
Aria kemudian tertidur saat Giovanni menggendongnya Giovanni melihat Aria dan Giovanni menemukan Aria sedang tertidur pulas Giovanni hanya tersenyum lembut lalu menggeleng pelan dan segera menuju mobilnya.
Giovanni lalu meletakan Aria dengan sangat hati-hati di dalam mobilnya karena takut Aria akan terbangun tidak lupa Giovanni memakaikan sabuk pengaman pada Aria juga memposisikan kursi mobilnya sedikit ke belakang supaya Aria bisa tidur lebih nyaman.
Giovanni lalu berjalan ke kursi pengemudi kemudian langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Tidak lama kemudian Giovanni sampai di rumah sakit tersebut lalu meminta petugas medis untuk segera membantu Aria dan memeriksa kondisinya.
Aria lalu dibawa ke ruangan yang berbeda dengan Javier Aria langsung diperiksa setelah tiba di ruangan UGD tersebut.
Giovanni kemudian pergi ke ruangan pria paruh baya terlebih dahulu untuk meminta keterangan dan informasi serta kronologi kejadian yang menimpanya dan menimpa Aria serta kakaknya.
Giovanni memasuki ruangan tempat pria paruh baya tersebut dirawat Giovanni melihat pria paruh baya itu sudah diobati dan sedang berbaring lalu Giovanni mendekati pria paruh baya tersebut.
"Pak, bagaimana keadaan anda?" Giovanni menyapa pria paruh baya tersebut.
"Saya sudah lebih baik"
"Baiklah maaf mengganggu waktu istirahat bapak saya mau bertanya tentang apa saja yang terjadi" Giovanni membungkukkan badannya untuk meminta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat pria paruh baya tersebut.
"Tidak apa saya juga berharap pelaku bisa segera di temukan"
"Baiklah silahkan bapak bercerita saya akan mendengarkan" Giovanni lalu mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidur pria paruh baya tersebut.
"Saat itu sekitar jam tiga pagi saya mendengar suara berisik di gedung kosong tersebut lalu saya memberanikan diri untuk mengeceknya dan saat saya melihat ke dalam gedung melalui jendela saya melihat beberapa orang sedang memukuli seorang pria saya tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena gelap dan juga lampu disana tidak terlalu terang lalu saya memutuskan untuk melapor polisi tapi sayangnya ponsel saya malah berbunyi dan saya ketahuan oleh mereka". Pria paruh baya tersebut lalu menghela nafas pelan
"Saya berlari menuju gang dekat toko terbengkalai dan ada dua orang yang mengejar saya, saya bersembunyi di dalam toko terbengkalai tersebut tapi mereka berdua menemukan saya dan saya ditarik keluar dari toko tersebut kemudian saya dipukuli dan mereka menusuk perut saya menggunakan pisau lalu saat itu juga saya langsung terduduk lemas saya melihat mereka tertawa lalu meninggalkan saya disana"
Giovanni menganggukkan kepalanya "Lalu bagaimana anda bisa bisa bertemu dengan nona tadi?"
"Waktu mereka meninggalkan saya, saya berniat untuk menelepon polisi tapi saat itu saya keburu tidak sadarkan diri lalu waktu saya membuka mata saya karena merasa ada yang memanggil saya dan menepuk-nepuk wajah saya, saya melihat nona tadi katanya nona itu sedang mencari kakaknya"
"Aria sedang mencari kakaknya yang hilang tapi dia tidak melapor orang hilang ke polisi apa kakaknya itu menghilang belum dua puluh empat jam" Giovanni memikirkan Aria yang kebetulan sekali lewat gang tersebut.
Pria paruh baya itu kemudian melanjutkan ceritanya "Nona itu menanyakan keadaan saya kemudian saya menyuruhnya untuk memeriksa gedung kosong tersebut awalnya nona itu akan membawa saya ke rumah sakit terlebih dahulu namun saya yang memintanya untuk segera pergi memeriksa gedung tersebut nona itu bersedia memeriksa gedung kosong tersebut dan akan segera kembali tapi sampai ambulance dan polisi datang nona itu tidak juga kembali makannya saya meminta anda untuk segera memeriksa gedung kosong tersebut takut nona itu kenapa-napa"
Pria paruh baya itu kemudian melirik Giovanni "Apa nona itu baik-baik saja?"
"Ya dia baik-baik saja" Giovanni mengangguk pelan
"Saya lega mendengarnya .." pria paruh baya itu merasa lega karena Aria tidak kenapa-napa.
"Apa anda mengenal nona tadi?"
"Saya tidak mengenalnya saya juga baru pertama kali melihatnya"
"Baiklah kalau begitu anda istirahat dulu disini sampai sembuh dan di depan juga akan ada yang menjaga anda jadi anda tidak perlu khawatir"
"Baiklah terimakasih pak"
__ADS_1
Giovanni mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan tersebut.
Giovanni berjalan kearah UGD tempat Javier di bawa tadi lalu Giovanni bertanya pada anak buahnya yang sedang berjaga di depan pintu UGD tersebut.
"Bagaimana keadaanya?"
"Korban masih di tangani oleh dokter dan kita masih belum tau keadaanya dokter hanya meminta untuk menunggu"
"Baiklah kalian tetap disini aku akan pergi sebentar"
"Baik pak.."
Giovanni lalu berjalan menuju UGD tempat Aria tadi di periksa namun Aria sudah di pindahkan dari sana ke ruang rawat karena sudah selesai di tangani.
Giovanni lalu berjalan kearah ruangan tempat Aria di rawat "Nona boleh saya masuk?" Giovanni mengetuk pintu ruangan Aria
"Masuklah.."
Setelah mendapat jawaban Giovanni lalu masuk dan dia melihat Aria sedang duduk sambil melamun di atas tempat tidur pasien Giovanni lalu menghampiri Aria.
"Nona bagaimana keadaan anda?"
"Saya baik-baik saja hanya sedikit kelelahan, saya mau bertemu kakak saya bagaimana keadaannya apa dia baik-baik saja?" Aria tidak melihat Giovanni Aria hanya menatap kosong ke depan.
"Syukurlah anda baik-baik saja, kakak anda masih di tangani oleh dokter nanti saat dokter sudah selesai menangani kakak anda saya akan segera memberitahu kondisi kakak anda"
"Apa saya boleh menunggunya di depan ruangannya"
"Sudah saya bilang saya baik-baik saja" Aria lalu berniat untuk turun dari tempat tidur namun saat kakinya menyentuh lantai Aria segera melihat perban yang melilit kakinya.
"Sepertinya kaki anda terluka" Giovanni melihat kedua kaki Aria yang di perban.
"Mungkin karena saya terlalu banyak berlari dan kulit kaki saya tergores sepatu yang saya kenakan" Aria melihat kedua kakinya dengan tatapan kosong.
"Nona apa saya boleh bertanya kenapa anda bisa kebetulan ada disana?"
Aria kemudian menatap Giovanni, Giovanni menatap mata Aria dan Giovanni segera merasakan sakit di dadanya melihat tatapan itu "Ada apa denganku?"
Giovanni sekarang melihat tatapan Aria yang mengandung emosi takut marah juga sedih tumpang tindih di dalam tatapan itu meskipun orang lain akan melihat tatapan mata Aria datar atau kosong tapi Giovanni melihat jelas emosi di mata Aria.
"Saya sedang mencari kakak saya karena tidak bisa dihubungi dan terakhir kali saya menghubungi kakak adalah siang tadi di dekat perusahaan teknologi tersebut" Aria menjawab pertanyaan Javier sambil masih menatapnya.
"Lalu kenapa anda tidak segera melapor ke polisi?"
"Saya waktu itu ada urusan sampai tengah malam dan kakak sudah berjanji akan menjemput saya lalu saat saya menghubunginya untuk minta di jemput kakak tidak menjawab panggilan saya lalu saya langsung pulang dan berpikir mungkin kakak ketiduran tapi saya tidak menemukan kakak saya, saya tidak melapor karena belum dua puluh empat jam kakak menghilang dan pastinya polisi tidak akan mengambil tindakan jadi saya memutuskan untuk mencarinya sendiri"
"Nona tenanglah.." Melihat emosi di mata Aria terlihat akan meledak keluar membuat Giovanni spontan menenangkan Aria Giovanni merasa takut kalau sampai emosi tersebut meledak keluar Giovanni tidak tau kenapa dia merasa takut seperti itu kalau sampai emosi Aria meledak keluar.
"Aku baik-baik saja anda tidak perlu menenangkanku aku hanya sedikit marah pada diriku sendiri karena tidak segera menemukan kakak"
__ADS_1
"Nona itu bukan salah anda lagipula anda kan berhasil menemukan kakak anda"
"Aku berlari ke berbagai toko di daerah sana yang masih buka juga mendatangi setiap gang kecil yang ada di sana berharap kakak segera ku temukan sampai aku tidak peduli dengan tubuhku yang sangat kelelahan karena terus berlari kesana kemari berharap kakak tidak apa-apa tapi apa hasilnya kakak terluka sangat parah dan aku tidak tau siapa orang yang membuat kakak seperti itu bagaimana aku bisa tenang". Aria mengepalkan tangannya dengan keras
"Kakak pasti sangat kesakitan dan aku malah berlari kesana kemari tidak tau kakak dimana aku.. aku merasa bersalah pada kakak" Aria mengeluarkan semua perasaan yang Aria pendam Aria bahkan tidak peduli Giovanni mendengarnya atau tidak.
"Nona jangan salahkan diri anda sendiri anda kan sudah berusaha mencari keberadaan kakak anda" Giovanni terkejut saat Aria mengatakan dia berlari ke berbagai toko dan gang yang ada di daerah A "Pantas saja kakinya terluka ternyata disebabkan karena dia terlalu banyak berlari" Batin Giovanni
"Hey pak bagaimana saya tidak menyalahkan diri saya sendiri saat melihat satu-satunya orang yang saya sayangi di dunia ini tergeletak sambil bersimbah darah dan terluka parah, anda tau pak saat melihat itu saya merasa itu adalah titik terendah dalam hidup saya, Saya bahkan tidak bisa berpikir jernih dan saat itu saya langsung menyalahkan diri saya kenapa waktu itu saya pergi andaikan saya tidak pergi mungkin kakak ada di rumah dan baik-baik saja sampai sekarang". Aria kini meneteskan air matanya mengingat kejadian saat Aria menemukan Javier
Giovanni yang melihat Aria menangis merasa sesak di dadanya lalu Giovanni berdiri dan memeluk Aria untuk menenangkannya.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja anda sudah menemukan kakak anda dan juga sekarang kakak anda sedang di tangani oleh dokter pasti kakak anda akan baik-baik saja" Giovanni menepuk-nepuk pelan pundak Aria.
"Tentu saja kakak harus baik-baik saja, kakak sudah berjanji akan selalu bersama saya"
Aria kemudian menenangkan dirinya dan tidak ingin larut dalam perasaan sedih tersebut "Saya sudah lebih baik jadi anda bisa melepaskan pelukan anda"
Giovanni lalu segera melepaskan pelukannya dan meminta maaf karena sudah memeluk Aria tanpa ijin.
"Saya akan segera menangkap pelaku yang membuat kakak anda menjadi seperti itu"
"Semoga berhasil pak" Aria kini kembali dengan wajah tanpa ekspresinya dan memendam semua emosinya dalam-dalam.
Giovanni tentu saja melihat emosi tersebut di mata Aria lalu Giovanni menghela nafas pelan "Apa anda tidak percaya pada kami?"
"Saya hanya tidak berharap banyak" Aria segera menyadari pelaku yang menyiksa Javier pasti bukan dari dunia luar melainkan dunia bawah atau bisa jadi Leon yang melakukannya karena tidak terima Javier keluar dari perusahaannya
"Leon.. lihat saja nanti kalau aku menemukan bukti yang mengarah padamu akan ku hancurkan kamu"
"Baiklah itu terserah anda mau percaya kami atau tidak tapi yang jelas kami akan berusaha untuk mencari pelakunya".
Aria hanya terdiam menanggapi perkataan Giovanni lalu kemudian Aria menatap Giovanni "Bisakah anda membantu saya untuk bertemu kakak saya ingin melihat keadaan kakak sekarang juga, saya juga tidak bisa beristirahat dengan tenang sebelum melihat kondisi kakak saya"
Giovanni terlihat berpikir sebentar kemudian menganggukkan kepalanya "Baik saya akan membantu anda". Giovanni kemudian berjalan keluar ruangan dan tidak lama kemudian Giovanni membawa sebuah kursi roda
"Akan saya bantu anda untuk menaikinya" Giovanni lalu membantu Aria berdiri dan duduk di kursi roda tersebut.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu Giovanni mendorong kursi roda Aria kearah ruangan UGD tempat Javier di tangani.
Mereka lalu tiba di depan ruangan tersebut dan kebetulan dokter yang menangani Javier baru saja keluar dari ruangan.
"Dokter bagaimana keadaan kakak saya?" Aria langsung menanyai dokter tersebut begitu dokter itu keluar.
"Apa anda keluarga pasien?"
"Ya saya keluarganya"
Dokter tersebut menghela nafas pelan kemudian menjelaskan kondisi Javier.
__ADS_1
"Pasien sudah berhasil melewati masa kritis namun sekarang pasien dalam keadaan koma"
"Koma.."