
Louis lalu tersadar dan langsung menatap Aria "Saya baik-baik saja nona"
"Baguslah kalau kamu baik-baik saja" Aria menghela nafas pelan lalu kembali terdiam dan memikirkan Leon "Leon, aku tidak akan memaafkanmu aku akan segera membalas perbuatanmu" Aria mengepalkan tangannya dengan sangat keras
"Aria tenanglah.." Herald yang melihat Aria kembali emosi langsung menenangkan Aria.
Aria mengambil nafas yang dalam lalu membuangnya "Aku hanya teringat dengan keluargaku dan juga kakak, mengingat itu dan apa yang sudah Leon lakukan pada keluargaku membuatku kembali marah"
"Aria kamu bisa membalasnya nanti saat kamu sudah lebih tenang dan aku juga akan membantumu" Herald menatap lembut wajah Aria.
"Tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri lagipula kamu kan sangat sibuk dengan pekerjaanmu kamu tidak perlu membantuku"
Saat Aria membicarakan pekerjaan Herald merasa bersalah dan itu juga terlihat dari ekspresi di wajahnya yang langsung berubah.
"Aria maafkan aku.."
"Kenapa kamu minta maaf lagian itukan memang pekerjaan yang harus kamu kerjakan" Aria lalu menatap Louis
"Louis bisa tolong petikan beberapa tangkai bunga dan juga minta pada Hans untuk menyiapkan kamar tamu"
Louis sebenarnya tidak mau pergi dari sana dan meninggalkan Aria berdua saja dengan Herald namun sepertinya mereka berdua ada yang mau dibicarakan jadi Louis memutuskan untuk pergi dan menjalankan perintah Aria.
"Baik nona kalau begitu saya permisi" Louis memberikan hormatnya kemudian pergi dari kamar tersebut.
"Bunga? Untuk apa kamu minta dipetikan bunga malam-malam begini?" Herald bertanya tanya saat Aria meminta beberapa tangkai bunga pada Louis tengah malam begini.
"Aku mau ke rumah sakit"
"Ke rumah sakit tengah malam begini?" Herald cukup terkejut dengan perkataan Aria.
"Aku mau menemani kakak disana, aku juga sudah menyuruh Hans untuk menyiapkan kamar untukmu beristirahat, kamu pasti sangat lelah sekarang karena belum sempat untuk beristirahat"
"Kalau begitu aku ikut denganmu, aku juga sudah sangat lama tidak bertemu dengan kakakmu"
"Tidak kamu harus istirahat, aku bisa kesana sendiri" Aria menggeleng pelan
__ADS_1
"Aku akan menemanimu dan juga aku ingin tau kondisi kakakmu" Herald bersikeras ingin ikut dengan Aria karena Herald tidak mau Aria sendirian malam ini takutnya Aria kembali emosi karena belum bisa melampiaskan amarahnya tadi.
"Baiklah terserah kamu lagian walaupun aku melarangmu kamu akan tetap ikut, sekarang kakak sedang koma jadi dia tidak bisa memarahimu"
Herald tersenyum canggung "kamu benar, kalau kakakmu tau aku bertemu denganmu dia pasti akan memarahiku tapi itu lebih baik daripada kakakmu terbaring di rumah sakit"
Aria menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Herald
"Aria sekali lagi maafkan aku karena tidak menepati janjiku untuk menjaga dan membantumu, aku malah mementingkan pekerjaanku" Herald menggenggam tangan Aria dan menundukkan kepalanya serta sangat menyesali keputusan yang dia buat.
"Aku tidak tau pekerjaan yang ku ambil akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar" Herald membutuhkan sekitar setahun lebih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang ada di luar negeri
Aria menatap Herald yang sedang tertunduk di sampingnya. Sebenarnya Aria kecewa pada Herald karena pergi tanpa bilang dan pamitan pada Aria, Aria tidak menyalahkan Herald karena memang pekerjaan dia sangat penting dan juga sangat banyak.
"Sudahlah itu kan sudah berlalu jangan bahas itu lagi" Aria tau Herald menaruh hati padanya tapi Aria tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun dan hanya menganggap Herald sebagai teman atau rekan bisnisnya.
"Aku sekarang tidak akan melakukan itu lagi dan aku akan menepati janjiku padamu" Herald menatap lembut mata Aria
Aria hanya diam menanggapi perkataan Herald, tidak lama kemudian Louis datang sambil membawa beberapa tangkai bunga Mawar Hitam di tangannya.
Aria lalu melepaskan genggaman tangan Herald dan menerima bunga tersebut. "Aku akan mengganti pakaianku kalian berdua keluarlah"
"Nona kalau boleh saya tau anda mau kemana?" Louis belum tau Aria akan pergi ke rumah sakit.
"Aku malam ini akan tidur di rumah sakit dan menemani kakak" Aria berkata sambil turun dari tempat tidurnya.
"Ke rumah sakit tengah malam begini, nona Aria biar saya antar" Louis tidak mau Aria pergi sendirian karena khawatir ditengah jalan Aria berubah pikiran dan pergi mencari Leon.
"Tidak perlu, saya yang akan mengantarnya" Herald segera menjawab perkataan Louis.
"Ah..kalau begitu itu lebih baik karena anda bisa menjaga nona Aria" sebenarnya dalam hati Louis sedikit kecewa karena Aria akan berduaan lagi dengan Herald tapi Louis juga sadar akan posisinya yang hanya sebagai sekretaris dan asisten pribadi Aria.
Louis tidak mempunyai jabatan tinggi dan juga harta yang banyak seperti Herald jadi Louis agak tidak percaya diri kalau harus bersaing dengan Herald.
"Hey aku kan menyuruh kalian untuk keluar kenapa kalian masih ada disini" Aria menatap Herald dan juga Louis secara bergantian.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kami akan menunggumu diluar" Herald lalu mengajak Louis untuk keluar dari dalam kamar Aria dan membiarkan Aria untuk berganti pakaian.
"Louis bagaimana keadaan Aria belakangan ini" setelah berada di luar Herald bertanya tentang Aria pada Louis
"Kenapa anda tidak langsung menanyakannya pada nona Aria?"
"Aku sudah menanyakannya dan dia berkata baik-baik saja tapi aku tau Aria sedang berbohong jadi aku bertanya padamu"
"Nona baik-baik saja tapi setelah kakaknya masuk rumah sakit dan menjadi koma nona Aria belakangan ini tidak baik-baik saja, nona seperti kembali menjadi nona yang dulu lagi" Louis mengatakan keadaan Aria belakangan ini pada Herald
"Begitu ya, dia pasti sangat terpukul dan hancur saat melihat keluarga satu-satunya menjadi seperti itu" Herald menghela nafas pelan "Aku juga tidak boleh diam saja, Leon aku akan memberimu pelajaran karena sudah membuat Aria bersedih dan membuat hidup Aria hancur"
Tidak lama kemudian pintu kamar Aria terbuka dan Aria sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih hangat dan juga memakai jaket tebal. Tidak lupa Aria membawa bunga yang dipetik oleh Louis.
"Ayo berangkat ..." Aria lalu melangkah menuju pintu utama mansion tersebut diikuti oleh Herald dan juga Louis
Setelah sampai di pintu utama dan keluar dari mansion, Aria serta Herald lalu berjalan menuju mobil hitam yang terparkir di depan pintu masuk mansion tersebut.
"Louis kamu istirahatlah, aku pergi dulu"
"Baik nona, selamat malam"
Aria lalu memasuki mobil hitam tersebut dan duduk di sebelah kursi pengemudi sementara Herald dia duduk di kursi pengemudi lalu tidak lama kemudian Herald mengemudikan mobil hitam tersebut menuju jalan besar dan melaju menuju kota L.
Setelah melihat mobil hitam Aria melaju ke luar gerbang mansion Louis lalu membalikan badannya dan berjalan memasuki mansion tersebut.
"Aria kamu masih menyukai Mawar Hitam ya?" Di dalam mobil Herald mengajak Aria berbicara untuk menghilangkan keheningan tengah malam tersebut.
Aria menjawab pertanyaan Herald dengan menganggukkan kepalanya "Aku punya Mawar Ungu itu juga cantik dan warnanya tidak terlalu terang apa kamu mau melihat dan mencoba untuk menanamnya, kalau kamu mau aku akan membawakannya padamu"
"Mawar Ungu ya, boleh juga aku akan menanamnya setelah aku melihat warnanya"
"Baiklah pasti kamu akan menyukainya" Herald tersenyum ceria mendengar Aria mau melihat bunga Mawar yang dia katakan.
Karena sudah tengah malam jalanan sudah sepi dan tidak banyak kendaraan yang lewat jadi Aria bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat tidak Sampai satu jam.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit Aria dan juga Herald lalu segera masuk ke dalam rumah sakit tersebut dan berjalan menuju ruangan khusus dimana Javier sedang dirawat.