
Aria sampai di apartemennya saat jam menunjukan pukul sebelas dan sebentar lagi jam makan siang, Aria lalu bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang kakaknya.
Selesai membuat makan siang, Aria lalu masuk kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Seperti biasa, Aria lebih memilih menaiki taksi untuk bepergian, "Lebih baik aku hubungi kakak dulu" Aria lalu mengambil ponsel dari dalam tas Selempang kecil yang dia pakai.
"Halo Kak, aku udah di jalan nih.." ucap Aria begitu Javier menerima panggilannya.
"Baik, tunggu saja kakak diluar, jangan masuk kantor ya" timpal Javier.
"Memangnya kenapa kak?"
"Tidak apa-apa, pokoknya kamu tunggu diluar dan jangan masuk" ucap Javier kembali.
"Iya iya, aku akan menunggu diluar"
"Berapa lama lagi kira-kira kamu sampai kantor?" tanya Javier.
"Sekitar lima menit lagi"
"Baik, nanti kakak turun kalau sudah lima menit"
Aria lalu mengakhiri panggilan itu dan kembali meletakan ponselnya kedalam tas, Lima menit kemudian, Aria sudah sampai di kantor tempat Javier bekerja dan melihat kakaknya sudah berada di depan gedung kantor.
"Kak..." Aria melambaikan tangannya kearah Javier, tapi tanpa sengaja mata Aria melirik ke lantai atas dan melihat Leon yang sedang menatap tajam kearah Javier, Aria sedikit terkejut dengan tatapan Leon yang menurutnya itu adalah tatapan yang sama sepertinya saat menatap musuh, Walaupun penasaran, Aria tidak menggubrisnya dulu karena Leon juga sepertinya tidak melihat Aria karena terlalu fokus menatap Javier.
Javier membalas lambaian tangan Aria sambil tersenyum lembut, Aria lalu segera berjalan kearah Javier dan langsung memberikan kotak makan yang dia bawa.
"Nih kak, habiskan ya" ucap Aria sambil memberikan kotak makanan itu pada Javier.
Leon yang sedari tadi menatap Javier kini beralih menatap Aria saat Aria ada di hadapan Javier, Leon tentu saja melihat Aria yang tersenyum lembut pada Javier, "Ternyata kamu bisa tersenyum manis seperti itu juga ya Aria" batin Leon sambil menatap Aria dengan tatapan datarnya.
"Kamu tidak tersenyum saat bertemu denganku, tapi kamu tersenyum lembut saat dengan kakakmu ya, lihat saja nanti, aku akan membuat kamu juga tersenyum seperti itu padaku" Leon tersenyum tipis sambil masih menatap Aria lalu segera membalikan badannya dan pergi dari sana.
Javier menerima kotak makan dari Aria, "Tentu saja, kakak akan menghabiskannya, tapi lain kali kamu tidak perlu membuatkan kakak makan siang lagi" ucap Javier tiba-tiba.
"Eh?, memangnya kenapa kak?, apa makanannya tidak enak?" tanya Aria.
"Tentu saja makanannya sangat enak, tapi kakak tidak mau kamu sering-sering kesini, kamu masih ingat tidak dengan bos kakak yang kemarin?"
"Iya kak, aku ingat, memangnya kenapa?" Aria tentu saja mengingat Leon karena sudah beberapa kali bertemu dengannya, apalagi saat tadi Aria melihat Leon menatap tajam kearah kakaknya, Aria tidak akan pernah melupakan tatapan itu, Aria curiga Leon dan kakaknya Javier mempunyai masalah pribadi.
"Sepertinya dia menyukaimu" Ucap Javier sambil mengajak Aria ke kursi yang ada di luar gedung perusahaan itu.
"Apa?!, Itu tidak mungkin kak, apa kakak akan percaya jika seorang CEO menyukaiku yang hanya seorang penjaga Toko Barang Antik?" Aria terkejut karena kakaknya tiba-tiba berbicara omong kosong seperti itu.
__ADS_1
Javier menggelengkan kepalanya, "kakak tidak terkejut seorang CEO akan menyukaimu karena kamu itu cantik, tapi kakak tidak percaya padanya, pada Bos kakak itu, kamu tetap harus berhati-hati saat bertemu dengannya dan jangan pernah percaya pada ucapannya" Javier memperingati Aria karena takut adiknya itu akan sungguh jatuh cinta pada Leon.
"Baiklah, aku akan berhati-hati dan mulai besok tidak akan datang kesini lagi, yasudah, ayo makan kak, nanti makanannya keburu dingin" Aria percaya pada Javier karena tidak mungkin kakaknya itu berbohong, lagipula mau bagaimanapun Aria lebih percaya kakaknya dibandingkan Leon.
Javier membuka kotak makan dari Aria kemudian mengambil sumpit yang sudah tersedia disana, "Aria, kamu juga makan, nih kakak suapin" Javier mengambil nasi dan juga daging di dalam kotak itu lalu menyuapkannya pada Aria.
"Bagaimana, bukankah masakanmu enak?" Tanya Javier pada Aria yang sedang mengunyah makanan di dalam mulutnya, "Iya kak, ini enak tidak kalah enak dengan yang ada di restoran" Jawab Aria sambil masih mengunyah makanan tersebut.
Javier kemudian menyuapkan lagi makan itu kedalam mulutnya, setelah itu Javier kembali menyuapi Aria, begitu terus sampai makanan itu habis.
"Aku kenyang" ucap Javier sambil mengusap perutnya, "bagaimana denganmu Aria?" tanya Javier.
"Aku juga kenyang kak" timpal Aria Sambil membereskan kotak makan yang berantakan di atas meja.
"Apa kamu akan langsung pulang atau pergi keluar?" Javier bertanya pada Aria yang sedang membereskan meja tersebut, "Aku mau langsung pulang dan tidak akan kemana-mana sampai kakak pulang"
"Hmm..benarkah?" Javier tidak yakin dengan ucapan Aria.
"Iya benar, apa kakak tidak percaya padaku?"
"Kakak percaya padamu, namun belakangan ini kamu suka keluar sampai tengah malam, dan juga kamu terkadang tidak memberi kakak kabar Sampai kakak harus menunggumu pulang karena takut kamu kenapa-napa"
Aria sudah selesai membereskan kotak makannya itu, Kini kotak itu berada di tangan kiri Aria, "Iya, aku kan sudah bilang pada kakak kalau aku lupa untuk memberi kabar, Kali ini aku benar-benar akan berada dirumah" timpal Aria.
Aria kemudian bangun dari tempat duduknya, "Kak, aku pulang dulu ya"
"Hati-hati dijalan"
"Iya kak.." Aria kemudian melangkahkan kakinya menuju taksi yang tadi sudah dia pesan, Aria lalu masuk kedalam taksi tersebut dan taksi itupun melaju menuju gedung Apartemen dimana Aria dan Javier tinggal.
Di dalam taksi, Aria kembali memikirkan ucapan kakaknya dan tatapan Leon tadi, "Apa mereka sedang ada masalah?, dan juga, kenapa kakak mengatakan kalau Leon menyukaiku?, Tunggu dulu, bukankah kakak pernah bilang Leon mungkin berasal dari dunia bawah" Aria mengingat kembali kata-kata Javier.
"Kalau benar dia memang dari dunia bawah, seharusnya tidak akan sulit untuk mencari informasi tentangnya, tentu saja kalau yang mencari informasi itu aku atau Louis" Aria adalah hacker terbaik di dunia bawah, setelah itu Louis menduduki posisi ketiga karena posisi kedua di duduki oleh Ketua Organisasi Blood Moon, Organisasi Blood Moon adalah organisasi yang berpengaruh di dunia bawah dan menduduki posisi pertama.
"Lebih baik aku meminta Louis untuk mencari informasi tentang Leon" Aria kembali mengambil ponselnya lalu menghubungi Louis.
"Louis, bagaimana keadaanmu?" Tentunya Aria akan bertanya tentang kondisi Louis terlebih dulu sebelum menyuruhnya untuk mencari informasi.
"Sekarang sudah lebih baik, ada apa kamu menghubungiku Aria?" Louis menyebut Aria dengan namanya, itu artinya disana Louis sedang sendirian.
"Aku mau kamu mencari informasi tentang seseorang di dunia bawah"
"Siapa orang yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Dia orang yang beberapa kali bertemu pernah bertemu denganku dan juga tau bahwa aku adalah ketua dari Black Rose"
"Apa?! Dia tau bahwa kamu adalah ketua Black Rose bagaimana bisa?" Louis terdengar terkejut setelah mendengar ucapan Aria.
"Ceritanya panjang, sekarang kamu cari saja informasi tentangnya, Namanya Leon, aku tidak tahu nama belakangnya karena dia hanya memberitahuku nama depannya saja, apa kamu bisa mencarinya?"
"Baik, aku akan mencarinya, nanti aku akan kembali menghubungimu begitu aku mendapatkan informasi tentangnya"
"Baik Louis, aku mengandalkanmu"
"Serahkan saja padaku Aria, aku pasti akan menemukan informasi tentangnya" Ucap Louis dengan nada suara yang begitu yakin.
Aria kemudian mengakhiri panggilannya bertepatan dengan dirinya tiba di depan gedung apartemen, Aria keluar dari mobil lalu berjalan menuju apartemennya.
Sampai di dalam apartemen, Aria menuju ruang tv dan merebahkan tubuhnya disana, Aria meletakan tasnya diatas meja lalu dia meraih remote tv yang tergeletak di dekat tas yang tadi dia taruh.
Aria lalu menyalakan tv dan menonton acara kesukaannya yaitu drama tentang pembunuhan, Aria mengambil camilan yang ada di atas meja lalu memakannya sambil menonton drama kesukaannya itu.
Aria berencana untuk terus menonton TV sambil menunggu kakaknya pulang karena ingin membicarakan tentang kebakaran rumah mereka dulu, walaupun itu akan membuat mereka mengingat kembali saat-saat paling menyakitkan bagi mereka, tapi apa boleh buat, ini demi mencari petunjuk siapa orang yang membakar rumah mereka itu.
Tidak terasa matahari sudah turun dan hari pun mulai gelap, Saat ini jam menunjukan pukul tujuh malam, berarti sebentar lagi Javier akan pulang.
Saat sedang asik menonton TV, Aria mendengar pintu apartemennya terbuka dan dia melihat kakaknya sudah pulang.
"Kak, sudah pulang?" Tanya Aria sambil mengunyah keripik di dalam mulutnya, "Iya, kamu kan sudah melihat kakak ada disini, berarti kakak sudah pulang" Javier menjawab pertanyaan Aria sambil berjalan menuju ruang TV dan duduk di sebelah Aria yang sedang tiduran di kursi panjang depan tv.
Melihat Javier duduk di sebelahnya, Aria lalu bangun dan duduk menghadap kakaknya itu, "Kak, aku mau bicara serius dengan kakak" Ucap Aria yang mulutnya masih terisi penuh dengan makanan sampai pipinya terlihat gembul.
Javier yang melihat Aria ingin berbicara serius namun dengan wajah yang terlihat menggemaskan membuat Javier ingin mencubit pipi adiknya itu, "Kalau kamu mau berbicara serius dengan kakak, habiskan dulu keripik yang ada di dalam mulutmu itu" Jawab Javier sambil mencubit gemas pipi Aria.
"Aduh kak, aku kan bukan anak kecil lagi" Aria segera menelan keripik yang ada di dalam mulutnya lalu menaruh Snack yang masih ada isinya itu ke atas meja, Kini Aria sudah bisa berbicara serius dengan kakaknya.
"Kak, aku mau tanya, apa dulu waktu rumah kita kebakaran kakak menemukan petunjuk tentang organisasi yang membakar rumah kita?" Aria bertanya dengan hati-hati karena takut Javier akan marah lagi kalau dia menyinggung tentang kebakaran itu.
Javier terdiam cukup lama kemudian dia menarik nafas dalam-dalam dan menatap Aria, "Kakak tau suatu saat nanti pasti kamu akan bertanya hal ini pada kakak, Sebenarnya kakak menemukan satu petunjuk"
Aria terkejut mendengar ucapan kakaknya namun juga bersemangat, "Petunjuk apa kak?, tolong beritahu Aku"
"Kakak melihat orang yang membakar rumah kita memakai kalung perak berbentuk kepala singa, waktu itu kakak tidak melihat jelas wajahnya karena penglihatan kakak terhalang asap hitam tebal, tapi kakak melihat dengan jelas kalung kepala singa yang orang itu pakai" Javier menjelaskan sambil mengepalkan tangannya lalu terlihat di wajahnya Javier menahan emosinya.
"Kalung perak berbentuk kepala singa?" Aria mengingat ingat petunjuk yang diberikan Javier.
Javier kemudian menatap Aria, "Maafkan kakak karena sampai sekarang masih tidak bisa menemukan pelaku pembakaran rumah kita, hingga merenggut nyawa ayah dan ibu karena kakak malah sibuk bekerja" Javier menatap Aria dengan tatapan sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kak, kakak tidak perlu meminta maaf dan merasa bersalah, suatu saat nanti pasti kita akan menemukan petunjuk dari organisasi mana sebenarnya orang yang membakar rumah kita itu" Aria kemudian memeluk Javier dan menepuk-nepuk pelan punggung kakaknya itu untuk menenangkannya.