
"Aria, kenapa dengan lehermu?".
Saat sedang sarapan Javier menanyakan luka di leher Aria. "Ini..tergores ranting pohon kering". Jawab Aria terlihat sedikit gugup.
"Ranting pohon kering?".
Aria mengangguk. "Saat aku sedang jalan-jalan di taman ada ranting kayu patah di salah satu pohon dan aku tidak sengaja tergores saat melewati pohon itu karena saat itu aku sedang melihat ponselĀ jadi tidak terlalu memperhatikan sekitar".
"Aria kamu ini sangat ceroboh, harusnya kamu lihat-lihat dulu jadinya kan kamu terluka". Javier percaya dengan alasan Aria.
"Untung kakak percaya dengan alasanku". Batin Aria sedikit lega.
"Oh iya kak, apa sekarang kakak akan ke kantor atau mencari pekerjaan baru?". Aria mengalihkan pembicaraan karena takut kakaknya itu akan bertanya lagi tentang lukanya.
"Kakak masih akan pergi ke kantor namun hanya akan memberikan surat pengunduran diri".
"Kak, apa perlu aku temani, aku khawatir kakak kenapa-napa". Aria khawatir kakaknya Javier tidak di perbolehkan resign dan akan di ancam oleh Leon.
"Kakak bisa memberikannya sendiri, kamu tunggu saja disini". Javier tentu saja tidak akan mengijinkan Aria untuk menginjakan kakinya di perusahaan milik Leon.
"Baiklah tapi hati-hati ya kak, kalau ada apa-apa segera hubungi aku". Aria khawatir bukan tanpa sebab, karena Aria sudah mendapatkan gambaran karakter Leon seperti apa. Karakter Leon seperti saat Aria menjadi ketua di black Rose, makannya Aria tidak mau Javier pergi sendirian tapi dia tidak menemukan alasan yang cocok untuk ikut dengan Javier ke perusahaan milik Leon.
"Dia tidak mungkin bisa macam-macam di perusahaan itu karena tidak semua karyawan disana adalah bawahannya di Red Blood".
Aria kemudian memutuskan untuk segera membersihkan diri. Aria memakai dress pendek berwarna hitam polos lalu menggulung rambutnya dan memakaikan aksesoris berupa buah ceri di dekat rambut yang ia gulung.
Aria meraih tas selempang yang ada di atas tempat tidur lalu memasukan ponselnya dan berjalan keluar kamar. Aria meraih sepatu berwarna hitam yang ada di rak sepatu dan memakainya kemudian berjalan keluar apartemennya dan pergi menuju kota X.
Aria tiba di kota X dan seperti biasa dia memasuki mobil yang sudah terparkir disana dan melajukannya menuju mansionnya. Mobil Aria kini sudah memasuki sebuah mansion dengan nuansa hitam dan dikelilingi dengan tanaman berduri yang berbunga hitam juga.
"Selamat datang ketua"
Saat Aria keluar dari mobilnya, dia langsung disambut oleh puluhan bawahannya. Aria terus berjalan memasuki mansionnya dan dia melihat Louis dan Hans ada di ruang tengah untuk menyambutnya.
"Selamat datang ketua" mereka serempak memberi salam saat melihat Aria memasuki mansion.
"Louis, apa kamu sudah menyiapkan apa yang saya minta kemarin?". Kemarin Aria meminta Louis untuk menyiapkan berkas informasi tentang Red Blood karena Aria akan mampir ke mansion namun saat di perjalanan Aria mengalami kejadian tidak terduga dan harus menunda perjalanannya.
"Sudah nona, saya sudah menyiapkan apa yang anda minta".
"Baiklah, Louis kamu ikut saya ke ruangan saya dan Hans kamu lakukan pekerjaanmu".
"Baik nona, saya permisi". Hans memberikan hormatnya kemudian kembali ke pekerjaannya.
Aria dan Louis berjalan menuju ruangan yang lumayan besar dan terdapat barang-barang antik di ruangan tersebut. Di dalam ruangan tersebut juga terdapat sebuah sofa dan satu kursi serta meja yang di atasnya tertumpuk banyak sekali berkas-berkas.
Aria lalu duduk di kursi tersebut dan membuka sebuah berkas yang di letakan terpisah di atas meja. Aria membaca berkas informasi itu dan mengernyitkan dahinya kemudian menutup berkas informasi tersebut.
"Ini lebih parah daripada perkiraanku". Sambil menghela nafas pelan Aria melirik Louis. "Bagaimana menurutmu?".
__ADS_1
"Aria, organisasi Red Blood sudah sangat keterlaluan, mereka tidak hanya menculik orang dewasa tapi juga menculik anak-anak lalu menjual atau melelangnya kepada pria hidung belang yang menyukai tubuh anak-anak". Louis mengepalkan tangannya dengan keras sampai terlihat urat-urat tangannya.
Aria juga menganggap organisasi Red Blood ini sudah melewati batas, memang benar mereka yang ada di dunia bawah adalah orang-orang jahat tapi tidak semua orang-orang yang ada di dunia bawah setuju dengan perbudakan apalagi anak-anak kecil yang dijadikan budak.
"Apa tanggapan dari organisasi Blood Moon tentang ini?". Aria bertanya pada Louis karena pasti dia sudah menghubungi organisasi tersebut untuk meminta pendapat.
"Mereka juga tidak suka pada organisasi Red Blood namun karena sekarang mereka sangat sibuk dengan bisnis mereka dan juga sepertinya organisasi Red Blood tidak bisa dianggap remeh mungkin saja organisasi itu lebih kuat daripada organisasi Black Shadow".
"Apa untuk masuk ke acara lelang Red Blood membutuhkan kartu khusus?".
"Tidak nona, acara lelang tersebut seperti acara lelang biasa dan terbuka untuk siapapun bahkan mereka tidak menutupi kalau mereka melelang manusia seperti barang".
"Apa?!..jadi mereka tidak menutupinya ini..mereka jelas sekali meremehkan kita karena tidak langsung bertindak". Aria sangat marah dengan cara lelang Red Blood. Memang ada satu atau dua organisasi yang melakukan pelelangan manusia tapi itu akan dilakukan dengan sangat tertutup karena kebanyakan organisasi di dunia bawah tidak menyukai adanya perbudakan.
"Benar Aria, saya juga mendapatkan sebuah informasi bahwa Red Blood berencana menguasai seluruh organisasi di dunia bawah dan membuat organisasi tersebut untuk bertekuk lutut di hadapannya".
"Sialan, dia meremehkan kita..lihat saja nanti aku akan pelan-pelan menghancurkan organisasimu Leon". Aria kini sangat marah kepada Leon karena berani-beraninya dia akan melakukan hal tersebut di dunia bawah. "Seharusnya waktu itu aku tidak perlu membawanya ke rumah sakit dan membiarkan saja dia mati di tempat lelang itu". Batin Aria.
"Jelas mereka menganggap organisasi yang lain tidak sebanding dengan dirinya". Louis juga kini sangat marah mendengar rencana Red Blood.
"Tentu saja, tapi mereka terlalu besar kepala, organisasi yang lain juga tidak bisa di remehkan karena mereka juga cukup kuat".
"Kamu benar Aria". Louis setuju dengan ucapan Aria karena memang itu kenyataanya, organisasi lain juga tidak bisa diremehkan apalagi organisasi Black Rose dan organisasi Blood Moon organisasi ini adalah dua organisasi paling berpengaruh dan kuat di dunia bawah.
"Leon, lebih baik sekarang kamu mengawasi Red Blood dan mencari informasi lebih dalam tentang mereka tapi kamu harus tetap berhati-hati apalagi terhadap ketuanya kamu mengerti Leon?". Aria menatap Leon yang ada di hadapannya.
Leon menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti Aria".
"Iya ada, acaranya nanti malam".
"Baiklah aku akan pergi untuk melihat-lihat acaranya seperti apa". Aria memutuskan untuk pergi ke acara lelang tersebut.
"Apa!!, Aria tapi itu berbahaya dan juga bukannya kamu mengenal ketua mereka? Bukannya itu akan berbahaya kalau ketua mereka melihatmu".
"Aku akan berhati-hati dan menyamar, lagipula ketua mereka tidak akan berada disana karena cukup sibuk dengan pekerjaannya yang ada di dunia luar ".
"Kalau gitu aku ikut denganmu". Aria langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku bisa pergi sendiri lagipula aku kan sudah memberi tugas padamu".
"Tapi Aria, kita bisa pergi bersama aku juga bisa mencari informasi sambil menemanimu pergi ke acara lelang".
"Kamu benar tapi aku mau pergi sendiri, karena sebelum ke acara lelang aku mau ke pasar gelap terlebih dulu".
"Begitu ya, baiklah tapi kamu harus tetap berhati-hati dan waspada". Sebenarnya Louis sedikit khawatir pada Aria, dia takut Aria kehilangan kesabaran begitu melihat cara organisasi Red Blood melelang budak di sana.
Aria menganggukkan kepalanya. "Ah iya, Louis bisa tolong kamu bicara pada Hans untuk membuatkan makan siang, aku akan disini sampai malam".
"Kamu akan terus disini, kakakmu bagaimana?". Louis cukup terkejut karena Aria akan seharian penuh di dunia bawah. Biasanya dia akan bulak balik dunia bawah dan dunia luar karena kakaknya.
"Aku akan bicara pada kakak".
__ADS_1
"Baiklah, kamu tunggu disini aku akan memberitahu Hans". Louis keluar dan pergi menuju tempat kerja Hans.
-----------
Javier sudah sampai di kantornya dan segera berjalan menuju ruangan Leon.
Tok tok tok
"Permisi". Javier mengetuk pintu ruangan Leon, biarpun dia tidak menyukai pria itu namun tetap saja sekarang dia masih menjadi atasannya.
"Masuk".
Javier masuk ke ruangan tersebut kemudian dia melihat Leon sedang duduk di meja kerjanya dan di sebelahnya berdiri seorang pria dengan bentuk tubuh atletis dan memakai setelan jas berwarna hitam.
Javier berjalan menuju meja Leon, Javier baru saja akan mengatakan niatnya datang ke ruangan Leon namun kalah cepat dengan Leon.
"Javier, apa Aria baik-baik saja kenapa akhir-akhir ini aku tidak melihatnya kesini". Leon menatap Javier dengan wajah datarnya sambil menanyakan Aria.
"Dia baik-baik saja". Javier terkejut dengan pertanyaan Leon , berarti selama ini dia memata-matai Aria.
"Bagus lah, lalu apa yang membuatmu datang ke ruangan ku apa kamu mau menerima tawaranku waktu itu".
"Tidak, saya kesini mau menyerahkan surat pengunduran diri saya". Javier meletakan surat tersebut di depan Leon.
"Surat pengunduran diri, kenapa?".
"Saya ingin berhenti kerja di perusahaan anda itu saja". Javier masih berusaha tenang saat melihat raut wajah Leon berubah menjadi dingin.
"Begitu ya, apa karena Aria?.. kamu mengundurkan diri supaya aku tidak bisa bertemu dengan Aria lagi". Leon kini tersenyum sinis kepada Javier. "Dengarkan aku baik-baik Javier, meskipun kamu tidak lagi bekerja disini aku masih bisa bertemu dengan Aria di luar sana dan perlu kamu ingat kamu akan menyesal karena telah keluar dari perusahaan saya".
"Saya tidak akan pernah menyesali keputusan saya". Javier masih berusaha tenang dan meyakinkan ucapannya.
"Benarkah .. baik kita lihat saja nanti bagaimana, sekarang kamu boleh keluar dan kalau suatu hari nanti kamu kembali ke sini dan memohon-mohon padaku untuk menerimamu kembali bekerja aku tidak akan pernah mau menerimamu kembali".
"Begitu juga dengan saya, saya tidak akan pernah kembali lagi ke sini". Setelah itu Javier membalikan badannya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Javier...lihat saja aku akan menghancurkan hidupmu itu karena kamu sudah berani melawanku". Tangan Leon kini mengepal keras dan merobek surat pengunduran diri Javier.
Javier menghela nafas lega karena berhasil keluar dari perusahaan tersebut dan saat sedang berjalan menuju cafe di dekat sana ponselnya berbunyi. Javier melihat ponselnya dan tertulis nama Aria di sana.
"Ya Aria ada apa?". Javier mengangkat panggilan dari Aria.
"Kak, sekarang aku lagi main sama teman-temanku dan mungkin akan pulang larut malam".
"Baiklah tapi nanti kamu pulang kakak yang jemput".
"Baiklah nanti aku akan hubungi kakak lagi saat sudah mau pulang".
"Iya, bersenang-senanglah bersama teman-temanmu Aria".
__ADS_1
"Iya kak".
Javier lalu mengakhiri panggilan tersebut dan memasuki cafe yang tadi dia tuju.