Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Javier Berkunjung Ke Dunia Bawah


__ADS_3

"Oh, kamu masih disini?" Tanya Aria pada Herald yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Aria kini sudah selesai bersiap-siap dan turun ke bawah, namun saat Aria sudah berada di lantai bawah, Aria melihat Herald masih ada di rumahnya.


"Inikan hari libur kerja, jadi daripada aku bosan di rumah lebih baik aku disini" ucap Herald santai sambil menaruh ponselnya kedalam saku celananya.


"Bukannya kamu tiap hari sibuk, aku tidak percaya kamu tidak mempunyai pekerjaan" timpal Aria yang memang mengetahui Herald mempunyai banyak pekerjaan setiap harinya.


"Tapi tidak apa kan, sekali-kali aku libur kerja dulu"


"Sudahlah kalian jangan berdebat, Aria sebaiknya kamu cepat makan, kamu kan belum sarapan" Javier menengahi perdebatan kecil Aria dengan Herald.


Aria memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan itu dan berjalan menuju meja makan yang sudah terisi beberapa masakan.


"Apa kakak yang masak semua ini?" Tanya Aria tanpa menoleh sedikitpun pada Javier dan hanya fokus melihat makanan yang ada diatas meja.


"Bukan, kakak mana bisa masak makanan mewah dari berbagai negara seperti itu" Javier menjawab sambil masih menonton berita di televisi.


"Itu semua Herald yang masak, kamu coba makan deh, masakannya jauh lebih enak daripada koki di restoran bintang lima"


Herald hanya tersenyum menanggapi ucapan Javier yang menurutnya terlalu berlebihan.


Aria menatap Herald yang kini juga sedang menatapnya, Herald lalu tersenyum sambil menampilkan deretan giginya yang putih serta rapih itu, Herald juga mengangkat tangan kanannya dan membuat huruf V dengan jarinya itu.


Aria yang melihat Herald seperti itu hanya bisa menggeleng pelan. "Aku kira dia sudah berubah jadi lebih pendiam, ternyata dia tidak berubah sama sekali" batin Aria.


Aria lalu duduk dan mulai mengambil satu persatu masakan Herald yang ingin Aria cicipi, setelah itu Aria mulai memakan makanan itu dengan tenang dan elegan.


"Masakannya memang sangat enak, sudah berapa lama ya aku tidak makan masakan Herald yang seperti ini" batin Aria saat memakan makanan buatan Herald.


Lima belas menit kemudian Aria sudah selesai sarapan yang seperti makan siang itu, setelah mencuci piring kotor bekas makanannya, Aria lalu berjalan menghampiri Javier serta Herald yang masih asik menonton tv.


"Kak, semalam kan aku sudah mengatakan kalau aku mau mengajak kakak ke Mansionku yang ada di dunia bawah"


"Apa?!" Herald begitu terkejut dengan ucapan Aria karena belum mengetahui bahwa Aria sudah mengatakan semua rahasianya pada Javier.


"Aku sudah tau, Aria sudah mengatakan semuanya tadi malam" Javier menatap Herald yang masih mematung.


Herald kemudian menatap Aria seolah minta kebenaran ucapan Javier.


Aria kemudian menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Javier.


"Begitu ya, ternyata kamu sudah mengatakan semuanya pada kakakmu" Javier menghela nafas pelan.


"Ya sudah, ayo pergi, kakak sudah siap" ucap Javier lalu bangun dari tempat duduknya.


"Baiklah, ayo..kamu mau ikut atau mau diam disini?" Tanya Aria pada Herald.


"Tentu saja aku ikut, masa tuan rumah tidak ada di rumah aku malah berdiam diri dirumahnya" Herald kemudian bangun dan berjalan menghampiri Aria.


"Baiklah kalau gitu kita berangkat, oh iya pakai mobilmu saja, soalnya aku tidak bawa mobilku" ucap Aria pada Herald.


"Tentu.."


Mereka bertiga lalu keluar dari rumah itu dan berjalan memasuki mobil Herald yang terparkir di halaman rumah Aria.

__ADS_1


Setelah mereka semua masuk kedalam mobil, Herald lalu langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Aria dan menuju kota x untuk ke dunia bawah.


_____


Mobil yang dikendarai Herald kini memasuki halaman sebuah Mansion mewah dengan nuansa hitam serta dikelilingi oleh tanaman yang berbunga hitam juga.


Herald memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang berada di sebelah kanan Mansion itu.


"Kita sudah sampai, ayo kak, kita keluar" ajak Aria pada Javier.


"I-ini Mansionmu Aria?" Tanya Javier saat melihat Masion mewah di hadapannya.


"Benar, ini adalah Mansion serta organisasiku, Selamat datang di Mansion Black Rose" ucap Aria pada Javier saat mereka bertiga sudah keluar dari mobil dan berada di depan Mansion mewah itu.


Javier masih menatap Mansion Aria dengan ekspresi kagum namun juga sedikit ketakutan karena, meskipun Mansion Aria memang sangat mewah tapi, tidak bisa dipungkiri ada sedikit nuansa horor pada Mansion itu.


"Ayo masuk kak" Aria menggandeng tangan Javier dan membawanya memasuki Mansion itu, sementara Herald, dia berjalan di samping Aria dengan wajah datarnya.


Saat Aria mau memasuki Mansionnya, serempak orang-orang atau anggota Black Rose yang ada dan sedang berjaga di depan Mansion itu langsung memberi hormat serta mengucapkan salam pada Aria.


"Salam Ketua"


Seketika itu juga Javier sangat terkejut karena baru pertamakali melihat pemandangan seperti itu.


Aria yang melihat kakaknya terkejut serta terheran-heran hanya bisa tertawa kecil, begitu juga dengan Herald, Herald ingin tertawa tapi dia menahannya karena harus menjaga image sebagai Ketua Blood Moon di depan anggota Black Rose.


"Aria, kenapa mereka semua seperti itu?" Tanya Javier setengah berbisik pada Aria.


"Tidak apa kak, kakak tidak usah pedulikan mereka, sekarang kita masuk saja yuk, aku kenalkan pada rekan kerjaku"


Aria sebelumnya sudah memberitahu Louis bahwa dia dan kakaknya akan berkunjung ke dunia bawah, Aria juga memberitahu bahwa dia sudah mengatakan semuanya pada Javier tentang rahasia yang selama ini dia simpan, jadi saat Aria datang ke Mansionnya seluruh anggota Black Rose sudah mengetahui Aria akan datang bersama kakaknya dari Louis.


"Selamat datang ketua.."


"Selamat datang nona..."


Louis, Hans, dan Victor memberi salam pada Aria sambil membungkukkan badannya. Aria menganggukkan kepalanya menjawab salam dari mereka bertiga.


"Hans, tolong siapkan camilan untuk kakakku juga Herald" ucap Aria pada Hans.


"Baik nona, akan segera saya siapkan" Hans lalu pergi dari ruang utama itu dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan beberapa camilan.


"Ayo kak, kita duduk" ajak Aria pada kakaknya.


"Kamu tidak menawariku Aria?" Tanya Herald pada Aria yang sudah duduk diatas sofa bersama Javier.


"Kamu kan sudah sering kesini dan duduk dengan sendirinya meski aku tidak memintamu untuk duduk" Aria menatap Herald yang masih berdiri dan tersenyum padanya.


"Aku juga kan mau dapat perhatian darimu"


"Tidak ada, kamu bisa duduk atau berdiri itu terserah kamu"


Javier yang melihat tingkah Aria dengan Herald hanya bisa tersenyum sambil menggeleng pelan.


Herald lalu memutuskan untuk duduk di sofa yang terletak di depan Aria juga Javier.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Hans datang sambil membawa beberapa camilan. Hans lalu meletakan camilan itu diatas meja, tidak lupa juga Hans menyajikan tiga gelas teh untuk Aria, Javier serta Herald.


"Silahkan dinikmati camilannya" Hans lalu berniat untuk pergi dari sana tapi Aria mencegahnya.


"Tunggu Hans.."


Hans lalu berbalik. "Ya nona, apa masih ada yang anda butuhkan?"


"Tidak" Aria menggeleng pelan.


"Kalian bertiga duduklah" ucap Aria pada Louis, Hans, dan Victor.


Louis, Hans juga Victor tidak membantah perkataan Aria dan duduk di sofa yang berada di sisi kanan Aria dan sisi kiri Herald.


"Apa mereka adalah orang-orang yang kamu sebutkan semalam?" Tanya Javier pada Aria sambil menatap ketiga rekan kerja Aria itu.


"Benar kak, mereka bertiga adalah orang yang aku maksud"


"Boleh kamu perkenalkan mereka pada kakak?"


"Tentu saja"


Aria lalu mulai mengenalkan satu persatu rekan kerjanya itu.


"Kak, ini adalah Louis, dia pria yang sudah menemaniku dari nol hingga aku bisa mendirikan organisasi ini" Aria memperkenalkan Louis pada Javier.


"Ah.. ternyata pria ini ya, yang sudah menemanimu selama lebih dari sepuluh tahun"


Louis yang pertama menjadi orang yang dikenalkan oleh Aria merasa sangat gugup dan juga senang karena Aria mau memperkenalkannya pada Javier.


"Apa kakak boleh bicara sesuatu padanya?" Tanya Javier pada Aria yang sedang meminum teh buatan Hans tadi.


"Tentu saja boleh"


"Maaf sebelumnya, saya tidak tau harus memanggil anda apa tapi, terimakasih karena selama ini sudah menemani Aria, saya tidak tau harus berkata apa lagi selain terimakasih pada anda"


Javier kemudian berdiri dan ingin membungkukkan badannya untuk mengucapkan terimakasih dengan hormat pada Javier, namun sebelum Javier membungkukkan badannya Louis langsung berdiri dan mencegah Javier untuk melakukan itu.


"Tuan, anda tidak perlu seperti itu, jangan membungkuk pada saya" ucap Louis pada Javier.


Javier lalu menatap Louis dan mengangguk pelan "Baiklah kalau anda merasa keberatan saya tidak akan melakukannya"


"Kenapa kakak sampai bertindak berlebihan seperti itu ya" batin Aria yang sebenarnya juga terkejut dengan tindakan Javier barusan.


"Saya membantu nona Aria karena dulu nona pernah menyelamatkan saya, saya juga sangat beruntung karena nona mau bekerjasama dengan saya yang waktu itu masih sangat muda dan belum terlalu mengerti apa-apa"


Louis sebenarnya sedikit terharu saat Javier mengucapkan terimakasih dengan tulus padanya, tapi Louis tidak bisa membiarkan Javier untuk membungkuk padanya, biar bagaimanapun juga Javier adalah kakak dari Aria, nona yang dia layani.


"Begitu ya, ternyata perkataan Aria benar, kamu memang sangat baik, terimakasih karena sudah menjaga Aria"


"Tidak perlu berterimakasih seperti itu tuan, saya juga senang bisa menjadi rekan kerja dan juga teman nona Aria" Louis tersenyum pada Aria yang tengah sibuk dengan camilannya.


Herald yang melihat Javier bersikap sedemikian rupa pada Louis merasa sedikit tidak nyaman karena, Herald takut Javier malah lebih menyukai Louis dan menjodohkan Aria dengan Louis dan bukan dengan dirinya.


"Ckk.. sepertinya aku mempunyai rival" batin Herald sambil menatap tajam Louis yang kini sedang berbincang dengan Javier.

__ADS_1


__ADS_2