
"Apa kalian tidak mau makan dulu, saya sudah menyiapkan jamuan makan untuk kalian"
Setelah menandatangani beberapa surat-surat rumah tersebut Erik menawarkan jamuan makan pada Herald dan juga Aria.
"Aria bagaimana menurutmu" Herald menatap Aria yang daritadi terus diam.
"Maaf tuan Erik sepertinya kami tidak bisa menerima jamuan itu karena saya harus pulang cepat" Aria menolak jamuan makan yang sudah pria paruh baya itu siapkan karena Aria teringat kakaknya yang sendirian di rumah itu.
"Karena Aria berkata seperti itu, saya pun tidak bisa menerima jamuan itu maaf Tuan Erik kami harus menolak jamuan yang sudah anda siapkan"
"Tidak apa, sepertinya kalian cukup sibuk"
Aria masih memperhatikan Erik dan mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu pria paruh baya itu "Bentuk tubuhnya tidak asing dan wajahnya juga, aku yakin aku pernah bertemu atau setidaknya melihatnya. Tubuh yang masih terlihat kokoh dan sehat serta otot-ototnya yang menandakan kalau pria ini rajin olahraga walaupun sudah tidak muda lagi tapi tubuh pria ini tidak kalah bagus dengan Herald maupun Louis"
Aria terus mengingat-ingat siapa dan dimana dia pernah bertemu Erik "Tunggu, bukankah dia ini adalah pria paruh baya yang waktu itu aku lihat saat acara lelang di Casino Las Vegas, benar sekarang aku ingat pria ini adalah pria yang sama dengan pria paruh baya yang waktu itu aku lihat di acara lelang, tidak salah lagi aku mengingatnya dengan jelas sekarang" batin Aria.
"Kenapa nona, apa ada yang salah dengan wajah saya?" Erik menyadari Aria dari tadi memperhatikannya.
"Tidak ada, hanya saja anda mengingatkan saya pada ayah saya yang sudah tiada" Aria berbohong pada pria paruh baya tersebut.
"Ah begitu ya, saya pikir ada yang aneh dengan wajah saya"
"Kalau begitu kami permisi" Aria berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Herald juga Erik.
"Semoga anda betah dan nyaman tinggal di rumah itu" ucap Erik pada Aria.
"Saya juga berharap begitu"
"Terimakasih karena anda sudah mau menjual rumah anda dan juga maaf karena kami menolak jamuan makan anda" Herald masih tidak enak pada pria paruh baya itu karena sudah menolak jamuan makan yang dia siapkan.
"Tidak apa, saya tau kalian sibuk mungkin kalau ada kesempatan lain kita bisa makan bersama" Erik menjawab Herald sambil tersenyum ramah.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi selamat sore"
Aria juga Herald lalu keluar dari rumah itu dan berjalan menuju mobil mereka. Aria tidak menyadari dari jauh Erik terus menatapnya "Wanita yang aneh" gumam pria paruh baya tersebut.
_____
Giovanni berada di rumah sakit tempat Javier di rawat, rencananya Giovanni ingin menemui Aria dan juga menjenguk Javier namun saat Giovanni tiba di depan ruangan khusus tempat Javier dirawat, Giovanni menemukan ruangan tersebut sudah kosong.
"Kenapa ruangan ini kosong, apa Aria memindahkan kakaknya ya" Giovanni lalu memutuskan untuk menanyakan itu pada resepsionis yang ada di depan pintu masuk rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Permisi apa pasien dengan nama Javier Cyrillo Darrellyn pindah ruangan, karena tadi saya ke ruangannya ruangan tersebut sudah kosong" tanya Giovanni pada wanita resepsionis tersebut.
"Sebentar biar saya cek dulu" wanita tersebut lalu segera mengecek data dengan nama yang di ucapkan Giovanni tadi.
"Pasien dengan nama Javier Cyrillo Darrellyn sudah di bawa pulang tadi pagi karena sudah sembuh" ucap resepsionis tersebut.
"Pulang? Sembuh?" Giovanni tidak tau bahwa Javier sudah sembuh karena dia sibuk ke dunia bawah untuk bertemu Aria.
"Aku tidak tau kakak Aria sudah sembuh, aku terlalu sibuk ke dunia bawah untuk menemui nona Rose" batin Giovanni.
"Kalau gitu apa saya boleh meminta alamat rumah pasien, saya masih harus mewawancarainya"
Resepsionis tersebut sudah mengetahui Giovanni adalah seorang polisi karena sudah beberapa kali melihat Giovanni di rumah sakit ini.
"Boleh, tunggu sebentar" resepsionis tersebut lalu mengambil sebuah kertas dan menuliskan alamat rumah Aria di kertas tersebut dan memberikan kertas itu pada Giovanni.
Giovanni menerima kertas tersebut lalu membacanya setelah itu Giovanni melipat kertas tersebut dan memasukannya ke dalam saku celananya.
"Terimakasih" Giovanni mengucapkan terimakasih pada resepsionis wanita tersebut lalu berjalan keluar dari rumah sakit itu untuk pergi ke apartemen Aria.
"Apa ini rumahnya?" Giovanni sekarang berada di depan sebuah apartemen mewah.
"Aku kira Aria tinggal di rumah tapi ternyata dia tinggal di apartemen" Giovanni lalu melangkah memasuki apartemen tersebut.
_____
"Akhirnya sampai juga, kak apa kakak ada di dalam" begitu sampai di rumah baru itu Aria langsung memeriksa kakaknya.
Javier lalu membukakan pintu untuk Aria dan juga Herald "Kakak tidak kemana-mana Aria kamu tidak perlu berteriak seperti itu" Javier menjitak pelan kepala Aria.
"Aku kan hanya memeriksa kakak takut kakak kenapa-napa" ucap Aria sambil cemberut karena kepalanya kena jitak.
"Sudahlah bagaimana kalau kita pulang dan nanti sekalian kita makan malam di luar saat jalan pulang bagaimana?" Usul Javier pada Aria dan juga Herald.
"Boleh.."
"Itu ide bagus"
Aria juga Herald setuju dengan usulan Javier "Ya sudah ayo berangkat ini juga sudah jam tujuh malam" mereka bertigapun memasuki mobil dan pergi menuju restoran untuk mengisi perut mereka.
Kini mereka bertiga sudah ada di depan sebuah restoran bintang lima di kota L. Setelah menunggu Herald memarkirkan mobil mereka bertiga lalu berjalan memasuki restoran tersebut.
__ADS_1
"Permisi tuan dan nona kalian mau pesan apa?"
Seorang pelayang wanita menghampiri mereka bertiga saat mereka baru saja duduk.
"Saya mau steak dan juga udang panggang pedas" ucap Aria
"Saya juga mau steak" Javier juga memesan makanan yang sama dengan Aria.
"Saya mau seafood yang masih segar" Herald memesan makanannya.
"Baik, lalu untuk minumannya tuan" ucapan pelayan tersebut.
"Air putih saja"
"Kami juga mau air putih saja" timpal Javier
"Baik tolong tunggu sebentar kami akan segera membuat makanan yang anda minta" pelayan wanita tersebut lalu permisi dan melanjutkan tugasnya.
Tidak lama kemudian makanan yang mereka bertiga minta sudah datang. Aria langsung memakan pesanannya begitu pula dengan Herald dan juga Javier. Mereka bertiga fokus pada makanan dan tidak ada satu orang pun dari mereka bertiga yang berbicara.
"Aku kenyang.." ucap Aria sambil mengelus perutnya.
"Tentu saja kamu pasti kenyang, kamu kan ikut memakan seafood milik Herald" Javier menimpali ucapan Aria.
"Aku kan hanya memakannya sedikit karena itu terlihat enak"
"Sedikit apanya mungkin kamu menghabiskan setengah porsi" Javier menggeleng pelan.
"Sudahlah tidak apa, aku senang Aria makan banyak" Herald segera menengahi perdebatan antara Javier dan juga Aria.
"Tuh lihat orang yang makanannya aku makan saja tidak protes"
Javier hanya menghela nafas pelan menanggapi ucapan Aria sementara Herald dia tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Sudah ayo kita pulang, besok kita akan pindah rumah jadi aku akan tidur lebih awal" Aria berdiri dari kursinya dan mengajak dua pria itu untuk pulang.
"Baiklah ayo"
Setelah membayar makanan tersebut mereka bertiga lalu keluar dari restoran bintang lima itu dan melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Tiga puluh menit kemudian mereka bertiga sudah sampai di depan gedung apartemen Aria dan juga Javier. Aria lalu keluar dari mobil diikuti oleh Javier dan juga Herald.
__ADS_1
Saat akan memasuki gedung apartemennya Aria melihat seorang pria yang dia kenal sedang duduk di kursi depan gedung apartemen tersebut. Pria itu juga melihat Aria dan langsung berdiri lalu berjalan menghampiri Aria.
"Kenapa dia ada di sini?" Batin Aria.