
"Apa koma?!!.."
Aria terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja Aria dengar dari dokter tersebut.
"Dokter apa anda tidak salah, kakak saya tidak mungkin koma" Aria terus menyangkal hal tersebut.
"Nona buat apa saya berbohong, luka di tubuh pasien cukup parah terutama luka di perut pasien dan juga di kepala Pasien juga mengeluarkan banyak darah untungnya kalian membawa pasien tepat waktu sebelum pasien kehabisan darah dan meninggal"
"Dokter saya mau melihat kakak saya" Aria tidak percaya sebelum Aria sendiri melihat kondisi Javier dengan mata kepalanya sendiri.
"Maaf nona tapi anda tidak bisa melihatnya saat ini kami masih menangani pasien anda bisa melihatnya saat nanti sudah di pindahkan ke ruangan khusus di rumah sakit ini tapi mungkin biayanya akan sedikit mahal"
"Itu tidak masalah asalkan kakak saya sembuh" Aria tidak masalah dengan biaya rumah sakit yang terpenting sekarang adalah kakaknya segera sembuh.
"Baiklah sebaiknya nona istirahat dulu nanti kalau pasien akan kami pindahkan kami akan memberitahu Anda kalau begitu saya permisi"
Giovanni yang daritadi mendengarkan merasa kasihan pada Aria "Ah sekarang bagaimana dia akan menjalani hidupnya satu-satunya orang yang dia sayangi sedang terbaring koma belum lagi semua emosi yang tumpang tindih itu dia sekarang pasti sangat kesakitan" Batin Giovanni
"Nona benar kata dokter sebaiknya anda istirahat anda juga kan sudah mengetahui kondisi kakak anda" Giovanni menyuruh Aria untuk segera beristirahat.
"Aku tidak mengantuk dan tidak mau kembali ke ruanganku aku akan ke taman rumah sakit dan melihat matahari terbit dari taman"
"Tapi nona anda harus beristirahat"
"Aku akan beristirahat nanti aku juga bisa ke taman sendirian anda bisa pulang atau mengurus kerjaan anda yang lain"
Giovanni sebenarnya ingin menemani Aria tapi perkataan Aria benar Giovanni masih memiliki banyak pekerjaan jadi mau tidak mau Giovanni meninggalkan Aria.
"Andai saja aku tidak punya banyak pekerjaan aku pasti akan menemaninya dan menghiburnya"
"Baiklah nona kalau begitu saya pamit kalau anda butuh sesuatu anda bisa meminta tolong pada anak buah saya yang sedang berjaga saya juga akan kembali lagi kesini nanti siang" Giovanni lalu pergi dari sana dan meninggalkan Aria bersama anak buahnya di depan UGD tempat Javier di rawat.
__ADS_1
Melihat Giovanni sudah pergi Aria kemudian menjalankan kursi rodanya menggunakan tangan menuju taman rumah sakit, Aria dan Javier di rawat di lantai satu rumah sakit itu jadi Aria tidak perlu turun menggunakan lift.
Tatapan Aria kosong bahkan saat Aria sedang menuju taman Aria hampir beberapa kali menabrak orang yang ada di depannya karena sebentar lagi pagi jadi lumayan banyak orang yang berlalu lalang.
Aria kemudian tiba di taman tersebut dan memilih untuk duduk di bawah pohon saat Aria sampai di bawah pohon tersebut matahari sudah mulai naik karena sudah terlihat cahaya jingga di cakrawala yang tadinya hitam tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku juga tidak bisa pulang dan mengambil laptopku untuk meretas cctv yang ada di sekitaran daerah sana dan mencari pelaku yang membuat kakak menjadi seperti itu karena kakiku". Kaki Aria sekarang terluka dan Aria juga masih butuh istirahat jadi Aria tidak bisa langsung mencari orang-orang yang melukai kakaknya.
"Kak..kakak harus sembuh jangan tinggalkan aku sendiri aku tidak mau kakak meninggalkanku seperti ayah dan ibu". Aria menatap kosong kearah matahari yang mulai menampakkan sinarnya.
"Tunggu.. Louis!! Aku bisa minta bantuan Louis" Aria sekarang baru ingat bahwa dia mempunyai Louis yang sangat ahli di bidang teknologi karena Aria sendiri yang mengajarinya.
Aria lalu bergegas pergi dari taman tersebut dan menuju ruangannya untuk mengambil ponsel yang Aria tinggal di ruangan tempatnya di rawat.
Kurang lebih dua puluh menit Aria sampai di dalam ruangan tempatnya di rawat lalu Aria menjalankan kursi rodanya menuju meja yang terletak di samping tempat tidurnya.
Aria lalu meraih ponsel yang ada di atas meja dan segera menghubungi Louis.
"Louis.."
"Louis bisa kamu retas cctv di daerah A dari jam sebelas malam sampai jam tiga malam"
"Baik nona tapi untuk apa?"
"Nanti akan aku jelaskan sekarang kamu coba periksa dulu apa kamu melihat kakakku di cctv tersebut"
"Baiklah akan segera saya laksanakan" Louis lalu mengakhiri panggilan tersebut karena ingin melakukan tugas yang Aria berikan.
Aria menatap ponselnya "Aku tidak boleh begini terus aku harus cepat sembuh dan membantu Louis mencari orang-orang yang mencelakai kakakku". Aria melihat jam yang ada di ponselnya dan sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
"Lebih baik aku berbaring sebentar sambil menunggu dokter yang akan memindahkan kakak" Aria memutuskan untuk beristirahat sejenak dan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian Aria sudah tertidur karena kelelahan walaupun sebenarnya Aria tidak mau tidur tapi sepertinya tubuhnya menolak untuk terus bangun dan butuh istirahat.
__ADS_1
Tiga jam kemudian pintu ruangan Aria diketuk dari luar
"Nona permisi.." terdengar suara seorang wanita dari luar.
Mendengar suara ketukan Aria langsung membuka matanya dan menyuruh wanita tersebut untuk masuk. Ternyata wanita yang tadi mengetuk pintu ruangan Aria adalah suster yang akan memeriksa Aria.
"Nona sepertinya kondisi tubuh anda sudah mulai membaik karena sudah beristirahat dan juga luka di kaki anda mungkin akan sembuh dua atau tiga hari lagi sebelum luka anda membaik anda tidak boleh berjalan terlebih dahulu"
Aria hanya menganggukkan kepalanya. Suster tersebut membantu Aria untuk mengganti perban yang ada di kakinya setelah itu memberi Aria obat dan vitamin untuk membantu memulihkan kondisi tubuh Aria.
"Nona dokter meminta saya untuk membawa anda ke ruangan tempat kakak anda di rawat tadi kami sudah memindahkan pasien saya juga sudah mencoba untuk membangunkan anda tapi sepertinya anda sangat kelelahan jadi tidak mendengar ketukan dan panggilan saya"
Aria kemudian melihat jam yang ada di ruangan itu dan jam sudah menunjukan pukul sepuluh "Sepertinya aku benar-benar kelelahan"
"Baiklah tolong bawa saya ke sana"
"Baik nona akan saya bantu". Suster tersebut lalu membantu Aria untuk duduk di kursi roda dan mendorong kursi roda tersebut keluar dari ruangan dan menuju ruangan khusus dimana Javier sekarang sedang dirawat.
Untungnya ruangan khusus tersebut masih berada di lantai satu jadi Aria masih bisa kesana dengan mudah walaupun tanpa bantuan.
Aria lalu memasuki ruangan tersebut dan Aria melihat Javier terbaring di atas tempat tidur dengan berbagai macam alat bantu Aria juga melihat luka di dahi Javier sudah di obati dan di perban.
Suster tersebut mendorong kursi roda Aria sampai ke samping Javier yang sedang terbaring dan menutup matanya.
"Nona kalau begitu saya pamit"
Aria menganggukkan kepalanya lalu suster tersebut keluar dari ruangan itu.
Aria lalu memandang kakaknya yang sedang terbaring dan mengusap wajah kakaknya itu dengan tangan Aria yang gemetaran.
"Kak.." Aria tidak kuat menahan air matanya dan akhirnya Aria meneteskan air mata yang terbendung di matanya.
__ADS_1
"Kakak akan sembuh kan? Kakak tidak akan meninggalkanku sendirian.." Aria masih terus mengusap wajah Javier
"Kak buka matamu ini aku.." Aria terus bicara tapi sayangnya Javier tidak merespon apapun dan masih menutup matanya.