
"Nona saya membawakan sarapan anda dan juga tuan Louis" Hans melirik Louis yang sedang duduk di samping Aria.
Louis yang melihat Hans melirik ke arahnya hanya tersenyum canggung.
"Taruh saja di atas meja" Aria menjawab Hans sambil memainkan ponselnya.
"Baik nona" Hans kemudian memindahkan makanan yang ada di troli makanan ke atas meja yang ada di depan Aria.
"Nona saya sudah selesai menaruh makanannya"
Aria lalu menatap Hans yang kini sedang berdiri di depannya "Baiklah terimakasih Hans kamu bisa kembali"
Hans menganggukkan kepalanya kemudian memberikan hormatnya lalu setelah itu Hans berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.
Melihat Hans sudah keluar dari kamarnya Aria lalu menaruh ponsel yang ada di tangannya ke atas sofa.
Aria mengambil semangkuk bubur yang tadi dia minta pada Hans lalu memberikan bubur itu pada Louis.
"Nah makan ini sampai habis"
"Bubur, Apa benar kamu yang meminta Hans untuk memasak ini?" Louis menatap bubur yang ada di tangan Aria.
"Tentu saja"
Louis kemudian mengambil bubur yang ada di tangan Aria "Bubur Ini kelihatannya enak"
"Tentu saja enak kan Hans yang membuatnya" Aria menjawab perkataan Louis sambil mengambil roti panggang yang ada di atas meja.
"Sudahlah cepat makan jangan lupa habiskan nanti aku akan meminta obat penurun panas pada Victor" Aria lalu mengigit roti panggang yang ada di tangannya.
"Baiklah, tapi biar aku saja yang meminta obat pada Victor" Louis tidak ingin disalah pahami seperti tadi saat Hans datang ke kamar Aria dan melihat Louis ada di kamar Aria pastinya itu menimbulkan salah paham.
"Ya sudah terserah kamu saja" Aria melanjutkan mengigit roti panggang di tangannya sampai habis kemudian Aria meraih segelas susu putih yang ada di atas meja dan meminumnya.
"Cuaca hari ini sangat dingin mungkin sudah waktunya musim dingin tiba kamu pakailah pakaian yang hangat biar tidak tambah sakit" Aria menoleh kearah Louis yang sedang asik memakan bubur.
"Baiklah aku juga tidak mau sakit terlalu lama kamu juga harus memakai pakaian yang tebal dan hangat juga" Louis lalu menatap Aria.
"Iya aku tau" Aria bangun dari tempat duduknya dan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan badannya. Louis hanya melihat Aria dalam diam dan kembali memfokuskan dirinya kepada semangkuk bubur yang ada di hadapannya.
Aria selesai membersihkan badannya dan keluar dari kamar mandi lalu berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian.
Louis yang melihat Aria keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di badannya sangat terkejut dan tersedak apel yang sedang dia makan sebagai pencuci mulut.
Aria yang mendengar Louis terbatuk-batuk lalu menengok kearah Louis "Kenapa kamu, apa tenggorokanmu juga sakit?" Aria bertanya dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Louis kemudian mengambil segelas air putih yang ada di atas meja lalu meminumnya sampai habis "Hey apa yang kamu lakukan?" Setelah tidak lagi terbatuk-batuk Louis lalu bertanya pada Aria dengan sedikit berteriak.
"Aku sedang mengambil pakaianku memangnya kenapa?"
"Aku tau kamu sedang mengambil pakaianmu tapi jangan sembarangan keluar dengan hanya memakai handuk seperti itu apalagi ada orang lain di dalam kamarmu" Louis memalingkan wajahnya saat berkata seperti itu.
Aria melihat tubuhnya "Ah aku lupa.." Aria mengatakan hal itu dengan santai lalu segera mengambil pakaiannya dan berjalan kembali kedalam kamar mandi.
Louis yang mendengar Aria masuk kembali ke kamar mandi kini bernafas lega "Kenapa dia seperti itu, apalagi nada suaranya itu seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja dia lakukan"
"Jantungku berdetak sangat kencang, selama bertahun-tahun aku tinggal dan kenal Aria aku belum pernah melihatnya seperti tadi" Louis memegang dadanya sendiri dan merasakan detakkan jantungnya yang tidak beraturan.
Louis lalu segera menggelengkan kepalanya berkali-kali "Lupakan yang kamu lihat tadi Louis jangan kamu ingat-ingat lagi itu hanya kecelakaan"
Aria keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian yang lumayan tebal dan hangat.
"Jam berapa ini?"
Louis lalu melirik arloji yang ada di tangannya "Jam sembilan lebih".
"Kamu sebaiknya istirahat saja aku akan menemui kakak" Aria lalu berjalan kearah meja kecil di samping tempat tidurnya dan meraih ponsel juga tas kecilnya.
"Apa aku boleh ikut kamu saja, aku pasti akan bosan karena seharian tiduran terus di kasur" Louis menatap Aria yang kini sudah siap untuk pergi.
"Kali ini benar-benar tidak boleh, kamu harus tetap disini dan istirahat yang cukup. Kalau kamu bosan kamu bisa menonton tv"
"Aku akan kembali begitu sudah selesai menemui kakak" Aria lalu keluar dari dalam kamar tersebut dan berjalan menuju pintu keluar mansion miliknya itu.
Saat sudah sampai di luar mansionnya Aria melihat Hans yang sedang berbicara dengan beberapa anggota Black Rose.
"Hans.." Aria melambaikan tangannya kepada Hans
Hans yang mendengar namanya dipanggil langsung mencari arah dari suara panggilan tersebut lalu Hans menemukan Aria yang sedang melambaikan tangan padanya.
Hans langsung berlari menghampiri Aria karena takut Aria butuh sesuatu "Ada apa nona memanggil saya, apa nona butuh sesuatu?"
"Itu Louis sedang tidak enak badan dan sedikit demam nanti kalau waktunya makan siang berikan dia makanan yang sehat dan juga obat"
"Baiklah akan saya laksanakan, apa adalagi nona?"
"Tidak ada, kamu boleh kembali Hans"
"Baik nona"
Aria berjalan kearah mobil yang terparkir di dekat tanaman bunga Mawar Hitam. Aria melihat bunga itu kemudian memetik beberapa tangkai untuk dia bawa ke rumah sakit tempat kakaknya dirawat.
__ADS_1
Setelah memetik beberapa bunga Aria lalu masuk kedalam mobil tersebut dan melajukan mobil itu keluar dari kota X dan menuju kota L.
--------
Aria sudah sampai di depan rumah sakit lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki rumah sakit tersebut.
Aria langsung pergi ke ruangan khusus tempat Javier dirawat sambil membawa segenggam bunga Mawar Hitam yang tadi Aria petik di halaman mansionnya.
Saat sudah mau sampai di ruangan JavierĀ Aria melihat ada Giovanni yang sedang terduduk di kursi tunggu depan ruangan khusus tempat Javier dirawat.
Aria lalu menghampiri Giovanni "Sedang apa anda disini?" Aria bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Giovanni yang mendengar suara seseorang langsung menengok ke arah sumber suara dan melihat Aria sedang berdiri di sampingnya sambil membawa segenggam bunga Mawar Hitam di tangannya.
"Mawar Hitam" gumam Giovanni pelan.
"Permisi kenapa anda malah melamun, saya tanya kenapa anda ada disini?" Aria melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Giovanni.
"Ah maafkan saya nona, saya disini karena mencari nona tapi kata dokter nona sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu" Giovanni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Memangnya ada apa anda mencari saya?"
"Saya hanya mau menanyakan keadaan anda juga ingin memberitahu kabar dari hasil penyelidikan tentang kasus kakak anda"
"Baiklah .. apa ada perkembangan?"
"Ini .. nona sepertinya pelaku yang memukuli kakak anda adalah orang dari dunia dalam" Giovanni menghentikan kata-katanya karena ingin melihat reaksi Aria apakah ada perubahan di wajahnya.
Aria sudah mengetahui lebih dulu bahwa orang yang memukuli kakaknya adalah orang dari dunia dalam jadi Aria sudah tidak terkejut lagi.
Giovanni tidak melihat perubahan di wajah Aria bahkan di matanya pun tidak ada masih emosi tumpang tindih seperti itu.
"Kenapa reaksinya biasa saja ya" batin Giovanni.
"Lalu apa yang akan anda lakukan?, Bukannya para polisi tidak mau berurusan dengan orang dari dunia dalam?"
"Sebenarnya atasan kami meminta untuk menghentikan kasus ini tapi saya menolak karena dalam kasus ini hampir ada korban yang kehilangan nyawanya saya akan terus mencari pelaku sampai ketemu walaupun tidak di ijinkan sebagai polisi tapi saya akan melakukannya sebagai detektif" Giovanni menatap wajah Aria dengan ekspresi serius dan meyakinkan.
"Apa anda serius? Orang-orang dari dunia dalam itu kejam dan juga sadis anda bahkan tidak akan bisa mendapatkan informasi mereka dengan mudah" Aria sebenarnya sedikit terkesan dengan tindakan Giovanni yang masih mau mengambil keputusan yang beresiko untuk keselamatannya sendiri.
"Nona benar memang tidak mudah mendapatkan informasi dari dunia dalam tapi saya akan terus mencobanya"
"Baiklah terserah anda, apakah ada hal yang lain saya mau menjenguk kakak saya" Aria berkata masih dengan ekspresi datarnya.
"Ah tidak ada maaf saya sudah menahan anda disini kalau begitu silahkan anda masuk"
__ADS_1
Aria mengangguk kemudian berjalan memasuki ruangan khusus dimana Javier sedang dirawat.