
"Menurutmu dia kesini mau membeli perhiasan apa?" Setelah memasuki toko perhiasan yang di tuju Aria bertanya pada Herald.
"Aku tidak tau, kan kamu seharusnya yang lebih tau karena sama-sama wanita kenapa kamu tanya aku"
"Hey, aku kan hanya tanya siapa tau kamu juga mendapatkan informasi perhiasan apa yang akan dia beli" Aria mencubit pinggang Herald karena kesal dengan jawaban Herald. Sementara Herald dia ingin berteriak tapi dia tahan karena malu dengan orang-orang yang ada di dalam toko tersebut.
"Aria kamu mencubitku dengan sangat kuat" Herald menatap Aria sambil memasang ekspresi memelas.
"Lagian kamu membuatku kesal"
Aria tidak menanggapi Herald lebih lanjut dia masih celingak-celinguk mencari Marliana "Aria sini deh ini pasti sangat cocok untukmu" tiba-tiba Herald menarik tangan Aria menuju ke salah satu perhiasan yang di pajang di toko tersebut.
"Apa?"
Herald mengambil sebuah cincin berlian berbentuk Daun Maple dan juga Bunga Mawar yang berhadapan dihiasi oleh berlian putih.
"Ini pasti cocok untukmu" Herald menunjukkan cincin berlian yang dia ambil.
"Ayolah kita kesini itu mau mencari Marliana"
"Aku tau tapi tidak ada salahnya kan Kita juga sambil bersenang senang" Herald tersenyum ceria pada Aria.
"Baiklah tapi jangan terlalu fokus pada perhiasan ini kita masih harus mencari Marliana" Aria mengalah pada Herald karena sepertinya dia sangat senang.
"Tentu saja, aku hanya mau kamu memakai cincin ini"
"Mana biar aku coba pakai" Aria mengulurkan tangannya pada Herald
Herald memberikan cincin berlian tersebut pada Aria, setelah menerima cincin tersebut Aria lalu memakainya di jari manis tangan kirinya.
"Bagaimana apa ini bagus untuk aku pakai" Aria meminta pendapat Herald sambil memperlihatkan tangan kirinya pada Herald.
"Tentu saja itu sangat cocok denganmu Aria, kalau gitu aku akan mengambil cincin berlian itu untukmu" Herald bergegas ingin membayar pada wanita pegawai toko yang daritadi ada di hadapan mereka.
"Tidak perlu biar aku yang bayar" Aria tidak mau berhutang pada Herald
"Aku yang akan bayar itu karena aku yang pertamakali menemukannya lalu memberikannya padamu" Herald lalu dengan cepat memberikan Black Card nya pada pegawai wanita yang ada di hadapannya sebelum keduluan oleh Aria.
"Hey sudah ku bilang aku yang akan membayarnya" Aria menatap Herald yang kini sedang tersenyum dengan menampilkan deretan giginya yang rapih pada Aria.
__ADS_1
"Itu sebagai ucapan terimakasih ku karena kamu sudah meminjamkan baju kakakmu padaku"
"Baiklah.." Aria lalu memasukan kembali Black Card yang sempat di keluarkan tadi ke dalam tasnya.
Herald menerima kembali Black Card yang tadi dia berikan pada pegawai toko tersebut.
"Sudah kan? Ayo kita harus segera menemukan Marliana" Aria menggandeng tangan Herald tanpa Aria sadari. Herald yang digandeng oleh Aria sangat senang bahkan itu terlihat di wajahnya sekarang yang sedang tersenyum bahagia.
"Ini seperti kencan sungguhan" batin Herald.
"Hey kenapa kamu senyum-senyum begitu, fokuslah dan cari Marliana" Aria menatap Herald yang sedang tersenyum bahagia.
"Tidak apa aku hanya merasa bahagia, mari kita lanjutkan untuk mencari Marliana"
Mereka berdua kemudian berkeliling mencari Marliana tapi tidak juga mereka temukan mereka berdua bahkan sudah mengelilingi toko tersebut sebanyak dua kali.
"Kamu yakin dia ada di sini, ini kita sudah mencarinya di seluruh toko tapi tidak ketemu" Aria berhenti berjalan dan menatap Herald yang ada di sampingnya.
"Aku cukup yakin tadi dia kesini, apa sekarang dia sudah pergi ya"
"Kamu yakin kan?"
"Tentu saja aku yakin tapi mungkin dia ke toko perhiasan ini hanya sebentar dan sudah pergi lagi"
"Sebentar aku akan mencarinya di cctv" Herald lalu mengambil ponselnya dan segera mencari Marliana di cctv tersebut.
Aria menunggu sambil melihat-lihat perhiasan yang di pajang di toko tersebut "Perhiasan disini lumayan bagus tapi tidak unik dan langka seperti perhiasan yang ada di dalam lelang" batin Aria sambil terus memperhatikan beberapa perhiasan yang ada di dekatnya.
"Aku menemukannya" tidak lama kemudian Herald menemukan keberadaan Marliana.
"Dimana?"
"Dia sudah keluar dari toko ini dan sepertinya dia sedang menuju pintu keluar Mall"
Aria kemudian melirik jam yang ada di tangan kanannya "Ah ini sudah waktunya jam makan siang lihatlah sekarang sudah jam sebelas, kita kesini terlalu siang dan juga tadi kita menghabiskan banyak waktu mencarinya di toko ini"
Herald melihat jam yang ada di ponselnya dan benar saja jam sudah menunjukan pukul sebelas siang sudah masuk waktu makan siang.
"Sekarang apa kita mau menyusulnya keluar?" Herald menatap Aria
__ADS_1
"Tentu saja kali ini kita ngga boleh sampe kehilangan dia lagi, ayo cepat" Aria menarik tangan Herald dan berjalan cepat menuju pintu keluar Mall tersebut.
"Apa itu dia?" Saat sudah mau sampai pintu keluar Aria melihat tiga orang wanita yang sedang bercanda dan tertawa di depan pintu keluar Mall itu.
"Ah sepertinya iya, wanita yang memakai dress selutut serta perhiasan mewah itu adalah Marliana" Herald memperhatikan Marliana dari jarak yang lumayan jauh.
"Kehidupannya pasti sangat bahagia karena bisa terus menghamburkan uang dan tidak perlu bekerja" Aria menatap tajam pada Marliana.
"Ayo ke mobil dan kita ikuti mereka bertiga"
"Tapi Aria, sepertinya Leon menjaga adiknya dengan sangat baik, lihatlah bahkan Leon menempatkan empat Bodyguard untuk menjaganya"
Aria melihat keempat Bodyguard tersebut. Mereka berempat kelihatanya cukup ahli "Aku tidak peduli mau dia di jaga ratusan Bodyguard pun aku akan tetap mengincarnya" Aria tidak peduli dengan keempat Bodyguard tersebut.
"Aku sudah tau kamu pasti akan bilang begitu, ya sudah ayo ke mobil Sepertinya mereka juga sudah mau pergi"
Aria lalu mengikuti Herald menuju mobilnya dan memasuki mobil tersebut. "Ikuti mereka pak sopir" ucap Aria bersemangat.
"Kamu ngapain si?" Herald menatap heran ke arah Aria.
"Aku mau mencoba berakting menjadi penguntit itu pasti akan menyenangkan" Aria menatap Herald dengan ekspresi bersemangat dan tidak ada lagi Aria dengan ekspresi wajah datarnya.
"Kamu mulai lagi.., ya sudah terserah kamu aku nurut saja" Herald hanya menggeleng kepala pelan sambil tersenyum lembut ke arah Aria.
"Pak sopir ayo cepetan ikuti mobil yang di depan tapi jangan sampai ketahuan ya" Aria menunjuk mobil depan yang di tumpangi oleh Marliana serta teman-temannya.
"Baik nona akan saya laksanakan" Herald kemudian melajukan mobilnya mengikuti mobil Marliana.
Mereka berdua lalu mengikuti mobil Marliana. satu jam kemudian mobil mereka memasuki sebuah restoran mewah yang terletak di kawasan perusahaan milik Leon.
Aria melihat Marliana serta teman-temannya keluar dari mobil dan berjalan memasuki restoran tersebut diikuti oleh keempat Bodyguardnya.
"Ayo masuk, sekalian nanti kita makan siang baru setelah itu kita jalankan rencana"
Aria lalu keluar dari mobil disusul oleh Herald, mereka berdua berjalan menuju restoran dimana Marliana dan teman-temannya berada.
"Abaikan saja Bodyguard itu" Herald menatap tajam Bodyguard Marliana karena keempat Bodyguard itu tidak henti-hentinya menatap Aria.
"Aria bagaimana aku bisa mengabaikan mereka jelas-jelas mereka dari tadi memperhatikan tubuhmu" Herald akui Aria memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus ditambah wajahnya yang cantik semua orang pasti akan terpesona oleh Aria termasuk dirinya.
__ADS_1
"Aku tau, tapi lebih baik kita makan siang dulu baru nanti kita urus mereka"
"Baiklah.." Herland menghela nafas pelan kemudian berjalan mengikuti Aria yang sudah terlebih dulu masuk kedalam restoran tersebut.