
Aria kemudian menggenggam tangan Javier "Kak maafkan aku seharusnya aku bisa menemukan kakak lebih cepat, aku janji aku akan menemukan orang-orang yang membuat kakak menjadi seperti ini kakak bisa pegang janjiku"
"Apa kakak tau waktu ayah dan ibu meninggal aku merasa hidupku hancur seketika aku juga tidak punya keinginan lagi untuk terus hidup tapi saat aku melihat kakak menangis sambil memelukku dan menenangkanku aku sadar aku masih punya kakak aku juga sadar kakak juga sedih karena kehilangan ayah dan ibu tapi kakak berusaha untuk tegar dan menenangkanku aku jadi punya alasan untuk hidup kakak juga pasti tidak ingin aku bersedih karena kakak hanya punya aku sebagai keluarga kakak satu-satunya" Aria terus berbicara dan memegang tangan Javier dengan gemetaran.
"Aku akan bertahan hidup untuk kakak dan juga akan membalas orang-orang yang membuat hidup kita hancur jadi kakak harus sembuh" Aria mengusap air mata yang keluar dari matanya.
"Aku juga tidak akan menangis lagi kakak kan tidak suka aku menangis jadi mulai sekarang aku tidak akan menangis lagi kalau kakak lelah kakak bisa beristirahat tapi setelah itu kakak harus bangun kembali aku akan menunggu kakak sampai kakak bangun mau selama apapun itu tapi aku berharap kakak tidak tidur untuk waktu yang lama" Aria kemudian tersenyum sambil mengusap wajah kakaknya itu.
"Sekarang kakak istirahat saja aku ada urusan sebentar nanti juga aku akan kembali kesini untuk menemani kakak" Aria lalu mencium pipi kakaknya dan keluar dari ruangan tersebut.
Saat Aria keluar di depan ruangan tersebut sudah ada Giovanni yang sedang duduk mungkin menunggu Aria keluar.
"Sedang apa anda disini?" Aria bertanya pada Giovanni yang terlihat sedang melamun.
"Nona..anda sudah selesai menjenguk kakak anda" Giovanni tidak menyadari Aria keluar dari ruangan itu karena tadi dia sedang melamun.
"Sudah.."
"Nona saya mau bertanya mengenai tuan Javier"
"Saya tidak tau siapa orang yang melukai kakak saya" Aria langsung tau arah pembicaraan Giovanni.
Giovanni tersenyum canggung mendengar Aria langsung menjawab seperti itu karena memang Giovanni akan bertanya tentang siapa orang yang melukai Javier.
"Kalau begitu apa anda mencurigai seseorang?"
"Tidak.."
"Dimana kakak anda bekerja saat ini mungkin saya bisa bertanya pada rekan kerjanya"
"Kakak baru saja keluar dari perusahaannya dia sekarang tidak bekerja" Aria menjawab Javier dengan ekspresi datar.
"Di perusahaan apa sebelumnya kakak anda bekerja?"
"Perusahaan teknologi terbesar di kota L"
__ADS_1
"Apa mungkin saingan bisnis perusahaan tersebut yang melakukannya atau mungkin orang yang tidak menyukai kakak anda dan membencinya bisa saja kan ada orang dari dalam ataupun luar perusahaan yang membenci kakak anda" Giovanni menduga pelakunya pasti orang terdekat ataupun saingan bisnis Javier maupun perusahaan tersebut.
"Bisa jadi seperti itu tapi saya tidak mengetahui siapa saja teman kakak karena kakak tidak pernah cerita tentang teman-temannya pada saya"
"Baiklah itu sudah cukup, saya akan pergi ke perusahaan itu untuk bertanya pada rekan kerjanya, saya juga akan memeriksa cctv di daerah dekat gedung kosong tersebut" Giovanni menghela nafas pelan.
"Sebaiknya anda tidak pergi ke perusahaan itu" Aria masih terlihat tenangĀ dan tidak berekspresi sama sekali.
"Memangnya kenapa?" Giovanni menaikan alisnya tanda dia sangat penasaran.
"Karena anda tidak akan mendapatkan informasi apapun" Aria menduga kalau Leon terlibat dalam hal ini pasti dia sudah membersihkan bukti-bukti dan menyuruh semua bawahannya yang ada di perusahaan tersebut untuk tutup mulut dan juga Leon pasti tidak akan mengijinkan Giovanni untuk masuk ke perusahaanya meskipun Giovanni adalah polisi bahkan detektif sekalipun karena itu akan mencoreng nama baik perusahaannya.
"Benarkah??"
"Saya sudah mengatakannya kalau anda masih penasaran anda bisa mencobanya Kalau begitu saya permisi" tanpa menunggu jawaban Giovanni Aria lalu pergi dari sana.
Giovanni yang melihat Aria pergi tanpa bantuan langsung mengejarnya "Nona tunggu saya" Giovanni sekarang berada di belakang Aria. "Biar saya bantu" Giovanni lalu membantu mendorong kursi roda Aria.
"Nona anda mau kemana?" Tanya Giovanni sambil mendorong kursi roda Aria.
"Saya mau keruangan saya"
Tidak lama kemudian mereka berdua sampai di dalam ruangan tersebut. Giovanni lalu membantu Aria untuk menaiki tempat tidurnya.
"Sepertinya nona akan beristirahat kalau begitu saya permisi saya tidak mau mengganggu waktu istirahat anda".
Aria hanya menganggukkan kepalanya lalu setelah itu Giovanni melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Giovanni keluar ponsel Aria berbunyi Aria mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.
"Ya Louis, apa kamu sudah menemukan kakak di cctv daerah sana?"
"Saya menemukannya kakak anda keluar dari sebuah Cafe sekitaran jam sebelas malam lalu setelah itu di dekat gang kecil saat kakak anda melewatinya ini..." Louis terlihat ragu-ragu untuk berbicara.
"Louis teruskan apapun itu teruskan perkataanmu"
__ADS_1
"Nona kepala belakang kakak anda di pukul oleh sebuah tongkat besi lalu setelah itu muncul sekitar enam orang berpakaian merah darah dan membawa kakak anda"
"Pakaian merah darah?"
"Ini...nona setelah saya mencari tau informasi orang-orang yang membawa kakak anda ternyata mereka semua adalah anggota dari Red Blood saya bisa yakin mereka anggota Red Blood karena pakaian mereka yang berwarna merah itu semua adalah ciri khas Red Blood saat melakukan aksinya dan juga data pribadi milik mereka juga mengarah ke Red Blood"
"Red Blood.. Leon kau bajingan sialan!!!" Tatapan Aria kini sangat menyeramkan juga urat-urat tangan dan lehernya pun terlihat bahkan matanya pun melotot dan semua emosi di dalam dirinya hampir meledak hawa di rumah sakit tersebut mendadak mencengkram dan setiap orang yang ada di rumah sakit itu mendadak merinding dan bergidik ngeri Aria sekarang terlihat seperti iblis yang sangat menyeramkan.
"Nona tenanglah.." Louis langsung menenangkan Aria karena pasti sekarang Aria sangat marah. Aria tidak menjawab Louis dan itu membuat Louis semakin khawatir.
"Nona apa anda mendengar saya tenanglah.." Aria masih tidak menjawab dan itu membuat Louis frustasi karena takut Aria tidak bisa menahan amarahnya.
"Sial.. andai aku ada di samping Aria saat ini aku pasti bisa menenangkannya ini juga yang membuatku tadi ragu untuk mengatakan informasi itu, bodohnya aku seharusnya aku tidak mengatakannya karena aku sudah tau akan jadi seperti ini" Batin Louis sambil menjambak rambutnya sendiri
"Nona tenanglah kumohon demi kakak anda, anda tidak boleh gegabah mengambil keputusan" Louis masih terus berusaha memanggil Aria dan menenangkannya.
Aria sebenarnya sudah mencoba untuk menenangkan diri tapi kali ini agak sulit karena Aria mengeluarkan emosinya walaupun tidak banyak .
Aria melihat ada pisau buah di atas meja Aria lalu mengambilnya dan menyayat tangannya sendiri untuk menghilangkan amarahnya dengan rasa sakit.
Aria menyayat tangannya sebanyak tiga kali baru saat itu Aria bisa lebih tenang. Darah segar mengalir dari tangan Aria yang tersayat Aria lalu mengambil kembali ponsel yang tadi dia taruh di atas tempat tidur.
"Nona anda mendengar saya kan tenanglah.." Sura Louis masih terdengar khawatir dan berusaha menenangkan Aria.
"Aku sudah lebih tenang sekarang" Aria menjawab Louis namun nada suaranya masih sangat dingin.
"Nona kalau anda seperti itu terus saya akan kesana, saya tidak bisa membiarkan Anda sendirian disana"
"Louis tak apa kamu tidak perlu kesini" Aria berusaha menekan kembali amarah dan emosinya lalu seketika itu juga udara di rumah sakit tersebut kembali seperti semula orang-orang di dalam rumah sakit tersebut bahkan bertanya-tanya apa yang terjadi barusan.
"Tidak, saya akan kesana sekarang anda ada di rumah sakit mana?"
"Louis sudah ku bilang tidak perlu"
"Baik kalau anda tidak mau memberitahukannya saya akan mencarinya sendiri" Louis lalu mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
"Louis..hey Louis ah pria ini dia selalu saja keras kepala" Aria lalu meletakan ponselnya dia atas meja.
"Leon tunggu saja pembalasanku aku akan membalasmu seratus tidak seribu kali lipat" Aria mengepalkan tangannya dengan sangat keras sampai kuku jarinya menembus kulit tangan Aria dan seketika itu juga keluar darah segar dari telapak tangan Aria.