Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Mencari Rumah Baru


__ADS_3

"Aria apa kamu masih tidur"


Terdengar suara Herald yang memanggil Aria dari luar sambil sesekali mengetuk-ngetuk pintu kamar Aria.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar "Apa dia masih tidur? Ini sudah jam tiga" gumam Herald.


Herald lalu kembali mengetuk pintu kamar Aria sambil memanggil wanita yang sedang tertidur pulas itu. Tidak lama kemudian Aria bangun dan membuka matanya dengan enggan karena mendengar ketukan di pintu dan juga suara seseorang yang terus memanggil namanya.


"Iya aku bangun" ucap Aria lalu menguap pelan.


"Kalau kamu sudah bangun kamu bersiap-siaplah kita akan mencari rumah baru untuk kamu dan Javier tinggal nanti"


"Baik.." Aria lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.


"Bagaimana, apa Aria sudah bangun?" Tanya Javier yang baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih.


"Sepertinya sudah, mungkin sekarang Aria sedang mandi lalu bersiap-siap" jawab Herald.


"Dia itu kalau sudah tidur akan sedikit susah untuk di bangunkan" Javier menggeleng pelan mengingat Aria yang susah untuk bangun saat sudah tertidur.


Herald hanya menanggapi perkataan Javier dengan tawa pelan. "Ya sudah ayo kita tunggu dia di ruang tv" ajak Javier pada Herald.


Tiga puluh menit kemudian Aria sudah selesai bersiap-siap dan keluar dari kamarnya lalu menghampiri Javier dan juga Herald yang sedang berada di ruang tv.


"Aku sudah selesai, apa kalian menunggu lama?" Tanya Aria saat sudah berada di ruang tv tersebut.


"Tidak juga, kalau gitu ayo takut nanti keburu malam" ajak Javier.


"Oh iya apa kalian sudah menemukan beberapa rumah yang mau kita survei?" Tanya Aria


"Sudah, ada dua rumah yang mau kita survei" Herald menjawab pertanyaan Aria.


"Baguslah hanya dua rumah, itu tidak akan terlalu lama, ke kota atau daerah mana kita akan pergi?"


"Kita akan pergi ke kota A rumah yang akan kita survei berada di kota A" Javier menjawab pertanyaan Aria.


"Baiklah ayo kita pergi"


Mereka bertiga keluar dari apartemen tersebut dan pergi menuju kota A untuk melihat rumah yang akan Aria dan Javier tinggali nanti.


_____


"Bagaimana menurutmu Aria?"


Aria, Javier dan juga Herald kini sedang berada di depan sebuah rumah yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu kecil dengan halaman belakang yang lumayan luas juga lumayan jauh dari tetangga.


"Rumah ini bagus tapi terlalu jauh dari rumah yang lainnya, aku mau kehidupan normal bukan menyendiri" Aria menggeleng pelan.

__ADS_1


"Aku juga setuju dengan pendapat Aria" Herald turut ikut memberikan pendapat tentang rumah tersebut.


"Baiklah kalau gitu kita ke rumah yang kedua jaraknya juga tidak terlalu jauh dari sini" ucap Javier pada Aria dan juga Herald.


Mereka bertiga kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah itu menuju rumah satunya lagi. Lima belas menit kemudian mereka bertiga sudah sampai di sebuah rumah yang lumayan besar namun jarak dengan rumah-rumah yang lainnya tidak terlalu jauh.


Mereka bertiga lalu turun dari mobil dan melangkah menuju rumah tersebut. "Bagaimana kak, apa kakak menyukai rumah ini?" Tanya Aria pada Javier.


"Rumah ini bagus tapi terlalu besar untuk kita berdua tapi kalau kamu mau tinggal di sini kakak akan menuruti keinginanmu"


"Kalian bisa melihat-lihat dulu ke dalam rumah ini setelah itu baru putuskan mau membeli rumah ini atau tidak" Herald menyarankan untuk melihat-lihat dulu rumah itu.


Javier dan Aria setuju lalu mereka bertiga mulai melihat-lihat rumah tersebut. "Aku suka suasana di rumah ini dan lagi rumah ini memiliki halaman depan yang bisa aku tanami bunga mawar kesukaanku" Aria terlihat sangat antusias setelah melihat-lihat rumah tersebut.


"Kamu menyukai rumah ini Aria?" Herald bertanya sambil tersenyum lembut pada Aria yang sedang menatap halaman depan rumah tersebut.


"Aku menyukai rumah ini, bagaimana kalau kita tinggal disini kak? Tidak apa rumah ini sedikit besar untuk kita berdua yang penting kakak aman disini" Aria melirik Javier yang ada di sampingnya.


"Baiklah kalau itu mau mu kita akan membeli rumah ini dan tinggal di sini" ucap Javier sambil mengelus pelan kepala Aria.


"Kalau gitu aku akan mengurus surat-surat rumah ini kalian bisa menunggu di sini sambil melihat-lihat lagi siapa tau ada yang mau kalian renovasi" Herald berkata pada Javier dan juga Aria yang sedang menatap halaman depan rumah tersebut.


"Aria kamu bantu Herald mengurus surat-surat rumah ini biar kakak tunggu kalian di sini" Javier tidak enak membiarkan Herald seorang diri mengurus surat-surat rumah tersebut jadi dia menyuruh Aria untuk menemani Herald.


"Tapi kak..."


"Baiklah kami pergi dulu kakak jangan kemana-mana tetap disini kakak harus janji padaku" Aria menatap tajam mata Javier hingga membuat Javier menelan ludah.


"Baik kakak janji tidak akan kemana-mana"


"Bagus kalau gitu kami pergi dulu kak" Aria menarik tangan Herald menuju pintu keluar rumah tersebut.


"Siapa pemilik rumah itu?" Setelah berada di luar Aria bertanya pada Herald.


"Pemiliknya seorang pria paruh baya, daripada mengatakannya padamu lebih baik kamu melihatnya sendiri dan berbicara padanya"


Aria mengangguk lalu mereka berdua memasuki mobil untuk menemui pemilik rumah tersebut. sepuluh menit kemudian mereka berdua tiba di sebuah rumah mewah, Aria keluar dari mobil tersebut diikuti oleh Herald.


"Ayo masuk, aku sudah membuat janji dengannya" ajak Herald pada Aria.


Saat memasuki rumah mewah tersebut anehnya Aria tidak melihat banyak orang dan hanya melihat tiga orang. Pertama pria yang menjaga gerbang kedua pria yang menyambutnya di pintu masuk rumah tersebut dan ketiga seorang wanita paruh baya sepertinya wanita itu adalah pelayan di rumah itu.


Mereka berdua di bawa ke depan sebuah ruangan oleh pria yang menyambut mereka di pintu masuk rumah itu. "Tuan sudah menunggu di dalam silahkan masuk"


Herald menganggukkan kepalanya pada pria itu lalu dia membuka pintu ruangan tersebut dan menarik Aria untuk memasuki ruangan itu. Saat sudah berada di dalam ruangan Aria melihat beberapa buku-buku yang tersusun rapih dan juga dua buah sofa panjang di dekat jendela.


Aria melihat seorang pria paruh baya sedang berdiri sambil memegang buku dan membelakangi mereka di dekat jendela ruangan tersebut.

__ADS_1


"Permisi tuan Erik saya Herald yang kemarin menghubungi anda" Herald menyapa pria paruh baya tersebut.


Pria paruh baya tersebut kemudian membalikkan badannya lalu tersenyum ramah pada Herald dan juga Aria.


"Ah iya saya sudah menunggu kedatangan anda mari silahkan duduk"


Herald menganggukkan kepalanya kemudian mengajak Aria untuk duduk di sofa tersebut. Aria dari tadi hanya terdiam sambil menatap lekat pria paruh baya itu.


"Wajahnya seperti tidak asing, apa aku pernah bertemu dengannya ya tapi aku tidak ingat dimana itu" batin Aria


"Tuan Erik kami ke sini untuk membeli rumah anda yang ada di daerah B" Herald tidak berbasa-basi dan langsung membicarakan tujuannya pada pria paruh baya tersebut.


"Rumah di daerah B, tentu saja boleh saya juga masih punya beberapa rumah apa anda tidak ingin melihatnya?"


"Tidak, kami ke sini hanya ingin membeli rumah itu dan tidak ada yang lain" Herald menggeleng pelan.


"Begitu ya, saya akan menyiapkan surat-suratnya terlebih dulu" pria paruh baya itu lalu memanggil pria yang tadi mengantar Aria dan Herald ke ruang tersebut.


"Siapkan beberapa surat-surat rumah yang ada di daerah B sekarang juga setelah itu berikan pada saya" ucap Erik pada pria tersebut.


"Baik tuan" setelah itu pria tersebut keluar dari ruangan itu untuk menyiapkan apa yang Erik minta.


"Ah benar juga siapa wanita yang ada di samping anda, apa wanita ini calon istri anda tuan Herald" ucap Erik sambil tersenyum lembut pada Aria.


Herald menggeleng pelan "Tuan Erik dia Aria, teman saya dan orang yang akan menempati rumah itu"


"Ternyata teman ya maaf saya pikir kalian sepasang kekasih"


"Tidak apa, anda tidak perlu minta maaf benar kan Aria?" Herald melirik ke arah Aria namun Aria hanya diam saja seperti sedang melamun.


Aria masih mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan pria paruh baya yang ada di hadapannya itu. Herald yang menyadari dari tadi Aria hanya diam saja terlihat sedikit heran dengan tingkah Aria padahal dari sebelum masuk ke ruangan ini Aria tidak begitu.


"Aria apa kamu sakit?" Herald menatap Aria


"Nona ada apa, kenapa anda melamun seperti itu?" Kini Erik pun dibuat bingung oleh Aria.


Karena Aria msih saja tidak menjawab pertanyaan Herald dan juga Erik Herald lalu menepuk pelan pundak Aria, Aria terlihat sedikit terkejut lalu menatap Herald


"Ada apa?" Tanya Aria pada Herald.


"Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu, ada apa kenapa dari tadi kamu melamun, apa kamu sakit?"


"Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi"


"Apa anda benar-benar baik-baik saja nona?" Pria paruh baya di hadapan Aria juga ikut bertanya pada Aria.


"Saya baik-baik saja"

__ADS_1


__ADS_2