
"kak, aku pulang sekarang ya" Aria bangun dari tempat duduknya sambil membawa kotak makan yang sudah kosong di tangannya.
"Baiklah, hati-hati di jalan, waktu makan siang juga sudah hampir selesai, kakak akan kembali kerja" Javier juga bangun sambil menatap Arloji yang melingkar di tangannya.
Aria mengangguk pelan kemudian berjalan keluar dari Kantor itu, Aria tidak menyadari saat sudah di luar gedung, Leon diam-diam memperhatikan dirinya dari lantai atas.
Baru saja Aria berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ponselnya berbunyi, Aria segera melihat ponselnya dan tertulis nama Louis disana, "Ya Louis, ada apa?" ucap Aria setelah menerima panggilan itu.
"Nona gawat!!, Markas Black Rose diserang!" terdengar Louis berbicara dengan nada suara yang serius.
"Apa?!, Organisasi mana yang berani menyerang Black Rose?" Nada suara Aria kini terdengar sangat dingin dan juga tatapannya berubah menjadi menakutkan.
"Black Shadow" timpal Louis.
"Ternyata Black Shadow, mereka berani menyerang Black Rose, lihat saja nanti, aku akan menghapus nama Black Shadow dari dunia bawah" Aria lalu menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.
"Louis, berapa banyak orang yang menyerang?" tanya Aria kembali.
"Sekitar dua ratus orang nona"
"Apa kalian bisa bertahan sampai aku datang kesana?"
"Tentu saja nona, kami akan bertahan sampai nona datang, kami berjanji"
"Bagus, kalau begitu aku akan segera pergi kesana"
"Baik nona"
Aria lalu mengakhiri panggilan itu, "Black Shadow sialan, awas saja kalian" Aria lalu berlari dengan sekuat tenaga menuju taksi yang sudah dipesannya tadi sebelum keluar gedung, Aria lalu masuk kedalam taksi itu dan taksi itupun langsung melaju kencang kearah berlawanan dari apartemen Aria dan kakaknya.
Leon yang sedari tadi diam-diam sedang melihat Aria tentu saja menyadari perubahan ekspresi di wajah Aria, ditambah lagi, setelah menerima telepon, Aria langsung berlari menuju taksi dan taksi itu melaju dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Kenapa dia seperti sedang terburu-buru?, apa ada sesuatu yang membuatnya seperti itu?" Leon tidak tau apa yang dibicarakan Aria dengan Louis, jadi Leon hanya bisa melihat gerak-gerik Aria saja.
"Dari ekspresi wajahnya, sepertinya memang telah terjadi sesuatu" Leon lalu berpikir sebentar kemudian berjalan kearah laptop yang ada di mejanya.
Leon lalu segera melacak keberadaan Aria, "aku harus tau kemana wanita itu pergi" Leon terus melacak keberadaan Aria dari laptopnya, tidak lama kemudian, Leon menemukan keberadaan Aria, Leon melihat Aria pergi menuju Kota X.
"Aku harus segera pergi ke kota ini juga" Leon lalu memindahkan data yang ada di dalam komputernya kedalam jam tangan yang melingkar di tangannya, Ternyata jam tangan itu sudah di modifikasi sehingga bisa menyimpan data dan juga melacak keberadaan seseorang.
Leon pergi tidak menggunakan mobil, tapi Leon menggunakan motor hitamnya, ditambah tadi Leon juga sudah berganti pakaian dengan memakai pakaian serba hitam sehingga memudahkannya untuk mengikuti Aria diam-diam saat sudah sampai di kota x nantinya.
_____
--Dunia bawah, markas Black Rose--
Terlihat ratusan orang sedang menyerang Mansion bernuansa hitam, ditambah di sekelilingnya ditumbuhi tanaman berduri yang berbunga hitam, sekilas mansion itu terlihat menakutka, ditambah sekarang sedang terjadi penyerangan disana, banyak darah berceceran dimana-mana, begitupun dengan orang-orang yang tergeletak dan tidak bernyawa lagi dengan kondisi tubuh yang beragam, ada yang tubuhnya masih utuh dan juga ada yang sudah terpotong-potong.
Ditengah puluhan mayat itu, berdiri seorang pria sambil membawa sebuah pedang di tangannya, Pria itu terlihat sangat menikmati pemandangan yang ada disana.
"Sudah aku bilang Black Rose tidak ada apa-apanya" Ucap pria yang sedang berdiri di tengah-tengah mayat itu lalu tertawa keras.
"Oh?, aku pikir siapa yang datang, ternyata Louis, Asisten ketua Black Rose, kenapa kamu yang menyambutku, ah... aku baru ingat, Ketua kalian kan sedang tidak ada" Marcell tersenyum mengejek Louis dan berniat untuk memprovokasinya.
Louis tentu saja menyadari hal itu, Louis lalu membalas ucapan ketua Black Shadow, "Anda benar, Ketua memang sedang tidak ada, itu sebabnya anda menyerang kami sekarang karena anda sendiri takut pada Ketua bukan?" kini giliran Loius yang tersenyum mengejek kearah Marcell.
"Kau.. Aku ingin lihat, setelah aku membunuhmu apa kamu akan berbicara seperti itu lagi" Marcell terprovokasi oleh ucapan Loius dan sekarang tersulut amarahnya.
"Tentu saja tidak, bukankah itu artinya saya sudah mati?" Jawab Louis sambil memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan ucapan Marcell.
"Kau..". Mendengar jawaban Louis, Marcell semakin geram, Marcell lalu menunjuk kearah Loius, "Kalian semua!!, habisi dia dan bawahannya!!" teriak Marcell kepada ratusan bawahannya yang ada di belakangnya.
Melihat musuh yang akan segera menyerang membuat Louis mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya, Louis juga tidak diam saja, Louis lalu berkata kepada orang-orang yang ada di belakangnya, "Jangan sampai para sampah seperti mereka memasuki Mansion milik nona, sekarang mari kita pertahankan Mansion ini" ucap Louis, pertempuran lalu terjadi kembali dan tidak dapat dihindari.
__ADS_1
Bisa dilihat dari cara membunuh dan bertarungnya, Black rose walaupun anggotanya lebih sedikit, tapi mereka bisa seimbang dengan Black Shadow karena Cara membunuh Black Rose tidak ragu-ragu dan langsung mengincar titik vital lawannya, tidak sedikit anggota Black Shadow yang kehilangan nyawanya dengan sangat mengenaskan di tangan anggota Black Rose.
Melihat anggotanya tidak cukup kuat untuk melawan anggota Black Rose, Marcell, ketua dari Organisasi Black Shadow mengerutkan dahinya.
"Aku membawa delapan puluh persen kekuatan Black Shadow, walaupun akibat pertempuran pertama dengan penjaga diluar Mansion aku kehilangan beberapa anggotaku, tapi anggotaku masih tersisa banyak dan anggota Black Rose hanya ada beberapa puluh orang saja, bisa seimbang dengan anggotaku yang tiga kali lipat lebih banyak dari mereka, itu sudah merupakan suatu keajaiban, terlebih, cara membunuh para anggota Black Rose itu agak sedikit menggangguku, bahkan mereka tidak ragu saat menusuk dan memotong tubuh lawan mereka, ini tidak bisa di biarkan, aku harus turun tangan" Melihat situasinya yang tidak menguntungkan untuk dirinya, Marcell kemudian bergabung dengan anggotanya.
Dengan bergabungnya Marcell, Black Shadow kembali memimpin, Walaupun anggota Black Rose pandai bertarung, tapi tetap saja, kemampuan mereka masih berada dibawah ketua Black Shadow, Setelah membunuh dua anggota Black Rose yang menyerangnya, Marcell kemudian melihat kearah Louis, Marcell lalu berjalan kearah Louis yang sedang sibuk dengan lima orang musuh yang sedang menyerangnya, Louis tidak menyadari Marcell sedang berjalan kearahnya.
Saat sedang fokus dengan kelima musuh dan Louis akan menyerang salah satunya tiba-tiba serangan Louis berhenti saat terlihat sebuah pedang menusuk perut Louis.
JLEB!
Louis merasakan sakit di perutnya, Louis lalu melihat kearah perutnya yang sudah tertusuk sebuah pedang, Seketika itu juga, Louis kehilangan tenaganya dan menjadi lemas, Louis lalu jatuh terduduk sambil masih memegang pedangnya dan menopang tubuhnya menggunakan pedangnya itu agar tidak terbaring di tanah.
"Louis, seharusnya di Medan pertempuran seperti ini, kamu jangan lengah" Yang menusuk Louis dari belakang tidak lain dan tidak bukan adalah Marcell, ketua Black Shadow.
Louis menoleh ke belakang dan menemukan Marcell disana, "Kau ba--" baru saja Louis akan berbicara, tiba-tiba Louis memuntahkan darah segar dari mulutnya, Louis memuntahan darah yang cukup banyak.
"Aduh ck ck ck.. Louis, seharusnya kamu diam saja, atau kematianmu akan cepat datang" Marcell menggeleng pelan melihat Louis yang sudah berlumuran darah.
"Hey Louis, aku sangat tidak menyukaimu, kamu berlagak seolah-olah kamu adalah seorang Ketua setiap saat ada rapat para pemimpin, sudah sangat lama aku ingin membunuhmu, sekarang ini adalah waktu yang tepat" Marcell lalu kembali mencabut pedang yang sedang ada di perut Louis dan bersiap-siap untuk menebas tubuh Louis, namun, belum sempat Marcell melakukan hal itu, tiba-tiba sebuah belati kecil melesat dengan kecepatan tinggi mengenai tangan Marcell yang sedang memegang pedang, dan seketika itu juga, Marcell langsung berteriak kencang karena merasakan sakit di tangannya.
"Arrghhh!!, Siapa yang berani menyerangku diam-diam!!, keluar kamu!!" Marcell melihat sekelilingnya namun tidak menemukan siapa orang yang menyerangnya, tetapi, tidak lama setekah serangan pertama, terlihat sebuah belati melesat kearah Marcell, kali ini incarannya adalah kakinya.
SYUUUNG
JLEB!
"Aaarrgghh sialan!!, siapa kamu?!, kalau berani tunjukkan dirimu!!, jangan hanya menyerangku sambil bersembunyi seperti pengecut!!" Marcell berteriak histeris sambil mengamati sekelilingnya.
"Bukannya sebutan pengecut itu juga pantas untukmu, karena yang menyerang orang dari belakang itu bukan hanya aku, tapi kamu juga" Tiba-tiba terdengar suara dingin seorang wanita dari belakang Marcell.
__ADS_1
Marcell lalu segera membalikan badannya untuk melihat siapa yang berani menyerangnya diam-diam dan berkata seperti itu, Namun saat Marcell membalikkan badannya dan bertatapan dengan wanita itu, seketika itu juga tubuh Marcell bergetar hebat, matanya terlihat sangat ketakutan, Marcell seolah seperti sedang melihat Malaikat Maut.
Di depan Marcell, kini berdiri seorang wanita dengan pakaian serba hitam sambil memegang sebuah pedang di tangannya, dan wanita itu sedang menatap Marcell dengan tatapan yang sangat dingin dan ekspresi yang sangat menyeramkan