Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Berbagai Macam Emosi


__ADS_3

"Maaf Pak Leon, tapi saya tidak bisa menerima tawaran anda" Javier menggeleng pelan menjawab penawaran yang diberikan oleh Leon.


Leon kini terlihat emosi, dari yang awal wajahnya masih datar-datar saja, sekarang terlihat dari wajahnya, Leon tidak terlalu senang dengan jawaban yang diberikan Javier.


"Kenapa kamu menolak tawaran bagus dari saya Javier?" Leon menatap tajam kearah Javier, Leon mengira Javier akan menerima tawarannya karena Javier terlihat sudah tidak emosi seperti tadi.


"Mungkin menurut anda itu tawaran yang bagus, tapi bagi saya tidak, saya tidak bisa menukarkan adik saya, satu-satunya orang yang saya sayangi di dunia ini dengan jabatan atau apapun itu" timpal Javier.


Javier tentu saja tidak bisa memberikan Aria pada Leon, apalagi Javier sudah mendengar desas desus bahwa Leon adalah seorang Mafia, Javier tentu tidak akan memberikan Aria kepada seseorang seperti Leon.


"Bagaimana jika nanti adikmu sendiri yang berlari kepelukanku dan mengatakan dia mencintaiku, apakah kamu masih tidak mau memberikannya padaku?" tanya Leon, Leon tentu saja tidak mau melepaskan Aria, Menurutnya wanita itu terlihat sangat menarik dan punya banyak rahasia.


"Saya tidak yakin Aria akan seperti itu, tapi jika memang benar nanti Aria sendiri yang akan memilih anda, saya akan mempertimbangkannya" Javier sangat yakin Aria bukan gadis seperti itu, Aria bukan tipe gadis yang langsung menyandarkan kepalanya pada pria yang mendekatinya.


"Baiklah, aku akan ingat kata-katamu Javier"


Javier lalu berdiri dan berniat untuk segera pergi dari sana karena sudah sejak tadi menahan emosinya, Javier tidak mau kehilangan kendali dan dipecat dari pekerjaannya.


"Tawaran untuk menaikan jabatan masih berlaku dan kamu tidak perlu memberikan Aria padaku karena aku sendiri yang akan membuat dia jatuh pada pelukanku, kalau kamu mau jabatan itu, aku bisa memberikannya" ucap Leon yang melihat Javier akan pergi dari ruangannya.


Javier yang sudah berbalik dan melangkah pergi kini berhenti melangkahkan kakinya dan menengok kearah Leon yang sedang duduk santai dengan wajah datarnya seolah-olah hal yang dia katakan adalah hal yang wajar, Melihat itu Javier kembali emosi namun dia dengan cepat menyembunyikannya, mau bagaimanapun Leon masih tetap atasannya.


"Terimakasih, tapi itu tidak perlu" Javier kemudian melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan itu.


Setelah Javier sudah pergi dari ruangannya, Leon memukul meja yang terbuat dari kaca di sebelahnya sampai hancur berkeping-keping, dari raut wajahnya, Leon terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Awas saja kamu Javier, beraninya kamu menolak tawaranku" Kini wajah Leon terlihat sangat menyeramkan, Leon lalu tiba-tiba tersenyum dan menyeringai, "Aku akan mendapatkan adikmu dalam waktu dekat, Dia pasti sudah jatuh cinta padaku karena aku menyelamatkannya waktu itu, dan juga tidak ada perempuan yang berani menolakku, mereka semua pasti akan tunduk padaku" Leon menatap tajam kearah tangannya yang berlumuran darah karena terkena serpihan kaca dari meja yang tadi dia pukul.


Sedangkan Javier yang sudah kembali ke ruangannya, dia segera duduk di sofa dan menenangkan dirinya, "Kenapa Leon harus mengincar Aria, padahal masih banyak wanita cantik lainnya yang sengaja mendekatinya, kenapa dia malah memilih Aria?, ini bukan hal baik" Javier menjambak rambutnya sendiri dan menyalahkan dirinya karena sudah membiarkan Aria pergi ke perusahaannya dan bertemu dengan Leon, Javier mengira Leon tertarik saat pertamakali bertemu dengan Aria di perusahaannya waktu Aria datang untuk mengantarkan makan siang, tapi Javier tidak tau kalau sebelumnya mereka sudah pernah bertemu, yaitu saat diacara Lelang.


"Aria, kakak akan selalu melindungimu apapun yang terjadi, Kakak berjanji" batin Javier, Kini terlihat dari tatapan matanya Javier bertekad untuk tidak membiarkan hal buruk apapun terjadi pada Aria, Javier kemudian mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya, setelah agak sedikit tenang, Javier lalu melanjutkan pekerjaannya dan untuk sementara waktu melupakan kejadian tadi.


_____


Aria kini sedang berada diatas jembatan di taman dekat laut, Aria menatap kearah laut yang terbentang luas di hadapannya, Angin berhembus menerpa wajahnya yang tidak berekspresi, rambut panjangnya berkibar tertiup angin, menambah kecantikan wanita tersebut, bahkan orang-orang yang ada di sana tidak henti-hentinya melirik kearah Aria.


Aria tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya dan terus menatap lautan yang tenang, "Aku tidak bisa terus bersantai seperti ini, Aku harus mencari organisasi yang sudah membakar rumahku, tapi aku tidak mempunyai petunjuk apa-apa, bagaimana aku akan mencarinya" Aria larut dalam pikirannya.


"Apa aku tanya kakak ya, siap tau kakak punya bukti dan sudah mencurigai seseorang tapi tidak memberitahuku, baiklah, nanti aku akan tanya pada kakak sekalian membawakan makan siang" batin Aria.


_____


Giovanni lalu mengeluarkan buku sketsa kecil berukurang kurang lebih sebesar telapak tangannya dari saku kemejanya dan juga sebuah pensil, Giovanni lalu bergegas menggambar pemandangan laut dan juga langit sebelum berubah, Tidak butuh waktu lama, Giovanni sudah selesai dengan gambarnya, Diatas kertas tersebut, Giovanni hanya menggambar laut yang luas dan beberapa awan serta burung, tapi walaupun hanya itu yang dia gambar, hasilnya sangat menakjubkan, Gambar yang Giovanni buat sangat detail dan juga gambar itu terlihat seperti hidup.


Puas dengan gambarnya, Giovanni lalu memandang sekitaran laut sana dan ketika matanya beralih ke sebelah kirinya, Giovanni melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang berkibar tertiup angin, itu membuat Giovanni seperti melihat lukisan yang berubah menjadi nyata, Namun menurut Giovanni, ada yang aneh dengan wanita itu, meskipun terlihat dari wajahnya yang tidak membuat ekspresi apapun, tapi Giovanni bisa melihat emosi di matanya.


"Ada apa dengan wanita itu?, kenapa sorot matanya begitu tumpang tindih seperti sedih tapi bahagia, marah tapi tidak dan juga benci tapi lelah, Ini... aku tidak bisa mengartikannya karena emosi yang tumpang tindih seperti itu" Giovanni kebingungan saat melihat wanita yang ada di hadapannya itu.


Giovanni memiliki kemampuan bisa membaca emosi seseorang lewat matanya, kemampuan Giovanni ini sudah ada sejak kecil dan dengan kemampuan yang dia milikinya, Giovanni mengambil keputusan untuk bekerja sebagai polisi, Awalnya Giovanni hanya berprofesi sebagai polisi, namun berkat kepintaran dan kecerdikannya, Giovanni bisa menyelesaikan berbagai teka-teki dan juga kejanggalan dibalik terbunuhnya seseorang, itu juga yang membuatnya ingin menjadi detektif karena bisa membantu orang-orang.


Tapi Giovani tidak pernah melihat orang dengan banyak emosi yang tumpang tindih seperti wanita itu, itu sebabnya dia merasa kebingungan, Giovanni tidak menyadari tangannya bergerak sendiri dan menggambar wanita tersebut.

__ADS_1


"Eh?, apa ini?, kenapa aku menggambar wanita itu?, Haishh.. Ini akan jadi masalah karena aku sudah menggambar seseorang tanpa ijin, lebih baik aku menghampirinya dan meminta ijin padanya meskipun sudah terlambat" Giovanni merasa heran karena tangannya itu bergerak sendiri dan saat Giovanni sadar, tangannya itu sudah selesai menggambar wanita tersebut.


"Permisi nona" Giovanni sekarang sudah berada di samping wanita itu, wanita itu menoleh kearah sumber suara dan melihat seorang pria sedang berdiri di sampingnya, Wanita yang Giovanni hampiri tidak lain dan tidak bukan adalah Aria.


Saat sudah berada di depan Aria, Giovanni bisa melihat jelas emosi yang tumpang tindih dimata Aria, "Eh?, ekhemm.. itu nona, maafkan saya karena sudah menggambar anda tanpa ijin" Giovanni terlihat gugup karena dia memang salah sudah menggambar seseorang tanpa ijin.


"Maksud anda?" Aria tidak mengerti perkataan Giovanni yang tiba-tiba datang lalu meminta maaf.


Giovanni lalu menunjukan buku sketsa yang berisikan gambar wajah seorang wanita cantik, Aria lalu menyadari gambar itu adalah gambar dirinya dan segera mengerti kenapa pria di hadapannya ini minta maaf.


"Nona, tanpa sadar saya sudah menggambar anda tanpa ijin, karena itu saya mau memberikan ini pada anda dan saya juga tidak mempunyai gambar anda yang lain, anda bisa melihatnya di buku sketsa saya ini" Giovanni memberikan buku itu pada Aria dan Aria mengambilnya lalu melihat-lihat buku sketsa tersebut.


Awalnya Aria melihat gambar wajahnya, Aria sedikit kagum karena ternyata gambar itu sangat detail dan juga sangat mirip seperti bukan dibuat dengan menggambar tapi hasil dari memotretnya, Lalu Aria membalikan kertas selanjutnya dan Aria melihat gambar pemandangan yang sangat cantik meskipun hanya ada laut, awan dan beberapa burung-burung, Aria lalu membalik lagi halamannya dan disana kosong, tidak ada gambar apapun lalu Aria terus membalikan halamannya dan semua sama saja tidak ada gambar apapun selain dua gambar tadi, itu artinya pria tersebut tidak berbohong.


Aria lalu memberikan buku sketsa itu kembali pada Giovanni, Giovanni bingung karena Aria tidak mengambil sketsa yang ada gambar dirinya.


"Nona, kenapa anda tidak mengambil gambar anda?, saya kan sudah menggambar anda tanpa ijin?" tanya Giovanni.


"Sudahlah, itu untuk anda saja, lagipula gambarnya cukup bagus, jadi aku tidak keberatan" timpal Aria.


"Ah... kalau begitu, terimakasih nona, saya akan menyimpan gambar ini"


Aria hanya menganggukkan kepalanya lalu berbalik dan melangkah pergi dari sana, Giovanni yang melihat Aria pergi sebenarnya masih ingin menanyakan sesuatu, namun karena Aria sudah mengakhiri percakapan itu, Giovanni tidak bisa mengajaknya bicara lagi, Aria juga langsung pergi dari jembatan itu.


Giovanni terus melihat punggung Aria sampai punggung itu tidak terlihat lagi, kemudian Giovanni bergumam pelan, "Bagaimana bisa ada seseorang yang hidup dengan memiliki berbagai macam emosi yang tumpang tindih lalu memendamnya dalam-dalam, Sepertinya itu Menyakitkan" Giovanni merasa takjub kepada Aria karena bisa hidup dengan memendam dalam-dalam emosi yang tumpang tindih seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2