
"kak, hari ini aku akan pergi keluar". Aria pamit kepada kakaknya yang sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Baiklah, nanti kalau sudah mau pulang kabarin kakak ya".
"Iya kak, oh iya..apa tidak apa-apa kakak terus bekerja di perusahaan itu?". Aria khawatir kakaknya akan kenapa-napa kalau terus bekerja di perusahaan milik Leon apalagi saat Aria melihat tatapan Leon kemarin.
"Tidak apa-apa, memangnya kenapa kamu nanya begitu?". Javier menaikkan satu alisnya tanda dia penasaran dengan ucapan Aria.
"Itu..kakak kan pernah bilang bahwa bos kakak itu seorang mafia, aku takut kakak kenapa-napa bila terus bekerja disana".
"Kakak juga sedang berpikir untuk resign dari sana tapi kakak masih ada beberapa pekerjaan yang belum beres. Mungkin setelah pekerjaan itu beres kakak akan resign dan mencari pekerjaan baru di perusahaan lain". Sebenarnya Javier juga memikirkan hal yang sama dengan Aria, Dia lebih baik cepat-cepat keluar dari perusahaan itu apalagi mengetahui kalau adiknya di incar oleh bosnya yang seorang Mafia, Javier tentu saja tidak mau memberikan adiknya itu kepada mafia yang sangat ia benci.
"Eh..benarkah kakak akan resign dari sana?" Aria sedikit terkejut karena kakaknya itu berpikiran hal yang sama dengannya. "Aku pikir kakak sudah betah di sana...ah lagipula biarpun kakak keluar dari perusahaan itu pasti kakak akan langsung diterima kerja di perusahaan lain karena kakakku ini adalah kakak yang sangat pintar, cerdas dan bijak". Ucap Aria sambilng mengangkat dua jempolnya untuk Javier.
Javier yang dipuji seperti itu oleh Aria merasa sedikit malu. "Aria kamu terlalu berlebihan masih banyak diluaran sana orang yang lebih pintar dari kakak". Ucap Javier sambil membuang pandangannya Dari Aria. Aria melihat sedikit rona merah di wajah dan telinga Javier, itu tandanya kakaknya itu sedang malu-malu kucing. Aria tertawa pelan melihat tingkah kakaknya itu.
"Iya iya aku tau ko, tapi dalam pandanganku kakak adalah yang terbaik". Aria masih saja terus menggoda kakaknya itu.
"Ah sudahlah Aria, kakak pergi dulu ini sudah hampir masuk jam kerja". Javier bergegas pergi dari sana.
"Hati-hati di jalan kak". Aria masih tertawa kecil melihat tingkah kakaknya itu. Lalu dia berbalik dan mengambil tas selempang kecilnya di atas sofa lalu Aria pun juga pergi dari sana.
Aria pergi menuju kota X. Aria mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Louis, aku sedang menuju ke sana kamu tolong siapkan berkas yang kemarin kamu baca di ruangan saya".
"Baik nona, akan segera saya siapkan".
Setelah mendengar jawaban dari Louis Aria kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
Taksi yang Aria tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Aria melihat ternyata kendaraan yang lain pun berhenti. lalu Aria menanyakan hal itu pada supir taksi tersebut.
"Pak, ada apa kenapa tiba-tiba semua kendaraan berhenti?".
"Sepertinya di depan ada kecelakaan nona".
Aria penasaran dengan kecelakaan tersebut lalu dia memutuskan untuk keluar dan melihatnya. "Pak, saya mau keluar dulu untuk melihat di depan ada apa, dan juga sepertinya mobil masih tidak bisa bergerak karena jalan ini hanya muat untuk dua mobil, bapak bisa tunggu saya sebentar".
__ADS_1
"Baik nona".
Aria kemudian keluar dari taksi dan berjalan ke depan kerumunan orang yang sedang melihat korban kecelakaan tersebut. Aria menerobos kerumunan orang-orang dan berhasil sampai di depan. Saat Aria melihat jasad korban kecelakaan itu, Aria langsung bisa mengenali bahwa itu bukan kecelakaan.
Disana Aria juga melihat beberapa anggota polisi yang sedang bertugas dan Aria mengenali salah satunya karena pernah bertemu dengannya di jembatan waktu itu.
"sepertinya korban mengalami kecelakaan tabrak lari" ucap salah seorang polisi disana kepada seseorang yang sedang berlutut untuk memeriksa kondisi korban.
"Menurutmu luka seperti ini bisa di dapatkan dari hasil tertabrak mobil?, Jelas-jelas disini juga ada luka sayatan dan juga luka tusukan dari pisau". Giovanni, dia adalah polisi yang sedang bertugas disana.
"Tapi, kita tidak menemukan bukti apapun di sekitar sini, cctv juga tidak ada karena ini jalanan yang cukup sepi, kemungkinan tabrak lari itu adalah dugaan yang tepat. Kalaupun memang benar ini adalah pembunuhan kenapa jasad korban diletakan di tengah jalan begini bukankah itu aneh".
"Opinimu memang tidak salah tapi juga tidak benar, bagaimanapun apa kamu tidak melihat bekas pisau disini?". Giovanni masih dengan opininya kalau korban tersebut bukan korban tabrak lari tapi korban pembunuhan.
Aria mendengar jelas pembicaraan mereka, Aria lalu menghampiri mereka. "Anda benar dia bukan korban tabrak lari". Giovanni dan polisi yang ada di sana melihat ke arah Aria. Giovanni mengenali Aria karena mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Nona, kenapa anda kesini ini bukan tempat yang sembarang orang bisa masuki apa anda tidak melihat garis polisi disana". Polisi yang berdebat dengan Giovanni geram melihat Aria yang tiba-tiba ikut campur ditambah dia juga membenarkan opini Giovanni.
Aria tidak menghiraukan polisi tersebut, ia lalu berlutut di samping Giovanni. "Luka sayatan di tubuhnya dan luka tusukan di perutnya itu dilakukan oleh orang yang sama dan dia menggunakan dua senjata". Aria mengamati jasad yang ada di depannya.
"Hey, nona kamu tidak tau apapun tentang pembunuhan dan kasus seperti ini darimana kamu bisa menyimpulkan dia korban pembunuhan dan pembunuhan tersebut dilakukan oleh orang yang sama, apa kamu seorang dokter forensik!!". Polisi tadi semakin geram karena tidak ditanggapi oleh Aria.
Polisi tersebut tersenyum sinis "kalau nona bukan dokter forensik kenapa nona bisa menyimpulkan bahwa itu adalah pembunuhan jelas-jelas ada luka dari hasil tabrak lari dan korban terpental di aspal sebab itu dia meninggal". Polisi tadi tersenyum penuh kemenangan karena menurutnya opini dia yang paling tepat dan melihat Aria hanya bocah yang ingin diperhatikan makannya dia menerobos kesini dan mengatakan itu.
"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa terdapat luka sayatan dan tusukan disini". Aria menunjuk perut korban yang sobek dan mengeluarkan isi perutnya seperti usus dan ginjalnya.
"Nona, jangan bercanda dengan saya, saya tidak melihat luka sayatan dan tusukan disana".
"Anda tidak melihatnya karena anda berdiri cukup jauh dari jasad korban.." Aria menghentikan kata-kata nya sebentar kemudian .. " ah jangang bilang anda jijik dengan tubuh korban atau anda takut dengan darah atau anda bahkan tidak mau tau tentang penyebab kematian korban". Aria masih berbicara dengan wajah datarnya kepada polisi tersebut.
"Kau, apa yang kau katakan hah!!! Kau berbicara omong kosong!!".
Polisi itu semakin marah saat Aria menyinggung dirinya. "Kenapa , apa aku salah bicara?.. bukannya memang benar begitu adanya makannya anda tidak mau memeriksa korban lebih dekat. Cihh polisi seperti anda sebaiknya dibuang dari seluruh kantor kepolisian karena anda hanyalah beban dan tidak membantu masyarakat sama sekali". Aria kembali memprovokasi polisi tersebut. Menurutnya polisi itu perlu diberi pelajaran.
"Kau..". Polisi tersebut berjalan kearah Aria dan ingin menampar Aria namun sebelum tamparan itu mendarat di pipi Aria ada tangan besar dan kekar mencengkram erat tangan polisi tersebut.
__ADS_1
"Pak, bukankah Anda sudah keterlaluan". Giovanni menahan tangan yang akan menampar Aria dan mencengkram erat tangan tersebut.
"Kau ... Berani padaku Giovanni?". Ucap polisi tersebut.
"Memangnya kenapa aku harus takut pada anda pak, lagipula ucapan nona ini benar adanya. Anda hanya tidak ingin repot-repot menangani kasus seperti ini yang mendapat uang komisi sedikit karena kebanyakan kasus seperti ini terjadi pada orang yang kurang mampu". Kini wajah Giovanni terlihat menyeramkan, dia menatap polisi tersebut dengan tatapan tajam. Aria hanya diam menyaksikan kejadian di depan matanya.
"Awas kau Giovanni, aku tidak akan mbiarkanmu saat di kantor". Polisi tersebut melepaskan tangannya dari cengkeraman Giovanni dan berbalik lalu berjalan menjauh dari TKP dan pergi dari sana menggunakan mobil .
"Orang sepertinya tidak akan bisa hidup lebih lama". Aria tiba-tiba berbicara sambil melihat mobil yang melaju pergi dari TKP tersebut.
"Maksud anda?". Giovanni mendengar ucapan Aria dia lalu berbalik menatap Aria tapi tatapannya kali ini sudah tidak seperti saat dia menatap polisi tadi.
"Tidak ada, sebaiknya kita kembali ke penyelidikan jasad itu". Aria lalu kembali berlutut dan melihat jasad tersebut siapa tau ada luka lain lagi.
Giovanni tidak terlalu memikirkan ucapan Aria tadi lalu ia juga kembali berlutut untuk fokus menyelidiki penyebab korban meninggal.
"Tadi menurut anda dia adalah korban pembunuhan tapi bagaimana caranya menjelaskan luka yang terkena tabrakan dan luka dari benturan aspal jalan yang ada di tubuhnya". Giovanni bertanya kepada Aria karena dia bisa langsung mengidentifikasi bahwa jasad itu adalah korban pembunuhan sedangkan sebagian besar luka di tubuh korban adalah dari terbenturnya tubuh korban ke aspal dan membuat tubuh korban dalam kondisi sangat mengenaskan. Menurut Giovanni kebanyakan orang pasti akan mengira jasad itu adalah korban tabrak lari.
Giovanni juga terkejut saat Aria berhasil melihat luka sayatan dan tusukan yang seperti bukan luka tusukan karena luka itu sudah robek.
"Mudah saja, pertama-tama dia di sayat-sayat menggunakan pisau terlebih dahulu kemudian ditusuk menggunakan pedang lalu merobek perutnya dengan pedang yang sama". Aria menjelaskan opininya kepada Giovanni.
"Itu masuk akal, terus luka tabrakan dan benturannya bagaimana dia bisa mendapatkannya". Giovanni setuju dengan opini Aria namun yang membuatnya bingung adalah luka benturan dan tabrakannya tidak mungkin kan korban berlari karena ingin minta pertolongan dan malah tertabrak sedangkan luka yang Aria jelaskan tadi sudah jelas-jelas membuat korban akan langsung meninggal saat itu juga karena kehilangan banyak darah dan usus serta ginjalnya yang keluar.
"Kalau luka tabrakan itu, kemungkinan dilakukan oleh dua orang". Aria mengangkat dua jarinya.
"Dua orang?".
Aria menganggukkan kepalanya. "Jadi begini, kemungkinan tubuh korban setelah dibunuh lalu dimasukan kedalam mobil dan dibawa ke jalan sini kemudian salah satu dari mereka membawa turun tubuh tersebut dan orang yang satunya lagi menunggu di dalam mobil. Lalu orang yang membawa tubuh korban membawanya ke pinggir jalan lalu melemparnya ke tengah jalan dan sebelum tubuh korban jatuh ketengah jalan orang yang masih di dalam mobil kemudian menancap gas mobilnya lalu menabrak tubuh korban dengan sangat kencang sampai korban terbentur-bentur di jalan".
Giovanni terlihat sedang berpikir " nona, itu juga masuk akal namun kenapa tidak ada sidik jari dari pembunuh di tubuh korban?".
"Tentu saja dia memakai sarung tangan, kenapa anda menanyakan hal yang sudah jelas. Bukannya ini bukan pertama kalinya anda menangani kasus seperti ini saat tidak ditemukan sidik jari di tubuhnya". Aria memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
"Ah iya saya lupa karena terlalu fokus dengan ucapan Anda tadi" Giovanni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa begitu konyol menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti.
__ADS_1
Aria lalu menatap Giovanni " apa anda sudah mendapat gambaran orang yang membunuhnya".
"Dari cara membunuhnya yang tidak biasa saya rasa ini berhubungan dengan dunia bawah..".