Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Perasaan Herald


__ADS_3

"begitu ya, terimakasih karena sudah menemaniku dan membantuku juga kakak untuk mencari rumah baru"


Aria mengatakan hal itu masih sambil berbaring dan tidak menatap Herald, Aria meluruskan pandangannya dan menatap langit-langit apartemennya.


Herald lalu berjalan menghampiri Aria dan duduk di sebelah Aria yang sedang berbaring. "Aku melakukan itu karena aku ingin membantumu dan juga kakakmu" Herald menatap Aria.


"Aku penasaran dengan foto itu apa aku tanyakan saja padanya sekarang" Herald terlihat bimbang antara mau menanyakan soal foto itu dan hubungannya dengan Louis atau tidak, Herald tidak mau nanti Aria marah dengan pertanyaannya.


"Lebih baik aku tidak menanyakannya sekarang, aku akan menanyakan tentang foto itu kapan-kapan saja" batin Herald.


"Kenapa kamu?" Aria menatap wajah Herald yang terlihat gelisah.


"Tidak apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu" Herald menggeleng pelan.


Aria kemudian bangun dan menatap tajam wajah Herald "apa kamu yakin, kamu sedang memikirkan apa sampai membuat wajahmu gelisah seperti itu?"


"Aku..." Herald tidak tau apa yang akan dia katakan pada Aria karena Aria berhasil membuat Herald gugup serta gelisah dengan tatapan tajamnya.


"Hey jawab aku"


"Aku lupa aku masih harus membantu kakakmu mengemas barang aku keluar dulu sebaiknya kamu istirahat saja" Herald menghindari pertanyaan Aria dan berniat pergi dari kamar tersebut namun Aria segera menahan tangan Herald agar pria itu tidak bisa keluar.


"Jawab pertanyaanku" Aria menatap tajam pada Herald.


Herald mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Herald membalikkan badannya dan melihat tangan Aria yang sedang menahan tangannya.


"Hey jawab aku, apa kamu mempunyai masalah?"


"Tidak, tapi aku penasaran dengan sesuatu"


"Sesuatu, apa itu?" Aria memiringkan kepalanya.


"Tapi bisakah kamu berjanji dulu padaku bahwa kamu tidak akan marah padaku nantinya"


"Apa itu berkaitan denganku?" Tanya Aria

__ADS_1


Herald menganggukkan kepalanya "baiklah katakan padaku apa itu" Aria melepaskan tangannya dari tangan Herald.


Herald kembali duduk di samping Aria lalu merogoh saku celananya dan memberikan selembar foto yang tadi dia temukan dari dalam buku.


Aria menerima foto tersebut lalu melihatnya "bukankah ini fotoku bersama Louis di Paris, aku mencari foto ini kemana-mana tapi tidak menemukannya dari mana kamu menemukan foto ini?"


"Aku menemukannya terjatuh dari dalam sebuah buku saat sedang membereskannya tadi"


"Begitu ya lalu apa maksudmu dengan foto ini?" Aria tidak mengerti dengan pemikiran Herald tentang foto tersebut.


"Di foto itu kamu dan Louis terlihat bahagia bahkan sampai berpelukan apa kamu mempunyai hubungan khusus dengannya?" Herald kini menatap Aria.


"Hubungan khusus apa maksudmu, aku dan Louis tidak memiliki hubungan khusus seperti itu aku hanya berteman dengannya karena dia rekan pertamaku dan orang pertama yang aku kenal di dunia bawah"


"Tapi kamu terlihat sangat bahagia dan kalian berpelukan"


"Tidak ada salahnya kan berpelukan dengan sesama teman, ini adalah foto waktu aku berhasil membuat pedang yang di modifikasi dengan teknologi canggih waktu itu aku sangat senang dan juga Louis sudah membantuku membuat pedang itu jadi kami berdua mengambil foto untuk kenang-kenangan aku sudah mencari foto ini kemana-mana aku kira aku sudah menghilangkannya tapi kamu menemukan foto ini, foto ini sangat berharga untukku"


"Begitu ya, maafkan aku Aria aku berpikir yang bukan-bukan tentangmu dan juga Louis, saat aku melihat foto itu entah kenapa aku merasa aneh" Herald menatap lembut mata Aria dia juga menyesal karena sudah berpikiran yang bukan-bukan tentang Aria dan Louis.


"Kamu gelisah hanya karena sebuah foto lagian kenapa kamu seperti itu?"


"Itu karena aku menyukaimu"


"Aku tau kamu menyukaiku karena aku jenius bukan" Aria pura-pura tidak tau apa maksud dari ucapan Herald.


"Aria bukankah kamu juga tau bukan suka seperti itu yang aku maksud"


"Sudahlah jangan bahas ini lagi sebaiknya kamu bantu kakak sana bukannya kamu ingin membantu kakak tadi" Aria mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membahas pembicaraana itu lagi.


"Aku mencintaimu"


Deg!!!


Aria terdiam saat mendengar kata-kata Herald. Aria sebenarnya sudah tau bahwa Herald dari dulu mempunyai rasa padanya tapi Aria tidak menggubris itu dan hanya menganggap Herald sebagai rekan kerjanya Aria pikir perasaan Herald padanya sudah tidak ada tapi Aria salah sepertinya perasaan Herald padanya tidak berubah sedikitpun.

__ADS_1


"Jangan mengucapkan omong kosong seperti itu dan lagi aku tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun aku masih harus membalaskan kematian kedua orang tuaku"


"Aku tau itu, tapi aku akan selalu menunggumu menunggu kamu membuka hatimu untukku. Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah kamu bisa memegang kata-kataku Aria"


"Jangan menghabiskan waktumu untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti lebih baik kamu mencari seseorang yang tulus mencintaimu di luar sana, aku yakin akan banyak wanita yang mencintaimu kamu bisa menghabiskan waktu bersama mereka atau bahkan menikahi salah satu dari wanita itu"


Herald menggeleng pelan "aku tidak akan merubah pemikiran dan perasaanku, aku akan tetap menunggumu"


"Baiklah terserah kamu, aku mengatakan itu karena aku tidak mau kamu kecewa nantinya"


"Apapun keputusanmu nanti aku akan menerimanya" jawab Herald sambil tersenyum lembut pada Aria.


"Ya sudah sana pergi bantu kakakku"


"Baiklah, kamu istirahat saja aku akan mengatakan pada kakakmu kalau kamu kelelahan dan butuh istirahat" Herald mengusap pelan kepala Aria lalu bangun dan berjalan keluar dari kamar tersebut.


Setelah melihat Herald sudah keluar dari kamarnya Aria kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Cinta ya, apa aku bisa merasakan itu... Tidak, fokuslah Aria kamu masih harus memikirkan balas dendam mu pada Leon jangan pikirkan apapun kecuali balas dendam" Aria menepuk-nepuk pelan kedua pipinya.


_____


"Bagaimana apa sudah selesai berkemas?" Javier yang melihat Herald keluar dari kamar Aria langsung bertanya padanya


"Sudah, Aria juga sekarang sedang istirahat" jawab Herald sambil menghampiri Javier yang sedang memasukan beberapa sepatu ke dalam kotak kardus.


"Mungkin dia kelelahan ya sudah biarkan saja lagipula sebentar lagi juga selesai tinggal memasukkan sepatu-sepatu ini setelah itu beres"


Herald menganggukkan kepalanya "biar aku bantu"


Mereka berdua lalu mengemas beberapa sepatu tersebut dan tidak lama kemudian acara mengemas barang pun selesai. "Sebaiknya kamu mandi dulu karena kamu berkeringat supaya tidur nanti kamu merasa nyaman" Javier menyarankan untuk mandi terlebih dulu pada Herald karena melihat keringat di tubuh Herald.


"Sepertinya begitu, ya sudah aku mau pergi mandi" Herald berjalan kearah kamar Javier untuk menggunakan kamar mandi maklum di apartemen itu kamar mandinya hanya ada dua dan masing-masing ada di dalam kamar.


Javier lalu mengangkat kotak yang berisi sepatu tersebut dan meletakkannya bersama dengan barang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2