Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam

Terjerat Cinta Ketua Mafia Wanita Mawar Hitam
Menyingkirkan Semua Sampah


__ADS_3

"Baik tuan"


Pria yang di panggil Rudiger tersebut segera pergi dari ruangan utama itu untuk melaksanakan perintah Herald.


"Sudah saatnya aku membasmi para sampah itu" batin Herald


Tidak lama kemudian Rudiger kembali dengan seorang pria paruh baya di sampingnya. "Saya sudah memanggil Vorsham" Rudiger lalu kembali ke samping Herald.


"Tuan anda sudah datang" Vorsham lalu membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Herald.


"Pria tua ini, dia bahkan tidak menyambut kedatanganku" batin Herald sambil memasang wajah tanpa ekspresi pada Vorsham.


"Ada apa anda memanggil saya?" Vorsham menatap Herald tapi tidak lama kemudian dia kembali menundukkan wajahnya karena melihat tatapan dingin Herald.


"Sial!! Tubuhku gemetaran hanya karena tatapannya saja" batin Vorsham sambil berusaha menenangkan dirinya.


"Rudiger ambilkan berkas yang aku minta padamu"


"Baik tuan" Rudiger kembali pergi dari ruangan itu untuk mengambil berkas yang sudah dia siapkan sebelum Herald datang.


"Tuan memangnya berkas apa yang anda minta?"


Herald tidak menanggapi ucapan Vorsham dan malah sibuk dengan ponselnya. Sementara Vorsham dia terlihat kesal karena seperti tidak dianggap oleh Herald.


"Bocah sialan!! Kalau dia mau mendiamkan ku begini kenapa dia memanggilku, setidaknya suruh aku duduk dulu" batin Vorsham.


Vorsham tidak berani duduk sebelum Herald menyuruhnya untuk duduk karena bagaimanapun sekarang posisi Herald masih di atasnya.


"Lihat saja nanti aku akan merebut posisimu itu dan menggantikanmu memimpin dunia bawah ini" batin Vorsham sambil mengepalkan tangannya dengan sangat keras.


Rudiger kembali memasuki ruang utama sambil membawa berkas di tangannya. "Ini tuan berkas yang anda minta" Rudiger memberikan berkas tersebut pada Herald.


Herald memasukan Kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan meraih berkas yang ada di tangan Rudiger.


"Kemari kamu" Herald menunjuk Vorsham untuk mendekat.


Vorsham mengangguk kemudian berjalan mendekat ke arah Herald "Ambil dan baca ini" Herald memberikan berkas tersebut pada Vorsham.


Vorsham menerima berkas itu lalu membuka dan membacanya. Tidak sampai sepuluh detik wajah Vorsham kini pucat pasi bahkan keringat dingin muncul di seluruh tubuhnya.


"Tuan ini.. ini pasti saya di jebak, saya tidak mungkin melakukan semua ini" tubuh Vorsham gemetar hebat sampai tangan yang sedang memegang berkas pun ikut gemetaran.


"Jadi maksudmu bukti yang aku dapatkan dengan tanganku sendiri itu palsu?" Herald berkata dengan nada yang sangat dingin.


"Itu.." Vorsham tidak tau harus berkata apa karena memang bukti yang ada di berkas tersebut benar.


Di dalam berkas tersebut berisi tentang Vorsham yang menggelapkan uang organisasi juga tentang Vorsham yang tidak adil dalam pemilihan anggota baru bahkan di dalam berkas itu juga berisi tulisan Vorsham yang ingin melakukan kudeta yaitu menurunkan posisi Herald dari ketua organisasi Blood Moon dan menjadikan dirinya sebagai ketua yang baru.


"Aku juga masih mempunyai bukti lainnya jadi Vorsham apa pembelaanmu?"

__ADS_1


"Itu..itu.." pikiran Vorsham saat ini kosong karena terlalu takut juga terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.


"Kamu tidak bisa melakukan pembelaan kan, karena semua yang tertulis di berkas itu benar. Kau tau Vorsham, aku bekerja dengan sangat keras untuk mencapai posisiku saat ini dan kamu.. kamu mau merebutnya begitu saja, kamu juga sudah mengkhianatiku kamu tau kan aku paling benci orang seperti kamu" Herald semakin dingin menatap Vorsham.


"Itu karena aku sudah muak di pimpin oleh bocah sepertimu, aku tidak mau tunduk pada seseorang yang berusia sebaya dengan anakku itu menurunkan harga diriku" Vorsham kini mulai terpancing emosinya dan mengeluarkan semua emosinya.


"Menurunkan harga diri? Bukannya kamu yang menurunkan harga dirimu sekarang dengan mengkhianati kepercayaan ku bahkan kamu juga bermain main dengan wanita yang sebaya dengan anakmu mendengarnya saja membuatku jijik"


"Kau!!.." Vorsham kini tidak bersikap hormat lagi pada Herald karena sudah termakan emosinya.


Vorsham kemudian tertawa sangat keras "Kau tau, selama kamu pergi mengurus bisnis mu aku sudah mengumpulkan sekutu dan juga orang-orang yang akan membantuku untuk menurunkan posisimu, lihatlah sekarang aku akan memanggil mereka dan membuatmu turun dari posisimu itu"


Vorsham kemudian menekan arloji yang ada di tangannya. Ternyata arloji tersebut adalah arloji yang terhubung dengan orang-orangnya jadi saat Vorsham menekan tombol yang ada di arloji tersebut otomatis arloji itu akan mengirimkan sinyal pada orang-orangnya yang memakai arloji sepertinya.


Vorsham terus tertawa namun sudah lebih dari dua menit orang-orang yang ada di pihaknya tidak ada satupun yang datang dan juga tidak butuh waktu lama untuk datang ke ruang utama tersebut karena orang-orang yang bersekutu dengannya adalah anggota Blood Moon sendiri jadi tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menyusulnya ke ruang utama mansion itu.


Vorsham berhenti tertawa dan melihat sekelilingnya "Kenapa mereka tidak datang juga apa arloji ini rusak"


Herald masih duduk dengan tenang sambil menatap Vorsham yang terlihat kebingungan. Vorsham terus menekan tombol itu namun tetap saja tidak ada seorangpun yang datang.


Vorsham lalu segera sadar dan membatu kemudian Vorsham melihat ke arah Herald dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran "Tidak mungkin..."


"Apa menurutmu aku tidak akan mengetahui kalau ada anggotaku yang berkhianat"


Vorsham melangkah mundur namun dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang gemetaran dan terjatuh ke lantai.


Vorsham kini melihat Herald bak iblis yang sangat menyeramkan di tambah ekspresi wajahnya yang menyeringai Vorsham baru pertama kali melihat Herald yang seperti itu.


"Tu-tuan maafkan saya, ampuni kesalahan saya" Vorsham kini bersujud memohon ampun pada Herald.


"Kamu tau kan Vorsham aku tidak akan memberi ampun pada orang yang mengkhianati ku"


"Tuan a-aku mohon maafkan aku sekali ini saja dan beri aku kesempatan aku juga sudah lama berada di organisasi ini, tuan pasti masih membutuhkan kemampuanku"


"Aku tidak membutuhkan orang sepertimu, lagi pula kehilanganmu tidak akan merugikan organisasi ku"


"Tuan tolong maafkan aku" Vorsham masih bersujud di depan Herald.


"Aku tidak pernah memberikan seseorang kesempatan kedua dan juga sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu jadi kamu tau kan apa yang akan terjadi selanjutnya"


"Sialan!! Kenapa jadi begini"


"Itu karena ulahmu sendiri, kamu yang membuatmu berada di posisimu saat ini jadi pilihlah mau mati dengan cepat atau kamu punya keinginan mati dengan cara seperti apa"


"Hanya orang tidak waras yang memilih cara dia mati" Kemudian Vorsham berdiri dan berniat untuk lari namun baru saja Vorsham melangkahkan kaki kanannya..


Dorr!!


Kaki kanan Vorsham kini mengeluarkan darah dan Vorsham merasakan nyeri juga perih di kakinya. Vorsham lalu melirik ke arah Herald dan melihat Herald masih duduk di tempatnya lalu mata Vorsham bergeser dan melirik Rudiger.

__ADS_1


Vorsham melihat Rudiger memegang pistol di tangannya dan mengarahkan pistol tersebut padanya itu berarti yang menembak kakinya adalah Rudiger bukan Herald.


"Kau.. kenapa kau menembakku?" Victor menatap tajam pada Rudiger. Rudiger hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Vorsham.


"Dia hanya melakukan tugasnya lagi pula kenapa kamu mau lari Vorsham?"


"Apa kamu gila?!! Tentu saja semua orang akan lari saat mengetahui dirinya akan mati"


Dorr!!


Rudiger menembak kaki kiri Vorsham sehingga Vorsham kini tidak bisa lari lagi. Herald kemudian bangun dan berjalan menuju Vorsham yang kini terduduk dengan wajah yang sangat pucat.


Saat sudah berada di hadapan Vorsham Herald kemudian mengeluarkan pedangnya. Melihat Herald membawa pedang tubuh Vorsham kembali gemetar hebat dan juga wajahnya kini semakin pucat.


"Mau apa kamu dengan pedang itu"


Herald tidak menjawab pertanyaan Vorsham tapi detik berikutnya Herald memotong tangan kanan Vorsham dengan gerakan yang sangat cepat bahkan Vorsham tidak melihat Herald mengangkat pedangnya.


"Aarrgghh.."


Herald memotong lagi tangan Vorsham yang tersisa kemudian Herald beralih ke kaki Vorsham. Herald menyayat kaki Vorsham dan membuat sayatan yang sangat panjang juga dalam bahkan daging di kaki Vorsham sampai terlihat.


"Aaarrgghhh.. hentikan!!"


Herald tidak menggubris teriakan Vorsham dan beralih ke leher pria tua itu, Herald menggorok leher Vorsham sampai pria tua itu tidak lagi bisa berteriak karena pita suaranya putus tubuh Vorsham ambruk seketika karena tidak mempunyai tenaga lagi.


Setelah itu Herald membiarkan Vorsham kesakitan seperti itu sampai kurang lebih lima belas menit.


"Bagaimana Vorsham apa sekarang kamu ingin mati dengan cepat?" Herald berdiri di samping tubuh Vorsham yang terbaring dan penuh dengan darah.


"Ah aku lupa kamu tidak bisa bicara lagipula aku juga sudah bosan melihatmu jadi selamat tinggal" Herald menusuk jantung pria paruh baya itu dan seketika juga Vorsham menghembuskan nafas terakhirnya dengan tubuh yang sangat mengenaskan.


"Buang dia.." Herald berkata pada Rudiger yang masih berdiri di ruangan itu dan menyaksikan semua siksaan yang dialami Vorsham dalam diam.


"Baik tuan" Rudiger kemudian menjalankan perintah Herald dan memanggil dua orang untuk mengurus mayat Vorsham.


Herald menghela nafas pelan "Rudiger bersihkan pedangku setelah itu letakan di ruanganku" Herald menyerahkan pedang yang berlumuran darah itu pada Rudiger kemudian berjalan menuju kamarnya.


Setelah membersihkan darah yang menempel di tubuhnya Herald kemudian melangkah menuju tempat tidurnya dan berbaring disana.


Saat Herald baru saja memejamkan matanya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Herald meraih ponsel yang dia taruh di atas kasur lalu melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


"Oh Aria? Dia mengirim pesan padaku" Herald tersenyum ceria saat melihat pesan dari Aria.


-Apa kamu sudah sampai?-


-Ya, aku sudah sampai dan baru selesai mandi-


Setelah menunggu beberapa saat tidak ada balasan dari Aria "Ah.. sepertinya Aria hanya ingin mengetahui apa aku sudah sampai atau belum yah.. dia memang selalu seperti itu" ucap Herald sambil tersenyum tipis kemudian meletakan kembali ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2