Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Situasi Apa Ini ?


__ADS_3

"Ini... sebenarnya siapa yang melakukan ini"


Begitu tiba di dunia bawah Leon disambut dengan pemandangan yang cukup mengejutkan kerena disana sudah tergeletak banyak mayat anggotanya.


Leon lalu masuk ke tempat lelang dan dia juga sangat terkejut karena di tempat lelang tersebut lebih parah daripada di luar bahkan ada mayat anggotanya yang tubuhnya terpotong-potong.


"Pasti penyerang itu tidak sendirian, mana mungkin dia bisa mengatasi semua anggotaku sendirian. Tapi dimana Isak, dia tidak mungkin terbunuh dia bawahanku yang cukup kuat" Leon lalu berkeliling mencari Isak tapi tidak ketemu.


Leon lalu pergi ke luar tempat lelang dan samar-samar Leon melihat satu mayat terpisah cukup jauh dari tempat lelang itu Leon lalu berjalan kearah mayat tersebut untuk melihatnya.


Saat Leon sudah di dekat mayat tersebut Leon langsung mengenali wajah dan bentuk tubuh mayat tersebut walaupun wajah dan tubuhnya sudah tidak berbentuk lagi dan menurut Leon dilihat dari lukanya saja ini adalah kematian yang sangat menyakitkan.


"Ini..tidak mungkin!! Bahkan Isak pun terbunuh sebenarnya siapa yang melakukan ini" Leon mengepalkan tangannya dengan sangat keras.


"Tujuh puluh persen anggotaku terbunuh bahkan Isak juga, lelang pun sepertinya tidak akan berjalan dengan baik lagi karena kejadian ini dan aku juga kekurangan anggota serta kekuatan organisasiku akan menurun" Leon menjambak rambutnya sendiri karena frustasi dengan apa yang menimpa organisasinya.


"Arrggghhh aku tidak akan memaafkan kalian!!!" Leon kini sangat marah dan berteriak kencang.


"Aku akan mencari kalian sampai ujung dunia sekalipun lihat saja begitu kalian kutemukan aku akan membuat kalian merasakan kematian yang amat sangat menyakitkan!!" Wajah Leon kini terlihat sangat menyeramkan.


Leon melihat Isak yang sudah terbujur kaku dengan kematian yang sangat menyakitkan itu terlihat di mata Isak yang masih melotot walaupun kepalanya sudah tidak menyatu lagi dengan badannya.


"Ini aku, segera ke gedung lelang yang ada di dunia bawah dan bawa beberapa anggota kesini" Leon menghubungi seseorang lewat ponselnya.


Leon kemudian melihat mayat Isak sekali lagi "Kamu sudah bekerja keras Isak" setelah mengatakan itu Leon melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung lelang.


Meskipun Isak hanya bawahannya tapi Isak sudah bersama dengan Leon untuk waktu yang lama jadi ketika Leon melihat Isak terbunuh dia sangat marah.


Leon memang hanya menganggap Isak bawahannya dan selalu dingin padanya tapi Leon tau Isak adalah bawahannya yang paling setia.


----------


Aria dan Louis sudah sampai di mansion dan langsung menuju ruang pengobatan yang ada di dalam mansion tersebut.


"Victor bantu Louis untuk mengompres punggungnya" Aria berada di ruang pengobatan dan di depannya sudah ada Victor yang langsung menghampiri Aria begitu Aria sampai di ruang pengobatan.


"Tuan Louis anda terluka?" Setelah mendengar perkataan Aria Victor langsung menanyakan keadaan Louis.

__ADS_1


"Aku hanya sedikit memar di punggungku"


"Siapa yang bisa membuat anda terluka begini apa kali ini pihak musuh lebih kuat tunggu kalau tuan Louis terluka, nona apa anda juga terluka?" Victor langsung teringat Aria mungkin juga Aria terluka.


"Aku baik-baik saja cepat obati saja Louis sebelum memarnya tambah membengkak"


"Coba saya lihat luka anda" Victor lalu melihat memar yang ada di punggung Louis.


"Tuan Louis sebenarnya siapa yang membuat anda terluka begini, memar ini sudah sedikit membengkak apa punggung anda terbentur sesuatu yang keras dan juga tajam?"


"Ah itu saya hanya berbenturan dengan mobil anda tidak perlu khawatir saya masih baik-baik saja" Louis berkata dengan sedikit canggung karena ada Aria disana.


"Terbentur mobil pantas saja, lawan kali ini pasti sangat kuat sampai bisa mendorong Anda dengan sangat keras anda harus lebih berhati-hati tuan Louis"


Louis yang mendengar perkataan Victor hanya tersenyum canggung sambil melirik Aria.


"Louis terluka karena aku yang mendorongnya" Aria berkata dengan ekspresi datarnya.


Mendengar perkataan Aria Victor seketika langsung mematung dan tidak bisa berkata apa-apa lalu memandang Louis yang masih tersenyum canggung.


Setelah melihat Aria sudah keluar Victor lalu menatap Louis "Apa benar yang di katakan oleh nona tadi, kamu terluka karena nona?" Victor langsung menanyakan kebenaran perkataan Aria tadi pada Louis.


Louis mengangguk pelan "Itu benar tapi nona tidak sengaja dan itu juga karena kesalahan saya. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan" Louis melihat Victor yang masih terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya


"Dokter kalau anda terus seperti itu kapan anda akan mengobati saya" Louis menepuk pelan pundak Victor


"Ah iya maafkan saya tuan Louis saya hanya cukup terkejut tadi" Victor lalu membawa Louis ke dalam sebuah ruangan untuk di obati.


"Duduklah saya akan bersihkan dulu luka anda" Victor menyuruh Louis untuk duduk diatas kursi yang terletak di dekat rak obat-obatan.


Louis lalu duduk di kursi tersebut dan melihat Victor yang sedang mengambil beberapa obat-obatan.


Selesai mengambil beberapa obat dan satu kompres untuk mengompres memar yang ada di punggung Louis Victor lalu kembali menghampiri Louis.


Victor mulai membersihkan luka yang ada di punggung Louis dan setelah itu tidak lupa Victor juga membantu mengompres memar yang sudah mulai membengkak itu.


"Tuan Louis anda membuat kesalahan seperti apa sampai nona mendorong anda dengan sangat keras" Victor sedikit iba melihat luka yang ada di punggung Louis.

__ADS_1


"Saya hanya melakukan kesalahan kecil dan juga nona Aria tidak mendorong saya dengan sengaja" Louis menjawab Victor yang masih mengompres memar yang ada di punggungnya.


Beberapa menit kemudian Victor selesai mengompres memar Louis.


"Apa kamu sudah selesai Victor?" Aria bertanya sambil berjalan menghampiri Louis dan Victor.


Victor melihat Aria yang sedang berjalan kearahnya lalu Victor membungkukkan badannya dan menjawab pertanyaan Aria "Sudah nona, lukanya akan membaik setelah satu hari tapi memarnya mungkin akan membaik dalam dua hari kedepan"


Aria menganggukkan kepalanya "Victor antar saya ke ruangan dimana Grace dirawat" Aria menatap Victor yang ada di sebelah kanannya.


"Baik nona mari saya antarkan"


"Saya juga ikut" Louis lalu berdiri dari tempat duduknya dan berniat mengikuti Aria dan juga Victor.


"Kamu tetap disini dan istirahatlah" Aria melihat ke arah Louis


"Saya baik-baik saja saya akan ikut dengan kalian" Louis lalu menghampiri Aria dan Victor.


"Kamu yakin, lebih baik kamu disini saja" Aria menatap wajah Louis dengan tatapan datarnya.


"Saya yakin dan saya juga baik-baik saja ini hanya luka kecil" jawab Louis sambil tersenyum.


"Ya sudah itu terserah kamu" Aria lalu kembali melanjutkan langkah kakinya dan berjalan menuju ruangan dimana Grace sedang dirawat. Louis mengikuti Aria dan Victor dari belakang.


"Nona ini ruangan dimana nona Grace di rawat"


Mereka bertiga sampai di depan sebuah ruangan yang bertuliskan kamar 109. "Baiklah ayo masuk"


Mereka bertiga lalu memasuki ruangan tersebut. Saat Aria sudah berada di dalam ruangan Aria melihat Grace yang sedang duduk menghadap jendela besar yang ada di ruangan itu.


Grace masih terlihat sama saat terkahir kali Aria bertemu dengannya "Apa tidak ada kemajuan dengan kondisinya?" Aria bertanya pada Victor yang ada di sampingnya.


Victor menggeleng pelan "Saat ini masih tidak ada mungkin butuh waktu sedikit lebih lama"


"Kalau begitu bagaimana luka yang ada di tubuhnya apa sudah lebih membaik?"


"Kalau itu sudah lebih membaik nona hanya saja mungkin beberapa luka sayatan yang ada di tubuhnya akan membekas" Victor menjawab sambil menatap Grace yang masih seperti mayat hidup itu.

__ADS_1


__ADS_2