
Aria melihat gedung kosong di depannya. Aria kembali teringat saat dia menemukan kakaknya di gedung tersebut. Ya sekarang Aria sedang berada di depan gedung kosong tempat Javier di temukan.
"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan waktu itu Leon" Aria mengepalkan tangannya dengan sangat keras.
"Kamu tau gedung ini dari mana Aria?" Herald bertanya pada Aria karena dia masih belum tau kejadian saat Aria menemukan Javier.
"Gedung ini adalah tempat dimana aku menemukan kakak setelah mencari kakak kemana-mana dan di gedung ini pula mereka menyiksa kakak aku akan berbuat hal yang sama pada Leon, dia harus merasakan apa yang aku rasakan waktu itu"
Mendengar hal itu Herald sedikit terkejut dan juga sedih "Maafkan aku Aria aku tidak ada saat kamu sedang kesulitan" Herald meminta maaf pada Aria dan itu juga terlihat di wajahnya yang kini terlihat sangat menyesal.
"Sudahlah itu juga sudah terjadi tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah Leon perbuat aku juga akan membalasnya dengan hal yang sama"
Aria lalu berjalan ke arah bagasi dan membuka tutup bagasi tersebut. Aria lalu menarik tubuh Marliana yang masih tidak sadarkan diri dan menyeretnya masuk ke dalam gedung kosong tersebut.
Herald hanya bisa melihat apa yang dilakukan Aria karena Herald tau saat ini Aria sedang sangat marah pada Leon jadi dia tidak mungkin berbelas kasih bahkan pada adiknya sekalipun yang tidak tau apa-apa tentang kelakuan kakaknya. Herald juga setuju dengan perlakuan Aria pada Marliana karena menurutnya kakak Aria Javier pun tidak mengetahui apa-apa namun Leon mengincarnya dan menganiaya Javier jadi menurut Herald yang dilakukan Aria itu sangat setimpal dengan apa yang dilakukan Leon pada kakaknya.
Aria terus menyeret tubuh Marliana walaupun sekarang tubuh wanita itu sudah tidak mulus lagi karena di kulitnya kini terdapat beberapa luka goresan dan sayatan karena terkena berbagai benda tajam di dalam gedung itu saat Aria menyeretnya.
Aria lalu membawa Marliana ke salah satu ruangan dimana Aria menemukan Javier tergeletak. Aria tidak ingin mengingat kejadian waktu itu jadi sekarang Aria hanya fokus ke Marliana.
"Hey tolong bantu aku mengikat wanita ini"
Aria meminta bantuan Herald untuk mengikat Marliana karena Aria mau mengikat tubuh wanita itu sambil berdiri. Aria memegang tubuh Marliana dan mendirikannya sementara Herald dia mengikat kedua tangan Marliana di masing-masing tiang besi di sana.
Kini tubuh Marliana sudah terikat sambil berdiri tangannya Herald ikat ke atas dan juga kaki Marliana masing-masing di ikatkan ke tiang besi yang ada di samping kanan dan kiri Marliana.
"Kita tinggal menunggu wanita ini bangun"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah dia bangun?" Herald bertanya pada Aria yang masih menatap Marliana.
"Tentu saja aku akan menyiksanya sama seperti yang kak Javier alami"
"Baiklah itu terserah kamu, aku akan menuruti semua keputusanmu"
Herald memahami apa yang sedang Aria rasakan jadi sekarang dia hanya bisa mengikuti kemauan Aria karena kalau jadi Aria Herald pun pasti akan melakukan hal yang sama.
_____
Leon menghubungi salah satu Bodyguard yang menjaga Marliana namun Leon tidak mendapatkan jawaban apapun. Leon lalu menghubungi lagi Bodyguard yang lain namun hasilnya sama mereka tidak bisa di hubungi.
"Kenapa mendadak mereka semua tidak bisa di hubungi, biasanya mereka akan langsung menjawab panggilanku apa terjadi sesuatu" Leon kini sedang berada di kantornya bersama dengan Ferio yang sekarang ada di depannya.
"Ferio kamu cari dimana adikku sekarang aku mempunyai firasat tidak enak tentangnya"
"Baik tuan akan saya laksanakan" Ferio lalu pamit dan segera menjalankan tugas dari Leon.
__ADS_1
"Marliana semoga kamu baik-baik saja, kalaupun ada yang menyakitimu kakak akan membalasnya puluhan kali lipat" Leon mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga urat-urat di tangannya bermunculan.
Dua puluh menit kemudian Ferio menghubungi Leon.
"Apa kamu sudah menemukan keberadaan adikku?"
"Saya sudah menemukan keberadaan dari keempat Bodyguard yang menjaga adik anda tapi saya tidak bisa menemukan adik anda tuan, saya hanya menemukan ponselnya dan itupun sudah hancur berkeping-keping"
"Apa?!! Apa yang kamu katakan Ferio" Leon begitu terkejut mendengar perkataan Ferio.
"Tuan sepertinya adik anda di culik karena keempat anggota anda yang anda suruh menjaga nona Marliana sudah terbunuh mungkin sekitar dua jam yang lalu"
"Itu tidak mungkin Marliana tidak mungkin di culik, kamu cari di sekeliling tempat itu pasti Marliana ada di sana"
"Saya sudah mencarinya tuan tapi saya tidak menemukan adik anda"
"Sialan!!!" Leon memukul meja yang ada di depannya hingga meja tersebut patah
"Aku tidak akan memaafkan orang yang menculik adikku, awas saja kalau penculik itu berani melukai adikku" kini wajah Leon terlihat sangat menakutkan dan juga Leon sangat marah karena ada orang yang berani menculik adik kesayangannya itu.
"Ferio kamu segera kembali ke sini dan seperti biasa buang semua mayat itu jangan sampai polisi mengetahuinya"
"Baik tuan"
"Marliana kamu tunggu kakak, kakak pasti akan menemukanmu dengan cara apapun"
_____
"Kenapa dia tidak bangun juga ini sudah satu jam lebih tidak mungkin kan dia mati" Herald menatap Aria yang saat ini sedang asik dengan ponselnya.
"Dia tidak mati dan juga dia sudah bangun dari tadi hanya saja dia sedang berpura-pura tidur, bukan begitu Marliana" Aria menatap Marliana yang kini masih terpejam.
"Ah.. sepertinya kamu ingin di bangunkan dengan cara yang tidak biasa ya"
Aria kemudian mengambil sebotol air lemon dari dalam kantong besar. Sambil menunggu Marliana bangun Aria menyuruh Herald untuk membeli beberapa makanan dan juga air lemon ke toserba terdekat di sana.
Aria kemudian berjalan menghampiri Marliana lalu setelah itu Aria menyiramkan air lemon tersebut ke tubuh Marliana yang terluka. Segera setelah itu Marliana membuka matanya dan menjerit.
"Aarrghh... Apa yang kamu lakukan wanita sialan" Marliana tidak bisa apa-apa karena kedua tangan dan juga kakinya terikat jadi Marliana hanya bisa menggunakan mulutnya.
"Membangunkan mu" Aria berkata dengan santai dan itu makin membuat Marliana marah.
"Kau..kamu menyakitiku bukan membangunkanku"
"Aku kan sudah bilang bangun padamu tapi kamu malah memilih cara bangun yang tidak biasa" Aria masih santai menanggapi perkataan Marliana.
__ADS_1
Sementara Herald dia hanya melihat itu sambil memakan makanan ringan yang tadi dia beli di toserba.
"Aku tidak akan ikut campur sebelum Aria yang meminta padaku karena aku akan membiarkan Aria melampiaskan amarahnya pada wanita itu" batin Herald sambil terus memperhatikan Aria dan juga Marliana.
"Kau.." Marliana kehabisan kata-kata melihat tingkah santai Aria.
"Karena kamu sudah bangun bagaimana kalau kita mulai" Aria mengambil belati dari balik jaketnya lalu menyeringai ke arah Marliana.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan belati itu" kini Marliana terlihat sangat ketakutan bahkan wajahnya sangat pucat seperti tidak mempunyai darah lagi.
"Tentu saja bersenang-senang" ucap Aria sambil menyeringai.
"Dasar wanita gila.. cepat lepaskan aku" Marliana meronta-ronta saat Aria mulai mengarahkan belati itu padanya.
"Hey diamlah aku tidak mau belati ini tergelincir dan malah memotong uratmu"
"Tolong ampuni aku, aku tidak mempunyai salah pada kalian kenapa kalian melakukan ini padaku" Marliana kini tidak bisa menahan tangisannya.
Aria menghentikan belatinya saat belati itu sudah hampir menyayat kulit Marliana.
"Kenapa aku melakukan ini padamu? Apa mau aku kasih tau" Aria kini tidak lagi menyeringai. Aria kini memasang ekspresi yang sangat dingin.
"Karena kakakmu itu aku kehilangan kedua orang tuaku, karena kakakmu itu kehidupan bahagiaku berakhir dan tidak cukup sampai disitu saja kakakmu Leon bajingan sialan itu dia mencoba untuk mengambil keluargaku satu-satunya yang tersisa hanya karena kakak mengundurkan diri dari perusahaan bajingan itu. dan juga dengan tidak tau malunya banjingan itu tersenyum padaku seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan apapun padaku" Aria meluapkan semua isi hatinya pada Marliana.
Herald yang mendengar hal itu langsung menaruh camilannya dan menatap Aria dengan tatapan sedih karena Herald juga tau rasa sakit apa yang sudah Aria lalui selama ini.
"Bajingan itu terus mendekatiku dengan tidak tau malunya dan itu membuatku jijik, dia juga membuat semua orang yang kenal denganku tidak lagi bisa bernafas itu artinya dia membuat orang itu terluka atau mati, apa kamu tau dia adalah pria paling br*ngs*k yang pernah aku kenal dia juga tidak punya hati dan egois aku sangat membencinya aku juga akan membals semua perbuatannya jadi kalau kamu mau menyalahkan salahkan saja kakakmu karena dia yang membuatmu berada di sini sekarang" kini wajah Aria terlihat sangat menyeramkan bahkan wajah itu terlihat seperti iblis oleh Marliana.
"Itu..itu.." Marliana tidak bisa menyangkal perkataan Aria karena memang sifat kakaknya seperti itu tapi sekarang gara-gara kakaknya Marliana terlibat dengan Aria.
"Lihatlah..kamu tidak bisa menyangkalnya karena perkataanku benar"
"Aku akan menyuruh kakak untuk meminta maaf padamu tapi tolong kamu lepaskan aku"
"Melepaskanmu? Aku tidak akan melepaskanmu" Aria lalu kembali mendekatkan belatinya pada kulit Marliana.
"Aku mohon lepaskan aku, aku akan memohon pada kakak untuk meminta maaf padamu" Marliana kembali mengeluarkan air matanya karena ketakutan.
"Maaf..aku tidak butuh itu lagipula kata maaf itu tidak akan pernah mengembalikan keluargaku dan juga membangunkan kakakku"
Aria lalu menyayat tangan kanan Marliana. Aria membuat sayatan yang tidak sedikit bahkan sayatan tersebut berubah menjadi sebuah kata.
"Tolong ampuni aku..."Marliana hanya bisa mengucapkan kata itu dari mulutnya.
Aria tidak menanggapi ucapan Marliana, Aria bahkan terus membuat sayatan di tubuh Marliana sambil tertawa dan meracau tidak jelas seperti orang gila.
__ADS_1