
"Hans panggilkan Victor kesini" Aria sekarang sudah berada di ruang utama mansionnya dan sedang duduk diatas sofa sedangkan Louis duduk di sofa yang ada di hadapan Aria.
"Baik nona akan saya panggilkan" Hans lalu melangkahkan kakinya untuk segera memanggil Victor.
"Aria kenapa kamu memanggil Victor?" Louis yang berada di depan Aria penasaran kenapa Aria memanggul Victor sedangkan mereka berdua tidak terluka atau sakit.
"Aku mau menanyakan keadaan Grace"
"Ah..ku pikir kamu sakit atau terluka" Louis hampir lupa ada Grace yang sedang di rawat di mansion itu.
Tidak lama kemudian Hans datang bersama Victor ke ruang utama "Apa anda memanggil saya nona?" Victor langsung membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Aria.
"Benar, Victor bagaimana keadaan Grace apa ada kemajuan?"
Victor menggeleng pelan "Nona Grace masih seperti saat dia kesini tidak ada perubahan apapun tapi untungnya dia tidak melakukan hal-hal nekat lainnya. Biasanya mereka yang nasibnya seperti nona Grace berpikiran untuk langsung mengakhiri hidup mereka sendiri" Victor mengatakan itu dengan raut wajah sedih mungkin Victor teringat akan putrinya yang bernasib sama seperti Grace.
"Baiklah terimakasih Victor kamu sudah bekerja keras aku mengandalkanmu bisakah kamu terus merawat Grace?" Aria menatap Victor yang ada di hadapannya.
"Nona tidak perlu berterimakasih pada saya ini sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter nona bisa mengandalkan saya, saya akan merawat nona Grace saya harap akan ada keajaiban dan nona Grace bisa sembuh"
"Aku juga berharap seperti itu, kamu bisa kembali ke pekerjaanmu Victor" Aria menyuruh Victor untuk kembali karena sudah tidak ada lagi yang mau Aria tanyakan.
"Baik nona saya permisi" Victor melangkahkan kakinya dari ruang utama menuju ruang kesehatan tempat dia bekerja.
"Hans kamu juga bisa kembali bekerja" Aria melirik Hans yang ada di samping kirinya.
"Baik nona kalau begitu saya permisi" Hans juga meninggalkan ruang utama dan melakukan pekerjaannya.
"Louis apa gedung lelang Red Blood buka setiap malam?" Aria bertanya pada Louis yang sedang duduk di hadapannya.
"Gedung itu buka setiap malam karena setiap harinya ada saja orang-orang yang membeli barang yang mereka lelang makannya gedung itu mengadakan lelang setiap malam"
"Ternyata di dunia bawah juga masih ada yang mendukung perbudakan" Aria tersenyum sinis mendengar hal itu
"Aria apa kamu tidak akan mempertimbangkan lagi untuk menyerang Red Blood maksudku Red Blood organisasi yang tidak bisa dianggap remeh" Louis khawatir Aria akan terluka jika menyerang saat acara lelang berlangsung.
"Aku tau makannya aku tidak akan bermain-main aku sudah memutuskan hal ini jadi aku tetap akan kesana walaupun itu tanpa kamu" Aria menatap Louis yang terlihat sedikit cemas.
"Baiklah aku ikut kamu aku tidak mungkin membiarkanmu menyerang sendirian" Louis memantapkan hatinya untuk ikut penyerangan tersebut masalahnya kalau Aria sendirian Louis takut Aria tidak bisa menahan emosinya dan lepas kendali lagi.
Aria menyembunyikan beberapa belati kecil dan juga dua buah pistol di balik jaket hitamnya tidak lupa Aria memakai topeng untuk menutupi wajahnya kali ini Aria memakai topeng berwarna merah darah.
Malam ini Aria akan pergi ke acara lelang Red Blood dan akan menyerangnya saat acara lelang dimulai.
Aria lalu keluar dari ruangan tempat pakaian Aria yang ada di mansion itu dan melihat Louis sudah menunggunya di depan pintu ruangan tersebut.
__ADS_1
"Apa sudah siap?" Louis bertanya pada Aria yang baru saja keluar dari ruang pakaian.
"Aku sudah siap, pakai ini.." Aria memberikan topeng merah darah untuk menutupi wajah Louis.
Louis menerima topeng tersebut lalu memakainya. Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju pintu keluar mansion tersebut.
Mereka berdua lalu memasuki sebuah mobil mewah hitam yang terparkir disana Louis menaiki kursi pengemudi sementara Aria duduk di kursi sebelahnya.
Louis lalu menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju gedung lelang milik Red Blood.
Sekitar empat puluh menit kemudian mereka berdua tiba di depan sebuah gedung mewah. Louis memarkirkan mobilnya lalu setelah itu keluar dari mobil bersamaan dengan Aria.
"Ayo masuk.." Aria mengajak Louis untuk segera memasuki gedung lelang tersebut.
Setelah membayar untuk masuk ke tempat Lelang dan mendapat kartu VIP mereka berdua lalu memasuki tempat lelang dan diarahkan ke ruangan mereka berdua oleh panitia lelang yang ada disana.
"Ternyata tamunya sudah banyak yang datang" Aria melihat tempat lelang tersebut mulai penuh dengan tamu-tamu yang sudah berdatangan.
"Kamu benar, bagaimana dengan tamu tersebut apa yang akan kamu lakukan?" Louis menatap Aria yang kini tengah duduk di kursi sebelah kanannya.
"Mereka akan keluar dengan sendirinya begitu terjadi keributan disini dan kalaupun ada yang mati aku juga tidak peduli karena mereka adalah pembeli budak dan mendukung perbudakan jadi mereka memang pantas mati" Aria mengatakan hal itu dengan nada yang sangat dingin.
Louis yang mendengar hal itu setuju dengan Aria karena Louis juga tidak menyukai adanya perbudakan.
Tidak lama kemudian kursi-kursi sudah terisi semua dan panitia lelang akan segera memulai lelang mereka.
Dorrr!!!
Belum sempat panitia tersebut menyelesaikan kata-katanya panitia itu sekarang sudah tergeletak tidak bernafas lagi di atas panggung karena luka tembak yang ada di kepala.
Melihat panitia tersebut tergeletak dan mengeluarkan darah dari kepalanya tamu-tamu yang ada di acara lelang tersebut langsung berteriak.
"Apa yang terjadi!!!"
"Apa ada penyusup"
Dorr!! Dorrr!!
Tidak lama kemudian terdengar bunyi suara tembakan dari atas dan seketika itu juga rekan wanita yang ada di sebelah panitia tadi juga tergeletak tidak bernafas karena luka tembak di kepala dan dadanya.
Melihat itu semua tamu yang ada di sana menjerit histeris dan langsung berlarian ke arah pintu keluar.
Melihat ada penyerangan di acara lelang puluhan orang yang bertugas menjaga lelang tersebut langsung mencari pelaku begitu pula dengan penjaga yang ada di luar tempat lelang, mereka juga langsung masuk ke tempat lelang tersebut begitu mendengar keributan dan melihat tamu-tamu yang berlarian keluar dengan ekspresi ketakutan.
Aria dan Louis kini berpencar lalu bersembunyi sambil terus menembak para anggota Red Blood yang ada di bawah sana karena Aria dan Louis sekarang berada di lantai dua dan juga ruangan VIP mereka terletak di lantai dua jadi memudahkan mereka untuk melihat ke bawah sambil bersembunyi.
Satu persatu anggota Red Blood terbunuh di tangan Aria maupun Louis karena mereka berdua belum ketahuan.
__ADS_1
"Siapa kalian kenapa menyerang kami apa kalian tidak tau kami siapa" salah satu dari anggota Red Blood berteriak kencang karena tidak kunjung juga menemukan pelaku penembakan.
"Hey kalian semua cepat berpencar dan temukan penyusup itu"
"Baik tuan Isak" orang yang tadi berteriak dan menyuruh anggota Red Blood yang lain adalah Isak yang selalu ada di samping Leon. hari ini Isak sedang bertugas mengontrol bisnis lelang tersebut tidak dia sangka akan ada penyusup di acara tersebut.
"Kalau sampai tuan Leon tau dia pasti akan sangat marah aku harus cepat menemukan penyusup itu" Isak mengepalkan tangannya dengan keras.
Aria dan Louis masih bersembunyi dan terus menembak anggota Red Blood yang sedang kebingungan mencari mereka berdua.
Aria serta Louis memakai alat komunikasi di telinga mereka jadi mereka berdua masih bisa berkomunikasi walaupun mereka terpisah dan jarak mereka jauh.
Louis aku akan memancing pria yang disebut tuan Isak tersebut keluar Sepertinya dia penanggung jawab acara ini" Aria berbicara pada Louis
"Baiklah aku akan mengalihkan perhatian anggota yang lain kamu berhati-hatilah" Louis menjawab sambil sesekali menembaki anggota Red Blood yang ada dalam jangkauan tembakannya.
"Kamu juga berhati-hatilah jangan sampai terluka" Aria berpesan pada Louis.
"Aku janji tidak akan terluka kamu juga harus janji padaku tidak akan terbawa emosimu"
"Baiklah aku janji"
Louis lalu mengalihkan perhatian para anggota Red Blood dengan menampakkan dirinya dan keluar dari tempat persembunyian.
"Itu dia.. itu adalah penyusupnya!!" teriak salah satu anggota Red Blood yang melihat Louis sedang menembaki rekannya.
Mendengar teriakan tersebut para anggota Red Blood yang lain langsung berlari kearah anggota yang teriak itu dan mereka semua melihat Louis sedang berdiri tenang sambil membawa dua buah pistol di tangannya.
"Hey kamu berisik sekali, teriakanmu seperti seekor sapi yang di sembelih" Louis mengorek telinganya
"Kau.. ayo tangkap penyusup itu jangan biarkan dia melarikan diri kita bawa dia kehadapan tuan Isak" ucap seorang anggota Red Blood yang tadi berteriak kencang.
"Ah ini akan menyenangkan" Louis terlihat tidak memiliki rasa takut dihadapan puluhan anggota Red Blood bahkan Louis tersenyum pada mereka.
"Kalau begitu majulah" Louis lalu menembak dua orang anggota Red Blood tepat mengenai kepalanya dan seketika itu juga dua anggota tersebut tergeletak tidak lagi bernafas.
Louis terus menyerang anggota Red Blood sambil sesekali bersembunyi karena anggota Red Blood juga menggunakan pistol untuk menyerang.
Bedanya para anggota tersebut tidak bisa menembak Louis karena Louis sendirian dan juga Louis sangat pandai dalam menembak dan juga bersembunyi jadi anggota Red Blood kesulitan untuk menembak Louis.
Sementara Louis, dia dengan leluasa bisa terus menembak targetnya dengan akurat karena para anggota Red Blood itu ada yang berkerumun.
"Mereka bodoh atau terlalu percaya diri seharusnya mereka bersembunyi lalu berpencar setelah itu mengepungku dari berbagai arah tapi ini apa mereka hanya terus menembak dan adapula yang berkerumun" Louis menggelengkan kepalanya saat melihat cara kerja anggota Red Blood.
"Ah tapi ini juga memudahkanku untuk membunuh mereka" Louis tersenyum kearah para anggota Red Blood.
"Dia masih bisa tersenyum saat membunuh dan juga saat menghadapi lawan sebanyak ini, harusnya dia sekarang sedang ketakutan karena dia sendirian" ucap salah satu dari anggota Red Blood.
__ADS_1
Tebakan Louis benar para anggota Red Blood terlalu percaya diri karena Louis sendirian sedangkan mereka memiliki banyak orang dan pikiran para anggota Red Blood ternyata salah besar, tidak ada sedikitpun perasaan takut pada diri Louis bahkan Louis malah terlihat menikmati pembunuhan tersebut.