Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Empat mata


__ADS_3

Aria membuka matanya lalu segera duduk dan menguap pelan.


"Jam berapa ini?" Tanya Aria pada Herald yang masih berlutut di depannya.


"Jam sepuluh kurang" jawab Herald sambil melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.


"Kamu belum pulang?"


"Belum, aku tadi habis membantu kakakmu mencuci piring"


"Bangunlah dan duduk disini jangan berlutut seperti itu" Aria menepuk-nepuk kursi yang sedang di duduknya.


Herald kemudian bangun dan duduk di sebelah Aria. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Herald bertanya seperti itu karena melihat wajah Aria yang sepertinya sedang banyak pikiran.


"Aku..." Aria terlihat ragu untuk bercerita pada Herald karena ini adalah kali pertama Aria ingin mengatakan apa yang selama ini ada di pikirkannya pada seseorang.


"Katakanlah, aku akan mendengarkanmu, aku disini untukmu aku akan mendengarkan apapun yang akan kamu katakan" Herald menggenggam lembut tangan Aria dan menatap mata Aria penuh kasih sayang.


Aria mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Aku bingung, sejujurnya aku lelah.." Aria menatap Herald yang masih menggenggam lembut tangannya. Seolah tau isi hati Aria Herald lalu mengangguk pelan.


"Sebenarnya aku tidak mau berurusan dengan dunia bawah lagi, aku mau hidup tenang bersama kakak seperti orang biasa pada umumnya tapi kamu tau kan, sekali kita masuk ke dalam dunia itu kita tidak bisa keluar lagi" Aria menunduk dan menatap tangannya yang berada dalam genggaman Herald.


"Aku merasa bersalah pada kakak, aku juga selalu berbohong padanya, kamu tau saat aku berbohong pada kakak hatiku selalu sakit, orang tuaku tidak pernah mengajarkanku untuk berbohong apalagi pada keluarga sendiri"


"Awalnya aku masuk ke dunia bawah itu untuk mencari pembunuh kedua orang tuaku dan membalas mereka berkali-kali lipat, dan akhirnya setelah beberapa tahun aku bisa menemukan pelaku yang membunuh dan menghancurkan keluargaku" Aria mulai merasa marah serta emosi namun dengan sigap Herald segera menenangkan Aria.


"Tenanglah, kamu bisa bicara pelan-pelan saja, tenangkan dirimu jangan sampai kamu terbawa emosimu" Herald mengelus lembut tangan Aria dan mengusap kepala Aria untuk menenangkan wanita yang sangat dia cintai itu.


Aria mengangguk pelan lalu mulai menenangkan dirinya, Aria juga tidak mau dirinya hilang kendali lagi karena terbawa emosi serta amarahnya. Lalu setelah mulai tenang Aria kembali mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


"Aku sudah bisa membalaskan dendamku tapi itu masih belum cukup karena Leon masih hidup, aku juga belum bicara pada kakak soal Leon atau soal aku yang sudah menemukan pelaku pembunuhan orang tua kami, aku takut kakak akan marah dan bertindak gegabah itulah sebabnya aku belum menceritakan soal Leon pada kakak"


"Aku ingin bicara pada kakak tentang aku yang menjadi bagian dari dunia bawah tapi aku takut, aku takut kakak pasti akan sangat marah padaku nanti karena kakak sangat membenci orang dari dunia bawah bukannya kamu pernah merasakannya karena waktu itu kakak sangat membencimu?" Tanya Aria pada Herald yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Herald.


"Tapi di sisi lain aku juga sangat ingin memberitahukan rahasiaku pada kakak, menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan?" Aria menatap Herald dengan penuh harap Herald bisa menemukan solusi untuk masalah Aria dan kakaknya.


"Apa kamu akan mendengarkan pendapatku?" Herald sebenarnya agak kaget dan senang waktu Aria menanyakan pendapatnya.


Aria mengangguk pelan menjawab perkataan Herald.


"Menurutku kamu sebaiknya mengatakan langsung pada kakakmu tentang rahasiamu, itu akan lebih baik ketimbang nanti kakakmu tau dari orang lain, aku tau itu pasti tidak mudah bagimu tapi percayalah kakakmu pasti akan mengerti" Herald semakin erat menggenggam tangan Aria.


"Biar nanti juga masalah Leon kakakmu biasa membantumu untuk menghadapinya, Aria kamu yang paling tau sifat kakakmu tapi selama aku tinggal dengan kalian aku tau kakakmu adalah orang yang pintar dan cerdas dia pasti bisa memahamimu apalagi kamu adiknya"


"Tapi aku tidak tau harus membicarakan ini dengan kakak mulai dari mana"


"Aria dengarkan aku, daripada kamu terus berbohong pada kakakmu lebih baik kamu mengatakannya sebelum terlambat, aku yakin kamu bisa Aria, kamu mulai dengan yang paling ingin kamu katakan dulu pada kakakmu" Herald menatap lembut mata Aria.


"Aku yakin kakakmu akan mengerti meski nantinya dia butuh waktu" Herald mengangguk dengan sangat yakin.


"Baiklah aku akan mencoba untuk mengatakannya nanti, terimakasih karena sudah mau mendengarkanku"


"Sama-sama, kalau kamu butuh teman curhat atau sekedar teman untuk mendengarkan keluh kesahmu kamu bisa datang padaku atau kamu bisa menghubungiku nanti aku akan langsung menemuimu" Herald tersenyum lembut pada Aria.


Aria hanya menganggukkan kepalanya dan memikirkan apa yang Herald katakan tadi.


"Perkataan Herald benar, aku tidak bisa selamanya menyembunyikan rahasiaku dari kakak karena suatu hari nanti pasti rahasiaku akan terbongkar juga, lebih baik aku yang memberitahu kakak langsung daripada nanti kakak mengetahuinya dari orang lain, itu pasti akan membuat kakak lebih marah padaku" batin Aria.


"Kalian sedang apa disini?"

__ADS_1


Aria juga Herald langsung menengok kearah sumber suara dan mereka berdua melihat Javier sedang berdiri sambil memasang ekspresi kebingungan.


Aria sontak langsung melepaskan tangannya dari genggaman Herald "Aku tadi ketiduran disini kak" jawab Aria sambil menyembunyikan ekspresi terkejut serta khawatirnya.


"Apa kakak mendengar obrolanku tadi dengan Herald" batin Aria sambil masih menatap Javier.


"Kamu tadi kan menyuruhku untuk menyusul Aria, aku menemukan Aria disini sedang tertidur jadi aku menunggu Aria untuk bangun sendiri, karena aku tidak berani membangunkan Aria" ucap Herald dengan ekspresi tenangnya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Begitu ya, aku pikir terjadi sesuatu pada kalian berdua makannya aku menyusul kalian, ya sudah ayo masuk di luar sudah semakin dingin" ajak Javier pada Aria serta Herald setelah itu Javier berjalan duluan kedalam rumah.


"Apa Kakak mendengar obrolan kita tadi?" Ucap Aria pada Herald saat Javier sudah berjalan menjauh dari mereka berdua.


"Sepertinya tidak karena dia masih bersikap seperti biasa" Herald menggeleng pelan.


"Benar juga, ya sudah ayo masuk di luar memang semakin dingin" Aria lalu bangun dan berjalan menyusul kakaknya.


Herald mengangguk pelan kemudian bangun dan mengikuti Aria dari belakang.


"Apa kamu akan menginap atau pulang?" Tanya Javier pada Herald saat mereka bertiga sudah berkumpul di ruang tv.


"Aku akan pulang saja"


"Tapi ini sudah hampir tengah malam, sebaiknya kamu menginap saja toh kamar juga banyak yang kosong" tawar Javier pada Herald karena kasihan kalau Herald harus pulang tengah malam walupun Herald membawa mobil.


Herald menatap Aria yang hanya Aria tanggapi dengan mengangkat bahunya.


"Baiklah aku akan menginap disini"


"pilihan yang bagus" Javier mengangguk mendengar ucapan Herald.

__ADS_1


"Ya sudah kamu bisa memilih kamarmu sendiri aku akan pergi ke kamar untuk beristirahat sebaiknya kalian berdua juga istirahat" Javier lalu bangun dan berjalan menuju lantai dua.


"Apa besok kamu tidak mempunyai pekerjaan?


__ADS_2