
Sampai di kota X Aria masih terus menghubungi kakaknya tapi tidak ada jawaban dan itu membuat Aria sangat khawatir.
"Lebih baik aku pulang dulu siapa tau kakak ada di apartemen dan ketiduran". Aria membawa mobilnya ke kota L dan tidak menaiki taksi seperti biasa karena Aria terburu-buru dan menghawatirkan kakaknya.
Aria melajukan mobilnya dengan cepat dan kurang lebih tiga puluh menit Aria sudah tiba di kota L Aria tidak henti-hentinya menghubungi nomor kakaknya siapa tau ada jawaban.
Tidak lama kemudian Aria tiba di apartemennya lalu Aria segera keluar dari mobil dan memasuki apartemen lalu ke unit nomor 197 dimana Aria dan kakaknya tinggal.
"Kak apa kakak sudah pulang" Begitu memasuki apartemennya Aria lalu langsung memanggil kakaknya.
"Kak apa kakak di kamar" Aria lalu mengetuk pintu kamar kakaknya tapi tetap tidak ada jawaban Aria juga mencoba masuk ke dalam kamar kakaknya tapi masih terkunci dari luar.
"Kak apa kakak mendengarku kumohon jawablah" Aria mencari kakaknya ke seluruh ruangan yang ada disana tidak lupa Aria juga mencari ke balkon apartemen tapi kakaknya tetap masih tidak ada.
"Aku harus mencarinya diluar atau menghubungi teman-teman kakak tapi aku tidak punya nomor mereka dan aku juga tidak tau siapa saja teman dekat kakak" Aria menjambak rambutnya sendiri dan tidak bisa berpikir jernih
"Lebih baik aku mencoba menghubungi ponsel kakak lagi" Aria lalu menghubungi nomor kakaknya kembali tapi kali ini nomor tersebut tidak aktif.
"Apa ponselnya mati, mungkin kehabisan baterai aku yakin kakak baik-baik saja dia berjanji tidak akan meninggalkanku sendirian" Aria masih mencoba untuk tetap berpikir positif.
"Aku akan mencarinya ke sekitar kantor tempat kakak bekerja terakhir kali kakak ada disana" Aria keluar dari apartemen dan menaiki mobilnya lalu melajukan mobil tersebut menuju perusahaan tempat Javier bekerja.
Aria tiba di depan gedung perusahaan tersebut dan karena sudah larut malam gedung itu sudah tutup Aria kemudian keluar dari mobil dan mencari Javier di sekitar perusahaan bahkan Aria memasuki setiap toko yang masih buka di sana tapi tidak mendapatkan informasi apapun dan mereka juga tidak melihat Javier walaupun Aria sudah memperlihatkan foto Javier pada setiap pemilik toko dan pengunjung yang masih ada.
"Kak..kamu dimana jangan membuat aku takut". Dengan tangan dan kaki gemetaran Aria terus berlari kesana kemari untuk mencari Javier Aria bahkan masuk ke dalam Bar tapi masih tidak bisa menemukan Javier.
Aria melihat sebuah Cafe yang baru saja tutup dan pemilik Cafe tersebut sedang mengunci pintu Cafe nya Aria lalu berlari kearah Cafe tersebut dan menghampiri pemiliknya.
"Permisi.."
Pemilik Cafe tersebut menengok ke belakang dan melihat ada seorang wanita di belakangnya
"Ya nona ada yang bisa saya bantu?"
"Permisi pak, saya mau bertanya apa bapak pernah melihat pria ini.." Aria menunjukan foto Javier yang ada di ponselnya
Pemilik Cafe tersebut melihat foto yang ada di ponsel Aria "Ah sepertinya saya pernah melihatnya"
"Benarkah bapak melihatnya dimana?" Aria bersemangat karena ada yang melihat kakaknya.
"Siang tadi pria ini masuk ke Cafe saya sampai malam sekitar jam sebelas tadi dia keluar dari Cafe saya dan saya tidak melihatnya lagi"
"Jam sebelas.. karena sekarang sudah jam dua berarti sekitar tiga jam yang lalu, kalau begitu terimakasih pak saya permisi". Aria lalu berjalan kearah kursi yang ada di dekat sana dan istirahat sebentar di kursi itu sambil memikirkan kemana kakaknya pergi sehabis dari Cafe tersebut.
"Tiga jam yang lalu ya, mungkin kakak akan pulang ke apartemen dan menunggu telepon dariku tapi mungkin terjadi sesuatu di jalan dan lagi sampai tadi ponselnya masih aktif" Aria menghela nafas berat.
"Tunggu dulu aku masih belum mencarinya di gang-gang kecil sekitar sini". Aria bangun dari tempat duduknya lalu segera berlari kearah gang-gang kecil dan gelap yang ada di sekitar sana.
Biasanya di gang-gang kecil seperti itu ditempati preman-preman kota tapi Aria tidak peduli yang terpenting sekarang dia harus menemukan kakaknya.
__ADS_1
Aria terus mencari kedalam gang-gang kecil namun tidak ada apapun disana dan hanya ada beberapa hewan seperti kucing dan anjing. Aria terus berlari menuju gang kecil lainnya yang ada di daerah A tersebut.
Aria berlari menuju gang kecil di dekat sebuah toko makanan yang sudah tutup saat sampai di gang tersebut Aria melihat ada beberapa pria sedang berkumpul di gang tersebut.
Ada sekitar sepuluh orang yang ada di dalam gang tersebut lalu salah satu dari mereka melihat Aria.
"Hey lihat ada seorang wanita yang datang kesini" kemudian pria yang lainnya melihat kearah Aria yang sedang berdiri dengan nafas sedikit terputus-putus karena terus berlari.
"Kamu benar ternyata ada seorang wanita yang dengan sendirinya menghampiri kita"
"Hey nona apa kamu mau bergabung dengan kami, kami punya banyak minuman enak disini"
Aria tidak menjawab para berandalan tersebut Aria lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto pada mereka.
"Apa kalian pernah melihat pria ini". Aria bertanya dengan wajah datarnya
Lalu salah satu berandalan tersebut mendekat kearah Aria dan melihat foto yang ada di ponsel Aria.
"Nona apa pria ini pacarmu kami tidak pernah melihatnya apa kalian sedang bertengkar" Ucap pria tersebut sambil meledek tertawa.
Mendengar ucapan pria tersebut berandalan yang lain ikut tertawa seakan itu adalah kata-kata yang bisa membuat orang tertawa.
"Nona lupakan pacarmu itu dan lebih baik bergabung dengan kami, pria tampan sepertinya pasti sudah kabur dengan wanita lain"
"Baiklah kalau kalian tidak melihatnya" Aria lalu berbalik dan ingin melangkahkan kakinya namun tangannya ditahan oleh pria yang tadi berbicara dengannya.
"Hey lepaskan tanganku sebelum aku memotong tanganmu" Aria berbicara dengan nada yang sangat dingin.
"Nona sudah aku bilang kan kamu tidak bisa pergi dari sini"
"Aku tidak punya waktu untuk kalian jadi lepaskan tanganku sekarang juga"
"Nona apa aku harus menuruti kata-katamu tentu saja aku tidak mau sekarang ikutlah denganku dan kita akan bersenang-senang lalu kamu akan menghangatkan malam kami" ucap pria tersebut sambil tertawa sangat keras diikuti oleh berandalan yang lain.
"Aku tidak mau apa aku harus mengikuti perkataan sampah sepertimu"
"Kau.." pria tersebut berhenti tertawa dan memandang Aria dengan tatapan marah "Kalau kamu tidak mau aku akan menyeretmu"
"Benarkah baiklah coba saja, itu juga kalau kamu masih mempunyai tangan". Aria tersenyum mengejek kearah pria tersebut.
"Kau.. aku akan menyeretmu" pria tersebut lalu menarik tangan Aria dengan kasar tapi beberapa detik kemudian dia tidak bisa merasakan tangannya lagi dan berteriak kencang.
"Aaaarrggghhhh..."
Pria tersebut melihat sebuah tangan yang tergeletak di depannya lalu dia melihat Aria yang sekarang sedang menyeringai kearahnya.
Tangan yang tergeletak tersebut tidak lain adalah tangan pria yang menarik Aria tadi. Berandalan lain yang melihat temannya berteriak segera berhenti minum-minum dan tertawa mereka langsung berdiri dan melihat Aria yang sedang menyeringai mereka semua spontan bergidik ngeri melihat wajah Aria yang tadi terlihat cantik bak Dewi kini terlihat menyeramkan seperti iblis.
"Hey aku kan sudah bilang akan memotong tanganmu kalau kamu tidak mau melepaskan tanganku" Aria berkata dengan nada yang sangat dingin ditambah wajahnya yang kini terlihat menyeramkan membuat siapa saja pasti akan langsung lari dari sana tapi karena di belakang para berandalan tersebut adalah jalan buntu dan satu-satunya jalan untuk mereka lari terhalang oleh Aria mau tidak mau mereka terus berada disana.
__ADS_1
"Kalian jangan diam saja bantu aku beri wanita ini pelajaran kalau perlu potong tangannya karena dia sudah berani memotong tanganku"
Para berandalan tersebut mendengarkan ucapan temannya dan mereka juga berani karena Aria hanya seorang wanita dan dia juga sendirian sedangkan mereka bersepuluh jadi mereka berani menyerang Aria mereka bahkan tidak peduli dengan harga diri mereka karena mengeroyok seorang wanita.
Aria melihat kesembilan berandalan tersebut maju untuk menyerangnya Aria lalu tertawa dengan ekspresi yang sangat menakutkan.
"Kalian mengeroyok seorang wanita kalian memang benar-benar sampah" Aria kemudian mengeluarkan pistol dari dalam jaket kulit hitamnya.
Para berandalan tersebut tidak mengetahui Aria membawa pistol yang mereka tau Aria hanya membawa pedang yang digunakan untuk memotong tangan temannya itupun mereka tidak tau Aria mendapatkan pedang tersebut dari mana.
Saat Aria mengeluarkan pistol para berandalan tersebut sudah tidak bisa mundur lagi dan mereka masih berpikiran positif pistol yang ada di tangan Aria adalah pistol mainan.
"Hey nona kamu akan menakuti kami dengan pistol mainan itu" ucap salah satu dari berandalan tersebut sambil mengayunkan tongkat besi kearah kepala Aria.
"Kamu bisa mencobanya kalau ini pistol mainan atau bukan" Aria lalu menembak pria tersebut tepat di kepalanya dan seketika itu juga pria tersebut tergeletak tidak bernafas lagi.
Para berandalan lain yang melihat teman mereka tergeletak tidak bernyawa langsung berhenti dan melihat pistol yang ada di tangan Aria.
Mereka seketika tidak berani menyerang Aria lagi karena Aria mempunyai pistol di tangannya kalau mereka menyerang tentu saja yang mati duluan adalah mereka.
"Kenapa kalian diam saja bukannya tadi kalian akan menyerangku" Aria menatap mereka dengan tatapan dingin dan merendahkan.
"Nona maafkan kami kami hanya menuruti perintah ketua kami" salah satu dari berandalan tersebut mencoba untuk mengkambing hitamkan ketua mereka.
"Apa maksudmu kau mau menyalahkan ku?" Ketua mereka tidak lain adalah pria yang Aria potong tangannya pria tersebut sekarang sangat marah dan menatap tajam anak buahnya.
"Aku tidak peduli asalkan kalian tau aku tidak pernah memaafkan orang yang mencari masalah denganku". Aria lalu menembak salah satu berandalan yang ada di depannya tepat di kepala berandalan tersebut.
Melihat teman mereka tergeletak tidak bernyawa lagi membuat para berandalan tersebut sangat marah dan juga ketakutan.
"Nona apa maksudmu kami sudah meminta maaf dan tidak melukaimu tapi kamu masih menyerang kami"
"Bukannya kalian tadi akan menyerangku bersama-sama itu artinya kalian akan melukaiku dan juga sudah ku katakan aku tidak pernah memaafkan orang yang mencari masalah denganku". Aria lalu menembak lagi salah satu dari mereka dan kini sudah tergeletak tiga orang yang sudah tidak bernyawa di atas tanah.
Melihat anak buahnya mati satu persatu membuat ketua berandalan tersebut sangat ketakutan dan melarikan diri dari sana karena hanya dia yang jalannya tidak terhalang oleh Aria.
Namun baru dua langkah pria itu berlari dia terjatuh dan ketika melihat kakinya pria tersebut langsung berteriak karena Aria memotong satu kaki ketua berandalan tersebut supaya tidak bisa melarikan diri.
"Sudah ku bilang aku tidak akan pernah memaafkan orang yang mencari masalah denganku termasuk kamu, bukannya kamu yang pertama mencari masalah bahkan menarik tanganku" Aria menatap ketua berandalan tersebut.
"Ah .. aku terlalu banyak membuang waktu bersama kalian akan aku akhiri secepat mungkin" Aria kembali menembak berandalan yang ada di depannya dan beberapa detik kemudian para berandalan tersebut sudah tergeletak tidak bernyawa dan juga mereka tidak bisa melawan dan melarikan diri dari Aria jadi mereka hanya menyesal karena sudah mencari masalah dengan Aria seorang wanita cantik yang terlihat tidak berbahaya.
Kini tersisa ketua berandalan tersebut. Aria lalu menghampiri pria itu dan kembali memotong satu kakinya yang tersisa.
"Aaarrgghhh.."
"Kalian sudah membuatku membuang banyak waktu". Aria lalu menusuk jantung pria tersebut dan seketika itu juga semua berandalan yang ada di gang tersebut sudah tergeletak tidak bernyawa karena mencari masalah dengan Aria.
Aria membersihkan pedangnya kemudian mengubahnya ke bentuk semula lalu pergi dari sana untuk kembali mencari Javier kakaknya.
__ADS_1