
"Adikmu? Aku tidak tau, bahkan aku tidak tau kamu punya adik kenapa kamu menanyakan hal seperti itu padaku?"
Aria pura-pura tidak tau tentang adik Leon "Sepertinya wanita itu sudah ditemukan" batin Aria.
"Benar juga Aria kan tidak tau tentang keluargaku dan juga Aria tidak tau tentang aku yang menyuruh orang untuk mencelakai kakaknya kalau misalkan Aria tau aku yang mencelakai kakaknya dengan karakternya yang seperti itu Aria pasti akan langsung datang mencariku" batin Leon.
"Itu..." Leon tidak tau harus berkata apa pada Aria.
"Apa kamu mencurigaiku?" Aria menatap tajam kearah Leon.
"Tidak aku hanya.." Leon semakin gelagapan karena dia gegabah sudah menanyakan hal tersebut.
"Kenapa kamu mencurigaiku dan menuduhku mencelakai adikmu?"
"Aria bukan maksudku untuk menuduh dan mencurigaimu aku hanya bertanya.."
"Pertanyaanmu tadi telah membuktikan bahwa kamu mencurigai dan menuduhku"
"Aria maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu" Leon semakin serba salah dan tidak tau lagi apa yang harus dia katakan pada Aria.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Jawab aku.." Aria bertanya dengan nada yang sangat dingin.
"Aku..aku tidak bisa menjawab itu" Leon menggelengkan kepalanya.
"Dia masih tidak mau mengakuinya" batin Aria sambil menatap Leon dengan tatapan yang semakin dingin.
"Aku tidak tau menahu urusan keluargamu aku juga tidak perduli apa yang terjadi dengan adikmu kamu urus saja urusanmu sendiri aku juga akan mengurus urusanku sendiri jadi jangan ikut campur lagi urusanku dan jangan temui aku lagi"
"Aria apa kamu marah padaku, aku kan sudah minta maaf aku tidak bermaksud untuk menuduhmu" Leon menatap Aria dengan ekspresi menyesal.
"Cihh aku muak melihat wajahnya itu kalau aku menurut akan emosiku aku sudah membunuhmu sekarang juga Leon" batin Aria sambil menatap jijik pada Leon.
"Kamu tidak bermaksud menuduhku tapi kenapa kamu bisa berpikiran bahwa aku yang mencelakai adikmu? Apa kamu bisa menjawabnya hah? Tidak bisa kan, jadi sekarang kamu enyahlah dari kehidupanku Leon"
Setelah mengatakan itu Aria kemudian masuk kedalam mobil. "Aria tunggu dulu aku belum selesai bicara" Leon mengetuk ngetuk kaca mobil Aria.
"Sepertinya dia masih ingin berbicara denganmu" Herald yang sedari tadi memperhatikan di dalam mobil akhirnya buka suara.
"Aku tidak mau berbicara dengannya aku bahkan jijik melihat wajahnya itu jadi sekarang kita pergi dari sini" Aria berkata sambil terus melihat ke depan.
Sebenarnya Aria sedang mengatur emosinya agar tidak meledak seperti waktu itu, Aria tidak mau kehilangan kendali lagi karena itu akan membahayakan nyawanya dan juga nyawa Herald.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu mau mu" Herald kemudian menyalakan mobil tersebut lalu melajukannya.
"Aria tunggu!!..aku tidak bermaksud seperti itu!!.." Leon masih terus bicara pada Aria walaupun mobil Aria sudah mulai memasuki jalan besar tapi Leon masih mengejarnya.
"Aria maafkan aku apa kamu mendengarkanku!!" Leon terus berteriak dari belakang mobil tapi Aria tidak menanggapi itu dan meminta Herald untuk menambah kecepatan.
Mobil yang di tumpangi Aria melaju dengan kencang Samapi Leon pun tidak bisa mengejarnya lagi "Sial..Aria pasti sangat marah padaku, kenapa juga aku menanyakan hal seperti itu tanpa bukti, Leon kamu sungguh bodoh tidak biasanya kamu gegabah seperti ini" Leon menjambak rambutnya sendiri lalu menatap mobil Aria yang kini sudah tidak terlihat lagi.
"Aku akan menemuinya lagi lain kali sekarang aku harus pergi ke rumah sakit lalu mencari bukti siapa yang sudah mencelakai Ana" Leon lalu berbalik dan melangkahkan kakinya menuju toserba tadi.
"Apa dia masih mengejar" Aria bertanya pada Herald karena Aria tidak mau melihat Leon lagi saat ini.
"Sepertinya tidak lagipula dengan berlari pun dia tidak akan bisa mengejar kita" Herald menjawab sambil melihat kaca spion mobilnya memerhatikan apakah Leon masih mengejar atau tidak.
"Baguslah.." Aria menghela nafas pelan lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.
"Apa kamu baik-baik saja Aria?"
"Tidak...aku sekarang sangat marah dan juga kesal, bisa-bisanya dia masih tidak mau mengakui apa yang dia perbuat pada keluargaku"
"Aria apa mungkin dia mencurigaimu makannya dia bertanya seperti itu padamu?"
"Aku akan mendukung apapun keputusanmu Aria kamu juga tidak perlu sungkan meminta bantuan ku" Herald menatap lembut Aria.
"Jangan menatapku seperti itu kamu membuatku merasa bersalah, lagian kamu sedang menyetir fokuslah kedepan jangan sampai nanti kita menabrak mobil lain"
"Baiklah.. oh iya waktu itu kan aku sudah berjanji akan membawakanmu Bunga Mawar Ungu kenapa aku lupa ya, maafkan aku Aria" Herald baru ingat kalau saat itu dia mengatakan akan membawakan Aria Bunga Mawar Ungu.
"Tidak perlu minta maaf lagian kan kamu belum pulang jadi tidak masalah kamu bisa membawanya nanti" Aria tidak masalah dengan itu karena Aria tau Herald belum sempat pulang dan malah sibuk membantunya.
"Terimakasih Aria aku akan membawanya nanti"
Mereke berdua lalu melaju menuju Mall di daerah Z dan membeli pakaian baru untuk Herald.
Mobil yang di tumpangi Aria serta Herald telah memasuki kawasan Mall tersebut lalu Herald segera memarkirkan mobilnya. Aria keluar dari dalam mobil diikuti oleh Herald setelah itu mereka berdua memasuki Mall tersebut.
"Kamu mau sampai kapan berada di dunia luar?" Aria bertanya pada Herald saat mereka sudah memasuki sebuah toko pakaian di dalam Mall tersebut.
"Aku belum tau, aku akan menemanimu kemanapun sampai kakakmu sembuh" jawab Herald sambil melihat beberapa pakaian.
"Hey apa kamu sudah tidak waras, kamu kan punya banyak pekerjaan bagaimana nanti kamu akan mengurus pekerjaanmu itu kalau kamu terus bersamaku" Aria menatap heran ke arah Herald.
__ADS_1
"Aku masih bisa bekerja, aku hanya perlu membeli laptop dan aku akan bekerja secara online mudah kan?" Herald menatap Aria dengan santai seolah-olah pekerjaan itu tidak penting.
Aria lalu mendekat ke arah Herald dan memegang dahinya "Tidak panas.."ucap Aria.
"Apa yang kamu lakukan Aria, aku kan baik-baik saja"
"Aku cuma mengecek suhu tubuhmu karena aku pikir kamu sakit dan sedang ngelindur"
"Aku baik-baik saja kenapa kamu berpikiran seperti itu" Herald menatap Aria dengan heran.
"Aku hanya sedikit tidak percaya bahwa kamu yang gila kerja ini meninggalkan pekerjaanmu dan hanya akan mengerjakannya secara online"
"Secara online pun yang penting aku kan masih bisa bekerja lalu aku juga bisa menemanimu"
"Baiklah terserah kamu" Aria kemudian kembali memilih beberapa pakaian untuknya. Aria juga membutuhkan pakaian hangat karena cuaca semakin dingin dan salju juga sudah mulai turun.
"Belilah pakaian yang hangat karena sudah masuk musim dingin" Aria berkata pada Herald yang sedang memilih beberapa kemeja.
"Baiklah aku akan membelinya, apa kamu menghawatirkan aku Aria?" Herald tersenyum pada Aria.
"Tidak, aku hanya kasihan padamu kalau kamu nanti kedinginan"
"Itupun tidak apa, itu artinya kamu menghawatirkan aku" Herald tersenyum ceria pada Aria.
"Terserah kamu.."
Satu jam kemudian mereka berdua sudah selesai membeli pakaian lalu setelah selesai membayar mereka berdua pun pergi dari Mall tersebut.
Saat di dalam mobil ponsel Aria berbunyi, Aria melihat ponselnya dan terlihat nama Louis disana.
"Ya Louis ada apa?"
"Nona, ada seseorang yang mencarimu"
"Mencariku? Siapa dia apa kamu mengenalnya"
"Sepertinya dia adalah pria yang waktu itu aku temui di rumah sakit"
"Pria yang kamu temui di rumah sakit?" Aria berpikir sebentar dan mengingat ingat siapa yang Louis temui waktu itu di rumah sakit.
"Giovanni.." gumam Aria.
__ADS_1