
Hari sudah mulai siang Aria masih bersama Giovanni di dalam mobil.
"Nona boleh saya tau nama anda, kita akan bekerja sama untuk mencari pelaku pembunuhan jadi sebaiknya saya tau nama anda".
"Aria". Jawab Aria sambil masih terus melihat lurus ke depan.
"Saya Giovanni, saya bekerja sebagai polisi sekaligus detektif". Setelah mendengar nama Aria Giovanni juga memperkenalkan dirinya.
"Polisi yang menjadi detektif, lumayan menarik". Ucap Aria sambil melihat kearah Giovanni.
"Kalau saya boleh tau apa pekerjaan anda, apa mungkin anda juga seorang detektif karena bisa dengan mudah menebak bahwa jasad itu adalah korban dari pembunuhan dan juga menebak pelaku dibaliknya meskipun kita belum bisa mencari tau identitas pelaku tapi itu sudah sangat menakjubkan".
Aria menggeleng pelan kemudian kembali menatap lurus kearah jalan. "Saya hanya pegawai biasa. Saya bekerja di toko barang antik".
"Begitu ya, apa anda tidak ingin menjadi seorang detektif?". Giovanni bertanya pada Aria sambil terus melihat kedepan.
"Tidak, saya tidak tertarik".
"Baiklah itu terserah anda". Sebenarnya Giovanni sedikit menyayangkan karena kalau Aria menjadi seorang detektif dengan kepintarannya ia akan sangat membantu dalam memecahkan sebuah kasus.
Mobil yang Giovanni bawa akhirnya memasuki sebuah rumah sakit besar. Giovanni memarkiran mobilnya terlebih dahulu lalu setelah itu mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit tersebut.
Di dalam rumah sakit semua orang yang ada disana mata mereka terpaku pada Aria dan Giovanni. Aria dengan porsi tubuh yang sangat bagus dan sangat cantik juga Giovanni dia pria yang gagah juga wajahnya sangat tampan bak dewa Yunani ditambah dari wajah Giovanni terlihat aura ketegasan.
Melihat pasangan bak Dewa Dewi Yunani itu semua orang tidak bisa tidak menatap mereka yang terlihat sangat serasi saat berjalan berdampingan.
Giovanni terlihat sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang namun dia menghawatirkan Aria, karena takut wanita tersebut ketakutan dengan semua tatapan yang tertuju padanya.
Giovanni lalu melirik Aria . Dia melihat Aria masih sama seperti biasa bahkan terlihat tidak peduli dengan sekitarnya, itu membuat Giovanni terlihat lebih lega. "Mungkin dia sudah terbiasa ditatap seperti itu karena dia sangat cantik walaupun hanya diam saja dan tidak mengeluarkan ekspresi apapun".
Mereka berdua lalu tiba di depan ruangan forensik dan melihat ada dua orang polisi yang sedang berjaga disana.
"Bagaimana keadaan di dalam?". Giovanni bertanya kepada salah satu dari polisi tersebut.
"Lapor pak, masih di tangani tim forensik".
"Baiklah, kami akan masuk".
Giovanni lalu mengajak Aria untuk segera masuk kedalam ruangan forensik tersebut.
__ADS_1
Di dalam Aria melihat ada dua orang yang sedang sibuk dengan tubuh yang terbaring dengan sangat mengenaskan di depannya. Sepertinya dua orang ini adalah tim forensik.
Melihat ada dua orang yang masuk ke dalam dan mengenali salah satunya kedua orang itu lalu memberi salam.
"Selamat siang pak". Ucap mereka sambil membungkukkan badannya.
Giovanni dan Aria membalas salam mereka lalu segera menghampiri mereka.
"Bagaimana hasilnya Grace?". Giovanni bertanya kepada salah satu tim forensik.
"Kami masih memeriksa lukanya karena ada beberapa, oh iya pak siapa wanita yang anda bawa ini?". Grace menanyakan Aria yang sejak tadi berdiri disamping Giovanni.
"Ah..dia Aria , kami bertemu saat di jalan tadi, Aria ini Grace, dia adalah ahli forensik terbaik di kota ini". Giovanni memperkenalkan Aria kepada Grace.
Aria hanya mengangguk dan kembali terdiam. Itu membuat suasana agak canggung. Lalu kemudian Giovanni mencairkan suasana dengan menyuruh Grace kembali bekerja.
Grace dan asistennya yang juga seorang wanita sudah selesai mengautopsi jasad tersebut lalu dia berjalan kearah Giovanni dan Aria yang sedang menunggu sambil menyandarkan punggung mereka pada dinding.
"Pak detektif, menurut hasil autopsi saat masih hidup dia mengalami kurang lebih dua puluh luka sayatan".
"Dua puluh!!". Giovanni terkejut dengan luka yang ada di tubuh korban.
"Apa kalian bisa memastikan benda tajam apa yang dipakai si pelaku".
"Pelaku menggunakan dua buah senjata, yang satu adalah pisau untuk menyayat korban dan satu lagi dari sebuah pedang yang dipakai untuk menusuk jantung dan merobek perut korban".
Giovanni mengangguk mendengar penjelasan dari Grace. Dia lalu memandang Aria. "Bagaimana bisa wanita ini bisa langsung menebak benda apa yang digunakan si pelaku tanpa mengautopsi dulu tubuhnya dan juga opininya tentang cara si pelaku membunuh juga sangat tepat. Ini...dia sangat jenius tapi sayang sekali dia tidak mau mengembangkan bakatnya itu". Sebenarnya Giovanni lebih kagum dengan Aria yang bisa menebak dengan akurat tanpa bantuan autopsi.
Setelah penyebab kematiannya sudah di pastikan Aria dan Giovanni kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Opini Anda tentang pembunuhan tersebut ternyata benar, bagaimana anda bisa menebaknya dengan sangat akurat?". Giovanni akhirnya menanyakan apa yang ada di pikirannya pada Aria.
"Saya hanya melihat luka di jasad korban dan opini itu muncul begitu saja".
"Begitu ya". Giovanni mengangguk mendengar ucapan Aria.
Lalu datang dua orang polisi yang tadi Giovanni suruh untuk mencari identitas korban. Polisi tersebut lalu berjalan kearah Giovanni dan Aria yang sedang ada di depan ruang forensik.
"Lapor pak, kami sudah mendapatkan identitas korban". Ucap salah seorang polisi lalu memberikan sebuah berkas kepada Giovanni.
__ADS_1
Giovanni menerima berkas itu lalu duduk di kursi panjang ruang tunggu tersebut dan membuka berkas itu. Aria juga duduk di samping Giovanni.
"Namanya adalah Alban, dia tidak punya nama belakang umur sekitar empat puluh tahun, pekerjaan serabutan. Dia suka mabuk-mabukan dan juga berjudi, dia meminjam uang pada rentenir karena kecanduan alkohol dan juga judi, lalu dia juga tidak pernah bisa membayar utangnya karena tidak bekerja dan juga kalah terus saat bermain judi sehingga utangnya semakin menumpuk dan sering kena pukul oleh rentenir yang menagihnya. Namun dari siang kemarin dia tidak pernah kelihatan lagi". Giovanni membaca isi berkas tersebut lalu melirik Aria.
"Bagaimana menurut anda?".
"Mungkin dia terbunuh tadi malam karena dia hilang saat siang hari, bisa saja siang itu dia dibawa oleh rentenir itu". Aria menyampaikan pendapatnya.
"Itu bisa jadi tapi, kenapa harus malam dan tidak siang saat si pelaku membawa korban?".
"Tentu saja karena untuk menyiksanya terlebih dahulu".
"Hmm.. itu masuk akal tapi kenapa harus menyiksanya dan membunuhnya dengan sangat kejam seperti itu". Giovanni sedikit bingung karena pelakunya kan seorang rentenir dan tidak mungkin terbiasa dengan cara membunuh seperti itu.
"Mereka ingin mengelabui kalian para polisi, karena kebanyakan polisi tidak mau berurusan dengan orang dari dunia bawah jadi mereka membunuh dengan cara seperti para pembunuh dari dunia bawah tapi sayangnya mereka ceroboh karena terlalu percaya diri dengan cara membunuh mereka".
Giovanni diam mendengar ucapan Aria, dia merasa kalau saat bersama dengan wanita itu dia seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa karena kalah pintar dengan Aria.
"Terus bagaimana kita mencari pelakunya pak?". Ucap salah seorang polisi yang ada disana.
"Kita akan langsung ketempat mereka".
"Tapi pak, bagaimana kalau mereka sudah pergi dari sana karena takut tertangkap oleh kita".
"Saya ragu kalau mereka sudah pergi karena kalau ucapan nona Aria benar, mereka sangat percaya diri dengan pembunuhan yang mereka lakukan dan tidak akan ketahuan pasti mereka masih ada disana".
Giovanni melirik Aria lalu melihat Aria mengangguk. "Ayo kita pergi sekarang, kalian berdua ikut dengan saya". Ucap Giovanni sambil menunjuk dua orang polisi yang ada di sana.
"Nona, sebaiknya kamu menunggu disini biar saya yang menangkap rentenir itu". Giovanni tidak mau Aria dalam bahaya karena kalau Aria ikut bisa jadi dia akan di jadikan sebagai target sandera agar para rentenir itu bisa melarikan diri.
"Saya akan ikut, mungkin saya bisa membantu". Sebenarnya Aria tidak mau ikut karena sedang dalam perjalanan menuju kota X tapi Aria akan memastikan dulu pelaku bisa ditangkap dan tidak kabur.
"Tapi nona ..".
"Saya akan tetap ikut".
Akhirnya Giovanni mengalah " baiklah anda bisa ikut tapi nanti jangan jauh-jauh dari saya". Aria tidak menjawab dan malah langsung melangkah pergi dari sana menuju pintu keluar.
Giovanni yang melihat Aria langsung pergi keluar menggeleng pelan. "Aku tidak akan pernah terbiasa dengan sifatnya yang berubah-ubah, apakah ini juga akibat dari emosinya yang tumpang tindih". Giovanni lalu berjalan mengikuti Aria yang sudah lebih dulu keluar dari rumah sakit tersebut.
__ADS_1