Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Pertemuan Yang Tidak Di Harapkan


__ADS_3

Aria dan Giovanni masuk di ruangan yang sama dan mendapatkan pengobatan. Luka Aria dibersihkan terlebih dahulu menggunakan antiseptik lalu diberi obat dan ditempeli plester yang berisi obat karena luka Aria tidak begitu serius dan dalam.


Sedangkan Giovanni lukanya ternyata cukup serius karena memerlukan dua puluh delapan jahitan. Setelah luka mereka di obati dokter dan perawat rumah sakit tersebut keluar dari ruangan itu untuk membiarkan mereka berdua istirahat.


Aria tidak bisa istirahat disana dia masih ada urusan dan lagi hari sudah mulai sore. "Saya akan langsung pulang karena sudah sore".


"Apa tidak sebaiknya anda istirahat dulu". Giovanni menatap Aria.


Aria menggeleng pelan "Saya masih ada urusan yang tertunda".


"Begitu ya, baiklah akan saya antar". Giovanni berniat bangun dari tempat tidurnya namun segera dicegah oleh Aria.


"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri anda masih harus beristirahat karena anda kehabisan banyak darah".


"Tapi -". Giovanni belum selesai bicara dan langsung dipotong oleh Aria. "Saya bisa pulang sendiri, lagipula matahari masih ada dan belum masuk waktu malam".


Giovanni sebenarnya merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Aria dan membuat wanita itu terluka jadi dia berniat untuk mengantarkannya pulang tapi, Aria tidak mau dan bersikeras menolak tawarannya. Akhirnya Giovanni mengalah dan juga dia masih banyak pekerjaan terkait para rentenir itu.


"Baiklah, berhati-hatilah dijalan Aria, maaf saya tidak bisa mengantar anda".


"Baiklah tak apa, beristirahatlah pak". Aria lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Saat sedang berjalan menuju pintu keluar rumah sakit tersebut Aria bertemu dengan pria yang ia kenal, "Aria...". Pria itu juga melihat Aria dan dia langsung menghampiri Aria.


"Leon..". Aria melihat Leon menghampirinya. Sebenarnya Aria tidak mau lagi bertemu dengannya namun takdir berkata lain, mereka bertemu di rumah sakit ini.


"Aria apa yang sedang kamu lakukan disini". Leon sekarang sudah berada di depan Aria "Tunggu, apa kamu terluka?". Leon lalu melihat luka di leher Aria.


"Kenapa kamu bisa terluka seperti ini". Ucap Leon sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh luka di leher Aria namun Aria segera menepis tangan tersebut.


"Ini luka kecil". Aria memasang wajah datar di depan Leon.


Leon yang tangannya di tepis oleh Aria sebenarnya merasa geram namun dia sembunyikan dengan senyuman tipis. "Aria, kamu berani menepis tanganku dasar wanita angkuh".


"Begitu ya, tapi tetap saja kamu terluka walaupun luka kecil. Siapa yang melakukan ini Aria?".


"Bukan urusan anda tuan Leon, kalau begitu saya permisi". Aria lalu berniat untuk melangkahkan kakinya namun dihadang oleh Leon.


"Aria bisa aku bicara berdua denganmu". Leon tidak akan menyianyiakan kesempatan bagus seperti ini.

__ADS_1


"Tidak bisa, saya masih ada urusan". Aria masih memasang wajah datarnya


"Apa urusan itu penting?". Leon masih berusaha menahan Aria disana. Sebenarnya Aria tidak suka karena Leon berbasa-basi tidak penting menurut Aria.


"Iya". Aria hanya mengatakan satu kata karena terlalu malas menjawab Leon.


"Apa lebih penting daripada berbicara berdua denganku?".


Kini Aria menatap tajam mata Leon. Aria merasa ada yang salah di otak pria itu karena berani bertanya seperti itu padanya sedangkan mereka tidak sedekat itu.


"Kenapa anda mengatakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Tentu saja iya, urusan saya lebih penting daripada berbicara berdua dengan anda".


Mendengar jawaban seperti itu dari Aria membuat Leon marah tapi dia sembunyikan, kalau saja tidak mungkin sekarang Aria sudah Leon seret ke rumahnya dan menyekapnya di sana untuk selamanya dan tidak akan pernah diperbolehkan untuk keluar karena hanya Leon yang perlu Aria utamakan dan layani.


Aria tidak menunggu jawaban Leon dia langsung bergegas melangkah pergi dari sana. Dan untungnya kali ini Leon tidak mencegahnya karena ada seorang wanita yang menghampirinya.


"Aria, lihat saja nanti kamu pasti akan jatuh cinta padaku dan hanya aku satu-satunya orang yang kamu prioritaskan". Leon lalu berbalik dan melangkah kearah berlawanan dengan Aria dan terlihat wanita yang tadi menghampirinya bergelayut manja di tangan Leon.


Aria sudah berada di dalam taksi yang tadi dia pesan dan sedang melaju menuju apartemennya. Aria harus menunda untuk pergi ke mansionnya karena hari sudah semakin sore dan kakaknya akan segera pulang.


Aria mengambil ponselnya dan menghubungi Louis.


"Louis aku tidak jadi kesana hari ini karena ada urusan mendadak"


"Aku akan berkunjung besok".


"Baik nona".


Aria mengakhiri panggilan tersebut lalu kembali meletakan poselnya kedalam tas kecilnya. Aria lalu melihat kearah luar dan menikmati pemandangan sore hari.


Saat sampai di apartemen jam sudah menunjukan pukul enam, Aria langsung bergegas masuk dan membersihkan dirinya. Setelah itu ia menunggu kakaknya pulang di ruang tv.


"Bagaimana aku akan menjelaskan luka ini". Aria masih memikirkan penjelasan yang sesuai untuk luka yang ada di lehernya.


Sambil menunggu kakaknya Aria kembali berpikir tentang Leon. "Red blood ya, aku sepertinya pernah mendengar nama ini tapi aku tidak ingat kapan itu. Dan juga Leon bajingan itu kenapa dia seenaknya padaku apa karena dia ketua Red blood, aku harus berhati-hati padanya sepertinya dia orang yang manipulatif".


Tidak lama kemudian kakak Aria Javier pulang dan Aria bisa melihat wajah lesunya pasti banyak kejadian di kantor sampai membuat kakaknya seperti itu.


"Kak apa kakak tidak apa-apa?". Aria menghampiri kakaknya

__ADS_1


"Tidak apa, kakak hanya bekerja terlalu terburu-buru karena mau segera menyelesaikan kerjaan kakak dan segera resign dari sana".


"Ah ternyata seperti itu, aku pikir kakak lagi ada banyak masalah".


"Kakak tidak apa-apa Aria, ya sudah kakak masuk kamar dulu untuk istirahat karena kakak sangat lelah"


"Iya kak, selamat beristirahat".


Javier mengelus kepala Aria dengan lembut sambil tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya.


"Kasihan kakak, dia begitu kelelahan, tapi untungnya kakak tidak melihat luka di leherku".


----------


Malam ini Giovanni masih beristirahat di rumah sakit karena luka di tangannya dan juga karena dia kehabisan banyak darah jadi masih perlu untuk menstabilkan kondisinya.


Giovanni melihat keluar jendela, dia bisa melihat pemandangan kota yang sangat cantik.


"Aria, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dan juga tatapan itu, kenapa begitu banyak emosi di dalam tatapannya yang datar. Pasti itu menyakitkan karena memendam semua emosi yang tumpang tindih itu sendirian. Aku cukup yakin dia tidak akan cerita kepada keluarganya".


Giovanni masih terus kepikiran tentang emosi yang dia lihat di mata Aria karena dia baru pertama melihat hal seperti itu. "Aku sepertinya tidak asing dengan wajahnya, apa aku pernah bertemu dengannya ya tapi aku tidak ingat kapan dan dimana itu, hanya saja wajahnya Sepertinya tidak asing bagiku".


Tok tok tok


"Permisi pak, apa saya boleh masuk". Terdengar suara dari luar ruangan yang Giovanni tempati.


"Silahkan ".


"Baik pak". Setelah itu masuklah satu orang pria memakai setelan jas hitam dan langsung menghampiri Giovanni.


"Ini berkas yang anda minta tentang dunia bawah". Ucap pria berjas tadi lalu menyerahkan berkas tersebut kepada Giovanni.


"Baik, terimakasih kamu bisa kembali".


"Baik pak". Pria itu kemudian pergi dari ruangan tempat Giovanni dirawat.


Sebelumnya Giovanni memerintahkan kepada salah satu tangan kanannya untuk mencari informasi tentang dunia bawah.


Giovanni kemudian membaca berkas-berkas tersebut dan setelah itu menghela nafas.

__ADS_1


"Dunia bawah ya, aku harus langsung kesana untuk memeriksa benar tidaknya informasi yang ada di dalam berkas ini".


Giovanni lalu menaruh berkas tersebut di atas meja. "Besok aku harus ke sana, ke dunia bawah itu...".


__ADS_2