Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Javier Pulang


__ADS_3

"Semua musuhku bisa saja melakukan itu tapi aku masih belum punya bukti dan lagi Ana masih belum sadar jadi aku tidak bisa memastikan siapa orang yang mencelakai Ana"


"Bos, apa anda tidak mencurigai Ketua Blood Moon, bukankah dia tidak suka kalau ada organisasi di dunia bawah yang melakukan perbudakan?"


"Ketua Blood Moon?.. dia memang tidak setuju dengan perbudakan dan juga pelelangan tubuh manusia tapi yang aku dengar Ketua Blood Moon sangat sibuk dengan pekerjaannya jadi dia tidak mungkin punya waktu untuk mengurus masalah itu lagipula Ketua Blood Moon tidak ada di sini aku sempat mendengar informasi bahwa dia sedang berada di luar negeri untuk menjalankan bisnisnya" Leon menggeleng pelan, dia bahkan tidak kepikiran Ketua Blood Moon akan ikut campur dalam urusan bisnisnya.


"Itu benar juga, kalau misalkan Ketua Blood Moon ikut campur pasti dari dulu juga bisnis anda tidak akan berkembang dan berjalan" Ferio menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Leon tadi bahwa Ketua Blood Moon tidak akan ikut campur urusan bisnis organisasi mereka.


"Ferio kamu jaga Ana aku mau mencari bukti siapa yang mencelakai Ana dengan tanganku sendiri" ucap Leon dengan nada suara yang sangat dingin.


"Baik bos, anda bisa menyerahkannya pada saya, saya akan menjaga nona Marliana"


"Bagus, sekarang aku akan keluar kalau nanti ada orang yang mau melihat atau menjenguk Ana usir saja orang itu aku tidak mau orang yang mencelakai Ana menyamar menjadi rekan bisnis ku yang mau menjenguk Ana"


"Baik bos akan saya laksanakan" Ferio membungkukkan badannya.


Leon menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu dan menuju mobil yang ada di parkiran rumah sakit tersebut. Leon menaiki mobilnya dan pergi melaju kencang menuju dunia bawah.


_____


Dua hari kemudian Javier sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya karena kondisi Javier sudah semakin baik. Hari ini adalah hari Javier keluar dari rumah sakit.


"Kak, kita pulang ke apartemen dulu lalu nanti kita cari rumah yang sesuai untuk kita" Aria berbicara sambil membereskan beberapa barang yang dia bawa dari apartemen karena Javier sudah sadar Aria jadi tidak pulang ke apartemen dan menginap di rumah sakit untuk menemani kakaknya.


"Kakak ikut saja apa mau mu" ucap Javier sambil membantu Aria.


"Apa aku juga boleh ikut dengan kalian pulang ke apartemen?" Herald bertanya sambil menatap Aria dan juga Javier secara bergantian.


Selama tiga hari ini Herald selalu menemani Aria dan juga Javier di rumah sakit itu bahkan Herald tidak pulang ke rumahnya di dunia bawah.


"Tentu saja boleh dan juga terimakasih sudah menemani kami selama disini" Javier mengucapkan terimakasihnya pada Herald karena sudah meluangkan waktunya untuk menemani mereka berdua.


"kamu tidak perlu berterimakasih" Herald menggeleng pelan.


"Oh iya berapa usiamu sekarang Herald?" Javier bertanya mengenai usia Herald.


"Usiaku sekarang tiga puluh tahun" ucap Herald sambil tersenyum


"Tiga puluh ya berarti beda lima tahun dengan Aria, Aria sekarang baru genap dua puluh lima tahun"

__ADS_1


"Kenapa jadi aku, kan kakak yang bertanya mengenai usia kenapa jadi membedakannya dengan usiaku" Aria yang sudah selesai beres-beres menatap Javier.


"Tidak ada kakak hanya mau mengetahui umur kalian selisih berapa tahun" ucap Javier enteng.


"Kakak sedang berpikiran yang aneh-aneh bukan?" Aria menatap tajam pada Javier.


"Tidak, kakak tidak berpikiran yang aneh-aneh kakak kan sudah bilang kakak hanya mau mengetahui selisih umur kalian berapa"


"Sudahlah Aria kakakmu kan hanya ingin mengetahui selisih umur kita, oh iya berapa umurmu?" Herald balik tanya pada Javier.


"Usiaku hanya beda tiga tahun dari Aria"


"Dua puluh delapan tahun? Kalau begitu kamu lebih muda dua tahun dariku?" Herald sedikit terkejut dengan usia Javier, Herald pikir Javier dan dirinya seumuran karena Javier terlihat lebih dewasa dari segi pikiran dan juga sikapnya.


"Benar, aku lebih muda dua tahun darimu" ucap Javier santai.


"Kenapa kalian malah membahas usia, itu tidak penting" Aria tidak mengerti kenapa Herald dan juga kakaknya malah membahas tentang usia.


Javier menyentil pelan dahi Aria "Kamu tidak sopan memotong pembicaraan orang"


"Aduh kak, aku kan hanya bertanya" ucap Aria sambil memegang dahinya yang tadi kena sentil oleh Javier.


"Aku mengerti" ucap Aria sedikit enggan.


Javier hanya menghela nafas pelan sementara Herald dia tertawa kecil melihat tingkah Aria di depan kakaknya "Ini adalah Aria yang aku kenal dulu" batin Herald.


"Ya sudah kamu sudah selesai kan ayo kita pulang aku sudah tidak betah tinggal di sini" ucap Javier sambil membawa satu tas besar di tangannya lalu keluar dari ruangan itu.


"Biar aku yang bawa" Herald melihat Aria memegang satu tas besar yang tersisa dan langsung mengambilnya dari tangan Aria.


"Ayo pergi, kakakmu kelihatanya sudah tidak suka lagi lama-lama berada di sini" ucap Herald sambil tersenyum lembut pada Aria.


"Bukan kelihatanya tapi memang kakak tidak mau lagi berada di sini, ya sudah ayo pergi"


Aria serta Herald menyusul Javier yang sudah keluar dari ruangan itu dan sedang menunggu di depan. Setelah melihat Aria dan juga Herald, Javier lalu mengajak mereka berdua untuk segera pergi dari rumah sakit tersebut.


_____


"Kak, aku mau ke kamar dulu"

__ADS_1


Sampai di apartemen Aria langsung menuju kamarnya untuk sekedar membaringkan tubuhnya karena hari itu entah mengapa tubuh Aria sangat lemas dan lelah.


Baru beberapa detik Aria membaringkan tubuhnya ponsel yang ada di dalam tasnya berbunyi. Aria mengambil ponsel itu lalu menjawab panggilan tersebut.


"Ya Louis ada apa?"


"Aria, apa kamu masih ingat pria yang waktu itu datang ke sini untuk menemuimu?"


"Maksudmu Giovanni?"


"Benar, pria itu tiap hari datang ke sini untuk menemuimu meskipun aku sudah mengusirnya beberapa kali bahkan aku juga menggunakan kekerasan padanya saat mengusirnya kemarin karena dia membuatku kesal dan tidak mendengarkan ku, pria itu sangat keras kepala"


"Dia terus datang ke sana?" Aria tidak menyangka Giovanni akan senekat itu meskipun selalu di usir tapi dia tidak menyerah "Dia membuat masalah baru lagi" Aria memijit keningnya.


"Benar, pria itu selalu datang ke sini, sekarang bagaimana Aria, apa yang harus aku lakukan kalau pria itu datang lagi?"


"Diamkan saja dia jangan biarkan masuk nanti juga dia akan pergi sendiri aku masih ada urusan di sini jadi belum bisa ke sana untuk mengurusnya aku juga belum melihatnya di dunia luar"


"Baiklah aku akan menuruti perintahmu, oh ya Aria bagaimana keadaan kakak mu aku dengar dia sudah sembuh"


"Kakak sudah sembuh, hari ini aku dan kakak baru pulang dari rumah sakit"


"Syukurlah kakakmu sudah sembuh kembali aku ikut senang mendengarnya"


"Terimakasih Louis aku juga senang dan bahagia kakak bisa bangun dari komanya bahkan sampai sekarang aku masih tidak percaya kakak sudah ada di depan mataku dengan kondisi yang sangat baik dan mengajakku berbicara" Aria masih tidak menyangka Javier yang kemarin masih terbaring koma kini dia sudah kembali segar bugar dan baik-baik saja seakan yang kemarin terbaring itu bukan dirinya.


"Berbahagialah Aria dan habiskan waktu sebanyak mungkin dengan kakakmu biar urusan di dunia bawah aku yang akan membantumu untuk mengurusnya"


"Baiklah terimakasih Louis, aku titip dulu urusan di dunia bawah padamu kalau misalkan ada masalah kamu bisa langsung menghubungiku"


"Tentu saja Aria, kalau begitu selamat bersenang-senang dengan kakakmu kamu juga butuh itu"


"Tentu, kamu juga jangan terlalu memaksakan dirimu istirahatlah yang cukup"


"Tentu akan aku lakukan"


Setelah mendengar itu Aria lalu mengakhiri panggilan tersebut dan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Giovanni, kamu tidak membantuku sama sekali yang kamu lakukan sekarang justru membuat masalah baru untukku, aku akan mengurusmu nanti" gumam Aria.

__ADS_1


__ADS_2