Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Ketakutan Akan Kehilangan


__ADS_3

Aria kemudian berlari ke salah satu gang yang terletak di dekat toserba namun sama saja hasilnya nihil Aria tidak menemukan Javier sama sekali dan Aria sudah kehabisan tenaga karena terus berlari kesana kemari.


"Ini sudah gang yang ke tujuh belas tapi aku belum juga menemukan kakak apa kakak tidak ada di gang kecil ya"


Aria kemudian terduduk lemas dan melihat jam yang ada di ponselnya "Sudah jam setengah empat, kak kamu dimana jangan membuatku takut"


"Tidak bisa begini aku tidak boleh duduk seperti ini aku masih harus mencari kakak" Aria kemudian berdiri dan kembali berlari mencari kakaknya.


"Kak apa kamu mendengarku kumohon jawab aku". Aria berteriak di sepanjang jalan sambil mencari kakaknya.


"Kak Javier kumohon jawab aku"


Aria terus berlari dan berteriak saat Aria melewati gang kecil yang ada di dekat gedung kosong samar-samar Aria melihat seseorang sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding toko kecil yang sudah terbengkalai di ujung gang tersebut.


Aria lalu berjalan menghampiri seseorang tersebut saat Aria sudah dekat dia melihat seorang pria paruh baya sedang duduk sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan darah.


Aria lalu menghampiri pria paruh baya tersebut "pak apa anda baik-baik saja, apa anda bisa mendengar suara saya". Aria lalu segera memeriksa kondisi pria paruh baya tersebut.


Aria mendapati luka tusuk di perut pria tersebut dan juga wajah pria itu penuh dengan lebam-lebam biru Aria mengetahui luka itu didapat belum lama ini mungkin sekitar tiga puluh menit yang lalu.


Aria lalu menekan luka tersebut menggunakan jaket yang pria paruh baya itu pakai supaya darahnya berhenti keluar dengan deras.


"Pak apa anda mendengar suara saya" Aria menepuk-nepuk wajah pria paruh baya tersebut lalu tidak lama kemudian pria paruh baya itu sadar.


Pria paruh baya itu mengerang kesakitan dan ingin menggerakkan tubuhnya "Pak sebaiknya anda tidak banyak bergerak dulu karena luka yang ada di perut anda"


Pria paruh baya tersebut kemudian melihat Aria "Nona kenapa anda bisa ada disini"


"Saya sedang mencari seseorang, mari pak kita ke rumah sakit terlebih dulu dan mengobati luka bapak". Aria kemudian berniat membatu pria paruh baya tersebut tapi pria itu menggeleng pelan.


"Nona sebaiknya anda tolong orang yang ada di dalam gedung kosong tersebut"


"Gedung kosong.." Aria lalu melirik gedung kosong yang bersebelahan dengan toko terbengkalai tersebut dan hanya di pisahkan oleh sebuah jalan yang lumayan besar.


"Apa ada orang lain selain bapak ?" Aria kembali bertanya pada pria paruh baya tersebut.


"Tadi saat saya sedang berjalan pulang dari pabrik saya mendengar suara berisik di gedung tersebut lalu saya memberanikan diri untuk melihat ke dalam dan saat saya melihat ada seorang pria sedang dipukuli di dalam gedung saya tidak bisa melihat dengan jelas karena malam dan juga cahaya di gedung tersebut tidak banyak lalu saya berniat untuk menelpon polisi tapi sayangnya ponsel saya berbunyi dan saya ketahuan"


Aria mengangguk dan memahami perkataan pria paruh baya tersebut Aria juga sudah bisa menebak luka yang didapat pria paruh baya tersebut.


"Aku saat itu juga langsung berlari tapi ada dua orang yang mengejarku sampai kesini lalu mereka memukuliku dan menusukku menggunakan pisau"


"Sudah kuduga.." Aria bergumam pelan Aria sudah menduganya bahwa pria paruh baya ini ditusuk oleh orang yang mengejarnya.

__ADS_1


"Sebaiknya anda cepat kesana mungkin pria tersebut masih bisa di selamatkan walaupun aku tidak tau kapan pria itu dibawa kesana"


"Tapi bagaimana dengan anda?"


"Aku bisa bertahan dan akan memanggil ambulance jadi nona anda sebaiknya pergi ke gedung tersebut saya juga yakin orang-orang yang memukuli pria tersebut sudah tidak ada"


"Baiklah anda tunggu disini dan jangan bergerak saya akan kembali"


Pria paruh baya tersebut mengangguk pelan kemudian Aria pergi ke gedung kosong yang ada di sebrang jalan. Setelah melihat Aria pergi pria paruh baya tersebut lalu menelpon ambulance dan juga polisi.


Aria sampai di depan gedung kosong tersebut kemudian berjalan memasuki gedung itu Aria menajamkan penglihatannya karena di dalam gedung terdapat beberapa besi yang keluar dari tiang-tiang yang sudah retak dan juga di lantai gedung tersebut berserakan benda tajam seperti paku dan baut juga pecahan kaca.


Aria terus berjalan memasuki gedung lebih dalam "Karena bapak tadi melihatnya dari luar kemungkinan pria itu ada di lantai satu"


Aria kemudian memegangi dadanya "Apa ini kenapa perasaanku tidak enak pria itu pasti bukan kakak, kakak tidak akan kenapa-napa kakak baik-baik saja". Aria sedikit cemas dengan perkataan pria paruh baya tadi karena yang ada di dalam gedung ini adalah seorang pria.


Aria terus berjalan lalu Aria samar-samar melihat seorang pria tergeletak bersimbah darah Aria lalu menajamkan penglihatannya "Tidak...ini tidak mungkin.."


Aria meneteskan air matanya lalu berlari kearah pria tersebut Aria mengenali baju yang di pakai pria tersebut dan juga bentuk tubuhnya walaupun pria itu tidak menghadap Aria tapi Aria yakin dengan apa yang dia lihat.


Aria lalu membalikan tubuh pria tersebut dan seketika itu juga Aria berteriak histeris "Tidak mungkin!!.. ini tidak mungkin terjadi kak buka matamu!!" Aria menangis histeris saat melihat kakaknya bersimbah darah seperti itu dan juga tubuhnya dipenuhi luka yang cukup serius.


Pria yang tergeletak bersimbah darah tersebut adalah Javier kakak Aria yang selama malam ini Aria cari kemana-mana.


"Kak jawab aku kakak mendengarku kan kakak baik-baik saja kan, kakak akan terus bersamaku kakak akan bangun dan kita akan pulang" kini Aria tidak lagi menangis histeris tapi dia seperti orang tidak waras yang berbicara dengan pria yang tidak sadarkan diri.


"Kak maafkan aku aku tidak bisa menjaga kakak dan selalu berbohong pada kakak, kakak bisa memarahiku sepuas kakak tapi tolong buka mata kakak" Aria terus berbicara benar-benar seperti orang gila.


-----------


Sekitar sepuluh menit kemudian setelah pria paruh baya tadi menelepon ambulance dan polisi. ambulance dan mobil polisi itupun datang ke toko terbengkalai yang ada di dekat gedung kosong tersebut lalu keluar seorang pria gagah dan tampan dari mobil polisi tersebut.


Giovanni dia adalah polisi yang saat ini ada di depan toko terbengkalai tersebut lalu Giovanni berjalan menghampiri pria paruh baya yang sedang terluka.


"Pak saya akan memeriksa di sekitar sini untuk mencari barang bukti anda sebaiknya segera ke rumah sakit untuk diobati". Kemudian petugas medis yang ada di dalam ambulance membawa tandu untuk mengangkat pria paruh baya itu tapi sebelum pria paruh baya tersebut pergi dari sana pria paruh baya itu memegang tangan Giovanni.


"Pak polisi tolong periksa nona yang sedang pergi kedalam gedung kosong yang ada di seberang jalan tersebut saya khawatir dia kenapa-napa karena tidak kunjung kembali"


"Apa? Ada orang lain selain bapak di sekitar sini?"


"Saya meminta nona tersebut memeriksa pria yang ada di dalam karena tadi saya melihat pria itu dipukuli oleh beberapa orang saya khawatir orang-orang yang memukuli pria itu masih ada di sana seharusnya saya tidak meminta nona itu untuk pergi kesana"


"Baiklah saya mengerti saya akan segera memeriksanya anda tidak perlu khawatir sebaiknya anda diobati lebih dulu baru setelah itu saya akan menanyakan seperti apa kronologinya"

__ADS_1


Pria paruh baya tersebut mengangguk pelan lalu petugas medis segera membawa pria tersebut kedalam ambulance dan segera pergi menuju rumah sakit terdekat.


Giovanni kemudian memandang gedung kosong di sebrang jalan lalu berjalan menuju gedung tersebut.


Giovanni memasuki gedung tersebut dan tidak lama kemudian dia sayup-sayup mendengar suara seorang perempuan Giovanni lalu bergegas menghampiri suara tersebut dan saat sudah berhasil menemukan dari mana sumber suara itu Giovanni melihat seorang wanita sedang menangis dan berbicara sendiri seperti orang gila kepada pria bersimbah darah yang ada di pelukannya.


Giovanni lalu menghampiri Aria "Nona apa yang terjadi?" Giovanni bertanya pada Aria  Giovanni tidak melihat jelas wajah Aria jadi dia tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya.


Aria tidak memperdulikan Giovanni Aria terus menangis dan berbicara tidak jelas. Giovanni kemudian memeriksa nadi Javier  "Nona sepertinya dia masih hidup saya masih bisa merasakan detak jantungnya tapi itu sangat lemah sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit sebelum terlambat"


Aria yang mendengar Javier masih bisa diselamatkan kemudian mengangkat kepalanya dan melihat Giovanni.


"Benarkah kakak saya masih bisa selamat". Aria kemudian memeriksa nadi Javier dan dia juga merasakan detak jantung Javier masih ada meskipun itu sangat lemah.


Aria tadi terlalu panik dan pikirannya kosong jadi dia tidak memeriksa detak jantung Javier.


Giovanni yang kini bisa melihat Aria terkejut karena dia mengenali Aria "Nona Aria .." sebelum Giovanni melanjutkan kata-katanya Aria langsung memotongnya


"Aku akan segera membawa kakak kerumah sakit". Aria lalu bangun tapi dia segera terjatuh karena sudah tidak memiliki tenaga lagi.


"Nona apa anda tidak baik-baik saja?" Giovanni yang melihat wajah Aria pucat dan penuh darah sedikit khawatir Giovanni juga tau darah yang ada di wajah Aria bukan darahnya sendiri melainkan darah pria yang Aria peluk tadi.


"Aku baik-baik saja hanya sedikit kelelahan sebaiknya anda tolong segera bawa kakak saya ke rumah sakit terdekat". Aria tidak peduli dengan tubuhnya yang sangat kelelahan dan tidak mempunyai tenaga lagi Aria lebih khawatir pada kakaknya.


"Saya sudah memanggil ambulance untuk membawa kakak anda ke rumah sakit mungkin sebentar lagi akan datang"


Aria hanya mengangguk mendengar ucapan Giovanni kemudian Aria kembali memeluk Javier yang masih tidak sadarkan diri.


"Kak maafkan aku.. seharusnya aku segera menemukan kakak". Aria membaringkan kepalanya diatas dada Javier dan terus memeluk tubuh kakaknya itu sambil menunggu ambulance datang.


Giovanni yang melihat Aria seperti itu hatinya merasa sakit Giovanni bahkan pertama kali melihat Aria mengeluarkan emosinya seperti itu dia bahkan sempat melihat Aria yang seperti orang gila.


Tidak lama kemudian ambulance pun datang dan Javier segera di bawa menuju ambulance oleh petugas medis Aria berdiri dan berniat untuk menemani Javier di dalam ambulance namun tiba-tiba Aria  terjatuh lagi dan tidak bisa bangun.


"Nona anda terlihat sangat kelelahan biar saya bantu anda berjalan" Giovanni lalu mendekati Aria dan membantu Aria untuk berdiri namun Aria kembali terjatuh karena sudah sangat lemas dan tidak memiliki tenaga sama sekali.


"Nona Aria sepertinya anda tidak bisa berdiri dan mungkin berjalanpun akan susah" Giovanni lalu membelakangi Aria dan berlutut di depan Aria "Saya akan menggendong anda sebaiknya anda segera naik ke punggung saya karena mobil ambulancenya sudah pergi.


Aria tidak punya pilihan lain lalu dia menaiki punggung Giovanni setelah itu Giovanni berdiri dan langsung berjalan menuju mobil yang tadi dia parkiran di depan toko terbengkalai.


"Nona anda harus berpegangan pada saya supaya anda tidak jatuh ke belakang" Aria lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Giovanni dan menyenderkan kepalanya di bahu kanan Giovanni kemudian memejamkan matanya.


"Aku lelah.."

__ADS_1


__ADS_2