
Louis merasa udara yang ada di ruang lelang tersebut mendadak menipis juga nafasnya sedikit sesak Louis langsung teringat Aria yang kini sedang berhadapan dengan penanggung jawab acara lelang tersebut.
"Aria dia pasti sekarang sangat marah aku harus cepat-cepat menyusulnya" Louis lalu bergerak cepat dan menembaki setiap anggota Red Blood yang tersisa namun, Louis sedikit kesulitan karena anggota Red Blood yang tersisa kini berpencar dan mengepungnya dari berbagai arah.
"Sekarang mereka baru menyadari keselahan mereka tapi itu sudah terlambat" Louis tersenyum sinis
Louis lalu mulai bersembunyi dan terus menembak dari tempat persembunyiannya Louis menembak dulu orang yang kemungkinan akan berhasil menembak dirinya dari belakang lalu setelah itu Louis berhasil menemukan celah dan berlari sambil terus beradu tembak dengan anggota Red Blood.
Dari dua belas anggota yang tersisa kini tersisa dua orang. Louis bersembunyi di balik tiang-tiang gedung tersebut lalu menebak salah satu dari dua orang itu dan kini tinggal satu orang yang tersisa.
"Hey aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu jadi selamat tinggal" Louis menembak jantung anggota Red Blood yang terakhir lalu bergegas ke lantai bawah untuk mencari Aria.
Louis sudah ada di lantai bawah tapi tidak menemukan Aria dan Louis hanya menemukan pintu masuk dan keluar tempat lelang sudah hancur.
"Mereka pasti ada di luar" Louis lalu berlari keluar dan saat sudah ada di luar Louis melihat Aria sedang tertawa dengan sangat menyeramkan dan lagi Louis melihat seorang pria dalam kondisi yang mengenaskan.
Louis berlari menghampiri Aria "Aria sudah cukup berhenti" Louis menahan tangan Aria yang akan menuangkan satu botol air lemon yang tersisa.
Aria melihat Louis yang sedang memegang tangannya dan berniat menghentikan aksinya itu.
"Hey lepaskan tanganku aku belum selesai dengannya" Aria menatap tajam Louis dan berbicara dengan suara yang sangat dingin.
"Aria dia sudah tidak akan bisa bertahan lagi jadi sudahlah dan biarkan aku yang mengakhiri hidup pria ini" Louis menatap Isak yang kini terlihat sangat kesakitan bahkan matanya melotot hampir keluar dengan tubuh menggeliat - geliat.
"Kau tau Louis dia sudah menyiksa kakakku dengan sangat kejam sampai membuat kakak hampir mati dan membuat kakak koma seperti sekarang, aku tidak akan pernah memaafkannya dan juga aku tidak akan membiarkannya mati dengan mudah" Aria kini terlihat sangat marah di mata Louis.
"Gawat dia sangat marah ini tidak boleh, dia tidak boleh mengeluarkan emosinya"
__ADS_1
"Minggir Louis biar aku yang mengurusnya" Aria lalu melepaskan cengkraman tangan Louis dan menyiramkan sisa air lemon yang ada di dalam botol kepada tubuh Isak yang kini tengah merasakan sakit dan perih yang luar biasa.
Louis tidak sanggup melihat Aria yang seperti itu "Aria dengarkan aku sudahlah biar aku yang akan membunuhnya" Louis kemudian mengarahkan pistolnya pada Isak namun Aria segera mengambil pistol itu dan mendorong tubuh Louis hingga menabrak mobil yang ada di belakangnya dengan lumayan keras.
"Uhuk..gawat sepertinya dia masih marah" Louis memegang punggungnya yang menghantam mobil.
Aria lalu kembali melihat Isak dan memotong kedua kakinya "Kamu tenang saja kamu tidak mati sendirian kamu nanti akan ditemani oleh anggota Red Blood yang mati malam ini tapi tenang saja ketuamu Leon dia juga akan segera menyusulmu" setelah mengatakan itu Aria lalu memenggal kepala Isak.
Setelah memastikan Isak sudah tidak bernyawa lagi Aria lalu melirik Louis yang tengah berdiri sambil memegangi punggungnya yang sedikit nyeri karena menghantam mobil.
Aria kemudian menghampiri Louis "Maaf aku sangat marah dan terbawa sedikit emosi aku tidak menepati janjiku" Aria menatap wajah Louis dengan tatapan menyesal.
Louis menghela nafas pelan lalu meregangkan kembali otot-ototnya yang tadi sempat kaku dan nyeri.
"Sudahlah tak apa yang terpenting kamu baik-baik saja tapi lain kali kamu harus lebih bisa mengontrol emosimu" Louis tersenyum kearah Aria.
"Apakah itu sakit?" Aria melirik punggung Louis yang menghantam mobil.
"Benarkah coba aku lihat" Aria lalu berjalan kebelakang tubuh Louis dan melihat luka yang ada di tubuhnya.
"Ah ini sedikit memar kamu harus mengompresnya nanti" ucap Aria setelah melihat memar yang ada di punggung Louis.
"Baiklah nanti aku akan meminta dokter Victor untuk mengompres memar itu sekarang apa kita akan langsung pulang?" Louis membalikan tubuhnya dan menatap Aria.
"Apa kamu sudah mencari berkas informasi di gedung lelang ini?"
"Semua data penting di gedung lelang ini sudah aku retas dan sekarang ada di file milikku dan untuk berkas-berkasnya aku sudah menyuruh anggota lain untuk mengumpulkannya karena gedung ini pasti sudah kosong karena semua anggota Red Blood yang ada di gedung ini ikut menyerang tadi"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu sekarang kita pulang ke mansion dan segera obati lukamu" Aria lalu berjalan menuju tempat parkir mobil di depan gedung tersebut dan menaiki mobil mewah berwana hitam miliknya.
Louis mengikuti Aria dari belakang dan sekarang berada di luar pintu mobil "Biar aku yang mengemudikan mobilnya aku masih bisa menggerakkan kedua tanganku" Louis yang melihat Aria di kursi pengemudi langsung memintanya untuk pindah.
"Tak apa biar aku yang mengemudi kamu cepat masuk dan duduklah" Aria terlihat sudah bersiap-siap.
Louis mengikuti perkataan Aria lalu masuk dan duduk di sebelah Aria. Sebenarnya Louis tidak ingin Aria menyetir namun karena punggungnya sakit Louis mau tidak mau membiarkan Aria untuk menyetir.
Setelah Louis masuk Aria kemudian melajukan mobilnya dan pergi dari gedung lelang tersebut menuju mansionnya.
--------
Leon sedang menghubungi Isak tapi tidak ada jawaban "Kemana dia kenapa tidak menjawab panggilanku" Leon terus menghubungi Isak tapi hasilnya sama saja Isak tidak mengangkat telepon itu.
Tok tok tok
"Tuan gawat!! ada seseorang yang menyerang tempat lelang yang ada di dunia bawah" Ucap seorang pria dari depan pintu kamar Leon.
"Apa?!!!... hey masuklah dan jelaskan padaku" Leon menyuruh pria itu masuk ke kamarnya.
pria tersebut kemudian masuk dan langsung menundukkan kepalanya "Tuan saya baru saja mendapat kabar dari rekan saya yang sedang bertugas di dunia bawah bahwa tempat lelang di serang oleh seseorang"
"Kenapa kamu sangat cemas dia kan hanya seorang diri sedangkan disana ada puluhan bawahanku mana mungkin dia bisa menang" Leon merasa anak buahnya yang ada di depannya sekarang terlalu melebih-lebihkan keadaan.
"Tuan saya juga berpikiran sama dengan anda namun seseorang itu kini sudah membunuh lebih dari setengah anggota kita"
"Apa?!! bagaiman itu mungkin.. kalian mengurus satu orangpun tidak bisa hah!!" Leon terlihat sangat marah sekarang.
__ADS_1
"Siapkan mobilku sekarang juga aku akan pergi ke sana" Leon menyuruh pria yang ada di hadapannya untuk segera menyiapkan mobilnya.
"Baik tuan akan saya siapkan"