuk ke dunia bawah karena Aria juga Herald sudah berteman lama dan siapa tau Herald mengajak Aria untuk masuk ke dunia itu.
"Tidak, Herald tidak ada hubungannya dengan ini, aku masuk ke dunia itu atas keinginanku sendiri, bukannya aku sudah bilang aku masuk ke dunia bawah karena ingin mencari pembunuh itu" Aria kini menatap wajah Javier karena tidak ingin Javier mengalami salah paham lagi dengan Herald.
"Jadi bukan Herald?" Tanya Javier penuh selidik.
"Bukan, aku bertemu dengannya saat aku sudah masuk ke dunia bawah"
Javier mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Javier kemudian duduk kembali di samping Aria.
"Aria katakan pada kakak sudah berapa lama kamu jadi bagian dari dunia bawah juga menyembunyikan ini dari kakak?"
"Dua bulan setelah Ibu dan Ayah meninggal, waktu itu aku sedang mencari pelaku yang membakar rumah kita lalu aku tidak sengaja menemukan informasi bahwa pelaku itu orang dari dunia bawah jadi aku memutuskan untuk masuk ke dunia bawah dan mencari pembunuh itu"
"Kak..."
"Kamu tau Aria, sebagai kakakmu aku merasa tidak berguna, aku bahkan tidak mengetahui apa saja yang adikku lakukan di luar sana dan aku malah sibuk bekerja"
"Kak maafkan aku..."
"Kakak sangat kecewa padamu Aria, kenapa kamu menyembunyikan ini dari kakak seharusnya kamu jujur saja pada kakak"
"Waktu itu aku takut kakak akan marah dan tidak setuju dengan jalan yang akan aku ambil"
"Tentu saja kakak akan marah dan tidak setuju, sebagai kakak aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya, tapi seandainya kamu bilang pada kakak dengan jujur kakak pasti akan mengerti dan kakak juga bisa membantumu untuk mencari pembunuh itu"
"Kak..."
"Dengar Aria, anak Ibu dan Ayah itu bukan cuma kamu tapi kakak juga, kita berdua itu saudara kandung dan di lahirkan dari rahim yang sama seharusnya kita bekerja sama untuk mencari pembunuh itu karena kakak juga anak dari Ibu dan Ayah"
"Kak maafkan aku" Aria lalu memeluk Javier dengan perasaan bersalahnya. Aria menangis di dalam pelukan Javier.
Aria juga menyadari ini adalah kesalahannya, seharusnya Aria dulu jujur saja pada Javier toh Javier juga kakak kandungnya dan pasti Javier juga ingin menemukan pelaku yang membakar rumah mereka.
__ADS_1
Javier memeluk Aria dengan sangat erat dan menangis karena merasa tidak berguna sebagai seorang kakak.
"Kak maafkan aku, seharusnya aku dulu bilang saja pada kakak, aku menyesal kak aku menyesal karena sudah bohong pada kakak" di tengah isakan tangisnya Aria masih saja bicara dan meminta maaf pada kakaknya itu.
Javier hanya diam saja mendengar ucapan Aria, Javier memang kecewa dan marah pada Aria tapi mau bagaimanapun juga Javier juga merasa bersalah karena selama ini tidak memperhatikan Aria dan mendengarkan keluh kesah Aria.
Javier selama ini sangat sibuk bekerja tapi tetap saja Javier merasa sakit hati karena Aria tidak jujur padanya apalagi Aria masuk ke dunia bawah, dunia yang sangat Javier tidak suka itu.
"Kak maafkan aku.."
"Kak, bicaralah sesuatu, aku mohon maafkan aku.." Aria masih memeluk Javier dan menangis sambil terus meminta maaf pada kakaknya.
Javier kemudian melepaskan pelukannya juga pelukan Aria.
"Kakak akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat"
"Syarat apapun akan aku lakukan asal kakak mau memaafkanku" Aria menganggukkan kepalanya dengan cepat saat mendengar Javier mau memaafkannya.
"Kakak mau kamu selalu jujur pada kakak dan tidak boleh ada yang kamu tutup-tutupi lagi dari kakak, itu syarat dari kakak"
"Hanya itu, kakak tidak akan menghukumku?"
"Kenapa kakak harus menghukumu?"
"Maksudku aku kan sudah berbohong dan membuat kakak sangat marah, kakak tidak menghukumku atau menyuruhku untuk meninggalkan dunia bawah"
"Kakak memang marah dan kecewa padamu tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur sekalian saja kan kalau sudah begini kita lanjutkan saja sampai tuntas, maksud Kakak sampai kamu menemukan pelaku yang membunuh Ibu dan Ayah"
"kakak...." Aria lalu memeluk Javier kembali.
"Kakak memang yang paling baik dan mengerti aku, terimakasih kak aku janji aku akan segera menangkap si pembunuh itu"
Javier lalu menepuk-nepuk pelan punggung Aria sambil menggeleng pelan, "Sudahlah jangan menangis terus kamu seperti anak kecil saja"
Aria lalu melepaskan pelukannya "Aku janji aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari kakak"
"Bagus.." ucap Javier sambil tersenyum dan mengelus lembut kepala Aria.
"Sekarang ceritakan semua informasi yang kamu dapatkan saat berada di dunia bawah, maksud Kakak informasi mengenai pelaku itu, kakak juga akan membantumu"
Aria mengangguk pelan dan bertekad untuk menceritakan semua yang dia sembunyikan selama ini termasuk dirinya yang menjadi seorang ketua Mafia di dunia bawah.
"Aku sudah menemukan informasi tentang pelaku itu, tapi aku tidak hanya menemukan informasinya, aku juga sudah menemukan siapa pelaku yang membunuh Ibu dan Ayah"
"Benarkah? Siapa itu Aria, siapa yang sudah tega menghancurkan keluarga kita?"
__ADS_1
"Pelakunya adalah Leon.."
"APA?!!"