Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Melawan Rentenir


__ADS_3

Mereka berempat lalu sampai di salah satu gedung kosong di tengah kota, informasi yang mereka dapatkan adalah para rentenir yang beranggotakan tiga orang itu tinggal di gedung ini.


"Kenapa mereka tinggal di gedung kosong seperti ini, bukankah mereka kaya kenapa tidak tinggal di hotel atau apartemen atau bahkan membeli rumah mewah" celetuk salah satu polisi yang Giovanni bawa.


"Mungkin untuk meninggalkan kesan menyeramkan pada orang-orang yang meminjam uang dari mereka meskipun itu terdengar konyol". Timpal Giovanni. "Yasudah ayo masuk, hati-hati jangan sampai lengah". Giovanni mengajak mereka bertiga untuk segera masuk kedalam gedung tua tersebut.


Mereka memeriksa seluruh lantai satu dan tidak menemukan siapapun disana lalu mereka mulai menaiki tangga untuk menuju lantai dua.


Giovanni berada di posisi paling depan sedangkan Aria di belakang Giovanni dan di belakang Aria ada dua orang polisi tadi.


Mereka tiba di lantai dua namun disana gelap dan tidak ada ruangan apapun lalu tiba-tiba dari arah samping kanan mereka muncul seorang pria yang memegang besi panjang di tangannya lalu muncul lagi seorang pria di belakang mereka yang membawa pisau di tangannya dan terakhir di depan mereka muncul lagi satu orang pria dengan memegang sebuah pedang di tangannya, di sebelah kiri mereka hanya ada sebuah dinding dan barang bekas tidak terpakai seperti kain lusuh kardus-kardus yang menumpuk dan sebuah kayu panjang.


Mereka menjadi waspada karena terkepung dari segala arah kecuali Aria yang masih terlihat tenang.


"Wahh siapa ini, ternyata para polisi". Ucap salah seorang dari mereka yang memegang pedang di tangannya".


"Haha bos untungnya kita melihat mereka duluan jadi kita bisa mengepung mereka, walaupun jumlah mereka ada empat orang tapi yang satunya adalah seorang wanita". Ucap pria yang memegang pisau di tangannya.


"Wanita?". Pria yang disebut bos tadi adalah pria yang memegang pedang di tangannya. "Ternyata benar ada seorang wanita, aku tidak melihatnya karena dia berdiri di belakang pria ini". Bos rentenir tersebut menunjuk Giovanni menggunakan pedangnya.


"Aria, kamu berdiri di belakangku dan jika nanti kalau situasinya tidak memungkinkan kamu segeralah lari dari sini apa kamu mengerti". Giovanni berbisik pada Aria karena dia tidak menyangka situasi seperti ini akan terjadi.


Aria hanya terdiam sambil masih terus menatap pria yang sedang memegang pedang tersebut. Giovanni yang melihat Aria masih terdiam sekali lagi berbisik padanya "Aria jawab aku apa kamu mengerti?.


Sebenarnya yang sedang Aria pikirkan saat ini adalah kenapa Giovanni berbicara santai padanya dan tidak menggunakan bahasa formal lagi.


"Aria apa kamu mendengarku, kamu mengerti kan?". Aria menatap Giovanni lalu mengangguk.


"Baiklah". Giovanni lalu berbalik dan menatap bos rentenir itu dengan tatapan yang sangat mengerikan. Hingga membuat bos rentenir tersebut gemetar ketakutan.


"Hey kalian apa yang kalian tunggu serang mereka sekarang dan jangan sentuh wanita itu, kita akan bersenang-senang dengannya nanti saat menghabisi para bajingan ini". Bos rentenir tersebut memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera menyerang kelompok Aria.


Pertarungan pun tidak bisa di hindari masing-masing dari mereka melawan satu orang.

__ADS_1


Giovanni mengambil kayu panjang yang tergeletak di dekatnya lalu menyambut serangan bos rentenir itu. Kayu lawan pedang tentu saja yang menang adalah pedang dan kau itu pun terpotong-potong.


"Hahaha mati kamu". Bos rentenir itu berniat membelah Giovanni namun dia terkejut karena pedangnya mengenai sesuatu dan berbunyi. Dia lalu melihat Giovanni menahan serangannya menggunakan borgol besi.


"Kau..". Bos rentenir itu melompat mundur lalu menatap Giovanni dengan geram.


"Kenapa? Ah apa kamu kesal karena tidak berhasil membunuhku". Ucap Giovanni sambil tersenyum mengejek.


"Kau..aku akan memotong tubuhmu hidup-hidup". Bos rentenir itu sangat marah mendengar ucapan Giovanni.


Giovanni sebenarnya sedikit kesulitan karena tidak diperbolehkan menggunakan pistol karena harus menangkap hidup-hidup para rentenir itu. Giovanni memang membawa pistolnya tapi ia menaruhnya di mobil yang terparkir di bawah.


Dia cukup kesulitan karena lawannya membawa senjata dan dia tidak. Giovanni hanya membawa borgol di tangannya.


Giovanni menggunakan borgol tersebut untuk menangkis serangan dari pedang dan hanya melakukan serangan balik berupa pukulan dan tendangan kepada lawannya. Namun dengan itu juga ternyata sudah cukup karena lawan Giovanni masih amatir dalam menggunakan pedang hingga akhirnya tendangan Giovanni berhasil mengenai tangan bos rentenir itu yang sedang memegang pedang.


Bos rentenir menjatuhkan pedangnya karena nyeri yang luar biasa di tangannya bahkan dia merasakan bahwa tangannya patah.


Giovanni memang menendang dengan kekuatan penuh sehingga bisa membuat tangan itu tidak lagi bisa memegang pedang.


"Sebaiknya kamu ikut saya ke kantor polisi dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu". Giovanni berjalan menuju bos rentenir untuk memborgol tangannya namun tiba-tiba terdengar teriakan.


"Taruh pedang itu sekarang juga atau wanita ini akan kehilangan kepalanya".


Mendengar teriakan tersebut Giovanni melihat ke arah sumber teriakan dan dia melihat Aria yang sudah di jadikan sandera dan di lehernya terdapat pisau yang menempel bahkan sedikit menggores kulit Aria hingga mengeluarkan darah.


"Hey apa yang kau lakukan lepaskan dia". Giovanni menatap wajah pria tersebut dengan ekspresi yang sangat menakutkan dan tidak Giovanni sadari Aria tersenyum tipis melihat ekspresi Giovanni.


"Ternyata dia memiliki sisi gelap juga". Aria terlihat masih tenang walaupun dari lehernya mengalir darah segar. Dia bisa dengan mudah melepaskan dirinya dari pria amatir yang menjadikannya sandera. Aria hanya ingin melihat bagaimana cara Giovanni bertindak.


"Aku penasaran apa yang akan dia lakukan selanjutnya, membunuh atau menyerah, tapi karena dia seorang polisi aku tidak berharap banyak. Melihat ekspresinya saat ini saja sudah membuatku puas".


Giovanni sebenarnya bimbang. Kalau saja dia tidak diminta untuk menangkap mereka hidup-hidup dia pasti sudah dari tadi membunuh mereka tapi karena dia diminta untuk membawa mereka hidup-hidup dia tidak bisa membunuh mereka dan hanya bisa melukai mereka tapi saat ini Aria sedang mereka jadikan sandera dan melihat pria yang menyandera Aria tidak berbohong dengan ucapannya karena saat ini sudah mengalir darah segar dari leher Aria.

__ADS_1


"Baik aku akan melepas pedang ini tapi lepaskan dia". Giovanni kemudian melepaskan pedang yang ada di genggaman tangannya.


"Hahahaha polisi seperti kalian semuanya sama saja terlalu naif, kau pikir aku akan menuruti ucapanmu, sekarang tamatlah riwayatmu".


Giovanni tentu saja sudah menduga hal ini namun dia tidak bisa mengambil resiko kehilangan Aria.


Bos rentenir yang sedang berlutut tadi kemudian mengambil pedang yang tergeletak di lantai. "Kau tadi sangat angkuh aku mau lihat sekarang apa kau masih bisa bersikap seperti tadi". Bos rentenir tersebut geram pada Giovanni karena tadi dia menendang tangan kanannya hingga patah dan sekarang dia punya kesempatan untuk membalaskannya.


"Hey kamu diam saja di sana dan jangan melawan atau leher wanita ini akan terpotong". Ucap pria yang menyandera Aria.


Giovanni melihat Aria dan dia menemukan ekspresi Aria masih sama seperti biasa datar-datar saja dan tidak ada tanda-tanda dia ketakutan bahkan tubuhnya pun tidak gemetar. Kalau wanita lain pasti akan langsung menangis dan gemetar ketakutan apalagi dileher nya sudah terdapat luka dan mengeluarkan darah. "Wanita ini , kenapa dia seperti itu apa dia punya rencana lain?".


Giovanni lalu melihat dua bawahannya yang tadi sedang bertarung satu lawan satu. Giovanni melihat bawahan yang tadi bertarung melawan pria yang memegang pisau sedang duduk lemas memegang perutnya yang tertusuk pisau sedangkan bawahan yan satunya lagi masih bertarung dan terlihat seri karena sama-sama menggunakan tongkat besi. Bawahan Giovanni hanya membawa tongkat besi di pinggangnya karena belum mempunyai ijin untuk menggunakan senjata.


Giovanni lalu menghela nafas "baiklah tapi kalian lepaskan mereka".


"Itu tergantung padamu nurut atau tidaknya hahaha". Dua orang rentenir itu tertawa keras karena berhasil memojokkan Giovanni.


"Hey, aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan pada tanganku". Bos rentenir itu lalu menggunakan pedangnya untuk melukai tangan Giovanni. Kini di tangan kiri Giovanni terdapat luka tebasan yang cukup dalam, darah segar segera mengalir keluar dari tangannya.


Melihat itu dua pria tadi tertawa semakin keras hingga tiba-tiba . "Ah ini sudah mulai tidak seru lagi untuk di tonton".


Aria yang tadi hanya terdiam kini mengeluarkan suara. "Hey pria bau, berapa lama kamu tidak mandi hingga membuat badanmu sangat bau". Aria mengatakan pria bau itu pada pria yang ada di belakang yang sedang menyandera dirinya.


"Kau bicara apa hah, apa kau mau kepalamu benar-benar terpisah dari tubuhmu". Pria yang Aria sebut bau itu tidak terima dan langsung marah.


Giovanni ingin mengatakan sesuatu namun kalah cepat dengan Aria. "Satu hal lagi, aku sangat tidak suka ada orang yang menjadikanku sandera".


"Memangnya kau bisa apa dengan tubuh wanitamu itu hah, dengan tubuhmu itu kau hanya bisa menghangatkan ranjang".


"Kau benar tapi, aku juga bisa membunuhmu". Suara Aria terdengar sangat dingin hingga membuat orang yang mendengarnya merinding ketakutan.


"Kau..kau akan mati sekarang juga wanita sialan". Pria yang sedang menyandera Aria lalu menggerakkan pisaunya untuk memotong leher Aria. Melihat itu Giovanni langsung berdiri dan ingin menghampiri Aria namun tiba-tiba ia melihat pemandangan yang luar biasa.

__ADS_1


Sebelum pisau tersebut memotong leher Aria. Aria lalu menangkap tangan pria itu dan membantingkan tubuh pria tersebut menggunakan satu tangannya.


__ADS_2