
"kamu mau makan apa?"
"Aku mau makan steak, kalau kamu Aria?"
"Aku mau donkatsu pedas"
"Baiklah.."
Mereka berdual memesan makan siang mereka lalu tidak lama kemudian pesanan mereka berdua sudah datang.
"Ini pasti enak.." mata Aria berbinar saat melihat donkatsu pesanannya sudah datang.
"Ya sudah cepat makan sana nanti keburu dingin"
Aria menganggukkan kepalanya kemudian memakan donkatsu pesanannya sementara Herald dia juga segera memakan steak yang tadi dia pesan.
Dua puluh menit kemudian Aria dan juga Herald sudah selesai dengan makan siang mereka. "Aku kenyang.." ucap Aria sambil mengelus perutnya.
"Tentu saja kamu pasti kenyang karena sudah memakan dua porsi donkatsu besar" Herald menggeleng kepala pelan melihat Aria memakan dua porsi besar donkatsu pedas.
"Karena donkatsu itu sangat enak jadi aku pesan lagi, eh...sepertinya mereka juga sudah selesai makan siang" Aria melihat Marliana dan teman-temannya sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Sepertinya begitu" Herald juga melihat ke arah Marliana.
Aria melihat Marliana berpisah dengan teman-temannya karena Aria melihat Marliana masuk sendiri ke dalam mobil tidak lupa diikuti oleh keempat Bodyguard nya.
"Ini kesempatan yang sangat bagus, ayo kita bersenang-senang" Aria mengajak Herald untuk pergi dari restoran itu dan segera mengikuti mobil Marliana.
"Sepertinya dia tidak akan mampir ke perusahaan kakaknya" Herald melihat mobil Marliana tidak melaju ke arah perusahaan Leon.
"Kamu benar, mungkin dia akan pulang"
Mereka lalu sampai di jalan sepi yang kanan kirinya hanya berupa lahan kosong. "Pak sopir buka jendela mobilnya aku akan menyerang sekarang" Aria meminta Herald untuk segera membukakan jendela mobil mereka.
Herald menurut dan langsung membukakan jendela mobilnya setelah itu Aria segera mengambil satu buah pistol dari dalam laci mobil dan segera mengarahkan pistol tersebut ke arah mobil yang ditumpangi Marliana.
Aria mengincar ban mobil Marliana agar nanti tidak bisa menggunakan mobilnya lagi dan juga tidak bisa melarikan diri.
Dorr!! Dorr!!
Aria menembak dua ban mobil belakang Marliana seketika itu juga mobil yang ditumpangi Marliana kehilangan kendalinya dan hampir keluar dari jalan tersebut namun sepertinya sopir mobil tersebut cukup ahli dan gesit jadi dia masih bisa menyelamatkan mobil dan juga penumpangnya.
"Kemampuan menembakmu semakin bagus Aria" Herald memuji kemampuan menembak Aria yang sangat akurat.
"Tentu saja.."
Aria lalu melihat Marliana bersama dua Bodyguard nya keluar dari dalam mobil semetara mobil Bodyguard yang satunya lagi baru berhenti dan dua Bodyguard lainnya keluar dari dalam mobil tersebut.
Melihat itu Aria segera meminta Herald untuk mendekati mereka "Ada apa pak?.." Herald bertanya pada Bodyguard Marliana yang sedang mengecek ban mobil mereka.
Keempat Bodyguard dan juga Marliana menoleh ke arah Herald. "Ban mobil kami Sepertinya meledak" ucap salah satu Bodyguard Marliana.
__ADS_1
"Begitu ya.." Herald menganggukkan kepalanya.
Marliana yang melihat Herald tidak berhenti menatap wajah Herald "Dia sangat tampan dan juga sepertinya dia orang kaya aku harus mendapatkannya" batin Marliana saat melihat Herald keluar dari mobil sementara Aria dia masih menunggu di dalam mobil.
Marliana lalu membuat ekspresi wajah ketakutan dan mencoba untuk mendekati Herald "Iya tiba-tiba ban mobil kami meledak aku sangat takut karena bisa saja ada orang yang sedang mengincarku"
"Mengincar anda, memangnya anda mempunyai musuh" Herald terlihat biasa saja menjawab perkataan Marliana bahkan Herald memasang wajah datarnya.
"Tuan, banyak sekali pria yang mencoba untuk mendekati dan menculikku karena aku sangat cantik, mungkin saja yang membuat ban mobilku meledak adalah para penguntit" Marliana berbicara dengan nada menggoda Herald dan membuat ekspresi sedih tapi menggoda karena Marliana juga memamerkan tubuhnya yang lumayan bagus.
"Anda benar soal penguntit itu" tiba-tiba Aria keluar dari dalam mobil karena tidak tahan melihat Marliana yang bertingkah seperti itu "Dia iblis penggoda aku sangat tidak menyukai orang seperti dia" batin Aria saat melihat Marliana.
Marliana tidak suka karena tiba-tiba Aria muncul dan merusak pambicaraannya dengan Herald "Benar kan ada penguntit yang mau menculikku" Marliana tidak menatap Aria dan dia hanya menatap Herald.
"Aku takut.. tuan apa anda bisa menemaniku karena aku sangat takut dengan penguntit itu" Marliana berkata sambil membuat ekspresi memelas.
"Sepertinya anda tidak butuh bantuan saya karena anda sendiri sudah di temani oleh empat pria di belakang anda"
"Ah sial.. benar juga sekarang kan aku sedang bersama Bodyguard itu" batin Marliana kesal.
"Tapi tuan aku masih tidak bisa tenang sebelum tuan ikut menemaniku"
"Hey seharusnya sebelum kamu meminta seseorang yang baru kamu temui untuk menemanimu harusnya kamu tanya dulu siapa orang itu" Aria menanggapi perkataan Marliana dan itu membuat Marliana sangat kesal dan marah karena Aria mengganggu dia dan juga Herald.
"Aku tidak berbicara denganmu aku sedang berbicara dengan tuanmu" Marliana kira Aria adalah asisten atau sekretaris Herald.
"Tuanmu?.." Aria menggeleng kepala pelan menanggapi perkataan Marliana.
"Perkataan calon istriku benar, sebaiknya anda selalu waspada pada orang yang belum Anda kenal apalagi anda bertemu orang itu di jalan sepi seperti ini"
"Calon istri..."Marliana cukup terkejut dengan perkataan Herald. Marliana pikir Herald tidak mempunyai pasangan makannya dia berhenti saat melihat Marliana wanita cantik yang sedang kesusahan dan butuh pertolongan, itu yang ada di pikiran Marliana.
"Benar.. dan juga apa yang calon istri saya katakan itu ada benarnya juga nona, sebaiknya anda berhati-hati dengan orang yang baru Anda kenal dan jangan sembarangan berlari ke pelukan orang itu" Herald mengatakan hal tersebut dengan wajah dinginnya hingga membuat tubuh Marliana gemetar.
"Kalau begitu siapa kalian?"
"Pertanyaan yang sangat bagus" Aria menganggukkan kepalanya lalu menatap dingin Marliana "Kami adalah orang yang sudah membuat ban mobilmu meledak" ucap Aria dengan nada suara yang sangat dingin.
"Apa?!!"
Setelah Aria berkata seperti itu Herald mengeluarkan pistol dari dalam jaket tebalnya dan segera menembak keempat Bodyguard Marliana. Herald menembak dengan sangat akurat dan juga cepat jadi sebelum para Bodyguard itu bereaksi Herald sudah menembak kepala mereka satu persatu.
Mendengar suara tembakan dan melihat keempat Bodyguard nya tumbang dan tergeletak di atas jalan Marliana berteriak. Tubuh Marliana kini gemetar hebat serta rasa takut yang teramat sangat mulai muncul dalam dirinya.
Marliana kembali menatap Herald, Marliana melihat Herald masih dengan wajah dinginnya lalu Marliana melihat Aria dan Marliana menemukan Aria sedang tersenyum dengan sangat mengerikan padanya.
Sontak Mariana langsung berjalan mundur "Siapa kalian!!.." Marliana berteriak pada Herald dan juga Aria
"Kamu tidak perlu tau siapa kami yang perlu kamu tau adalah kamu harus ikut dengan kami mau secara baik-baik atau dengan paksaan?" Aria menatap Marliana sambil terus tersenyum.
"Tidak mau, aku tidak mau ikut dengan kalian asalkan kalian tau ya kakakku adalah ketua organisasi di dunia bawah kalau kakakku sampai tau kalian mengincarku dia tidak akan tinggal diam dan akan langsung menghabisi kalian" Marliana mencoba untuk menakuti Aria dengan menggunakan nama kakaknya karena biasanya hal itu cukup ampuh karena orang dari dunia luar tidak mau berurusan dengan orang dari dunia dalam.
__ADS_1
"Apa kamu pikir kami dari dunia luar" Aria semakin tersenyum tidak Aria kini menyeringai.
"Tentu saja, karena orang dari dunia dalam tidak mungkin berada di dunia luar dan menyerang orang dari dunia luar"
Aria tertawa mendengar perkataan Marliana "Tuan putri anda sangat polos ya, kami orang dari dunia dalam bisa juga menyerang orang dari dunia luar"
"Tidak itu tidak mungkin dan juga kalau kalian dari dunia dalam seharusnya kalian lebih takut karena pasti kalian mengenal kakak ku ketua organisasi Red Blood yang sangat ditakuti di dunia bawah"
"Pft..sangat di takuti, hey tuan putri organisasi kakakmu sekarang sama saja dengan organisasi kecil biasa dan juga organisasi kakakmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan organisasi lain di dunia bawah"
"Kau.. kakak ku sendiri yang mengatakannya kalau organisasi dia yang paling kuat dan berpengaruh di dunia bawah" Marliana tidak percaya dengan perkataan Aria.
"Kakakmu itu sudah membodohimu dia mengatakan hal itu karena dia tidak bisa menjadi seperti itu dan lagi salahkan kakakmu, kami kesini karena kakakmu"
"Maksudmu?"
"Aku datang padamu karena kesalahan kakakmu dan aku akan membuat kamu merasakan rasa sakit yang sudah di rasakan oleh orang yang paling aku sayang" wajah Aria kini terlihat sangat menakutkan di mata Marliana sontak Marliana langsung berbalik dan ingin melarikan diri namun dengan cepat Herald menembak kaki kanan Marliana.
Dorr!!
"Aargghh.." Marliana terjatuh lalu berteriak histeris saat melihat kaki kanannya terluka dan mengeluarkan darah selain itu luka tersebut sangat sakit dan perih.
"Menjauh kalian berdua dariku aku akan menghubungi kakak dan meminta dia untuk datang kesini" Marliana mengambil ponsel yang ada di dalam tas nya namun sebelum Marliana menghubungi kakaknya Aria sudah ada di hadapan Marliana dan mengambil ponsel Marliana.
"Kembalikan ponselku.." Marliana menatap tajam Aria.
"Tidak mau.." Aria lalu melemparkan ponsel tersebut ke atas aspal dengan sangat kencang hingga membuat ponsel tersebut hancur berkeping-keping.
"Kau!!.." Marliana menjerit saat melihat ponselnya hancur karena itu barang satu-satunya yang bisa menghubungi kakaknya.
Aria lalu menatap dingin Marliana "Sekarang jawab aku apa kamu mau ikut denganku dengan baik-baik atau sebaliknya"
"Aku tidak mau ikut denganmu wanita sialan!!"
"Baik Sepertinya kamu memilih cara yang kedua ya" Aria lalu mengambil batu besar yang ada di pinggir jalan
"Mau apa kamu dengan batu itu!!" Marliana menunjuk batu yang ada di tangan Aria.
"Kamu akan segera tau"
Aria kemudian memukulkan batu tersebut ke kepala Marliana dengan cukup keras hingga membuat Marliana pingsan seketika dan juga terdapat luka di kepala wanita tersebut karena kulitnya terhantam oleh batu.
Setelah melihat Marliana tidak sadarkan diri Aria lalu menyeret wanita tersebut.
"Aku akan membawanya ke dalam mobil" Herald berniat ingin membantu Aria untuk memindahkan Marliana kedalam mobil namun Herald malah mendapatkan tatapan yang sangat tajam dari Aria.
"Aku bisa membawanya sendiri kamu buka saja pintu bagasi mobil"
Herald tidak bisa menolak Aria lagipula Herald merasa Aria marah padanya tapi Herald tidak tau apa yang menyebabkan Aria marah padanya.
Aria lalu kembali menyeret Marliana ke arah mobilnya dan saat Herald sudah membuka pintu bagasi mobilnya Aria lalu memasukan tubuh Marliana dengan cara mengangkat dan membantingkannya ke dalam bagasi tersebut lalu segera menutup kembali pintu bagasi itu.
__ADS_1
"Ayo kita ke gedung tua di daerah A"
Herald mengangguk dan mereka berdua pun memasuki mobil setelah itu Herald melajukan mobil tersebut menuju daerah A.