Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Semalam Berdua


__ADS_3

"Aku sudah menghancurkan tempat lelang tersebut dan juga orang-orang yang terlibat di dalamnya tapi sayangnya aku belum bisa bertemu dengan ketua mereka"


"Nona sebenarnya organisasi mana yang melakukan semua ini?" Victor kini menatap Aria.


"Red Blood" Aria menjawab dengan nada suara dingin.


"Red Blood? Bukankah itu organisasi yang sedang naik daun belakangan ini, saat saya pergi ke luar atau ke pasar saya selalu mendengar orang-orang membicarakan organisasi tersebut" Victor sering mendengar nama organisasi Red Blood di dunia bawah sementara Aria dia tidak terlalu peduli dengan itu.


"Oh ya, aku tidak peduli mau itu organisasi yang sedang naik daun atau organisasi besar sekalipun aku akan tetap menghancurkan mereka"


Victor yang mendengar Aria berkata seperti itu dengan nada suara yang sangat dingin ditambah tatapan matanya yang tajam membuat Victor ketakutan dan tidak lagi membahas organisasi tersebut.


"Victor kamu rawat terus Grace dan kalau ada apa-apa segera lapor pada saya atau Louis"


"Baik nona.."


Aria kemudian pergi dari ruangan tersebut diikuti oleh Louis sementara Victor masih ada di ruangan tempat Grace dirawat.


"Aria apa kamu baik-baik saja?" Louis bertanya sambil berjalan berdampingan dengan Aria.


"Aku baik-baik saja kenapa kamu bertanya seperti itu?" Aria menatap Louis yang ada di sampingnya.


"Ah tidak apa-apa aku hanya bertanya karena kamu tadi kelihatan kelelahan" Louis mengusap tengkuknya karena merasa canggung.


"Aku hanya sedikit kelelahan" Aria terus berjalan menuju kamarnya yang ada di mansion tersebut.


"Sepertinya dia sudah lebih baik, amarahnya pun sudah mulai reda" batin Louis sambil melihat wajah Aria yang tanpa ekspresi itu.


"Hey mau sampai mana kamu mengikutiku?" Aria menghentikan langkahnya saat sudah ada di depan pintu kamarnya.


"Eh memangnya kamu mau kemana?"


"Aku mau istirahat setelah itu aku mau ke rumah sakit untuk melihat kakak"


"Baiklah aku juga mau istirahat" Louis lalu membuka pintu kamar Aria dan melangkah masuk tapi baru tiga langkah Louis memasuki kamar Aria, Aria menarik kerah belakang baju Louis.


"Hey kamu mau kemana ini kamarku" Aria menatap tajam mata Louis.


"Aku kan tadi sudah bilang aku mau istirahat" Louis menatap mata Aria dengan tatapan tidak bersalah dan biasa saja.


"Aku tahu tapi kenapa kamu masuk ke kamarku sana masuk ke kamarmu sendiri kalau mau istirahat" Aria sudah melepaskan tangannya dari kerah kemeja Louis.


"Aku malas ke kamarku karena letaknya cukup jauh jadi boleh aku tidur di kamarmu aku hanya akan tidur di sofa" Louis menatap Aria dengan tatapan memelas.


"Tidak boleh kamu keluar sana" Aria mendorong tubuh Louis namun Aria lupa punggung Louis sedang terluka hingga Louis mengerang kesakitan.


"Aduh..Aria apa kamu lupa aku sedang terluka kenapa kamu mendorong punggungku" ucap Louis sambil masih meringis kesakitan.


"Aku lupa" Aria menjawab dengan ekspresi datar.


"Ah sudahlah aku sudah terlalu lelah untuk berdebat denganmu aku mau tidur" Louis lalu masuk lagi ke dalam kamar Aria dan menuju sofa panjang yang ada di dalam kamar.


"Hey bukankah sudah aku katakan kalau mau tidur, tidur saja di kamarmu sana" Aria masuk ke dalam kamar menghampiri Louis yang kini terlihat sedang mencoba untuk berbaring di atas sofa.

__ADS_1


"Aku lelah dan tidak ada tenaga untuk berjalan lagipula aku kan tidur di sofa aku juga tidak akan berbuat yang aneh-aneh tenang saja, ini juga bukan pertama kalinya kita tidur satu kamar kan" Louis menjawab Aria dengan santai.


"Sudahlah terserah kamu" Aria lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaiannya dan mengambil pakaian ganti lalu berjalan menuju kamar mandi.


Louis hanya melihat Aria dan tidak melakukan apapun kecuali tiduran di atas sofa.


Aria selesai berganti pakaiannya lalu keluar dari kamar mandi dan menuju tempat tidurnya. Aria menaiki tempat tidur itu lalu mulai berbaring dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Apa yang kamu lihat, sebaiknya kamu tidur dan pejamkan matamu itu jangan melihat kemana-mana dan berpikiran yang aneh-aneh" Aria menatap tajam Louis yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Baiklah aku akan menutup mataku lalu tidur lagipula aku bukan pria yang seperti itu" Louis lalu menutup matanya.


"Apa kamu butuh selimut?" Aria yang melihat Louis tidur tanpa selimut sedikit kasihan karena di dalam kamar tersebut cukup dingin.


"Aku baik-baik saja" jawab Louis sambil masih memejamkan matanya.


Aria menatap Louis kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju lemari untuk mengambil selimut.


Setelah mengambil selimut dari dalam lemari Aria lalu berjalan menuju Louis yang masih memejamkan matanya Aria tidak tau Louis sudah tertidur atau belum.


"Hey apa kamu sudah tidur?" Aria berbicara pada Louis yang sedang memejamkan matanya sambil berbaring, Louis tidak menjawab Aria dan Aria mengira Louis sudah tertidur.


"Apa dia sudah tidur, mungkin dia kelelahan" Aria lalu menyelimuti tubuh Louis dengan selimut yang tadi Aria ambil dari lemari.


Selesai menyelimuti tubuh Louis Aria kemudian ingin melangkahkan kakinya untuk kembali ke tempat tidur namun saat Aria akan melangkahkan kaki tangan Aria di tahan oleh seseorang.


Aria lalu menoleh kearah tangannya dan mendapati Louis sedang memegang tangannya.


"Terimakasih.." Louis mengucapkan terimakasih kemudian melepaskan tangan Aria dan kembali tertidur.


Keesokan paginya Aria bangun lalu meraih ponsel yang ada di dekatnya "Jam tujuh pagi" gumam Aria masih setengah sadar.


Aria kemudian merenggangkan tubuh serta otot-ototnya yang kaku Aria lalu menoleh kearah sofa dan melihat Louis masih tertidur pulas disana.


"Dia belum bangun? Biasanya dia akan bangun pagi-pagi apa mungkin dia butuh banyak istirahat karena lukanya itu" Aria melihat Louis yang masih tertidur dan menggeleng pelan kemudian Aria turun dari tempat tidur lalu pergi menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Aria keluar dari kamar mandi sambil menggigil kedinginan "Ini dingin sekali apa sekarang sudah masuk waktu musim dingin ya" Aria lalu berjalan kearah lemari dan mengambil satu sweater berwarna putih dari dalam lemari lalu memakainya.


Aria melihat kearah Louis dan pria tersebut masih saja tertidur pulas "Apa aku bangunkan saja ya, tapi kasihan juga sudahlah dia butuh istirahat lebih baik aku meminta Hans untuk menyiapkan sarapan".


Aria  keluar dari dalam kamar dan tetap membiarkan Louis tertidur disana. Aria berjalan di koridor dan berniat menghampiri Hans. beberapa menit kemudian Aria tiba di dapur dan melihat Hans sedang berkutat dengan berbagai macam perabotan dan juga bahan makanan yang ada di dapur.


"Hans kamu lagi buat apa?" Aria berjalan menghampiri Hans.


"Ah nona selamat pagi, kenapa anda kesini?" Begitu melihat Aria Hans langsung memberikan hormatnya dengan cara membungkukkan badannya.


"Aku mau memintamu untuk membuatkan aku bubur"


"Bubur, apa nona sedang tidak enak badan atau sedang tidak nafsu makan?" Hans bertanya dengan nada khawatir karena takut Aria kenapa-napa.


"Aku baik-baik saja, aku memintamu membuatkan bubur untuk Louis sepertinya dia sedikit tidak enak badan"


"Tuan Louis sakit?"

__ADS_1


"Mungkin dia sedikit tidak enak badan karena memar yang ada di punggungnya sedikit terlambat untuk diobati jadi, memar itu sedikit membengkak mungkin itu yang membuat Louis sedikit tidak enak badan dan masih tidur" Aria mengatakan hal itu dengan ekspresi datar dan tidak terlihat kekhawatiran di wajahnya namun Hans yang sudah lama mengenal Aria tau kalau Aria meminta sesuatu seperti itu pasti Aria juga mengkhawatirkan Louis hanya saja itu tidak terlihat di wajahnya.


"Baiklah nona akan saya buatkan, kalau begitu anda mau saya buatkan apa untuk sarapan?"


"Roti panggang juga susu putih itu saja dan nanti tolong bawakan ke kamarku"


"Baik nona, akan saya buatkan dan juga nanti akan saya bawakan ke kamar anda. Anda bisa menunggu di kamar selagi saya membuatnya"


Aria menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari dapur tersebut dan pergi menuju kamarnya.


Saat tiba di dalam kamar Aria melihat Louis sudah bangun karena tidak lagi melihatnya berbaring di sofa lalu Aria mendengar suara air di dalam kamar mandinya.


"Mungkin dia ada di kamar mandi" Aria lalu berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil memainkan ponselnya untuk menunggu sarapan datang.


Louis selesai mencuci wajahnya lalu keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Aria sedang duduk diatas sofa.


"Maaf aku telat bangun" ucap Louis sambil berjalan menghampiri Aria.


Aria melihat Louis menghampirinya "Tidak apa sebaiknya kamu istirahat saja dulu dan libur kerja hari ini dan juga sepertinya kamu sedang tidak enak badan"


"Aku baik-baik saja aku akan bekerja seperti biasa" Louis duduk di samping Aria.


"Tidak boleh kamu harus istirahat full hari ini" Aria menatap Louis yang ada di sampingnya.


"Aku tidak sakit jadi kenapa aku harus beristirahat dan juga libur kerja"


Aria kemudian mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Louis lalu memeriksa suhu tubuh Louis menggunakan telapak tangannya yang Aria tempelkan di dahi Louis.


Louis hanya bisa diam terpaku karena wajah Aria sangat dekat dengannya bahkan Louis bisa merasakan hembusan nafas Aria.


"Kenapa dia harus sedekat ini hanya karena mau memeriksa suhu tubuh" batin Louis yang kini terlihat sangat gugup.


Aria mendapati telapak tangan yang ada di dahi Louis sedikit hangat karena bersentuhan dengan tubuh Louis yang sedikit panas.


"Benar kan kamu demam sebaiknya kamu istirahat saja aku juga sudah meminta Hans untuk membuatkan bubur untukmu" Aria lalu melepaskan tangan yang ada di dahi Louis dan sedikit menjauh dari tubuh Louis.


"Ah benarkah Kenapa aku demam?" Louis memeriksa suhu tubuhnya sendiri menggunakan telapak tangannya seperti Aria tadi.


"Mungkin karena memar yang ada di punggungmu sudah sedikit membengkak itu bisa mengakibatkan seseorang menjadi demam atau tidak enak badan" Aria mengatakan itu dengan ekspresi wajah sedikit menyesal karena sudah mendorong Louis dan mengakibatkan Louis menjadi demam seperti itu.


Louis melihat raut wajah Aria yang seperti itu dan langsung menenangkannya "Aku hanya demam sedikit jadi kamu tidak perlu khawatir dan merasa bersalah seperti itu"


"Maafkan aku karena aku kamu jadi sakit seperti ini"


"Hey sudah ku katakan aku baik-baik saja dan hanya demam sedikit kamu jangan seperti itu ini juga karena kesalahanku" Louis menepuk pelan pundak Aria


Aria mengangguk pelan, setelah melihat Aria sudah tidak memasang ekspresi wajah seperti tadi Louis menghela nafas pelan.


"Permisi nona ini saya Hans, saya ingin mengantarkan sarapan untuk anda" terdengar suara Hans di depan kamar Aria.


"Kamu boleh masuk Hans" ucap Aria yang kini kembali memasang wajah datarnya


Setelah mendengar jawaban dari Aria Hans lalu masuk kedalam kamar tersebut

__ADS_1


Saat Hans sudah ada di dalam kamar Hans sedikit terkejut karena melihat Louis juga ada di dalam kamar Aria.


__ADS_2