Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Perasaan Cemburu ?


__ADS_3

Aria terus menyerang Herald dengan sangat mematikan bahkan setiap kali Aria menyerang menggunakan pedangnya Aria selalu mengincar titik vital di tubuh Herald.


Herald sedikit kesusahan karena Aria terus menyerang titik vitalnya sementara Louis dan yang lainnya hanya melihat pertarungan Aria dan juga Herald dari jarak yang lumayan jauh.


"Sepertinya tuan Herald sedikit kesusahan untuk menghentikan nona" Hans memberikan pendapatnya saat melihat Herald kesusahan melawan Aria


"Benar, karena Aria menyerang dengan sangat tajam ke arah titik vital tuan Herald sementara tuan Herald dia hanya bisa bertahan dan mencari celah karena tidak mau menyakiti nona Aria" Louis juga sependapat dengan Hans Herald sedikit kesusahan dan terpojok oleh serangan Aria.


"Aria berhentilah aku tidak ingin menyakitimu" Herald masih berusaha untuk berbicara dengan Aria.


"Diam!!"


Aria tidak mau mendengar perkataan apapun, yang ada di pikirannya saat ini adalah menghabisi secepat mungkin orang yang ada di hadapannya lalu pergi menemui Leon bajingan sialan itu.


Herald melihat celah di gerakan Aria dan akan menggunakan kesempatan itu namun saat Herald sudah dekat dengan Aria ternyata celah itu adalah jebakan dari Aria. Aria segera menebas tangan Herald untungnya Herald cepat sadar kalau itu jebakan dan dengan refleksnya yang cepat Herald segera mundur namun serangan Aria mengenai tangan kiri Herald tapi untungnya karena refleks Herald yang cepat tangan Herald tidak terpotong dan hanya mengalami luka tebasan sedalam dua senti.


"Tuan Herald anda tidak apa-apa" Louis yang melihat itu menjadi panik karena takut Herald terbunuh dan nanti Aria yang akan disalahkan oleh organisasi Blood Moon, Louis tidak ingin hubungan antara organisasi Black Rose dan organisasi Blood Moon menjadi buruk.


"Saya tak apa hanya luka sedikit kalian tetap disana" Herald menjawab saat Louis akan berlari ke arah pertarungan.


"Sedikit lagi kamu hanya akan mempunyai satu tangan, ck..sayang sekali" Aria berdecak kesal karena Herald mampu menghindar.


Herald menjawab Aria hanya dengan senyuman namun sepertinya Aria terganggu dengan senyuman itu "Jangan tersenyum seperti itu aku tidak menyukainya"


"Benarkah bukannya kamu sangat menyukai senyumanku" Herald mengatakan itu sambil terlihat sedang berpikir


"Diam kau!!" Aria lalu maju menyerang dan Herald masih dalam posisi bertahan.


"Kalau seperti ini terus tidak akan berhasil" Hans terlihat cemas


"Mereka berdua sedang beradu stamina" Louis menjawab kekhawatiran Hans


"Beradu stamina?" Hans menaikan alisnya tanda ingin tau maksud dari perkataan Louis


"Tuan Herald mencoba untuk membuat stamina nona Aria berkurang karena kelelahan tapi sepertinya itu juga tidak mudah karena tuan Herland terluka dan kehilangan darah" Louis menatap Herald dan Aria yang masih terus bertarung Aria yang menyerang dan Herald hanya di posisi bertahan


"Ah benar juga, pasti itu tidak mudah untuk tuan Herald" Hans menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Louis


"Kamu pikir bisa menang dariku dengan kondisi seperti itu, aku akan akhiri ini dan segera pergi menemui bajingan itu" Aria lalu menambah kecepatannya saat Aria ingin menusuk jantung Herald, Herald dengan cepat mendorong tubuh Aria dengan menggunakan gagang pedangnya.


Seketika itu juga Aria terdorong mundur dan kehilangan keseimbangan namun Herald tidak menunggu Aria mendapatkan keseimbangannya kembali Herald langsung memukul tengkuk Aria.

__ADS_1


"Kau..!!" Aria tidak bisa meneruskan ucapannya karena langsung kehilangan kesadarannya


"Maafkan aku Aria karena harus memukulmu dengan lumayan keras" Herald lalu menangkap tubuh Aria yang hampir terjatuh karena kehilangan kesadaran.


Louis dan juga semua orang yang ada di sana bernafas lega karena Aria berhasil di hentikan namun mereka juga tidak enak pada Herald karena terluka saat mencoba menghentikan Aria.


Herald lalu mengubah kembali pedangnya menjadi gelang dan juga Herald mengubah pedang yang ada di tangan Aria menjadi bentuk semula juga yaitu gelang perak.


Louis yang melihat mereka sudah selesai segera menghampiri Herald "Tuan Herald sebaiknya anda di obati terlebih dulu biar luka anda tidak mengeluarkan darah lagi"


"Aku akan mengantar Aria ke kamarnya terlebih dulu, bisa kamu antarkan saya menuju kamar Aria"


"Baiklah akan saya antarkan mari ikuti saya tuan" Louis lalu berjalan menuntun Herald untuk pergi ke kamar Aria.


Herald menggendong tubuh Aria lalu mengikuti langkah Louis menuju kamar tidur Aria. Tidak lama kemudian mereka sampai di depan pintu kamar Aria lalu Louis segera membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan Herald untuk masuk.


Herald kemudian masuk dan berjalan menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuh Aria diatas tempat tidurnya.


"Tuan Herald sebaiknya anda obati dulu luka anda" Louis yang ada di samping Herald menyarankan Herald untuk segera mengobati luka yang ada di tangannya karena terus mengeluarkan darah.


"Louis bisa tolong panggilkan aku dokter kalian, aku tidak mau meninggalkan Aria sendirian" Herald menatap Louis yang berada di sampingnya.


"Baiklah akan saya panggilkan mohon tuan tunggu sebentar" Louis memberi hormatnya lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar Aria menuju ruang pengobatan dimana Victor berada.


Saat Louis sudah keluar Herald lalu mendekati Aria dan berlutut di sampingnya. "Aria maafkan aku karena menghentikanmu, maafkan aku juga karena meninggalkanmu demi pekerjaanku" Herald menggenggam lembut tangan Aria.


Beberapa menit kemudian Louis datang dengan membawa Victor di sampingnya sambil membawa alat-alat untuk mengobati Herald karena sebelumnya Victor sudah dikasih tau oleh Louis bahwa tangan Herald terluka dan mungkin memerlukan jahitan agar lukanya kembali menutup.


"Permisi tuan" Louis memanggil Herald yang sedang fokus menatap Aria. Herald lalu melirik Louis yang sudah ada di sampingnya sambil membawa seorang Dokter.


"Apa dia dokter yang ada di sini?" Herald menatap Victor yang ada di samping Louis.


"Benar tuan dia adalah dokter terbaik di organisasi kami jadi anda tidak perlu khawatir"


"Baiklah.." Herald mengangguk pelan.


Victor kini sedang gemetar karena Louis mengatakan bahwa orang yang akan Victor obati adalah Ketua dari organisasi Blood Moon.


"Anda tidak perlu gemetar seperti itu, santai saja" Herald tentunya melihat kegugupan di diri Victor.


"Maafkan saya tuan, saya akan mengobati anda dengan semua kemampuan yang saya miliki dan juga anda tidak perlu berbicara formal pada saya juga anda bisa memanggil saya Victor saja" Victor memberikan hormatnya pada Herald.

__ADS_1


"Baiklah Victor aku butuh bantuanmu untuk mengobati luka yang ada di tanganku" Herald menunjuk tangan kirinya yang terluka.


"Baiklah mari tuan" Victor menuntun Herald ke arah sofa yang ada di sana.


Herald kemudian duduk diatas sofa tersebut lalu Victor segera mengobati tangan Herald.


Sementara Herald sedang di obati Louis melirik Aria dan menghela nafas pelan "Yang aku takutkan terjadi juga, aku sangat takut Aria akan kehilangan kendali saat mengetahui penyebab dan orang yang menghancurkan keluarganya tapi untungnya ada Ketua Blood Moon yang membantu untuk menghentikan Aria tanpa melukai tubuh Aria, kalau tidak ada mungkin aku tidak akan bisa menghentikan Aria dan akan melukai tubuhnya" batin Louis.


Satu jam kemudian Aria membuka matanya dan Herald juga sudah selesai di obati "Aria kamu baik-baik saja apa ada yang sakit?" Melihat Aria sudah membuka matanya Herald langsung menghampiri Aria


"Kepalaku sedikit pusing dan juga tengkuk ku sakit" ucap Aria sambil memegang tengkuknya.


"Benarkah kalau begitu minum ini dulu" Herald memberikan obat dari Victor untuk Aria minum karena Victor sudah menduga kalau bangun Aria pasti akan merasakan pusing lalu setelah memberikan obat itu Victor kembali ke ruang pengobatan.


Louis hanya melihat Herald dan Aria dalam diam, meskipun Louis juga menghawatirkan Aria tapi sekarang disana ada Herald.


Aria meminum obat tersebut kemudian menatap Herald "Apa yang terjadi kenapa kepala dan tengkukku sakit?"


"Ah..itu, maafkan aku karena aku yang memukul tengkuk mu" terlihat di wajah Herald bahwa dia sangat menyesal sudah memukul Aria tapi mau bagaimana lagi itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikan Aria.


"Apa aku kehilangan kendali lagi dan mengeluarkan emosiku?"


Herald menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Aria "Begitu ya, apa ada yang terluka aku tidak begitu ingat"


"Tidak ada yang terluka semuanya baik-baik saja" Herald menjawab Aria sambil tersenyum lembut.


"Benarkah terakhir kali aku kehilangan kendali aku membunuh banyak orang bahkan anggotaku sendiri" Aria lalu melirik tangan Herald yang dibalut perban.


"Apa kamu terluka? Apa itu karena aku?" Aria bertanya dengan sedikit cemas karena pastinya luka itu disebabkan olehnya.


"Ini hanya luka kecil dan aku masih baik-baik saja" Herald melirik luka di tangannya


"Itu pasti karena aku, maaf.."


"Aria kamu tidak perlu minta maaf aku baik-baik saja" Herald menggenggam lembut tangan Aria. Louis yang melihat itu lalu menundukkan kepalanya dan memegang dadanya "Kenapa hatiku sakit ya"


"Yang harusnya minta maaf itu aku karena sudah memukulmu"


"Kamu melakukan itu pasti karena mencoba untuk menghentikanku, aku saat itu tidak bisa menahan amarah dan emosiku jadi aku kehilangan kendali atas diriku karena termakan emosi yang meluap keluar dan juga tidak perlu minta maaf" Aria menggeleng pelan lalu melihat Louis yang sedang menundukkan kepalanya dan melamun.


"Louis apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


__ADS_2