Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Javier Kembali Sadar


__ADS_3

"Louis kalau pria itu datang lagi kamu usir saja dia jangan kamu biarkan dia masuk dan juga katakan padanya aku tidak mau bertemu dengannya kalau dia masih mau menanyakan informasi organisasi Red Blood"


Aria tidak menduga Giovanni akan menambah masalahnya. Aria kira Giovanni adalah pria yang lumayan bisa di andalkan tapi Aria salah Giovanni kini justru menambah masalah baru.


"Baik Aria kalau pria itu kembali lagi aku tidak akan membiarkannya masuk"


"Bagus, aku mengandalkanmu Louis"


"Tentu saja kamu bisa mengandalkanku Aria"


Setelah itu Aria mengakhiri panggilan tersebut. "Ada apa ?" Herald bertanya pada Aria yang baru saja menutup panggilanya.


"Giovanni menambah masalah baru untukku karena dia sangat keras kepala, dia bahkan tidak mendengarkan ku maupun Louis" Aria menghela nafas pelan.


"Ya sudah biarkan saja yang penting kamu kan sudah memperingatinya kalau misalkan terjadi sesuatu padanya itu salahnya sendiri karena keras kepala dan tidak mendengarkanmu"


Aria menghela nafas dan menganggukkan kepalanya "Aku sudah memperingatinya tapi dia tidak mendengarkanku dan juga dia sendiri yang melemparkan dirinya pada bahaya itu sendiri" batin Aria.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Herald menatap Aria yang kini duduk di hadapannya.


"Aku akan menunggu reaksi Leon terlebih dulu apa dia bisa menemukan bukti atau tidak"


"Begitu ya" Herald menganggukkan kepalanya.


"Ukh.."


"Suara apa itu?" Aria dan Herald saling bertatapan lalu mereka segera melihat ke arah Javier.


"Kakak.." Aria melihat Javier membuka matanya dan mengerang kesakitan.


Aria serta Herald langsung menghampiri Javier. " Kak, kakak sudah sadar Herald cepat panggilkan dokter" Aria menyuruh Herald untuk memanggil dokter dan Herald pun keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil dokter yang menangani Javier.


Aria melihat Javier masih seperti kesakitan "Kakak jangan banyak gerak dulu" Aria melarang Javier untuk banyak bergerak karena Javier terlihat sangat kesakitan.


"Kak aku senang kakak sudah sadar" Aria terharu dan tersenyum bahagia melihat Javier sudah sadar.


"Aria.. kenapa kamu menangis?" Javier bertanya pada Aria dengan suara serak dan sangat pelan saat melihat Aria mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


"Aku tidak menangis karena sedih aku menangis karena bahagia kakak sudah bangun" Aria mengahpus air mata yang keluar dari mata cantiknya itu lalu tersenyum pada Javier.


Tidak lama kemudian Herald masuk bersama dokter yang selama ini menangani Javier. "Permisi biar saya periksa dulu kondisi pasien" ucap dokter tersebut lalu segera memeriksa kondisi Javier.


Sementara Aria dia segera kesamping Herald dan melihat dokter tersebut memeriksa kakaknya.


Tidak sampai sepuluh menit dokter tersebut sudah selesai memeriksa Javier lalu menghampiri Aria yang ada di belakangnya bersama Herald.


"Ini sebuah keajaiban pasien bisa bangun kembali dari koma panjangnya biasanya setiap pasien yang mengalami koma panjang mereka semua tidak bangun kembali dan meninggal tapi keajaiban terjadi pada kakak anda mungkin juga ini berkat anda yang terus berdoa dan mengajak kakak anda berbicara jadi mungkin kakak anda mendengar suara anda dan dia berusaha sekuat tenaga untuk bangun" ucap dokter tersebut panjang lebar.


Aria sedikit terkejut dengan perkataan dokter tersebut yang mengatakan kalau pasien koma biasanya tida bangun kembali tapi Aria segera bersyukur karena kakaknya bisa bangun kembali.


"Syukurlah kakak bisa bangun kembali, kakak pasti tidak mau meninggalkanku sendirian di dunia ini jadi kakak berusaha untuk bangun"


"Itu mungkin juga benar, dan juga kondisi pasien sekarang juga sudah mulai stabil hanya saja mungkin pasien akan sedikit kesulitan berbicara dan bergerak untuk sementara waktu karena ototnya yang kaku, saya juga sudah memberikan obat pereda nyeri untuk membantu pasien agar tidak terlalu kesakitan karena lukanya"


"Baik, terimakasih dok" Aria mengucapkan terimakasih dengan tulus pada dokter tersebut karena sudah merawat Javier selama kurang lebih satu Minggu ini.


"Sama-sama kalau gitu saya permisi dulu"


"Sebaiknya kamu tunggu dulu di sofa dan jangan dulu memperlihatkan wajahmu pada kakak sebelum kondisi kakak lebih baik" Aria berbicara pada Herald yang ingin menghampiri Javier.


"Kamu benar Aria kakakmu kan tidak terlalu menyukaiku kalau gitu aku akan tunggu di luar saja kalau aku menunggu di sofa kakakmu pasti akan melihatku"


"Apa kamu tidak apa-apa?" Aria menatap Herald, Aria sebenarnya tidak tega melihat Herald harus keluar dan bersembunyi dari kakaknya tapi Aria tidak mau kakaknya yang baru bangun itu melihat Herald dan langsung memarahinya.


"Aku tidak apa-apa, aku cukup mengerti alasan kakakmu tidak menyukai ku dan suatu saat nanti aku akan membuat kakakmu tidak melarang lagi kita untuk bertemu" Herald tersenyum lembut pada Aria kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Dia memang baik tapi karena asal usulnya kakak tidak menyukainya" batin Aria.


Setelah melihat Herald sudah keluar Aria lalu menghampiri Javier yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur pasien tapi kali ini Javier sudah membuka matanya.


"Kak.." Aria duduk di samping kakaknya.


Javier melirik Aria yang kini ada di sampingnya "Aria..maafkan kakak"


Aria menggeleng pelan "Kakak tidak perlu minta maaf lebih baik sekarang kakak fokus dulu memikirkan kesehatan kakak"

__ADS_1


Javier tidak membantah Aria dan hanya menganggukkan kepalanya "Ah iya apa kakak lapar atau haus?"


"Kakak sedikit haus dan tenggorokan kakak kering bisa tolong ambilkan kakak minum"


"Tentu, sebentar.." Aria kemudian mengambil segelas air putih dari dispenser yang ada di ruangan itu, Aria lalu duduk kembali dan memberikan segelas air putih itu pada kakaknya.


"Karena kakak belum bisa bangun aku menaruh sedotan di gelas ini jadi kakak minum pakai sedotan dulu ya" Aria menyodorkan air putih tersebut pada Javier.


Javier meminum air itu menggunakan sedotan yang Aria kasih. "Kakak harus menghabiskannya supaya tenggorokan kakak tidak sakit dan juga kering"


"Baiklah .." Javier kemudian menghabiskan air putih itu. Aria lalu kembali menaruh gelas kosong itu di meja dekat tempat tidur Javier.


"Aria maaf kakak tidak bisa menepati janji kakak untuk menjemputmu" Javier ingat terakhir kali dirinya sadar Javier akan menjemput Aria.


"Tidak apa kak, jangan pikirkan itu" Aria menggeleng pelan.


"Aria siapa yang menemukan kakak? Soalnya terakhir kali kakak ingat kakak di bawa ke sebuah gedung kosong oleh beberapa orang"


"Aku yang menemukan kakak karena kakak tidak pulang jadi aku khawatir lalu ponsel kakak juga mati"


"Bagaimana caranya kamu menemukan kakak sedangkan kamu sendiri tidak tau kakak ada dimana?"


"Aku mencarinya di seluruh daerah A karena terakhir kali kakak sedang berada disana jadi aku pikir kakak pasti masih ada di daerah itu"


"Begitu ya.."


"Kak, aku mau tanya kenapa kakak bisa sampai seperti ini, sebenarnya apa kakak punya musuh atau apa?" Aria menatap Javier yang masih terbaring. Aria tau Javier masih membutuhkan istirahat tapi Aria ingin tau kenapa Leon melakukan itu pada kakaknya Aria pikir itu bukan hanya karena kakaknya itu keluar dari perusahaan milik Leon.


"Kakak hanya mencurigai satu orang"


"Satu orang?"


"Benar karena terakhir kali kakak membuatnya sangat marah"


"Siapa itu kak?"


"Bos perusahaan teknologi terbesar di kota L, Leon"

__ADS_1


__ADS_2